
"Mas,” rengek Ayesha sembari meronta untuk dilepaskan dari pelukan itu.
Namun, Kevin tertawa dan tetap memeluk kepala Ayesha. Ia mendudukkan diri di lantai dapur itu dengan menyandarkan tubuhnya pada bagian bawah kitchen set sembari memeluk istrinya.
“Kamu memang bodoh dalam memasak, tapi kamu pintar di bidang yang lain.”
“Apa?” tanya Ayesha sembari mendongakkan kepalanya yang tengah masih dalam pelukan sang suami.
“Melayani Mas di ranjang,” jawab Kevin sambil mengarahkan matanya ke mata Ayesha dengan senyum lebar.
“Ish.” Ayesha merengut dan kembali meronta agar lepas dari pelukan si beruang kutub yang sekarang berubah menjadi mesum, bukan beruang kutub bermulut pedas lagi.
Kevin tertawa dan menarik lengan Ayesha yang pelukannya mulai melonggar. “Kamu pintar di bagian teknologi. Buktinya Pak Edward sering menyanjungmu.”
Sontak arah mata Ayesha kembali pada suaminya. “Benarkah?”
Kevin tersenyum dan mengangguk. “Dia sangat mengandalkanmu.”
Ayesha pun tersenyum dan Kevin kembali menarik tubuh itu untuk di peluknya kembali. “Setiap orang memiliki keahliannya masing-masing.”
Ayesha menerima pelukan itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Seketika suasana menjadi romantis, karena Kevin membiarkan tubuhnya menjadi sandaran untuk sang istri.
“Oh my God. Mas lupa,” kata Kevin tiba-tiba.
Ayesha pun melinggarkan pelukan dan mengahdapkan wajahnya pada wajah Kevin. “Ada apa?”
“Mas ingin marah,” jawab Kevin.
Ayesha mengernyitkan dahinya. “Kenapa?”
Lalu, Kevin mengambil ponselnya di dalam saku dan memperlihatkan unggahan sang istri. “Hapus.”
“Kenapa? Ini tuh bagus.”
“Hapus, Ayesha. Mas ga suka dengan komentar teman-teman kamu itu.”
Ayesha meraih ponsel Kevin dan membaca kolom komentar yang ia sendiri pun belum membacanya sejak foto itu diunggah.
“Ya, nanti aku hapus,” jawab Ayesha sembari menyerahkan ponselnya pada Kevin.
Ayesha berdiri dan hendak merapikan kekacauan dapur itu.
“Tidak, nanti. Tapi sekarang,” ucap Kevin yang ikut berdiri dan mencekal tangan istrinya.
“Iya, nanti Mas. Aku mau beresin ini dulu,” kata Ayesha dengan menunjuk pada bagian dapur yang berantakan.
“Ngga, pokoknya sekarang.”
“Lagi pula ponselku ada di kamar,” kata Ayesha sembari membersihkan kitchen set itu dan meletakkan alat-alat yang kotor pada tempatnya.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke kamar!”
Ayesha melirik ke arah Kevin. “Iya, nanti.”
Tiba-tiba Ayesha berteriak karena tubuhnya di angkat oelh pria berbadan tegap itu.
“Aaa ... Mas, turunin.” Ayesha menghentakkan kaki dan tangannya, karena Kevin menggendongnya seperti karung beras.
“Kamu tuh mesti di hukum. Pertama mengunggah foto selfie, kedua tidak mengangkat telepon Mas berkali-kali.”
“Itu, karena ponsel aku lagi di kamar Mas,” protes Ayesha yang tidak di dengar sama sekali oleh suaminya.
Kevin terus berjalan menuju kamar dan membanting tubuh Ayesha di ranjang. Lalu, ia menghimpit tubuh itu dengan kedua kakinya sembari melepas pakaiannya satu persatu.
“Mas, mau apa?” tanya Ayesha.
“Memberimu hukuman tentunya.”
Kevin langsung menindih tubuh Ayesha dan mencium bibir itu.
“Mmpphh .... Ma ... s.”
Kevin kembali mencaplok bibir itu dengan tangan yang bergerilya.
“Mmmpphh ....”
Lagi dan lagi, kevin ketagihan dengan tubuh itu. tubuh sang istri begitu nikmat dan rasanya tak ingin berhenti, hingga Ayesha kelelahan dan tertidur pulas di atas tubuh suaminya.
