
Ting Tong
Ayesha menekan bel kediaman Vicky dan Rea. Ia dan sang suami sengaja pagi-pagi sekali check out dari hotel dan langsung menuju tempat ini.
Di dalam rumah itu, Rea sedang menyiapkan sarapan pagi, sementara Vicky sudah duduk di meja makan dan Vinza masih berada di dalam kamar bersiap diri untuk bergabung bersama keluarganya di meja makan.
“Bi, tolong bukakan pintu,” ucap Rea ketika ia mendengar suara seseorang menekan bel rumahnya.
Bi Siti masih kerabat jauh dari ibunya Rea yang mengabdi pada keluarga ini sejak Rea melahirkan Ayesha. Saat itu, Rea mulai kerepotan ketika mengurus Vinza yang mulai masuk play grup dan kembali memiliki bayi.
Bi Siti mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya ke ruang tamu.
Ceklek
Perlahan Bi Siti membuka pintu besar itu. Ia langsung terkejut mendapati anak perempuan yang sudah ia asuh sejak lahir itu.
“Aaa ....” teriak Bi Siti saat melihat senyum manis Ayesha.
“Apa kabar Bi?” tanya Ayesha. “Masih inget Ay kan?”
“Non Ay.” Bi Siti menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut, ditambah penampilan Ayesha yang membuatnya pangling.
“Ibu .... Bapak .... Non Ayesha pulang,” teriak Bi Siti histeris.
Sontak, Rea dan Vicky pun segera mendekati suara teriakan itu.
“Ayesha,” panggil Rea dari kejauhan yang sudah melihat sosok putrinya berdiri di pintu.
“Mama.”
“Ayesha.”
Ibu dan anak itu pun berpelukan erat. Empat bulan lebih, Rea melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua dan meninggalkan sang putri di tempat yang jauh dari jangkauannya.
“Kevin,” sapa Vicky yang juga langsung berpelukan dengan menantunya.
“Kenapa tidak memberi kabar kalau mau ke sini?” tanya Rea setelah melonggarkan pelukan pada Ayesha yang semula begitu erat.
“Surprise Ma,” jawab Kevin yang kemudian mencium punggun tangan ibu mertuanya setelah berpelukan pada ayah mertua.
“Kalo ga dadakan ga jadi-jadi, Ma,” celetuk Ayesha tersenyum.
Kemudian Kevin kembali memeluk pinggang istrinya, setelah ia dan orang tua istrinya saling sapa dan berpelukan.
“Kamu beda banget, Ay.” Vicky menelusuri bentuk badan putrinya.
“Iya, Non. Bi Siti aja ampe pangling,” sahut Bi Siti yang masih berdiri di sana.
Ayesha hanya tersenyum. “Tambah cantik ya, Bi?”
“Iya, Non. Makin cantik.”
Vicky melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Ia dan Rea tersenyum bahagia melihat putrinya yang kini juga terlihat bahagia, karena sedari tadi Ayesha dan Kevin terus melebarkan bibir.
“Pasti perubahan ini berkat suamimu?” tanya Vicky melirik ke arah Kevin.
Kevin terdiam. Ia tersenyum kecut dan bingung menjawab pertanyaan itu.
“Iya, Pa. Ayesha ikut pola hidup sehatnya Mas Kevin. Dan, terbukti jadi seperti ini,” jawab Ayesha membanggakan suaminya di hadapan Vicky dan Rea.
Walau sebenarnya yang terjadi tidaklah seperti yang terlihat.
“Wah, berarti Kevin emmbawa dampak positif buat kamu,” sahut Rea. “Dari dulu Mama tuh ga bisa banget bikin Ayesha kurus. Kalau disuruh diet, ada aja alesannya. Eh sekarang akhirnya dia berhasil.”
Kevin tersenyum sembari melirik ke arah istrinya. Ayesha pun melakukan hal yang sama, hingga pandangan mereka bertemu sesaat dan Kevin menampilkan senyum seolah berkata terima kasih karena sang istri telah menutupi semua aibnya, sikap buruknya selama ini pada sang istri yang begitu sabar menghadapi.
“Kalau begitu, Ayo sarapan bersama!” ajak Rea pada Ayesha dan kevin menuju ruang makan.
“Kalian tiba pukul berapa?” tanya Vicky di sela langkah mereka menuju ruang makan. Sedangkan Rea dan Bi Siti langsung menuju dapur untuk melanjutkan aktivitas yang tertunda.
“Kami sampai dini hari, Pa. Lalu, menginap di hotel terdekat dan berangkat pagi-pagi ke sini,” jawab Kevin yang diangguki Vicky.
“Eh ada orang jauh,” teriak Vinza dari tangga sembari menurunkan kakinya di sana.
“Hai, Za.” Kevin berdiri menyambut Vinza yang baru bergabung di ruang ini.
“Lu juga, makin mateng aja.” Kevin menepuk punggung kakak iparnya.
