XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Wanita berhati malaikat



"Ay, makasih ya. Aku ga tau harus bilang apa lagi sama kamu," ujar Nindi yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


Ayesha duduk di samping Nindi yang sedang berbaring. Ia mengelus bahu Nindi. "Itulah gunanya teman, Nin."


Saat itu, Nindi tetap ke salon. Seharusnya, ia ke tempat itu bersama Ayesha, tetapi Ayesha membatalkan karena ia pergi dengan suaminya. Lalu, saat menyeberang, tubuh Nindi tetserempet sebuah motor sport yang melaju cepat. Dan, sayangnya motor itu pun tidak berhenti ketika tubuh Nindi jatuh ke aspal.


"Justru aku minta maaf karena ga temenin kamu," kata Ayesha lagi.


Nindi menggeleng. "Aku juga yang ga berhati-hati saat nyeberang, Ay."


"Kamu ingat plat motor orang itu?" tanya Ayesha.


Nindi kembali menggelengkan kepalanya. "Ngga. Kejadiannya sangat cepat, Ay."


"Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang, kamu cepet sembuh." Ayesha tersenyum, begitu pun dengan Nindi.


Beruntung, Nindi tidak mengalami patah tulang di lengan atau kakinya. Tetapi luka-luka itu cukup banyak dan benturan dikepala, membuat dirinya harus melakukan pemeriksaan lanjut, agar ketika keluar dari rumah sakit, ia benar-benar dalam keadaan sehat.


"Terima kasih, Ay. Nanti aku ganti uangmu," kata Nindi yang tahu bahwa sahabatnya itu telah menjaminkan benda berharga untuk perawatan dirinya.


"Tenang aja. Lagian pengobatanmu ditanggung perusahaan kan?"


"Tapi jatah kesehatanku sepertinya sudah habis Ay. Pas tahun baru, aku juga dirawat karena tyfhus."


Ayesha menggeleng. "Ya, ampun. Nin."


"Maklum anak kos, jadi makannya mie mulu," sahut Nindi.


Ayesha dan Nindi pun tertawa.


Di perjalanan, Kevin mengendarai mobilnya dengan cepat. Untung saja, hari ini hari minggu sehingga jalan protokol yang biasanya padat itu tampak lengang.


Kevin khawatir, ia mencari titik rumah sakit yang disebutkan seorang wanita di teleponnya tadi menggunakan gmaps.


"Anda telah sampai tujuan. Tempat yang anda tuju berada di sebelah kanan," suara dari ponsel Kevin menandakan bahwa ia sudah sampai di tempat istrinya berada.


Kevin langsung memarkirkan mobilnya asal, karena yang ada dipikirannya saat ini hanya Ayesha. Bagaimana keadaannya? Apa yang sakit? Mengapa ini bisa terjadi? Dan, kecerobohan apa yang membuat dia bisa kecelakaan?


Kevin berlari ke dalan rumah sakit dan mencari ruangan yang disebutkan wanita penelepon itu.


Nafasnya tersengal sembari menengok ke kanan dan kiri untuk mencari ruangan itu, hingga akhirnya ia sampai. Kevin berdiri di meja perawat.


"Sus, saya mencari ..."


Ceklek


Salah satu pintu ruang perawatan terbuka. Ruang perawatan yang tak jauh dari meja perawat tempat Kevin berdiri. Suasana yang sunyi, membuat suara pintu yang terbuka perlahan itu terdengar kencang.


Sontak, Kevin menoleh dan melihat sosok wanita yang membuatnya panik.


"Ayesha." Kevin langsung berlari ke arah wanita yang dipanggilnya.


Ayesha pun hanya berdiri mematung di balik pintu yang tadi ia tutup kembali dengan rapat. Awalnya Ayesha hanya ingin keluar dan membeli makanan beberapa makanan seperti biskuit untuk mengisi meja di samping tempat tidur sahabatnya


Kevin langsung memeluk tubuh itu. "Kamu tidak apa-apa?" Kevin menciumi wajah istrinya.


Ayesha dapat merasakan kepanikan Kevin. "Aku tidak apa-apa."


"Kata wanita yang meneleponku, kamu kecelakaan. Mana yang sakit, apa di sini! di sini!" Kevin mengangkat lengan dan siku Ayesha, hingga memutarkan tubuh itu dan mencari bagian yang luka di sana.


Ayesha tersenyum. "Bukan aku yang kecelakaan, Mas."


Kevin masih saja memutar tubuh Ayesha dan memeriksa apakah ada yang luka pada istrinya.


"Aku ngga kenapa-napa," ucap Ayesha lagi.


"Tapi tadi yang menelepon aku bilang kalau kamu ..."


"Sssttt ... Pelankan suaramu. Jangan berisik!" Ayesha menempelkan jari telunjuknya di bibir.


Lalu, Kevin kembali memeluk tubuh itu. "Oh, syukurlah, bukan kamu yang kecelakaan. Sungguh aku sangat panik."


Ayesha kembali menyungging senyum, saat Kevin memaksa kepalanya menempel di dada bidang itu.


Tak lama Kemudian, Kevin melonggarkan pelukan. "Lalu, siapa yang kecelakaan?" tanya dengab suara pelan.


"Nindi." Ayesha menunjuk sahabatnya yang tengah berbaring dari pintu ruangan yang atasnya terbuat dari kaca.


"Ih, ya ampun. Nindi lagi," ujar Kevin sembari menarik nafasnya kasar.


Sejujurnya ia kesal dengan Nindi yang selalu menjadi prioritas Ayesha.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" Kevin menarik lengan Ayesha. "Aku sudah mencari-cari kamu di mall. Malah pulang duluan. Ayo!"


