
“Maaf, Ay. Aku baru membuka pesanmu.”
Nindi membalas pesan Ayesha, setelah Ayesha sampai di rumah mertuanya.
“Kamu baik-baik saja, Nin?”
Ayesha baru membuka pesan itu dan langsung membalasnya sembari duduk di depan meja rias. menunggu Kevin yang masih berada di dalam kamar mandi. Sejak sampai di rumah sang mertua, Ayesha sama sekali tak bisa memegang ponselnya. Ia sibuk dengan keluarga sang suami, di tambah ketika mereka berada di dalam kamar, Ayesha kembali disibukkan oleh suaminya yang semakin hari semakin manja seperti bayi. Dalam hal apa pun, Kevin selalu ingin Ayesha melayaninya.
Tring
Ponsel Ayesha kembali berbunyi menampilkan notif dari Nindi.
“Aku baik-baik saja. Oh ya, rumor beredar, kamu tidak dizinkan resign sama CEO kaku itu?”
Ayesha tersenyum, karena hanya Nindi yang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah istri Kevin, mengingat saat pengumuman tadi, Nindi tidak masuk ke kantor.
“Ya begitulah,” jawab Ayesha dengan menggerakkan ibu jarinya di layar ponsel itu sembari tersenyum. "Tapi ada kabar baiknya."
"Apa?"
Dibawah nama Nindi tertulis online. Oleh karenanya, ia langsung membalas pesan chat dari Ayesha.
“Aku akan kembali satu ruangan denganmu,” jawab Ayesha dalam pesan melalui aplikasi chat itu.
“Oh ya? Yeeeay …. Aku senang sekali mendengarnya, Ay. Walau hari ini aku sedang berduka.”
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Di sana terlihat Kevin yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya berjalan mendekati Ayesha yang duduk di meja rias.
Ayesha belum sempat membaca pesan yang baru dikirim Nindi, karena arah matanya melihat ke arah sang suami dari balik cermin dengan tersenyum manis. Kevin pun melakukan hal yang sama. Pria yang masih bertelanjang dada itu berdiri di belakang Ayesha dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Ayesha bisa merasakan sayang itu hingga ia menutup matanya sejenak saat Kevin mengecup pucuk kepalanya.
Kevin sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Ayesha dan menempelkan dagunya di bahu itu.
“Dari tadi senyum-senyum aja, chat dengan siapa sih?” tanya Kevin tepat di belakang telinga Ayesha.
“Sama Nindi,” jawab Ayesha sembari menangkup wajah suaminya dari samping. Ia menempelkan pipinya dengan pipi sang suami.
“Dia teman baikmu tapi dia satu-satunya orang yang tidak tahu kalau kamu istriku,” ucap Kevin.
“Iya.” Ayesha mengangguk dan tertawa. “Biarlah seperti itu, Mas. Aku tidak ingin Nindi canggung ketika tahu bahwa aku istrimu.”
“Hmm … gemes.” Kevin mencubit dagu Ayesha.
Ayesha tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Kemudian, Kevin ikut berjongkok di depan sang istri sembari kedua tangannya bertumpu pada kursi yang Ayesha duduki.
“Pakaianmu sudah aku siapkan,” ucap Ayesha sembari tangannya menyentuh dada bidang itu dan menggerakkannya seperti jarum jam.
Kevin tersenyum melihat kelakuan sang istri. “Kamu menyukainya?"
Ayesha tersenyum dan mengangguk. “Mengapa bisa seperti batu?” Ayesha menusuk-nusukkan jarinya pada dada kokoh itu.
Kevin tertawa melihat wajah Ayesha yang imut seperti anak kecil yang sedang memainkan dada bidangnya. “Ini karena Mas sekarang rajin makan Apel.”
“Apel?” tanya Ayesha bingung.
Kevin tersenyum jahil. “Ya, APELagi kalau bukan kamu.”
Ayesha tertawa dan mendorong dada itu. “Ish. Garing.”
Kevin tertawa geli. “Kamu itu makanan favorit Mas, Sayang.”
Ayesha memgerucutkan bibir dan bangkit untuk menghindari suaminya yang mulai mesum. Ia sengaja menahan bibirnya yang ingin tersenyum melihat sang suami yang saat ini sering sekali tertawa.
Namun, Kevin yang sedang mesum pun tetap mendekati istrinya dan menempel pada tubuh itu.
“Mas. Jangan sekarang! Di bawah, Oma, Papa dan Mama udah nunggu kita buat makan malam,” rengek Ayesha manja.
“Berarti nanti malam ya.” Kevin menaikturunkan alisnya.
“Iya,” jawab Ayesha semabri meminta Kevin untuk memakai pakaian yang sudah ia siapkan dari tadi.
“Iya?” tanya Kevin senang saat mendapat persetujuan dari sang istri, mengingat hari ini ia sudah meminta jatah dua kali, dikantor dan sebelum mereka mandi tadi.
Ayesha menganggukkan kepala.
“Boleh?” tanya Kevin lagi sembari menatap wajah istrinya penuh harap.
“Iya,” jawab Ayesha dengan sedikit penekanan.
“Hmm … baiknya istri Mas.” Kevin memeluk tubuh itu dan Ayesha pun tersenyum.
Lalu, Ayesha hendak keluar lebih dulu dari kamar itu untuk membantu ibu mertuanya yang mungkin sedang menyiapkan makan malam.
