
Sean dan Nindi sampai di basement apartemen. Nindi menggunakan kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan garis horisontal dan celana panjang berwarna hitam. Ia juga memakai blazer dengan waran yang sama seperti celana kerjanya. Namun, Nindi belum menyematkan kepalanya dengan kerudung saat ke kantor. Ternyata, ia belum siap sepenuhnya. Padahal Sean sama sekali tidak melarang. Pria itu selalu memberi Nindi kebebasan.
Sean memposisikan kendaraannya dengan benar di sana dan mematikan mesin kendaraan itu. ia melihat Nindi sudah melepas sabuk pengaman dan bersiap untuk membuka pintu.
“Biar aku yang bukakan pintu.”
Nindi tersenyum sembari menangkup wajah Sean. “Ngga apa-apa, ga usah dibukain.”
Nindi mengecup bibir Sean sebelum ia membuka pintu itu sendiri. Sean masih duduk di kursinya. Pria itu tersenyum. Padahal, ia senang memanjakan sang istri, karena Nindi pun selalu memanjakan dirinya. Nindi tidak pernah menolak saat dirinya di landa gairah. Nindi juga tidak pernah lelah, ketika menyiapkan semua keperluan dan makanan untuknya, padahal ia juga memiliki kesibukan sendiri untuk mengurus dirinya. Luar biasa memang peran sebagai seorang istri.
Walau Sean baru merasakan sebuah pernikahan, tapi ia melihat cara kedua orang tuanya dalam berumah tangga. Sean jarang melihat sang ibu memasak, hanya saat-saat tertentu jika wanita itu sedang mau. Terkadang ia malah lebih sering melihat sang ayah yang menyiapkan keperluan ibunya. Sean benar benar mengacungkan jempol untuk kebucinan dan kesetiaan sang ayah pada ibunya. Bahkan sang ayah tidak pernah mengeluh dan mengatakan bahwa cinta itu memberi tanpa mengharap imbalan.
Sean tersenyum menatap Nindi yang hendak jalan lebih dulu. Ia masih berdiri bersandar pada pintu mobil yang sudah tertutup itu.
“Mas, kok masih berdiri di situ sih. Ayo!”
Sean melangkahkan kakinya menghampiri sang istri dan meraih tangan Nindi untuk digenggam. “Semangat banget sih mau sampe rumah. Udah ga sabar ya?”
“Iya, ga sabar pengen mandi dan bersih-bersih. Lengket banget,” jawab Nindi menepis kepala suaminya yang isinya hanya seputar s*x.
Sean tertawa. “Kalau begitu nanti kita mandi bersama.”
Nindi menyeringai. Ia tahu apa yang diinginkan suaminya.
Tak lama kemudian, Sean dan Nindi sampai di dalam flat mereka. tubuh Nindi benar-benar lengket. Ia mudah sekali berkeringat, padahal AC di kantor cukup dingin.
“Mas ga ikut mandi? Katanya mau mandi bersama?” tanya Nindi pada suaminya yang malah hendak keluar dari kamar setelah mengganti membuka pakaian kerjanya dan hanya menyisakan boxernya saja.
“Mas ingin menyiapkan makan malam saja dulu. Kasihan kamu belum makan.” Sean mengusap kembut rambut istrinya.
Sebelum tiba di apartemen, mereka memang sengaja mampir ke sebuah restoran dan membungkusnya untuk makan di rumah.
“Eum …” Nindi melting dan menjinjittkan kakinya untuk menyentuh bibir Sean.
“Hei, ada apa? Sepertinya akhir-akhir ini kamu agresif sekali?” tanya Sean yang menahan pinggang Nindi setelah wanita itu menciumnya.
“Ngga tahu. Rasanya suka aja disentuh kamu.”
Kedua sudut bibir Sean tertarik ke samping. “Nakal.”
Nindi mengelus dada suaminya. “Mandi bareng aja yuk! Makan aku dulu, baru nanti makan malam sebagai penutup.”
Sean kembali menyeringai. Entah mengapa sang istri kini semakin liar. Tapi ia sangat menyukai.
“Kucing dikasih ikan. Siapa nolak? Come on!” Sean langsung menggendong istrinya menuju bath up.
Nindi sangat manja. Ia meminta Sean untuk menggosok tubuhnya. Sean pun memenuhi permintaan itu dengan senang hati.
Sean dan Nindi berada di dalam bath up dengan busa melimpak dan aromaterapi yang menenangkan. Sean melebarkan kedua kakinya dan membiarkan Nindi duduk di depannya. Kedua tangan Sean aktif menyabuni tubuh itu.
“Mas, apa yang kamu suka dari tubuhku?” tanya Nindi.
“Semuanya.”
“Hm … pilih dua.”
Sean menggeleng. “Ngga bisa. Karena aku memang menyukai semuanya.”
“Sejak pertama kali kamu melihatku waktu itu?”
Sean mengangguk jujur. “Sejak melihatmu tanpa busana waktu itu. Aku menjadikanmu objek fantasiku.”
“Ish, ga sopan.” Nindi memukul dada Sean. “Pantes aja, kalau kita papasan bertemu, pandangan kamu aneh.”
Sean tertawa. “Itu yang membuatmu takut dan menghindariku setiap kita bertemu?”
