XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Keputusan Ayesha



Selang beberapa hari kemudian, keadaan masih sama. Kevin masih dingin seperti sebelumnya. Weekend kemarin pun, Ayesha ditinggal sendirian di apartemen. Bukan karena Kevin yang meninggalkannya dengan sengaja, melainkan suaminya itu harus terbang ke Singapura bersama Sean mendadak untuk urusan pekerjaan.


Ayesha yang tidak ingin didera rasa bosan pun menikmati weekend itu bersama Nindi di sebuah mall dan spa salon khusus wanita. Ayesha sengaja menggunakan kartu limitid edition milik suaminya yang tak pernah ia gunakan.


Kevin keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah disiapkan Ayesha sebelumnya. Lalu, pria itu menghampiri Ayesha yang sedang mengaduk coklat hangat.


“Kamu belum siap?” tanya Kevin ketika mendapati sang istri yang masih mengenakan pakaian rumahan.


“Aku nanti saja berangkatnya. Kamu duluan aja,” jawab Ayesha yang tidak melihat ke arah Kevin.


Kevin menatap lekat istrinya dan berdiri cukup dekat dari tempat Ayesha berdiri. “Kamu kenapa? Sakit?”


Ayesha menggeleng. “Ngga. Cuma kangen Mama sama Papa aja.”


“Kapan-kapan kita ke sana,:” jawab Kevin.


Ayesha hanya mengangguk.


Kevin terlambat, semalam Ayesha sudah memesan tiket ke Melbourne untuk siang ini. Ia benar-benar lelah dengan semua yang terjadi dan ingin kembali.


Ayesha juga sudah membuat surat pengunduran diri semalam.


Kevin kembali mendekatkan tubuhnya dan menempelkan telapak tangannya ke kening Ayesha. “Suhu tubuhmu normal.”


“Aku ga apa-apa, Mas.”


“Kalau begitu, Mas akan menjagamu di sini.”


Ayesha menggeleng. “Tidak perlu. Nanti aku juga ke kantor kok. Tapi sedikit terlambat. Aku udah bilang ke Mbak Risa.”


Ayesha tersenyum untuk meyakinkan suaminya.


“Kamu yakin?” tanya Kevin.


Ayesha mengangguk. Lalu, ia kembali berkata, “tapi aku tidak menyiapkan Mas sarapan. Aku lagi males. Tidak apa kan?”


Kevin tersenyum. “It’s oke. Aku bisa meminta Sean untuk memesan makanan nanti di kantor.”


Ayesha kembali mengangguk dan tersenyum.


Kemudian, Kevin mengambil jasnya.


“Mas,” panggil Ayesha.


Kevin pun langsung menoleh.


“Kamu belum memakai dasi. Mana dasinya? Biar aku pakaikan,” ucap Ayesha sembari menengadahkan tangannya.


Kevin tersenyum dan memberikan benda yang masih berada di tangannya. Semula, ia memang ingin meminta Ayesha untuk memakaikan benda itu tapi lupa.


Ayesha memasangkan dasi di leher Kevin dengan talaten dan rapi. Pandangan Kevin tak lepas dari wajah cantik itu. Ia mengamati ekspesi istrinya saat memasangkan dasi hingga beberapa menit.


“Selesai,” kata Ayesha.


Kevin tersenyum. “Baiklah, Mas berangkat.”


Komunikasi mereka, memang hanya sebatas itu. sebatas yang diperlukan saja.


“Mas.” Ayesha kembali memanggil suaminya.


Sontak kevin menoleh. “Ya.”


“Hmm ... Maaf kalau aku banyak salah,” ucap Ayesha.


Kevin tersenyum dan mengangguk. “Mas juga minta maaf atas sikap dan kata-kata Mas yang sering menyakitimu.”


Ayesha ikut tersenyum dan mengangguk. Bibirnya enggan sekali untuk meminta izin bahwa siang ini, ia akan terbang ke Melbourne dan mampir ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri saja.


Ayesha juga sudah mengatakan pengunduran dirinya pada Nindi. Ia juga mengutarakan keinginannya untuk kembali tinggal bersama keluarganya dan bekerja di sana. Ia sudah terlalu lelah dengan gosip di kantor dan sikap Kevin di rumah. Oleh karena itu, ia dan Nindi menghabiskan waktu berdua weekend kemarin, sekalian perpisahan. Namun dengan berat hati, Ayesha tidak pamit pada Hanin, Kenan, dan Rasti.


Mereka berdiri berhadapan cukup lama, tanpa ada kata lagi yang diucapkan selain permohonan maaf tadi.


“Baiklah, Mas berangkat.” Kevin melepaskan kecanggungan itu dan membalikkan tubuhnya.


“Hati-hati, Mas.”


