
“Sepertinya ada yang udah move on dari Kinara?” tanya Kevin pada Sean saat ia menjemput istrinya yang berada di apartemen Sean untuk menemani Nindi pulang dari rumah sakit.
Sean tersenyum. Kedua pria itu duduk di ruang televisi di sofa yang berbeda.
“Minum, Kev.” Sean menawarkan minuman yang ia bawa untuk bosnya.
Kevin tertawa dan mengambil minumannya. “Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Entahlah!” Sean mengangkat bahunya. “Gue juga masih ga ngerti sama perasaan gue sendiri.”
“Halah, dulu aja lu pinter nasehatin gue,” celetuk Kevin setelah menyesap minuman dingin itu dan kembali meletakkannya di meja.
Sean tersenyum kecil. Ya, sewaktu Kevin gengsi menyatakan cinta pada Ayesha, Sean adalah orang yang paling terdepan untuk mengingatkan bos sekaligus sahabatnya itu agar tak kehilangan wanita baik seperti Ayesha.
“Nindi wanita baik,” ucap Kevin dan Sean pun mengangguk.
“Lalu?” tanya Kevin untuk menanyakan kesungguhan jalinan asmara yang Sean lakukan.
Akankah sahabatnya yang dikenal playboy ini melepas masa lajangnya dalam waktu dekat?
“Apanya?” Sean malah balik bertanya membuat Kevin tertawa.
“Masih ada waktu beberapa hari untuk meyakinkan hatimu, Dude. Sebentar lagi Kinara akan pulang. Keyakinan lu pada Nindi harus kuat karena kalau tidak, kehadiran Kinara akan menggoyahkan perasaan lu sekarang. Dan, sebelum itu terjadi lu harus udah bisa memilih. Jika tidak, bisa dipastikan lu ga akan dapet dua-duanya.”
Sean tersenyum sembari melirik ke arah Kevin. “Sejak kapan seorang Kevin jadi pintar memberi nasehat tentang cinta?”
Kevin tertawa. “Walau gue ga pernah pacaran dan gonta ganti cewek kaya lu, tapi gue selangkah di depan karena sekarang gue udah mau jadi bapak.”
“Sombong,” kata Sean sembari melengos ke arah lain. Kesal sekali jika Kevin sudah membanggakan dirinya.
Kevin pun tertawa. “Udah ah, gue mau pulang. mau kelonan sama Ayesha.”
“Dih, naj*s.” Sean tambah kesal dan itu yang Kevin inginkan.
Kevin tertawa melihat ekspresi sahabatnya. Kali ini, ia senang meledek Sean, orang yang sering membully-nya ketika bicara soal cinta dan wanita.
“Mas,” panggil Ayesha saat Kevin dan Sean bangkit dari duduknya untuk segera menghampirinya di kamar.
Kevin langsung menghampiri istrinya dan mengecup kening Ayesha. “Udahan, Dek. Kita pulang yuk!” katanya sembari mengelus perut Ayesha.
“Kamu udah makan?” tanya Kevin pada Ayesha dengan memainkan rambut Ayesha yang sudah lebih dari sebahu.
“Sana pulang. Jangan mesra-mesran disini!” ucap Sean.
“Ada yang panas,” kata Kevin tertawa.
Ayesha hanya tertawa melihat kedua sahabat ini berseteru.
“Lama-lama rese ya lu, Kev.”
Kevin pun kembali tertawa.
“Kak, Nindi sekarang udah tidur. Tadi juga obatnya udah di minum semua,” ucap Ayesha menengahkan kedua sahabat yang sedang bertengkar tadi.
“Awas, anak orang dijaga yang bener. Jangan macem-macem sebelum ijab qobul!” kata Kevin.
“Ya, siapa tahu lu khilaf. Secara di apartemen ini cuma ada kalian berdua.”
“Lu ya, Kev. Ngajak ribut terus.” Entah mengapa Sean kesal jika ada orang yang tidak percaya bahwa dirinya tidak lagi seperti dulu.
Kevin tertawa. “Ya, maaf. Gitu aja marah. Lagi PMS apa lu?’”
“Udah sana pulang!” Sean mendorong bahu Kevin untuk keluar dari apartemennya.
“Wah kurang ajar lu, masa ngusir bos sendiri.”
