
Di malam yang sama, tepatnya di apartemen Sean, masih ada dua sejoli yang sedang bermain hati dengan hatinya masing-masing. Walau Sean belum mengatakan cinta pada Nindi, tapi ia sudah mengatakan suka.
Jujur, Sean memang menyukai Nindi. Sejak kapan? Entahlah persisnya kapan tapi yang jelas ia sudah memperhatikan wanita itu sejak keintiman mereka dibalik sebuah insiden waktu itu. Walau mereka tidak melakukan apa pun saat itu, tapi mereka cukup dekat. Bahkan secara tidak sengaja Sean telah melihat semua aset Nindi. Dan, sejak saat itu Sean ingin sekali mengenal sosok itu lebih dalam. Benar saja, semakin mengenal Nindi, ia pun semakin tertarik dengan kepribadiannya.
Setelah menikmati makan malam. Nindi masih tidak diperbolehkan pulang. Sean memintanya untuk menginap satu malam lagi. Dan, ia berjanji akan mengantarkan Nindi besok pagi.
Nindi pun menyerah. Ia duduk di ruang televisi dan menonton stand up komedi yang tengah berkompetisi.
Sean mengikut Nindi dan duduk persis di sampingnya. Nindi duduk agak miring ke kanan ke arah televisi, sementara Sean yang duduk di samping pun seolah berada di belakang tubuh Nindi.
Sean sengaja menempelkan tubuhnya di sana. Keduanya tertawa bersama saat televisi yang ditonton itu mengundang gelak tawa.
Namun, bukan Sean namanya yang diam saja dan tidak mengambil kesempatan dalam kedekatan ini. Nindi mulai merasakan bibir Sean yang mencumbui bahunya.
“Mas,” panggil Nindi lirih saat Sean mulai mencumbui leher jenjang itu.
Sean seolah gelap mata. Ia menghiraukan panggilan itu dan tetap meneruskan aktifitasnya. Lalu, Sean membalikkan tubuh Nindi dan mengungkungnya.
Sean mengelus pipi Nindi. “Aku ingin kamu bertemu keluargaku. Aku juga ingin kamu mengajakku untuk bertemu keluargamu.”
Nindi menatap kedua bola mata Sean. Di sana terlihat keseriusan yang sesungguhnya.
“Apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Nindi.
Sean menggeleng. “Kita sudah kenal cukup lama. Walau baru akhir-akhir ini kita dekat.”
Ya, antara Sean dan Nindi memang sudah mengenal sejak tiga tahun lalu, karena mereka bekerja di tempat yang sama dan di lantai yang sama. Mereka memang sesekali berinteraksi walau tidak sering.
Sean memajukan wajahnya. Sedari tadi arah matanya tertuju pada bibir ranum Nindi yang menggiurkan dan ingin sekali ia coba. Jemari Sean yang semula mengelus pipi Nindi pun berpindah ke bibir. Jemari Sean mulai bermain di bibir itu.
“Boleh aku menyentuhnya?” tanya Sean.
Nindi diam. Ia tidak menggeleng dan tidak juga mengangguk. Entah mengapa sentuhan itu seperti hipnotis untuknya. Ia benar-benar tak bisa berkata-kata, karena ia pun menginginkan sentuhan itu. Wajar jika Sean dijuluki playboy, seorang Nindi yang terkenal dingin oleh lawan jenis pun langsung dengan mudah ditaklukkan Sean dalam beberapa malam.
“Diam tandanya setuju,” ucap Sean lagi.
Ia mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir ranum itu, dan
Cup
Akhirnya, Sean menjadi pria pertama yang menyentuh bibir itu. Sean menggigit-gigit pelan bibir itu, agar terbuka. Ia merasakan kekakuan itu. Nindi tidak merespon ciumannya. Dan, Sean hanya tertawa dalam hati. Ia tahu bahwa Nindi masih amatir dalam hal ini. Ia tahu, bahwa dirinya adalah orang pertama yang menyentuh bibir itu. Sean memang beruntung.
“Ikuti aku,” kata Sean lagi membimbing Nindi untuk membalas ciumannya.
Perlahan tapi pasti, Nindi pun mengikuti naluri kedewasaannya. Ia mengikuti arahan pria yang mengajarinya sesuatu yang baru ia ketahui.
“Mmpphh …”
Nafas Nindi tersengal ketika Sean akhirnya melepaskan ciuman itu.
“Ini yang pertama untukmu?” tanya Sean.
Kepala Nindi mengangguk pelan. Ia sungguh malu. Sementara, Sean tersenyum.
“Manis,” ucap Sean sembari mengelus bibir itu dan menghapus sisa saliva yang menempel di sana. “Sepertinya menciummu akan menjadi bagian dari kesukaanku.”
Nindi merona. Ia pun menunduk malu. Nindi benar-benar sudah membuka hatinya untuk Sean. Virus merah jambu itu semakin melekat. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta. Ya, Nindi mencintai pria ini.
