
“Hmm … Anak daddy kenapa? Ditinggal Mommy ya? Memang Mommy kemana?”
Kevin hendak menggendong Kalila yang menangis di dalam box-nya. Sebelum itu, ia langsung melepas kemejanya hingga tersisa singlet berwarna putih.
Selepas pulang kerja, ia membuka pintu kamar dan tak melihat Ayesha di sana. Namun, ia mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Sepertinya sang istri sedang berada di dalam kamar mandi itu.
Kevin mengangkat bayi cantik itu dan menggendongnya. “Kalila haus?” tanyanya pada sang putri yang tak lagi menangis.
Ceklek
Ayesha membuka pintu kamar mandi. Menampilkan tubuhnya yang hanya berbalut kimono pendek tipis tanpa pakaian dalam.
“Mas sudah sampai dari tadi?” tanya Ayesha saat melihat suaminya sudah menggendong sang putri.
Ayesha mendekati Kevin yang menenangkan Kalila. Lalu, Kevin mencium kening Ayesha sembari menjawab pertanyaan itu. “Mas baru sampai, tapi tiba-tiba Kalila nangis.”
“Hm. Mungkin dia haus. Soalnya mereka sudah tidur tiga jam lebih dan belum terbangun sampai sekarang,” kata Ayesha tertawa. Sejak sore Kalila dan Kaisar tampak tidur tenang.
Kevin tersenyum dan mengelus pipi sang putri. “Hm … kamu haus ya. Daddy juga haus. Nanti gantian ya.”
Bugh
Ayesha langsung memukul dada suaminya. “Apa sih kamu?”
Kevin tertawa. “Ya kan jatah aku nanti malam. Tapi kalau dikasih sekarang ga nolak,” canda Kevin sembari tangannya nakal menoel dada bulat itu.
“Ish, kamu.” Ayesha menepis tangan Kevin dan menjauh.
Kevin langsung menarik lengan Ayesha. “Kemana?”
“Siapin air buat kamu. Memang ga mau langsung bersih-bersih?”
Kevin tersenyum dan melepaskan tangan itu, lalu membiarkan Ayesha kembali ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk suaminya, mengingat Kevin pulang sudah cukup malam.
“Memang ga capek, habis pulang kerja langsung main tenis?” tanya Ayesha pada suaminya.
Ayesha kembali mendekati Kevin yang kini malah asyik bermain dengan Kalila di sofa. Kalila tampak tidak menangis, justru bayi cantik itu terlihat tertawa karena ulah sang ayah yang sengaja menciumi tubuh mungilnya dengan jenggot tipis yang membuat bayi itu kegelian.
“Capek sih. Tapi kapan lagi kita kumpul? Mumpung lagi pada bisa dan kangen juga main tenis bareng,” jawab Kevin.
Usai keempat daddy itu makan siang bersama, Aldi mengajak Kevin, Sean, dan Tian untuk main tenis seperti zaman kuliah dulu. Semua pun menyetujui. Alhasil sepulang kerja, mereka kembali bertemu.
Ayesha berdiri did epan Kevin yang masih duduk di sofa dan mengelus kepalanya. “ya udah sana mandi. Biar Kalila sama aku.”
Kevin tersenyum dan menyerahkan putrinya pada sang istri. “Sayang, sekarang Tian tinggal di Jakarta.”
“Terus kenapa?” Ayesha balik bertanya.
“Ya, ga apa-apa. Cuma kasih tahu aja.”
Ayesha tertawa sambil menerima Kalila masuk dalam gendongannya. “Ga penting banget sih.”
Kevin ikut tertawa. “Untung kamu nikahnya sama aku, ga sama dia.”
Ayesha mengernyitkan dahi. “Emang apa hubungannya?”
“Ya ada. Kalau kamu nikah sama dia, kamu bakal dipoligami, karena sekarang Tian punya istri dua.”
“Apa?” tanya Ayesha terkejut. “Istri dua?”
Kevin mengangguk. “Ya. Satu bulan setelah menikah dengan sahabatmu, ternyata Tian ketahuan menghamili wanita lain.”
Ayesha hanya menggelengkan kepala tak percaya. “Terus nasib Jessi gimana?”
Kevin mengangkat bahunya. “Mana Mas tahu.”
“Jessi kasihan. Tian tega banget sih.”
Ayesha mencibir dan mengerucutkan bibir. “Gombal. Memang mulut pria itu manis sekarang, tapi ngga tahu sepuluh tahun atau dua puluh tahun kemudian.”
Sontak Kevin memeluk istrinya. “Mas setia, Sayang. Lagian, satu aja ga abis-abis.”