“Bodo amat. Semakin lama disini, omongan lu bikin gue kesel. Mending pulang sana!”
Ayesha tertawa. Ia dan Kevin berjala menuju pintu untuk pulang. Lalu, Sean mengantarkannya.
“Ay, kamu hebat,” kata Sean sesaat setelah Ayesha dan Kevin hendak keluar dari apartemen ini. “Bisa betah sama orang kaku dan bermulut pedas ini.”
Sean mengarahkan matanya ke arah Kevin.
“Tapi, dia manis seperti beruang madu,” jawab Ayesha tersenyum sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kevin dan Kevin pun menerima pelukan serta senyuman itu.
“Dih, sama-nya lu berdua.” Sean menggelengkan kepala, sedangkan Ayesha dan Kevin tertawa.
Jujur, kemesraan Kevin dan Ayesha membuat Sean iri. Ia sudah lama tidak dibelai, sudah lama tidak merasakan sentuhan dan perhatian wanita. Ingin rasanya ia kembali menyewa jasa pekerja **** komersil untuk meluapkan hasrat yang lama terpendam. Namun, ia tidak ingin kalah dengan perjuangan yang telah ia lakukan selama satu tahun terakhir ini. Walau banyak teman wanitanya yang menanyakan kabar dan kapan bisa bermalam bersamanya lagi. Tapi, Sean menghiraukan semua pesan itu. Bahkan ia memblokir nama-nama wanita yang pernah menjadi pelampiasan naf*nya sesaat itu.
Sean menutup pintu apartemennya, setelah Kevin dan Ayesh tak laghi terlihat di lorong itu. Ia kembali masuk dan melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia ingin melihjat keadaan Nindi di sana. Sesampainya di pintu kamar. Perlahan, Sean membuka pintu yang tak terkunci itu. Lalu, ia memandangi Nindi yang tengah berbaring dengan selimut yang menyelimuti seluruh tubuhnya hingga leher. Sepertinya, Ayesha yang telah menyelimuti Nindi saat Ayesha meninggalkan Nindi yang mulai terpejam.
Saat pintu kamar dibuka, Nindi sedikit terhentak. Ia sadar bahwa Sean tengah masuk ke dalam kamar dan menghampiri. Namun, Nindi tetap memejamkan mata.
Sean duduk di tepi tempat tidur, tepat di kepala Nindi yang sedang berbaring dengan mata terpejam. Tangan Sean pun terangkat untuk menelus rambut itu.
“Kalau ternyata perasaanku tidak pura-pura, bagaimana?” tanya Sean dengan gumaman yang cukup jelas terdengar oleh Nindi yang pura-pura tidur.
“Apa kamu mau jadi pacar sungguhanku?” tanyanya lagi.
Sean menjepit dagu Nindi dan menggerakkan kepala itu hingga mengangguk-angguk.
“Aku tahu kamu pasti tidak menolak,” ucap Sean tersenyum.
Sementara Nindi merasakan kepalanya yang bergerak mengangguk paksa. Namun dalam hati, Nindi pun tersenyum. Cara Sean yang pemaksa menjadi lucu. Padahal, ia tidak terpaksa jika harus menjadi pacar sungguhan Sean, mengingat apa yang telah pria itu lakukan padanya akhir-akhir ini.
Nindi sengaja tidak mengabarkan kondisinya yang sedang sakit pada kedua orang tuanya di kampung. Ia tidak ingin merepotkan dan membuat resah kedua orang tuanya di sana.
Virus merah jambu di hati Nindi pun semakin menjadi. Perhatian Sean sampai ke hati Nindi dan membuat wanita itu berbunga.
“Istirahat ya!” ucap Sean sembari mengecup kening Nindi.
Ini adalah kali pertama kening Nindi di kecup, setelah sebelumnhya Pipi yang dikecup oleh pria yang sama. Perlahan tapi pasti, Sean mulai menyentuh anggota tubuh Nindi satu-persatu. Anggota tubuh yang sebelumnya belum terjamah oleh siapapun. Dan kecupan kedua kalinya dari bibir Sean, justru memberi Nindi kenyamanan. Ia sangat menikmati sentuhan bibir Sean di kulit keningnya.
“Night!”
Sean tersenyum dan mulai bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Nindi tertidur di kamarnya dan menutup kembali pintu itu saat keluar.