XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Kali pertama menginjak Club malam



Di kosan Nindi, Ayesha mencoba dres milik teman se ruangannya itu.


“Nin, aku cocok ga sih pakai dres ini?” tanya Ayesha.


“Cocok. Cantik banget,” jawab Nindi.


“Tapi belahan dadanya terlalu lebar, Nin. Punggungnya juga terbuka banget,” kata Ayesha semabri memutar tubuhnya di depan cermin.


Dres itu memang tidak pendek, karena panjangnya pas se lutut Ayesha, hanya saja bagian atasnya memiliki lingkar leher yang lebar, seperti dres tahun delapan puluhan yang sering digunakan Marlin Monroe.


“Kok kamu punya dres seperti ini sih?” tanya Ayesha lagi.


“Ya, itu dikasih temen pas aku ulang tahun kemarin. Aku juga ga pernah pakai sih. Tapi cuma dres ini yang muat sama kamu, Ay. Sekarang kan kamu kecilan. Sementara aku malah yang gemukan.” Nindi tertawa.


Ayesha pun ikut tertawa dan mengangguk. Memang temannya ini terlihat sedikit lebih berisi di banding saat pertama mereka bertemu.


Kemudian, emreka kembali bersiap untuk keluar malam ini.


“Nin, kita ke mana?” tanya Ayesha.


“Ke tempat yang kata orang bisa refresh, Ay,” jawab Nindi yang ia sendiri belum pernah ke tempat seperti itu, tapi ia ingin sekali tahu tempat itu, hanya saja tidak ada teman yang bisa ia ajak ke tempat itu.


Ya, mereka kini berada di sebuah club malam.


“Nin, kok ke sini sih?” tanya Ayesha. “Aku belum pernah.”


“Aku juga belum pernah, Ay. Makanya aku mau tahu. Mumpung kamu juga lagi suntuk, mending kita have fun. Kata orang tempat ini bisa ngilangin stres,” jawab Nindi.


Ayesha pun akhirnya mengikuti langkah Nindi yang hendak masuk ke dalam tempat itu. Ia pun penasaran dengan isi di dalamnya, sama seperti Nindi. Ia penasaran seperti apa tempat yang bisa menghilangkan stres itu.


Ini adalah kali pertama Ayesha dan Nindi menginjak club malam.


“Kartunya?” tanya seorang pria bertubuh besar yang berdiri di depan pintu.


Nindi dan Ayesha bengong, karena ternyata untuk memasuki tempat itu harus menggunakan kartu.


“Saya ga punya kartu, Pak. Cara dapetin kartunya gimana?” tanya Nindi polos.


Lalu, pria bertubuh besar itu pun berbisik dengan pria yang juga berdiri di sampingnya.


Dari kejauhan, ada seorang pria bersama temannya tengah mengintai Nindi dan Ayesha sejak kedua wanita polos ini turun dari taksi.


“Ini teman gue, Bro,” ujar kedua pria itu dengan menggandeng Nindi dan Ayesha.


“Ayo masuk! Pake kartu gue,” katanya.


Nindi dan Ayesha pun mengikuti langkah kaki kedua pria itu. Kedua pria itu saling menautkan alisnya dengan wajah sumringah. Mereka tahu bahwa dua wanita yang tengah mereka ajak itu adalah perempuan polos yang baru mengenal tempat ini. Hal itu pun di manfaatkan oleh mereka.


“Kenalin, gue Nino.”


“Dan, gue Farel.”


Kedua pria itu mengarahkan tangannya pada Ayesha dan Nindi. Nindi menerima uluran tangan itu sementara Ayesha tidak.


“Temen lu kayanya dingin banget ya,” ujar Farel pada Nindi dengan arah mata tertuju pada Ayesha.


“Ya, karena dia udah punya cowok. Kalau gue jomblo,” jawab Nindi yang membuat Farel tertawa.


“Cantik dan menarik,” gumam Farel menyeringai melihat ke arah Ayesha.


“Mau minum apa? Gue traktir. Bentar ya!” Farel langsung berbisik ke bartender dan menyerahkan sesuatu pada pria itu.


