
“Neng, suruh temanmu itu pulang. Sudah sore,” kata Ayah Nindi.
Nindi masih ada di dalam kamar ibunya. Ia tengah mengupas buah yang dibelikan Sean khusus untuk ibunya yang tengah sakit. Sean juga sudah berbincang pada Ameena, ibu Nindi yang saat ini tengah berbaring karena tekanan darahnya yang terlampau tinggi.
Sean juga menawarkan pada Ameena untuk dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan intensif di sana. Namun, Ayah Nindi langsung menolak.
Saat ini, Sean tengah di ajak oleh paman Nindi berjalan-jalan ke area kampung itu, termasuk ke area persawahan milik keluarga Nindi. Paman dan Bibi Nindi menyambut hangat kedatangan Sean. Bahkan mereka yang membuat Sean tidak canggung dan betah hingga hari semakin sore.
“Ayah tidak menyukainya?” tanya Nindi pada sang ayah. Kebetulan di dalam kamar itu hanya ada mereka bertiga, Nindi, Ayah, dan Ibunya.
“Ayah masih tidak percaya dengan orang seperti mereka. ingatan Ayah tentang kakakmu dulu, masih membekas.”
“Tidak semua orang kaya seperti itu, Yah,” jawab Nindi membela kekasihnya.
“Almarhumah kakakmu dulu juga bilang seperti itu. Tapi apa? Dia dicampakkan,” ucap Ayah Nindi.
“Dimana kamu bertemu dia, Neng?” tanya Ameena.
“Mas Sean sekantor denganku, Bu. Dia asisten pemilik perusahaan tempat Eneng kerja.”
“Dari penampilannya, dia bukan orang sembarangan,” ucap Ameena lagi.
“Dia orang kaya, Bu. Mobilnya saja mewah,” sahut Ayah Nindi.
“Kalau Ayah dan Ibu kenal model yang bernama Vanesa. Dia itu anaknya," ucap Nindi, yang juga baru tahu bahwa Sean memiliki ibu yang cantik, bahkan masih cantik diusianya yang tak lagi muda.
Ayah dan Ibu Nindi mengernyitkan dahi. Mereka tidak cukup tahu artis papan atas atau model papan atas di zamannya dan di zaman sekarang.
“Sepertinya, Ibu pernah dengar.”
“Apalagi dia bule. Apa keyakinannya juga sama?” tanya Ayah Nindi.
“Tentu saja, Yah.”
“Ya, tapi tetap saja, derajat kita berbeda. kamu juga belum tentu diterima oleh keluarganya. Benar kan?” tanya Ayah Nindi lagi.
Ameena hanya mendengarkan suaminya mengintimidasi putrinya sendiri.
Nindi terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sang ayah.
“Benar kan? Keluarganya pasti tidak suka padamu karena kamu orang kampung.”
“Ayah,” panggil Nindi lirih. “Tidak begitu. Kedua orang tuanya menyukai Eneng. Hanya neneknya saja yang tidak suka.”
“Lalu, kamu masih ingin dengannya?”
Nindi pun mengangguk. “Dia baik, Ayah.”
“Ya, dia baik. Tapi jika keluarganya tidak suka denganmu tetap saja nantinya keluarga kecil kalian tidak akan baik-baik saja, sepetti ada duri dalam daging. Lagipula, semua laki-laki sama, Neng. Kalau belum mendapatkan yang dia inginkan, dia akan kejar terus. Tapi kalau sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, belum tentu dia akan memperlakukanmu seperti yang dia lakukan sebelum mendapatkanmu.”
Nindi terdiam. Ia tak dapat membantah perkataan sang ayah, karena memang itu benar. Walau tidak semua pria seperti yang dikatakan sang ayah. Namun, fakta itu banyak terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, Ayah Nindi sangat berhati-hati.
“Apa yang dikatakan Ayahmu benar, Neng. Kamu tetap harus berhati-hati dengan pria kota.” Ameena menambahkan.
Ayah dan Ibu Nindi termasuk orang yang berpendidikan karena mereka adalah guru. Walau mereka tinggal di kampung, tetapi mereka memiliki wawasan yang cukup luas. Namun, wawasan yang luas itu bukan berarti ia tahu tentang artis dan model. Mereka sana sekali tidak mengenal Vanesa yang dahulu seorang model terkenal dan sering wara wiri di infotainment, tapi Ayah Nindi cukup mengenal Adhitama, pemilik perusahaan tempat putrinya bekerja. Apalagi Kenan yang namanya sering ada di berita nasional sebagai calon terkuat untuk memimpin ibukota. Jelas, Ayah Nindi mengenalnya.
Nindi mengangguk. “Iya, ibu, Ayah. Eneng tahu diri. Eneng juga bisa menjaga diri. Eneng tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti almarhumah Teteh dulu.”
“Bagus kalau begitu,” jawab sang Ayah.
“Alhamdulillah kalau kamu ngerti,” sambung sang ibu.
Langit semakin redup, pertanda hari akan berganti malam. Suara adzan maghrib pun berkumandang.
“Oh, iya Mang.” Sean pun berdiri sembari melirik ke arah Ayah Nindi yang memperhatikannya.