Malam semakin larut. Gemericik suara hujan di luar gedung ini pun menambah keromantisan suasana di ruang itu. Sean semakin melancarkan aksinya. Ia mulai membuka kain yang menutupi area atas tubuh Nindi.
Nindi pun terbuai. Ia sama sekali tidak menolak apa yang Sean lakukan. Perlahan kedua tangan Sean membuka kaitan kain yang menutupi dua gunung kembar itu. Bibir Sean langsung melahapnya bergantian, membuat Nindi melenguh merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
“Ah.”
Suara sensual yang keluar dari mulut Nindi membuat Sean semakin bergairah. Sesuatu yang telah ia redam itu kembali muncul. Bahkan gelora itu lebih besar dari biasanya. Sejak melihat Nindi tanpa sehelai benang waktu itu, Nindi kerap menjadi objek bayangan Sean ketika gelora itu datang dan mengharuskan ia bermain sendiri di kamar mandi.
Setelah menelusuri bagian atas tubuh Nindi. Tiba-tiba Sean bangkit.
“Oh, ****.” Sean menyesali dirinya yang hampir merusak anak gadis orang.
Nindi berlari ke dalam kamar Sean dan menutup rapat pintu itu.
Sean pun mengejar Nindi. Ia mengetuk pintu itu berulang kali.
“Nin." Sean mengetuk pintu itu sembari memanggil nama Nindi.
“Buka pintunya, Nin. Aku mohon,” kata Sean lirih.
Di balik pintu itu, Nindi masih berdiri dan menyandarkan tubuhnya. Entah mengapa malam ini ia seperti terkena sihir, terhipnotis oleh sentuhan Sean yang tidak bisa dielakkan. Sean memang benar-benar pandai menaklukkan wanita. Padahal Nindi dikenal dingin di kantor. Banyak pria yang berusaha mendekatinya, tapi tak bisa. Namun dengan Sean, ia begitu mudah jatuh ke pelukan itu. Bahkan Sean sudah menyentuh beberapa bagian tubuh Nindi yang tidak pernah disentuh oleh lelaki mana pun.
“Nindi, Maaf. Maafkan aku. Aku tidak melakukan hal itu lagi. Aku janji.” Sean ters memohon.
Beberapa kali, Sean mengatakan hal yang sama, hingga akhirnya Nindi luruh dan membuka pintu itu.
Setelah pintu terbuka, Sean langsung memeluk tubuh itu. “Maaf, Sayang. Maafkan aku. Aku sadar aku salah. Makanya aku tak mau meneruskan kesalahn itu. Maaf.”
Nindi menangis dan menerima pelukan itu. Sejujurnya ia tak menyalahkan Sean, justru ia menyalahkan dirinya sendiri yang mudah terbuai oleh sentuhan itu.
****
Dret … Dret … Dret …
Pagi ini, Sean dibangunkan oleh ponselnya yang berdering.
Sean yang tidur di sofa pun langsung terbangun dan tangannya meraih meja kecil yang berada dekat di sana untuk mengambil benda yang sedari tadi berbunyi.
“Halo,” suara Sean terdengar berat.
“Susah banget sih teleponin lu dari semalem,” kata Aldy. “Lu abis ngapain sama itu cewek?”
“Namanya Nindi,” ucap Sean.
“Gue masih waras, Al. Gue ga akan ngerusak cewek bener kaya dia.”
“Bagos,” jawab Aldy.
“Btw gue mau ngajak lu main tenis, pagi ini. Kebetulan lagi ada Keanu.”
“Oh ya?” tanya Sean senang. Ia cukup lama tidak bertemu adik Kevin.
“Dia juga kangen sama lu,” kata Aldy membuat Sean tertawa.
“Ya, gue juga.”
“Kinara juga kangen sama lu. Dia mau ketemu katanya.” Kalimat Aldy, sontak membuat jantung Sean tiba-tiba berhenti sejenak.
“Kinara?”
“Ya, dia udah pulang, Bro. makin cantik loh. Lu pasti makin cinta sama dia.”
Sontak Sean terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Aldy. Dan, tiba-tiba lamunannya terhenti ketika Nindi memanggilnya.
“Mas, sarapannya udah siap.”
Sean tersentak. Ia pun menutup panggilan telepon itu sepihak, padahal Aldy masih menantinya di sana.
Sean menatap wajah polos Nindi. Ternyata wanita itu tidak marah lagi. Ia kira dengan kejadian semalam, Nindi masih akan mendiamkannya. Tapi ternyata ia salah. Bahkan, pagi ini Nindi menyempatkan membuat sarapan untuknya.
Sean mengangguk dan masih menatap Nindi yang sudah berpakaian rapi.
“Setelah ini, aku mau pulang Mas. Kalau Mas masih ngantuk, tidak perlu mengantarku.”
Sean langsung bangkit dari sofa. “Aku akan mengantarmu.”
Visual Nindi dan Sean