“Sayang,” panggil Kevin sesaat sebelum Ayesha menutup pintu kamar itu dan meninggalkan suaminya di dalam sana.
“Apa?” tanya Ayesha.
“Mas pegang janjimu, ya.”
“Iya. Bawel,” kata Ayesha lagi. Ia menutup pintu itu sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Selepas makan malam bersama Kenan, Hanin, dan Rasti, mereka berbincang sejenak di taman belakang sambil menikmati angin malam sepoy-sepoy. Di sana, Kenan menanyakan tentang perusahaan pada putranya dan sebaliknya, Kevin menanyakan perkembangan sang ayah yang sedang mencalonkan diri sebagai pemimpin kota.
Malam semakin larut. Saking keasyikan bercengkerama, mereka hingga lupa bahwa hari semakin malam.
“Udah ngobrolnya, Pa. Kevin sama Ayesha pasti ingin istirahat,” ucap Hanin pada suaminya.
Kevin tersenyum. Pasalnya sedari tadi, Hanin menangkap gelagat putranya yang ingin sekali beranjak dari tempat duduknya, lalu kembali ke kamar.
Kevin memang ingin segera kembali ke kamarnya dan menagih janji sang istri.
“Sebentar lagi, Ma. Papa udah lama ga ngobrol sama Kevin,” jawab Kenan.
“Iya, tapi sepertinya Kevin udah pengen istirahat tuh, Pa.” Hanin memberi kode pada suaminya.
Lalu, Kenan melihat putranya yang memang sudah memasang wajah mesum ke arah istrinya. Sedangkan Ayesha seperti sedikit menghindar kemesuman itu mengingat keduanya masih bersama Kenan dan Hanin.
“Oke, kalau begitu besok malam kita lanjutkan lagi perbincangan ini,” ucap Kenan.
Kevin mengangguk.
“Besok malam, kalian masih menginap kan?” tanya Kenan.
Ayesha mengangguk, sementara Kevin menggeleng.
Sontak, Hanin tertawa melihat kelakuan pasangan suami istri ini.
“Kalian kok ga kompak sih?” tanya Hanin.
Ayesha menjawabnya dengan menunduk malu.
“Udah ya, Ma, Pa. Kevin ke kamar duluan.” Kevin pamit pada kedua orang tuanya dan mengajak istrinya ikut bangkit dari sofa itu.
Sedangkan, Rasti sudah sejak satu jam yang lalu pamit dan istirahat dikamarnya. Untung saja, malam ini Rasti tidak meminta dipijat oleh Ayesha. Sepertinya, Rasti mulai memaklumi cucunya yang tidak ingin tidur sendirian tanpa istrinya.
Sesampainya di kamar, Kevin tiba-tiba berjalan menuju kamar mandi. Entah apa yang sedang pria itu persiapkan untuk melewati malam panjang yang sudah ada dalam bayangannya. Sedangkan Ayesha duduk di atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di dinding tempat tidur itu.
Lalu, Ayesha memegang ponselnya dan membuka pesan dari Nindi. Ia terkejut ketika membaca pesan terakhir yang dikirim sahabatnya itu.
“Berduka?” tanya Ayesha yang langsung mengirim pesan balasan untuk Nindi. “Apa itu alasanmu izin mendadak hari ini?”
Ayesha melihat Nindi pun sedang online dan terbukti dengan centang dua yang semula berwarna hitam langsung berubah menjadi biru.
“Iya, Ay. Sekarang aku masih dalam perjalanan ke Jakarta, karena pemakamannya dilakukan di Subang.”
“Siapa yang meninggal?” tanya Ayesha panik.
“Kakakku, Ay. Yang tinggal di Jakarta juga. Dia meninggal setelah beberapa menit melahirkan anak keduanya karena pendarahan hebat. Aku dikabarkan pagi-pagi sekali. Makanya aku langsung minta izin.” Nindi membalas lagi pesan itu.
Ayesha tampak serius dengan ponselnya hingga tak sadar bahwa Kevin sudah berada di sampingnya.
“Serius banget, chat sama siapa sih?” tanya Kevin.
“Nindi. Ternyata hari ini dia izin tidak ke kantor karena sedang berduka.” Ayesha menceritakan keadaan kakak perempuan Nindi yang pernah Nindi ceritakan padanya.
Kakak perempuan Nindi memang tinggal di Jakarta, tapi cukup jauh dari tempatnya beekrja. Oleh karena itu, Nindi memilih tinggal di tempat kos karena selain dekat dengan kantor, ia juga tidak ingin menyusahkan sang kakak yang sudah repot dengan keluarganya.
Ayesha terus vertukar pesan dengan Nindi dan mengabaikan Kevin.
“Sayang,” panggil Kevin yang ingin menagih janji istrinya.
“Sebentar, Mas. Aku masih chat sama Nindi.”
Kevin mendengus. Akhirnya, ia pun ikut memegang ponselnya, hingga bisan dan matanya semakin berat. Ia kembali menengok ke arah Ayesha yang masih serius bertukar pesan dengan sahabatnya yang sedang berduka.
Kevin berusaha untuk menurunkan egonya. Ia berusaha mengerti karena mungkin istrinya ingin menghibur sahabatnya dengan mendengarkan cerita Nindi.
Kevin tidak menagih janji itu. Ia memilih tidur lebih dulu dan sebelumnya Kevin mencium pucuk kepala Ayesha, kemudian memeluknya dari samping.
Ayesha menoleh ke arah Kevin dan mencium pipi pria yang saat ini semakin pengertian.