Kevin kembali menoleh ke arah Ayesha dan berkata, “Jangan jalan kaki! Kalau ingin berangkat kasih kabar, nanti aku minta Sean menyuruh sopir untuk menjemputmu.”


Ayesha mengangguk dan kembali tersenyum. Kevin pun ikut tersenyum hingga ia meninggalkan Ayesha yang masih berdiri di tempatnya.


Jegrek.


Terdengar pintu apartemen itu tertutup.


Ayesha langsung melangkahkan kakinya ke kamar dan memasukkan pakaian ke dalam koper kecil. Tekadnya sudah bulat, ia ingin merefresh dirinya sejenak. Lagi pula ia sudah sangat rindu dengan keluarganya, keluarga yang selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.


Lalu, Ayesha meletakkan semua kartu yang diberikan Kevin di atas nakas. Ia juga meletakkan cincin pernikahannya di samping kartu itu. sepertinya ia sudah menyerah, karena menurutnya ia tidak bisa meluluhkan hati Kevin.


Setelah berpakaian rapi dan merapikan koper, Ayesha memesan taksi online. Taksi yang sekalian akan membawanya ke bandara siang ini.


“Pak, tunggu di basement ya! Argonya tetap dinyalakan saja,” ucap Ayesha saat ia tiba di gedung Adhitama.


“Iya, Mbak.” Sopir itu pun mengangguk.


Ayesha meninggalkan kopernya di dalam taksi dan ia memasuki gedung itu. Langkah Ayesha langsung tertuju ke ruang HRD.


Di ruang CEO, Kevin meminta Sean untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini. Sejak sampai di kantor, pikiran Kevin selalu tertuju pada Ayesha. Ia mengkhawatirkan keadaan istrinya.


“Kay, atur semua jadawal gue hari ini ya!” kata Kevin ketika sekretaris sekaligus sepupunya itu masih berdiri di hadapannya.


“Ya. Oke.” Kayla mengangguk dan menerima berkas yang sudah Kevin tanda tangani.


“Apa Ayesha hamil?” tanya Kayla tiba-tiba.


Sontak Kevin terkejut. Memang terkakhir yang ia lihat tadi, Ayesha tampak pucat.


Kevin menggeleng. “Ngga tahu.”


“Ah, payah. Jadi suami perhatian dikit dong,” ucap Kayla sembari pergi dari hadapan bosnya.


Kevin berpikir sejenak. Namun, ia menepis itu karena tidak ada tanda-tanda Ayesha yang tengah hamil muda. Ia tidak pernah melihat Ayesha mual-mual di pagi hari.


“Saya akan membayar uang pinaltinya nanti,” kata Ayesha membuat Danu menyernyitkan dahi.


Ya, memang di kontrak yang Ayesha tanda tangani tertera poin yang menyatakan bahwa kontrak dilakukan selama dua tahun, jika mengundurkan diri sebelum waktu kontrak maka akan terkena penalti sebesar lima ratus juta rupiah.


“Uang penalti?” tanya Danu bingung.


“Ya, kan dalam surat kontrak tertera bahwa ada penalti jika saya mengundurkan diri sebelum masa kontrak?” Ayesha balik bertanya.


“Tapi perusahaan ini kan milik Bu Ayesha. Jadi tidak perlu ada uang penalti,” jawab Danu. “Lagi pula, pasti Pak Kevin yang meminta Bu Ayesha berhenti. Iya kan?”


Ayesha mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka bahwa Danu mengetahui rahasia pernikahan ini.


“Hanya saya yang tahu Bu Ayesha adalah istri Pak Kevin. Mereka diluaran membuat gosip, nanti juga mereka mingkem kalau tahu kenyataannya. Sama kaya saya waktu itu,” kata Danu lagi.


Ayesha kembali tersenyum kecut. Ia tak lagi banyak bicara dan pamit. Ayesha pun pamit pada teman-teman seruangannya.


“Apa ini gara-gara aku?” tanya Tian tiba-tiba.


Ayesha menoleh ke sumber suara itu. Ia hanya tersenyum. “Aku pamit juga, Yan. It’s over.”


Tian mencekal lengan Ayesha di hadapan Diah, Risa, dan Melodi. Menambah gosip yang beredar saja.


“Apa kamu diminta resign oleh suamimu?” tanya Tian.


“Suami?” bisik Diah pada Melodi dan Risa.


“Ayesha sudah menikah?” tanya biang gosip itu sembari berbisik dan saling melirik bergantian.


Ayesha menggeleng. “ini inisiatifku sebagai bukti dari apa yang pernah aku katakan di pesan itu.”


“Di luar sana, banyak wanita yang lebih baik dariku,” ucap Ayesha lirih pada Tian. “Percayalah.”