Nindi mengangguk dan Sean kembali tertawa.
“Kalau sekarang sudah tidak takut?” tanyanya tepat di telinga Nindi.
Nindi membalikkan tubuhnya. Kepalanya pun menggeleng. “Kalau sekarang sepertinya aku yang ingin menelanmu, Mas.”
Sean pun menyeringai. Merasakan tangan Nindi menyentuh rudal yang sudah aktif dan siap meluncur itu.
Perlahan Nindi duduk di pangkuan Sean dan menelankan rudal amerika yang siap tempur tadi.
“Eum.” Nindi pun mulai bergerak, memimpin keadaan dan mengejar kenikmatannya.
“Oh, kamu semakin pintar, Sayang,” kata Sean merasakan gerakan Nindi yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
“Kamu suka?” tanya Nindi dengan suara sexy, seperti tubuhnya yang begitu sexy.
“Hm. Sangat. Aku menyukai semua yang ada di dirimu, Neng.” Sean menyambar bibir ranum Nindi dan memakannya hingga tak tersisa.
****
Nindi mengerjapkan matanya. Ia melihat ke arah jendela yang masih tertutup. Namun, sinar di luar sana sudah tampak bercahaya.
Nindi menatap wajah Sean yang masih terlelap. Setiap pagi ia selalu disuguhkan oleh paras tampan dan dada bidang yang terbuka itu. Nindi memejamkan matanya sejenak. Ia mengingat kegiatan panas yang mereka lakukan semalam saat mandi. Ia pun meminta lagi pada Sean untuk melakukannya setelah subuh.
NIndi menurunkan pandangannya ke perutnya yang rata. “Kamu ingin di sentuh Papamu terus ya.”
Walau belum mencoba alat tes itu, tapi entah mengapa Nindi sudah merasa bahwa di dalam tubuhnya sedang ada yang hidup.
NIndi bangkit dan perlahan menapakkan kakinya ke lantai yang dingin karena air condition di kamar itu. Ia meraih tas yang berisi alat tes itu. Lalu, ia beranjak ke kamar mandi untuk mencobanya. Kata orang, akan lebih efektif bila mencoba alat itu di pagi hari. Ayesha pun mengatakan demikian.
Nindi mulai memakai alat yang ia bel di apotek itu. ia menggigit bibirnya. Akankah hasil yang tertera di sana sama seperti yang ia rasakan.
Nindi menunggu beberapa detik, hingga benda itu menunjukkan sebuah garis merah, lalu diringi dengan satu garis berikutnya.
Nindi menutup mulutnya yang menganga. Ternyata ia hamil. Ia bisa bayangkan wajah Sean saat mengetahui kabar ini. Seketika air mata, itu pun mengalir di pipi mulus Nindi. Bukan airmata sedih, tapi airmata bahagia. Ia mengingat perjalanan kisah cintanya dengan Sean. sedikit sulit dan airmata. Namun, semua berakhir bahagia.
“Sayang, kamu ngapain? Kok pintunya pake dikunci segala sih?” tanya Sean yang berdiri di luar pintu kamar mandi itu.
Nindi langsung menghapus air matanya dan menyimpan kembali alat itu. ia ingin memberi Sean kejutan.
“Sayang,” panggil Sean lagi.
Pria itu langsung terbangun saat merasakan tubuh Nindi tak lagi di sampingnya.
“Iya, Mas. Tunggu!”
Nindi belum merasakan mual-mual yang berarti seperti yang diceritakan Ayesha saat mengandung Kaisar dan Kalila kemarin. Oleh karenanya, sebelumnya ia masih enggan untuk melakukan tes. Namun, saat berbincang dengn Ayesha kemarin. Ayesha menceritakan tentang ciri-cirinya. Apa yang dialami Ayesha, kini ia rasakan.
Ceklek
Nindi membuka pintu kamar mandi itu. Sean menatap istrinya. I juga melihat kedua mata Nindi yang seperti habis menangis.
“Kamu kenapa?” tanya Sean sambil menangkup wajah Nindi.
Nindi menggeleng. “Ngga apa-apa.”
“Hei, jawab kenapa? Apa semalam aku terlalu menyakitimu?”
Nindi kembali menggeleng.
“Apa akhir-akhir ini aku terlalu cepat duluan dan membuatmu tidak puas?”
Nindi menahan tawa dan kembali menggeleng.
“Maaf, Sayang. Kamu terlalu enak. Mas jadi ga tahan dan kalah terus.”
NIndi pun tertawa. Ia tak bisa lagi menahan tawa itu. “Kalau begitu, Mas harus menyiapkan sarapan paling enak setiap hari selama dua minggu.”
Nindi mengingatkan lagi perjanjian itu.
Sean tersenyum. “Iya, Mas akan membuatkan sarapan paling enak untukmu. Mau apa?”
“Hm … Nasi uduk semur jengkol.”
“Oh my God.” Sean pun menepuk jidatnya.
Nindi meminta makanan paling aneh menurut Sean. Makanan dengan aroma yang bisa membuat isi perut Sean keluar semua.
“Tidak ingin makanan yang lain?” tanya Sean.
Nindi pun menggeleng. “Ngga.”