Ternyata, Farel memberikan obat perangsang di minuman Ayesha.


“Rel, gila lu. Anak orang tuh,” kata Nino.


“Ay, joget yuk di sana!” ajak Nindi sembari menunjuk ke ruangan luas yang berisi banyak orang yang tengah berjoget diiringi musik yang dimainkan disk jockey.


Ayesha mengangguk. Nindi menarik lengan Ayesha dan Ayesha mengikuti langkah Nindi. Mereka pun tertawa bersama. Tanpa kedua wanita polos itu sadari, bahaya tengah mengintai.


Sebelum ke area berjoget, Nindi pamit kepada Nino dan Farel. Sementara Ayesha tidak.


“Tuh kan, cewek itu sombong banget. Semakin pengen banget gue ngerjain dia,” kata Farel saat melihat Nindi dan Ayesha berjalan ke area joget itu.


Nino hanya mengangguk dan meminum minuman yang baru saja datang.


“Ini minuman buat dia,” kata Farel sambil menunjuk minuman yang berisi sirup merah.


“Jangan bilang lu kasih obat perangsang ke cewek itu?” tanya Nino.


“Of course,” jawab Farel dengan senyum menyeringai.


Nino mnggelengkan kepalanya. “Gila lu, gue ga ikutan ya.”


“Udah lah, yang penting lu bawa aja temennya. Anter dia pulang kek. Cewek itu sama gue.”


“Terserah,” jawab Nino yang memang tahu tabiat temannya itu.


Saat Ayesha berjoget. Ada seseorang yang mengenalinya. Pria itu tengah bersama teman-teman kerjanya duduk di kursi yang cukup jauh dari tempat Ayesha berjoget. Namun, ia bisa melihat sosok yang tengah tertawa dan berjoget bersama Nindi.


“Ayesha,” gumam pria itu. “Itu bener Ayesha kan?” katanya lagi pada dirinya sendiri.


“Eh ada apa?” tanya teman pria yang melihat Ayesha.


“Hmm ... ngga, gue lihat istri temen gue di sana. Bentar.”


Pria itu adalah Aldi. Aldi baru saja memenangkan tender dan sedang merayakan dengan beberapa teman kantornya yang ikut andil dalam mencapai tender itu.


Aldi mendekati Ayesha dan Nindi, lalu ia memoto Ayesha yang tengah berjoget bersama Nindi.


Ceklek


Ia pun mengirimkan foto itu kepada Kevin.


Tring


Ponsel Kevin berbunyi. Sebuah notifikasi dari Aldi. Ia melihat notifikasi itu, karena ia memang sedang memegang ponselnya. Sesampainya di apartemen, Kevin semakin panik karena ternyata Ayesha belum tiba di sini.


Semula Kevin malas membuka pesan dari Aldi karena yang ia harapkan adalah pesan sari Ayesha. Namun, gambar itu membuat Kevin penasaran. Kevin pun membuka pesan Aldi dan melihat foto istrinya di dalam sana.


“Ah, ****.” Kevin mengumpat dan bergegas mengambil jaketnya serta kunci mobil. Ia pun berlari menyusul tempat yang sedang dikunjungi sang istri.


Tak lupa, Kevin menelepon Sean dan bertemu di club itu.


Ayesha dan Nindi sudah lama berjoget. Mereka pun kembali ke tempat duduk yang terdapat Nino dan Farel di sana.


“Ayo minum dulu! Pasti kalian haus kan abis joget,” kata Farel.


“Ini punya kamu.” Farel menyerahkan gelas pada Ayesha dan Ayesha hanya melihat gelas itu.


"Tenang, bukan alkohol kok. Gue tahu cewek kaya lo pasti ga suka alkohol. Ini sirup rasa mawar. Enak kok,” katanya lagi.


Ayesha pun menerima gelas yang Farel berikan.


“Ini juga sama?” tanya Nindi.


“Iya sama,” jawab Nino.


Nindi langsung menenggak habis minuman itu. Melihat Nindi sudah menghabiskan minumannya, Ayesha pun melakukan hal yang sama, membuat bibir Farel semakin menyeringai.