Hampir semua anggota keluarga Nindi yang semula berada di ruang tamu menghilang karena hendak melaksanakan sholat maghrib. Mau tidak mau, Sean pun mengikuti. Padahal seumur hidupnya, ia tidak pernah melakukan itu, karena sang ibu tidak pernah mengajarkan. Apalagi sejak kecil Sean tinggal di Boston, karena saat itu Riza masih memegang perusahaan Kenan yang berada di Amerika. Hingga ia berusia empat belas tahun, ia baru pindah ke Jakarta dan Riza mulai memegang perusahaan James.
Riza memang pernah mengajarkannya tentang agama, tapi tidak lengkap, sehingga yang Sean tahu tentang itu tidak banyak.
Sean mengikuti paman Nindi menuju masjid. Ia berdiri melihat apa yang paman Nindi lakukan.
“Kok berdiri aja? Ngga wudhu?” tanya paman Nindi.
Sean pun tersenyum. “Ya, ini juga mau wudhu mang.” Ia menyikapkan lengan kaos panjangnya sembari memperhatikan gerakan paman Nindi. Lalu, ia mengulangi gerakan itu.
Memilih Nindi untuk menjadi teman hidup, memang tantangan berat untuk Sean. Ia harus beradaptasi dengan kultur Nindi yang berbeda. Di keluarga Nindi, syarat utama untuk menjadi suami adalah memiliki agama yang baik. Dan, Sean tidak cukup baik dalam hal itu.
Seharian berada di rumah Nindi, Sean harus melaksanakan sholat tiga kali, zuhur, ashar, dan maghrib. Bahkan, paman Nindi tidak langsung pulang usai melaksanakan sholat maghrib. Pria paruh baya itu menunggu saatnya waktu isya tiba. Dan dengan berat hati, Sean pun mengikuti. Ini adalah awal yang berat bagi Sean. Namun, ia melakukannya demi Nindi. Tapi seperti yang dikatakan Ayah Nindi, entah Sean akan tetap masih seperti ini juga atau tidak jika sudah mendapatkan Nindi? Hanya Sean yang tahu jawabannya.
****
“Sepertinya, ayahmu tidak menyukaiku,” ucap Sean saat Nindi mengantarkannya ke mobil ketika Sean hendak pulang.
“Ayah bukannya tidak menyukaimu. Hanya saja, dia khawatir karena kisah masa lalu kakakku.”
Sean mengangguk. Nindi memang sudah pernah menceritakan padanya tentang kisah pilu kakaknya dulu.
“Jangan samakan pria itu denganku, Nin! Tidak semua pria kaya seperti dia.”
Nindi mengangguk. “Ya, Mas. Aku tahu.”
Sean membuka pintu mobilnya dan hendak masuk ke dalam. Namun, gerakan terhenti dan kembali menoleh ke wajah sang kekasih. “Kamu tidak meragukanku kan?”
Nindi tersenyum. Perlahan Sean melihat kepala Nindi menggeleng. Lalu, ia pun ikut tersenyum. Rasanya lega ketika Nindi percaya padanya.
"Mungkin, aku tidak lebih baik dari pria yang pernah mencampakkan kakakmu itu. Tapi, satu yang memang tidak pernah aku lakukan, yaitu merusak gadis baik-baik. Aku pernah menjadi pria paling brengs*k, tapi dengan wanita yang juga brengs*k."
Nindi terdiam. Ia tahu masa laku Sean. Beberapa kali kebersamaan mereka, Sean sering menceritakan tentang dirinya.
Sean meraih kedua tangan Nindi. "Percayalah, Nin. Kali ini aku sungguh-sungguh. Aku ingin serius dan itu denganmu."
Nindi tersenyum. "Ya, aku percaya."
Sean ikut melebarkan bibirnya. Lalu, hendak memeluk Nindi.
"Ekhem."
Belum sempat, Sean memeluk Nindi, suara deheman Ayah Nindi pun terdengar sehingga Sean mengurungkan niatnya.
“Kalau begitu aku pulang. Besok kalau kamu mau pulang. Aku bisa jemput,” kata Sean.
Nindi tersenyum. “Tidak perlu. Besok aku bisa pulang naik bis.”
“Sebenanrnya, kalau dibolehkan menginap. Aku akan menginap dan pulang lagi bersamamu besok. Tapi sepertinya, Ayah tidak mengizinkanku untuk menginap.”
Nindi tak bisa menjawab pernyataan itu. Ia hanya tersenyum dan berkata, "hati-hati Mas. Sesampainya di Jakarta, aku akan hubungi kamu."
Sean mengalah dan memilih pulang. Walau ia enggan meninggalkan Nindi sendirian saat kembali ke Jakarta besok.
Lalu, Sean melihat kembali ke arah ayah Nindi dan hendak kembali pamit sebelum ia memasuki mobil. Namun, Ayah Nindi sudah membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah.
Akhirnya, Sean merasakan apa yang Aldy alami dulu. Saat Aldy berusaha menyerah karena sebuah restu yang tak kunjung datang, ia selalu memberi nasehat panjang lebar pada sahabatnya. Atau saat Kevin kebingungan melihat Ayesha pergi dan meminta pisah, ia selalu menyalahkan Kevin karena tidak bisa mengatakan cinta pada istrinya. Namun, ketika dirinya sendiri yang dihadapkan oleh asmara, ia pun tak bisa mengutarakan cinta. Ditambah kultur mereka yang berbeda, membuat Sean tidak tahu apa pelabuhan terakhirnya akan bersama Nindi atau wanita lain.
Tapi yang pasti, saat ini ia hanya mengikuti nalurinya. Kenyamanannya jelas bersama Nindi dan Sean memperjuangkan itu.