“Apanya yang ga abis?” tanya Ayesha polos.
"Ininya." Kevin pun langsung menyentuh bagian bawah itu. "Ya ampun, kamu tidak memakai celana d*l*m.”
“Mas.” Ayesha mendorong tangan Kevin.
“Ya ampun, Ayesha. Gimana mas bisa tergoda wanita lain kalau di rumah kamu seperti ini.”
Kemesuman kevin semakin bertambah setelah mendapati sang istri yang hanya mengenakan kimono tipis tanpa bra dan celana d*l*mnya.
“Mas, tangannya bisa diem ngga?” Ayesha memepringatkan sang suami. Ia kesal dengan tangan nakal yang sedari tadi menyentuh bagian-bagian sensitifnya karena tidak menggunakan kain penghalang.
Kevin tertawa. “Mas suka maininnya.”
“Mas, akulagi pegang Kalila. Udah sana mandi!” Ayesha mendorong suaminya.
“Tapi setelah ini giliran Mas ya?” Kevin menaik turukan alisnya.
“Giliran apa?” tanya Ayesha bingung.
Lalu, Kevin mengelus tenggorokannya. “Mas juga haus.”
“Maaasss,” teriak Ayesha kesal membuat Kevin segera lari ke kamar mandi untuk menghindari amukan sang istri.
“Dasar mesum!” Ayesha tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Ia kembali duduk di sofa dan menyusui Kalila, sebelum kaisar bangun dan meminta jatahnya untuk menyusu.
Pikiran Ayesha kini berkelana pada perkataan kevin tadi tentang Jessi dan Tian. Ia tak menyangka Tian mengkhianat Jessi dengan usia pernikahan mereka yang baru satu tahun. Ayesha memang sudah tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Tian, tapi ia measih menganggp Jessi sebagai sahabatnya. Sakit hati yang Ayesha rasakan dulu, tiba-tiba lenyap. Bahkan ia lupa jika dulu pernah merasakan sakit hati dikhianati sahabat. Itu semua karena Kevin. Kebahagiaan yang pria itu berikan mengobati semua luka di hatinya.
“Aku memang beruntung memilikimu, Mas,” gumam Ayesha tersenyum saat mengingat perjalanan cintanya bersama Kevin, pria dingin dan kaku yang sekarang berubah menjadi mesum.
“Sayang,” teriak Kevin dari dalam kamar mandi. “Shamponya habis.”
Ayesha menarik nafasnya kasar. “Sudah aku ganti botolnya yang baru, Mas. Disebelahnya, Mas.”
“Yang mana? Adanya yang kosong.”
Ayesha kembali menarik nafasnya kasar. Padahal ia sudah siapkan botol baru persis di sampng bath up, tapi Kevin masih mengambil botol lama yang belum ia buang dan berada di tempat biasa.
“Ada di situ. Cari dong, Mas! Aku taruhnya ga jauh kok,” jawab Ayesha yang juga sedikit berteriak.
“Ngga ketemu, Sayang. Sini cariin,” jawab Kevin dari dalam kamar mandi.
“Ya ampun, Mas.” Kesal Ayesha yang kemudian bangun dari duduknya.
Ayesha keluar dari kamar dan memanggil asisten rumah tangganya. Ia meminta si Bibi untuk menggendong Kalila dan melanjutkan memberi ASi yang tersedia di botol jika Kalila kembali menangis.
Lalu, Ayesha menghampiri pintu kamar mandi yang tidak di kunci. Lalu, ia menghampiri Kevin yang beada di dalam bath up.
“Ini apa sih, Mas? Kamu ga nyari, jadi ga ketemu.”
Kevin nyengir. “Sayang, mandiin Mas dong.”
“Dasar manja.” Ayesha tertawa dan duduk di tepi bath up untuk menggosok punggung suaminya serta mencuci rambut itu.
“Aku serasa memiliki tiga bayi,” ujar Ayesha di sela aktifitas itu.
Kevin tersenyum sembari menikmati pijatan tangan Ayesha yang lembut di kepalanya. Setelah ini, ia juga akan merasakan pijatan lembut di bagian lain.
Ayesha memang tidak pernah bisa menolak keinginan Kevin. Hal itu yang membuat Kevin semakin mencintai sang istri. Tidak ada terbesit di benaknya sama sekali untuk mencari menduakan sang istri, karena baginya Ayesha lebih dari sempurna. Walau kata sempurna tidak akan pernah ada, tapi bagi Kevin Ayesha wanita sempurna yang melengkapi hidupnya dan memberi kebahagiaan padanya.