Kevin yang tidak tidur setelah pelepasan itu pun, hanya mengelus kepala istrinya yang terlelap di dadanya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, lalu ia mengecup kening Ayesha dan menggeserkan tubuh itu untuk terbaring sempurna.
Kevin bangkit dan memakai boxernya. Lalu, ia beralih ke dapur. Ia melihat hasil masakan sang istri dan mencoba masakan itu. memang rasanya sangat aneh. Kemudian, Kevin mengolah lagi masakan yang sudah jadi itu sehingga menjadi lebih enak dan layak di makan. Ia pun menambah satu masakan yang sudah Ayesha siapkan bahan-bahannya tetapi belum di masak.
Kevin menyajikan masakan itu di meja makan, lengkap dengan lilin layaknya sebuah dinner romantis ala resto.
Sontak, Ayesha yang kemudian bangun dan keluar kamar pun terkejut melihat suaminya tengah menyiapkan makan malam ditengah hari yang baru mulai gelap.
“Kamu yang membuatkan ini?” tanya Ayesha yang sudah berdiri di depan meja makan itu dengan mengganggam kain yang menutupi bagian dada dan b*k*ngnya saja.
“Tentu saja. Siapa lagi?”
Ayesah mengambil sedikit makanan itu. “Hmm ... enak. Kamu juga pintar memasak?”
“Tidak pintar. Tapi bisa,” jawab Kevin yang tumben tidak menyombongkan dirinya.
“Kalau begitu aku ingin makan,” kata Ayesha yang hendak menarik kursi itu.
“No.” Kevin menahan tangan istrinya. “Kamu ingin makan dalam kondisi seperti ini?” tanyanya yang melihat Ayesha memang belum menggunakan pakaian dan hanya berbalut kain putih tipis.
Ayesha nyengir.
“Kamu ingin menggoda Mas, hmm ...” kata Kevin menyeringai.
Ayesha menggeleng. Ia memang tidak menyadari bahwa dirinya tengah dalam kondisi seperti ini.
“Ngga, bukan begitu.” Ayesha melangkah mundur ketika Kevin menghampiri.
Namun dengan cepat Kevin meraih pinggang itu dan hendak menciumnya. Tapi, Ayesha dengan cepat menghindar hingga tubuhnya ke belakang.
“Mas, jangan!” Ayesah tertawa dan terus menghindar dari bibir Kevin yang berusaha meraih wajahnya dan hendak mencium bibir itu.
“Oke, kalau begitu aku mandi dulu.”
Kevin tertawa. “Karena kamu sudah aku tangkap jadi kita mandi bersama. Setelah itu baru makan malam.”
Ayesha menggeleng. “Nanti makanannya dingin.”
“Tidak.”
Kevin kembali menggendong istrinya, tapi kali ini ala bridal.
“Mas, mandi sendiri-sendiri aja,” rengek Ayesha.
“Kalau bareng lebih cepat.”
Ayesha menggeleng. “Pasti lama.”
Kevin tersenyum menyeringa. “Lama sedikit.”
“Mas,” rengek Ayesha lagi yang sulit membendung gairah suaminya.
Ayesha kuwalahan melayani sang suami. Ia tak menyangka, seorang Kevin yang kaku dan pendiam seperti ini akan sangat liar jika sudah bercinta.
“Mas, eum ...” lenguh Ayesha ketika bagian sensitif itu kembali di serang.
Kevin tersenyum melihat wajah Ayesha yang semakin cantik karena menikmati gerakan yang ia ciptakan.
“Sayang sama, Mas?” tanya Kevin di sela-sela gerakan itu.
Mata Ayesha yang sayu pun menggerakkan kepalanya. Ia mengangguk lemah. Ayesha seolah terhipnotis oleh sentuhan itu.
“Sudah menyukai Mas sejak kecil? Hmm?” tanya Kevin lagi dan di angguki oleh Ayesha.
“Nakal.” Bibir Kevin langsung menyeringai dan membisikkan dua kata di telinga Ayesha.
"You're mine."
Tidak ada lagi hal yang dikhawatirkan. Ayesha memang sudah berada dalam genggamannya. Wanita ini sudah benar-benar menjadi miliknya dan Kevin bebas melakukan apapun pada wanita yang tengah menyatu dalam dirinya itu.