
Sean memberhentikan mobilnya tepat di depan kost Nindi.
“Tuan putri,” panggil Sean sembari menepuk lembut pipi Nindi yang tertidur saat di pertengahan jalan, bahkan sudah sebentar lagi sampai.
Nindi tak bergeming. Tubuhnya masih diam dan tak merespon panggilan Sean.
“Hei, tuan putri. Bangun! Tempat tujuanmu sudah sampai.” Sean masih menepuk pelan pipi itu dan berganti mengelusnya.
Bibir Sean tersungging. Ia memperhatikan wajah ayu itu. Wajah khas orang Asia dengan kulit tidak hitam juga tidak terlalu putih, tapi bersih dan mulus. Hingga saat ini, Sen belum pernah mengatakan cinta pada Nindi. Namun, dirinya nyaman bila bersama wanita ini. Dan, Sean hanya mengikuti naluri.
“Eum …” Nindi menggeliat.
Sean pun menjauhkan tubuhnya yang semula mendekat ke kursi itu. Lalu, Mata Nindi mulai terbuka dan melihat ke sekeliling jalan dari dalam mobil sembari meluruskan tubuhnya yang pegal karena tidur dengan posisi duduk.
“Sudah sampai?”
“Sudah dari tadi,” jawab Sean.
“Kenapa tidak membangunkanku?”
“Kamu terlalu pulas,” jawab Sean tersenyum.
“Jadi dari tadi kamu diam? Menungguku bangun?” tanya Nindi lagi. “Kurang kerjaan.”
Sean tertawa mendengar Nindi menggerutu, padahal dari tadi ia sudah membangunkannya tapi memang Nindinya saja yang terlalu pulas.
Kemudian, Nindi mengaitkan tali tasnya ke pundak dan segera bangkit dari kursi penumpang itu dengan tangan yang siap untuk membuka pintu.
Namun, pintu itu belum bisa terbuka, karena Sean masih menguncinya.
“Mas, kok masih di kunci sih?” tanya Nindi sembari menengok ke arah Sean.
“Kamu belum cium ini.” Sean menunjuk bibirnya.
Nindi menyungging senyum. “Tadi bukannya udah?”
“Tadi itu ini.” Sean menunjuk pipinya. “Itu hadiah karena aku mengalah. Dan, sekarang kamu harus cium ini.” Sean kembali menunjuk bibirnya. “Sebagai hadiah karena aku mengantarmu.”
“Jadi, mengantarku harus ada imbalan?” tanya Nindi dengan senyum sembari mengernyitkan dahi.
“Sambil menyelam minum air.” Sean tertawa.
“Minum air terus, nanti kembung,” ledek Nindi yang kemudian memajukan tubuhnya ke arah Sean.
Nindi pun memasang wajahnya tepat di dekat tempat Sean duduk sambil memejamkan mata. Ia siap jika Sean ******* bibirnya atau bahkan memakan benda kenyal itu. Tapi Sean diam. Pria itu justru malah tersenyum, hingga Nindi membuka matanya.
“Ngga jadi?” tanya Nindi.
Sean malah tertawa.
“Kok malah ketawa?” tanya Nindi bingung sembari mengerucutkan bibirnya.
“Kamu lucu,” jawab Sean.
“Kenapa?”
“Ya udah, kalo gitu aku turun.” Nindi kesal dan hendak mengaitkan tangannya paa gagang pintu mobil.
“Eits, tunggu!” Sean langsung menahan lengan Nindi. “Gitu aja marah sih.”
“Bodo.” Tangan Nindi masih berada di pengait gagang pintu mobil, tapi pintu itu masih dikunci otomatis dari pintu Sean. “Buka, Mas. Aku capek mau istirahat.”
“Hei, kamu marah beneran?” Sean kembali menarik lengan Nindi.
“Tau ah.” Nindi melepaskan tangan Sean yang ada di lengannya.