Tian membiarkan Ayesha pergi dari ruangan itu. Ayesha kembali bergerak ke lantai enam untuk pamit dengan sahabatnya.


“Nindi,” teriak Ayesha ketika berdiri di depan ruangan yang pernah menjadi saksi kebersamaan bersama Nindi.


“Ayesha.” Nindi langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Ayesha. “Kamu jadi pergi?”


Ayesha mengangguk. “Ya, taksi aku sudah nunggu di basement.”


Tiba-tiba Nindi memeluk Ayesha dan menangis. “Aku ga mau kehilanganmu, Ay.”


“Aku juga Nin, tapi keputusan ini memang harus aku ambil. Kalau ngga, aku bisa gila,” kata Ayesha tertawa sembari menepuk punggung Nindi.


“Ayesha, apa ga ada cara lain selain pulang?”


Ayesha menggeleng. “Ngga. Aku kangen Nin sama orang tuaku.”


“Tapi setelah itu balik lagi ke sini ya.”


“Ngga janji Nin,” jawab Ayesha meledek.


“Serius napa, Ay. Aku serius ini.”


Ayesha tertawa dan melonggarkan pelukan. Ia melihat mata Nindi yang mengeluarkan airmata.


“Kalau ini gara-gara Pak Kevin, aku akan marah sama dia,” ujar Nindi.


“Emang berani?” tanya Ayesha.


“Beranilah, demi kamu.”


“Uuuh ... co cweet,” kata Ayesha tertawa.


****


Kevin yang sedari gelisah, mendial nomor Ayesha.


Tut ... Tut ... Tut ...


Di sana hanya terdengar nada sambung. Kevin mematikan panggilan itu dan kembali menelepon. Namun, beberapa ia melakukan hal itu tapi hasilnya tetap sama. Ayesha tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Lalu, Kevin mengirimkan pesan.


“Kamu baik-baik saja? Mengapa teleponku tidak diangkat? Kamu masih di apartemen?”


Sedari tadi, ia belum mendapat kabar dari Ayesha. Padahal sebelum berangkat ia janji akan meminta sopir untuk menjemput istrinya.


Kevin terus menatap layar ponselnya, menanti jawaban pesan dari sang istri. Bibirnya tersenyum ketika pesan yang ia kirim itu bercentang biru dan tertera ‘sedang mengetik’ di nama Ndut Sayang.


“Mas, maaf aku baru bilang sekarang. Aku pamit balik ke Melbourne dan aku tadi sudah mampir ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri pada Pak Danu. Ternyata Pak Danu tahu tentang pernikahan kita?” Ayesha memberi emot tertawa. “Pantas, dia tidak mau aku memberi uang penalti.”


Sontak Kevin terkejut.


“Apa maksudmu?”


“Sekarang aku sudah di bandara. Baru saja sampai. Bye, Mas. Maaf aku tidak bisa mengambil hati Mas. Dan, memang sejak dulu seperti itu. Maaf, aku juga tidak bisa menjadi istri yang Mas inginkan. Aku serahkan akhir hubungan ini padamu. Aku tidak akan kembali. Jika Mas membutuhkan tanda tanganku untuk surat-surat perpisahan kita, Mas bisa kirim ke Melbourne.”


Kevin mengeram membaca pesan balasan dari istrinya. Ia tidak membalas pesan itu lagi dan langsung mengambil kunci mobil.


“Kev, mau ke mana?” tanya Kayla yang melihat Kevin tergesa-gesa meninggalkan ruangan saat ia hendak masuk dan ingin menyerahkan beberapa jadwal terbaru.


Kevin tidak menjawab dan berlalu dari hadapan Kayla.


“Kev, mau ke mana?” tanya Sean yang juga hendak ke ruangan Kevin dan berpapasan dengan bosnya di lorong.


“Bandara. Ayesha mau ke Melbourne,” jawab Kevin sembari berjalan cepat meninggalkan Sean.


Sean langsung mengejar bosnya. “Gue bilang apa? Makanya jangan terlalu dingin Kev. Ayesha tuh cinta sama lu. Lagian lu juga, bilang cinta aja susah banget. Cewek tuh pengennya laki yang ngomong duluan.”


“Udah jangan banyak ngomong! Mau ikut ga?” tanya Kevin yang sudah berada di depan lift sembari menekan tombol terbuka agar pintu lift itu tetap terbuka dan menunggu Sean masuk.


“Ikutlah.” Sean masuk ke dalam lift dan di sana ia langsung menyambar kunci mobil yang Kevin pegang.


“Sini, gue yang nyetir. Orang lagi galau bahaya kalau disuruh nyetir.”


Sean tersenyum geli di tengah wajah Kevin yang sedang tidak bersahabat.