XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Firasat aneh (Sean dan Nindi)



Sean dengan semangat mengendarai mobilnya menuju titik keberadaan sang kekasih. Nindi sudah menunggu di kediaman kakak iparnya.


Di rumah minimalis itu, Nindi bercengkerama dengan anak pertama almarhumah sang kakak. Anak itu bernama Nabila. Walau Nabila bukan darah daging kakak iparnya, tapi Anjas nama kakak ipar Nindi, sudah menganggap anak itu sebagai putrinya, karena kini Nabila adalah anak yatim piatu. Menurut kabar, ayah biologis Nabila meninggal karena kecelakaan tunggal dua tahun lalu.


“Kapan Aunty ke sini lagi?” tanya Nabila pada Nindi yang tenga menggendong adik Nabila yang baru berusia empat bulan.


“Besok atau lusa, Aunty datang ke sini. Nabila mau dibawakan apa?” tanya Nindi dengan senyum manis di depan paras anak kecil yang imut itu.


“Tidak ada. Yang penting, Aunty datang saja ke sini, Nabil sudah senang.”


Nindi tertawa dan mencubit pipi bakpau itu. “Pinter banget sih.”


Nabila tersenyum, hingga menambah kegemasan Nindi. Mereka tertawa dan bercanda bersama adik kecil Nabila yang beda ayah.


Di balik kebersamaan Nindi, Nabila, dan bayi mungil berusia empat bulan itu, ada seorang wanita tua dan pria dewasa melihat kebersamaan itu. Mereka adalah suami almarhumah kakak Nindi dan ibunya.


“Njas, Nindi cocok untukmu," kata wanita tua itu.


Anjas diam.


“Dia cocok untuk menggantikan Lina.”


Lina adalah nama alamrhumah kakak Nindi.


Anjas masih diam. Pria itu tak menjawab dan hanya melihat ke arah anak-anaknya yang sedang duduk bermain bersama tantenya.


“Anjas belum memikirkan itu, Mah.” Pria itu membalikkan tubuhnya dan hendak masuk ke kamar.


“Tapi, kedua anakmu membutuhkan figur seorang Ibu dan Nindi pengganti yang tepat. Mamah sudah mendiskusikan hal ini kemarin dengan Ayah dan Ibu Nindi.”


“Mah, tolong jangan bicarakan ini! Aku sangat mencintai Lina dan tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisinya.”


Ting tong


Tiba-tiba perdebatan ibu dan anak itu terhenti oleh suara bel rumahnya. Anjas langsung meninggalkan sang ibu dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Ia membuka pintu itu dan melihat seorang pria berdiri di depan pagar rumahnya. Lalu, Anjas pun menghampiri pria itu.


Pria bertubuh tinggi atletis dan berambut sedikit pirang itu menatap Anjas yang sedang berjalan mendekat.


“Apa ini benar kediaman Anjas Suryanata?” tanya pria itu yang tak lain adalah Sean.


Anjas mengangguk sembari membukakan pagar itu. “Ya, benar.”


“Saya pacar Nindi.” Sean mengulurkan tangannya pada Anjas. “Nindi meminta saya untuk menjemputnya.”


Anjas memperhatikan Sean dari kepala hingga kaki. “Oh. Silahkan!” Ia mengajak Sean masuk ke dalam rumahnya.


Sean pun mengikuti langkaj si tuan rumah. Sesampainya di dalam rumah, Sean sudah diintimidasi oleh tatapan seorang wanita itu yang tak lain adalah ibu Anjas.


“Nindi. Jemputanmu sudah datang,” teriak Anjas, membuat Nindi yang berada di ruang televisi pun beranjak.


Sean hanya tesenyum pada wanita tua yang ada di dalam rumah itu. Namun, wanita itu sama sekali tidak membalas senyum Sean. Justru, wanita tua itu terlihat sinis.


“Mamah, Nindi pamit ya.” Nindi menyerahkan bayi mungil berusia empat bulan itu ke tangan Ibu Anjas dan Ibu Anjas menyerahkan bayi itu pada pengasuhnya.


“Siapa dia, Nin?” tanya Ibu Anjas dengan melirik ke arah Sean.


“Dia pacar Nindi, Mah,” jawab Anjas.