“Hei.” Sean kembali menarik sang kekasih dan memaksa Nindi untuk menatapnya, hingga wajah mereka berhadapan tanpa jarak. “Mau banget aku cium?" terasa hembusan nafas Sean menerpa kulit wajah Nindi.
"Akan aku kabulkan.”
Cup
Sean mengecup bibir ranum itu, memakan benda kenyal di atas dan bawahnya bergantian. Ciuman Sean begitu lembut, hingga Nindi terbuai dan memejamkan mata. Ia membiarkan Sean mengeskplore bagian mulutnya, menjelajah setiap penghuni yang ada di area itu.
Kini, Nindi sudah bisa mengimbangi ciuman Sean, walau tidak semahir pria itu. Namun, Nindi sudah bisa mengatur nafas dan mencuri oksigen dari aktifitas itu tanpa Sean melepasnya dalam durasi yang cukup lama.
Kedua tangan Nindi mencengkeram kaos Sean yang berada di pinggangnya. Sedangkan kedua tangan Sean menahan tengkuk Nindi agar ciuman itu semakin dalam dan lama.
“Mpphh …”
Sean melepas pagutan itu. Namun, baru terhitung dua detik, ia kembali ********** dan mengulangi apa yang ia lakukan tadi hingga tiga kali.
“Mmpphh …” Nindi menarik ujung kaos Sean dan memintanya untuk menyudahi pagutan itu.
Kemudian, Sean pun menyudahinya.
“Mas, bibir aku bengkak,” protes Nindi.
“Salah sendiri tadi kamu yang minta dan aku orang yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan.”
Nindi memukul dada Sean. “Mas, nyebelin.”
Sean tertawa. Dan, kedua tangan masih memukul dada itu,. Lalu, Sean mengambil kedua tangan Nindi yang sedang memukul dadanya itu sembari tertawa dan memeluknya. Nindi pun menerima pelukan itu. Bahkan kedua tangan Nindi melingkar di pinggang Sean. Mereka cukup lama berada di dalam mobil. Untung saja, tidak ada petugas keamaan komplek yang memergoki mereka. Kalau iya, bisa dipastikan Nindi dan Sean akan dinikahkan paksa oleh rukun tetangga setempat karena dikira tengah berbuat mesum di dalam mobil. Namun, sepertinya justru itu memang tujuan Sean, agar cepat menikahi Nindi.
“Aku cinta sama kamu, Mas.” Tiba-tiba Nindi mengucapkan sesuatu yang membuat Sean terkejut.
Sean menatap Nindi dan Nindi pun melakukan hal yang sama hingga pelukan itu terlerai.
Nindi tersenyum. “Aku benar-benar cinta sama kamu, Mas. Kamu mau meperjuangkan aku kan?”
Sean menatap Nindi tanpa kata. Ia pun tengah bertanya pada dirinya sendiri. Hal itu membuatnya mematung sejenak.
“Mas,” panggil Nindi pada Sean yang masih mematung.
“Ya.” Sean mengangguk. “Aku akan memperjuangkanmu.”
Nindi tersenyum dan kembali memeluk Sean. Walau Sean tidak mengatakan cinta, tapi sikap tegas untuk memperjuangkan dirinya membuat Nindi lega dan merasa tidak berjuang sendirian dalam hubungan ini.
Nindi teringat dengan permintaan sang ayah sebelum ia ikut pulang bersama Anjas dan ibunya. Ayah Nindi sudah mengutarakan niatnya untuk menjodohkan Nindi dan Anjas. Namun, Nindi langsung menolak, ia membela Sean habis-habisan di hadapan sang ayah. Dan, ayah Nindi pun memberi waktu pada Nindi dan memberi waktu atas hubungan putrinya pada pria kota itu. Karena, ayah Nindi meyakini bahwa Sean tidak jauh beda dengan pria yang dulu pernah menyakiti almarhumah kakak Nindi.