Ayesha menahan lengan Kevin dan menggeleng. "Kamu pulang saja duluan. Aku menunggu keluarga Nindi datang. Setelah Nindi ada yang menjaga, baru aku pulang."


Kevin kembali menarik nafasnya kasar. "Ada suster yang menjaganya."


Ayesha kembali menggeleng. "Tidak bisa."


Akhirnya, Kevin mengalah. "Baiklah, aku tunggu sampai keluarga Nindi datang dan kita pulang bersama."


"Kamu sudah makan?" tanya Kevin.


Ayesha menggeleng. "Ini aku keluar ingin cari makanan. Kebetulan, Nindi lagi istirahat."


Kevin mengangguk. Mereka pun berjalan beiringan. Sedari tadi interaksi mereka tak luput dari gunjingan suster di sana. Pada suster itu tetsenyum melihat Kevin begitu peduli pada istrinya. Apalagi, ketampanan Kevin yang terpancar, menambah para suster itu semakin bergibah.


"Mau makan apa?" tanya Kevin setelah mereka sampai di kantin.


"Apa saja," jawab Ayesha.


Langkah mereka terhenti di sebuah restoran bakso.


"Aku ingin ini. Boleh kan?"


"Ini tidak sehat, Ndut. Nanti kamu semakin Ndut," jawab Kevin.


Ayesha cemberut. "Sekali aja." Ia menunjukkan jari telunjuknya ke atas. "Sejak berada di Indonesia, aku belum pernah makan makanan ini lagi. Please!"


"Baiklah. Hanya sekali." Kevin membuka pintu restoran itu hang terbuat dari kaca.


Ayesha nyengir dan mengikuti langkah Kevin yang mulai masuk.ke dalam resto. "Tumben baik."


"Apa?" tanya Kevin yang hanya mendengar perkataa Ayesha seperti gumaman.


Ayesha menggeleng cepat. "Ngga apa-apa. Aku bilang, Mas Kevin makin ganteng kalau baik."


Kevin pun tersenyum.


"Haish." Ayesha menatap malas suaminya yang senang dipuji.


Kemudian, mereka duduk berhadapan dan memakan makanan yang sudah di pesan.


"Pelan-pelan makannya. Aku ga akan minta," kata Kevin."


"Ini enak, Mas. Enak buanget." Ayesha tampak bersemangat memakan bakso dengan ukuran yang cukup besar.


"Ya ampun kuahnya sampe kemana-mana itu." Dengan cepat Kevin mengambil tisu dan mengelap kuah bakso yang meleleh ke bawah bibir Ayesha.


Seketika Ayesha mematung. Jantungnya kembali dag dig dug. Sebegitu perhatiannya Kevin pada dirinya. Ah, jika seperti ini terus sepertinya lama kelamaan ia akan jatuh hati juga pada si beruang kutub ini.


"Pelan-pelan, Ay," kata Kevin lembut, membuat Ayesha hanya mengangguk canggung.


Sesaat kemudian, Kevin memperhatikan wajah istrinya. Sepertinya ada yang kurang di sana. Tapi apa? Kevin menatap intens wajah istrinya lagi.


Ah, anting. Ya, Kevin baru mengingat, benda yang baru saja ia berikan tidak menghiasi wajah cantik itu.


"Ay, di mana antingmu?"


Deg


Sontak, Ayesha meletakkan kembali sendok yang baru saja ia ingin masukkan ke mulut. Ayesha menatap suaminya yang sudah melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada punggung kursi.


"I ... tu .." Ayesha tergagap, sementara di seberangnya, Kevin sedang memgangkat satu alisnya. Ia memasang telinganya untuk mendengar penjelasan sang istri.


"Di mana?" tanya Kevin lagi.


"Hmm ... Maaf."


"Jangan bilang kalau anting itu hilang?" tanya Kevin dengan penuh penekanan.


Ayesah menggeleng. "Bukan, bukan hilang."


"Tapi?" Kevin mengubah posisinya. Kini ia memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Ayesha.


"Pas aku datang ke rumah sakit, Nindi belum ditangani. Mereka menunggu keluarganya datang."


"Apa hubungannya anting yang aku berikan dengan Nindi?" tanya Kevin lagi dengan nada kesal.


"Jangan dipotong dulu perkataanku! Aku belum selesai menjelaskan," rengek Ayesha dan akhirnya Kevin diam, lali mendengarkan penjelasan itu.


"Rumah sakit meminta jaminan untuk perawatan Nindi dan aku tidak membawa uang tunai. Jadi ..."


"Jadi kamu menyerahkan anting itu untuk jaminan perawatan Nindi?"


Ayesaha mengangguk.


"Mana kartu yang aku berikan untukmu. Bukankah sejak pertama kita menikah, aku memberikan kartu platinum itu padamu?"


"Aku tinggalkan di lemari apartemen," jawab Ayesha polos.


"Oh my God." Kevin menepuk jidatnya.


Ya, Ayesha memang memiliki tabungan sendiri. Vicky tidak mungkin membiarkan putrinya kekurangan uang saat Ayesha berlibur di Bali. Tapi, saat ini Ayesha adalah istri Kevin, pemilik Adhitama Grup.


Kevin memggelengkan kepalanya. "Ya sudah selesaikan makanmu, setelah ini kita ke bagian administrasi."


Ayesha mengangguk dan tersenyum. "Maaf. Aku tadi tidak berpikir panjang. Hanya berpikir yang penting Nindi cepat mendapat tindakan."


Kevin diam sambil memperhatikan istrinya. Lagi-lagi, ia kembali terpesona dengan kebaikan sang istri. Sepertinya, ia memang menikahi wanita berhati malaikat. Hal itu, membuat Kevin semakin menyukai Ayesha.