Kedua pria itu pun tertawa.
“Tapi sampai sekarang Vinza ga punya cewek, Kev.” Celetuk Vicky.
“Ya, padahal dulu Papanya waktu seusia Vinza udah gonta ganti cewek berapa kali? Ampe ga ke hitung,” ledek Rea yang datang dengan membawa makanan, lalu di letakkan di meja itu.
Ayesha pun membantu ibunya yang membawa makanan dari dapur ke meja itu.
Kevin dan Vinza tertawa. Begitu pun Vicky.
“Jangan buka kartu Papa depan anak-anak dong, Ma.” Vicky nyengir.
“Ngga dibuka juga udah pada tahu, ya.” Sanggah Rea tersenyum.
“Calon Vinza sebenarnya udah nunggu. Ma, Pa. Tapi Vinzanya aja yang lama bertindak,” ucap Kevin sembari kembali duduk dan Vinza ikut duduk di sebelahnya.
“Oh ya? Siapa?” tanya Rea.
“Dokter spesialis kandungan yang sedikit lagi masa baktinya selesai di Belitung,” jawab Kevin.
Vinza hanya tersenyum.
“Kinara?” tanya Rea.
Sedangkan Vicky memang sudah mengetahui itu sejak putranya remaja. Namun, ia diam saja. Kisah Vinza dan Kinara mengingatkan dirinya dan Kiara dulu. Walau akhirnya memang mereka tidak berjodoh karena cinta Vicky bertepuk sebelah tangan.
“Cie kakak, sebentar lagi Kak Kinara pulang loh,” ledek Ayesha yang ikut duduk di samping suaminya.
“Apaan sih.” Vinza menyanggah sembari tetap mengambil makanannya.
Vinza memang tahu kisah sang ayah dulu bersama ibunya Kinara. Itu pun ia tahu dari Kinara yang pernah diceritakan oleh ibunya langsung. Sedangkan Vicky tidak pernah sama sekali menceritakan masa lalunya bersama Kiara pada Rea dan putra putrinya.
“Ish, masih gengsi aja. Gengsi itu ga enak tahu kak.” Ayesha melirik ke arah Kevin. “Nanti kalo Kak Nara diambil orang baru deh berasa, baru deh ngejar-ngejar.”
Ayesha mengatakan hal itu pada sang kakak sembari menyindir suaminya.
“Ngga tuh. Lagian cewek tuh banyak,” kata Vinza sombong.
“Iya, banyak. Tapi yang sreg dihati kan cuma satu,” jawab Ayesha.
“Eh, adiknya kakak yang Ndut udah pinter ngomong ya,” ledek Vinza sembari menoleh ke arah Ayesha. “Eh, tapi kamu udah ngga Ndut lagi ya, Dek. Di apain sama Kevin? Di sedot ya jadi menipis?”
Sontak mereka pun tertawa.
“Apaan sih kak?” rengek Ayesha sembari memukul Vinza. Kakak Ayesha itu menahan pukulan adknya dengan lengannya yang cukup berisi.
“Udah, udah, becanda terus. Ayo makan!” ucap Rea.
Lalu, Ayesha mengambil makanan untuk suaminya.
“Mas mau ini?” tanya Ayesha pada Kevin dengan menunjuk pada rendang yang baru saja Rea buat.
Entah mengapa pagi in, Rea ingin sekali masak makanan besar. Mungkin feeling seorang ibu yang merasa bahwa hari ini akan dikunjungi oleh putri dan menantunya.
Kevin mengangguk.
“Beneran mau? Bukannya Mas ga suka rendang ya?” tanya Ayesha yang memang tahu bahwa Kevin tidak menyukai makanan itu saat Hanin membuat makanan itu tidak dengan isi daging melainkan jengkol.
Kevin tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa Ayesha masih mengingat kejadian itu. Kejadian mengerikan menurut Kevin karena setelah memakan makanan itu, ia harus memuntahkan isi perutnya hingga lemas. Saat itu, rendang jengkol yang dibuat Hanin tepat di saat keluarga Kenan sedang menerima kunjungan dari keluarga Vicky. Kala itu, Hanin sengaja memasak makanan kesukaan Vicky.
“Sekarang udah suka kok,” jawab Kevin pelan.
Ayesha pun tersenyum dan mengambil makanan itu.
Lalu, Ayesha meletakkan piring itu tepat di depan Kevin dengan tubuh yang menempel dekat pada Kevin yang sedang duduk di kursinya.
Kevin pun membisikkan sesuatu di telinga Ayesha. “Mas cinta kamu.”
Ayesha menoleh ke wajah itu sembari tersenyum. Sekali mengutarakan, Kevin justru terus menerus mengatakan itu.
Ayesha tersenyum sendiri sembari menyendokkan beberapa lauk yang tersedia di sana ke piringnya. Memang Kevin pria yang aneh, tapi entah mengapa Ayesha menyukai pria aneh ini sejak kecil.