Nindi pun tersenyum dan mengambil tangan Ibu Anjas, lalu mencium punggung tangan itu. Kemudian, Nindi juga pamit pada Anjas. “A, Nindi pulang ya besok atau lusa, Nindi datang lagi ke sini.”


Anjas hanya tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Nin. Tapi kalau kamu sibuk tidak perlu ke sini pun tidak apa.”


“Tapi aku sudah janji pada Nabila, A.” Nindi tersenyum. Lalu, ia melirik ke arah Sean yang memasang wajah datar. Sepertinya Sean tidak suka dengan interaksinya dengan Anjas.


Anjas dan Ibunya pun mengantar Nindi yang pulang bersama kekasihnya. Mereka berdiri di depan teras rumahnya sembari melihat Sean membukakan pintu untuk Nindi saat Nindi hendak memasuki mobil mewah itu.


Anjas tersenyum ketika Nindi melambaikan tangan hingga mobil itu pun semakin lama menghilang. Ia pun menoleh ke arah sang ibu dengan tersenyum. “Nindi sudah punya pacar, Mah. Jadi stop meminta pada Ayah dan Ibu untuk meminta dia jadi istriku.”


Ibu Anjas kesal dan menarik nafasnya kasar. Lalu mengikuti langkah Anjas yang sudah berbalik masuk ke dalam rumah.


“Kamu kenapa?” tanya Nindi menatap Sean yang duduk di sampingnya.


“Sedekat apa kamu dan dia?” Sean balik bertanya.


“Dia? Siapa?” Nindi tak mengerti dan melemparkan pertanyaan lagi pada Sean.


“Siapa? Ya, pria itu.”


“Pria mana?” tanya Nindi lagi yang masih tak mengerti maksud Sean.


“Pemilik rumah itu.”


“A Anjas maksudmu?”


Sean mengangkat bahunya. “Tidak penting namanya siapa.”


Nindi pun tertawa melihat Sean yang tengah cemburu.


“Mas tidak suka dengan interaksi kamu sama dia.”


“Apaan sih, Mas? Dia itu kakak ipar aku."


“Ya, tapi tetap Mas tidak suka dengan interaksi kalian,” ucap Sean.


Nindi masih tertawa dan menggelengkan kepala.


Entah mengapa, Sean memiliki firasat aneh. Apalagi melilhat wanita tua yang berdiri di sana saat menatapnya. Wanita itu seolah ingin menelannya hidup-hidup dan memasang wajah tak suka saat Sean datang.


“Mas, ini bukan arah jalan ke kost ku?” tanya Nindi saat melihat Sean tengah berputar balik sementara arah menuju kost-nya tidak perlu berputar balik.


“Ke apartemen Mas aja.”


“Ngga, Mas. Anter aku ke kost-an,” rengek Nindi yang dihiraukan Sean.


“Mas.” Nindi memukul lengan Sean yang sedang menyetir.


“Nin, aku tuh kangen sama kamu. Aku ingin bersamamu malam ini.”


Nindi menggeleng. “Iya, aku juga kangen. Tapi tidak dengan menginap di apartemenmu.”


"Aku ga akan macam-macam, Nin. Sumpah!" Sean mencoba meyakinkan sang kekasih dengan mengangkat kedua jarinya ke atas, tapi Nindi tak percaya. Ia cukuo tahu, kekasihnya tipe pria seperti apa.


Nindi tetap menggeleng.


Sean pun kesal dan menepikan mobilnya. Ia menatap ke kedua bola mata Nindi.


“Please, Nin!”


“Please, Mas!” balas Nindi yang juga menatap ke kedua bola mata indah milik Sean.


Keduanya saling berkomunikasi lewat mata dan Sean pun mengalah. Ia menarik nafasnya kasar, padahal malam ini ia ingin sekali bedua bersama Nindi. Ia sudah kepalang rindu.


“Baiklah, Aku mengalah,” kata Sean lesu sembari menatap kembali ke depan dan hendak menjalankan mobilnya.


Nindi tersenyum dan tiba-tiba memajukan tubuhnya.


Cup


Ia mengecup pipi Sean dan berkata, “terima kasih.”


Sean langsung menoleh dan tersenyum. “Seharusnya kamu cium ini.” Sean menunjuk bibirnya.


“Dih, dikasih hati minta jantung.” Nindi tertawa dan Sean pun demikian.


Lalu, Sean kembali mengendarai kendaraannya menuju tempat kost Nindi.