XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Tidak mudah luluh



"Eum ...”


Ayesha melenguh dan perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan, rasanya berat. Ia merasakan sekujur tubuhnya remuk. Bagian bawah tubuhnya pun sakit saat digerakkan.


“Aaa ...” jerit Ayesha ketika perlahan ia menggerakkan tubuhnya, menocba bangkit dan duduk bersandar di punggung tempat tidur itu.


Ceklek


Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok Kevin yang masih bertelanjang dada dan hanya memakai boxernya saja membawa nampan berisi susu dan sandwich.


“Kamu sudah bangun?” tanyanya.


“Ah, sss hhh ...” Ayesha menjawab dengan rintihan.


Kevin meletakkan nampan itu di atas meja kecil dan berjalan cepat menghampiri istrinya. Ia berjongkok di depan Ayesha. “Apa yang sakit, Sayang?”


“Semua,” jawab Ayesha merengut, membuat Kevin tersenyum dan mengelus pipi itu.


“Itu karena semalam kamu begitu bersemangat.”


“Benarkah?” tanya Ayesha. “Bukannya setiap bercinta, kamu yang selalu bersemangat dan membuatku seperti ini?”


Kevin tertawa. Ternyata Ayesha ingat kalau dirinya semalam bercinta, tapi dia tidak ingat bahwa dirinya yang minta untuk terus bercinta. Padahal biasanya, Kevin yang akan meminta.


“Mau bukti?” Kevin balik bertanya.


Ayesha hanya menatap suaminya seolah menantang dan ingin melihat bukti bahwa semalam dirinya yang bersemangat dalam percintaan itu.


“Ini!” Kevin menunjuk dadanya yang keunguan akibat gigitan Ayesha. “Kamu suka dengan dada Mas hingga menggigitnya menjadi seperti ini.”


Ayesha menggeleng. “Bohong.”


Kevin pun tertawa. “Buat apa Mas bohong. Ah, ada lagi. Ini!” Ia menunjuk bagian perutnya yang juga ada warna yang sama.


“Lalu, ini!” Kevin kembali menunjukkan warna itu di bagian lehernya.


“Ngga ... Ngga ... Ga mungkin. Bisa jadi kamu menggigit tubuhmu sendiri,” jawab Ayesha yang masih gengsi membenarkan aksi liarnya semalam.


Lagi-lagi Kevin tertawa. “Mas menggigit leher Mas sendiri?” tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.


Kevin kembali tertawa. “Mana bisa?’


Ayesha malu. Ia memalingkan wajahnya dan tak ingin melihat Kevin. Jujur, ia masih kesal dengan keputusan pria itu yang telah memindahkannya ke bagian yang lebih rendah.


“Hei.” Kevin menggeser wajah Ayesha agar wajah itu kembali menatapnya.


“Ck.” Ayesha menepis tangan Kevin yang berada di dagunya dan ia kembali memalingkan wajah itu.


“Hei, kenapa? Masih marah sama Mas?” Kevin kembali mejepit dagu Ayesha dan memaksa wajah itu untuk melihat padanya.


“Mas jahat. Aku benci.” Entah mengapa ia ingin sekali menangis, tetapi ia menahan agar air mata itu tidak turun. Ia tidak ingin lemah dihadapan Kevin.


Kevin pun memeluk tubuh itu. “Maaf.”


Kevin sadar bahwa apa yang telah Ayesha lakukan semalam adalah wujud dari kekecewaan Ayesha pada keputusannya.


Ayesha diam mematung tanpa menerima pelukan itu. Ia pun memasang wajah datar dan tak ingin menangis. Menjadi istri Kevin membuat mentalnya sedikit lebih kuat.


“Maaf, Sayang. Mas harus mengambil keputusan itu agar karyawan-karyawan Mas tidak melunjak nantinya. Mereka harus tahu bahwa setiap kesalahan ada konsekuensinya. Jika tidak, nantinya mereka cuek jika melakukan kesalahan, karena mereka pikir tidak akan ada konsekuensi dari kesalahan itu.”


Kevin menjelaskan panjang lebar maksud dari keputusannya agar Ayesha mengerti.


Ayesah masih diam mematung. Ia masih tidak terima sebenarnya. Lalu, Kevin mengendurkan pelukannya dan mengusap rambut Ayesha.


“Baiklah, atau kamu Mas pecat saja atau mengundurkan diri?” tanya Kevin, membuat mata Ayesha membulat.


Kevin tersenyum dengan gerakan tangan yang masih mengusap rambut serta jemarinya mengelus pipi itu. “Kamu tidak usah ke kantor, tidak usah bekerja, di rumah saja mengurus Mas dan menunggu Mas pulang.”


Dengan cepat Ayesha menggelengkan kepala. “Ngga, aku ga mau. Aku akan bosan di sni sendirian kalau Mas kerja.”


Jemari Kevin masih mengelus pipi, dagu, dan bibir Ayesha sembari berkata, “Mas tidak melarangmu bekerja. Mas tahu setiap orang ingin mengeksplore diri, apalagi kamu baru mendapatkan gelar dan ingin mengimplementasikan ilmu yang kamu dapat. Tapi setiap perusahaan punya aturan. Kamu pintar, Sayang. Mas tidak ragu hal itu. Hanya saja kamu ceroboh.”


Ayesha menatap mata Kevin, hingga keduanya saling bertatapan tanpa jarak. “Baiklah, aku terima keputusanmu dan akan aku buktikan bahwa aku juga bisa dibanggakan.”


Kemudian, Ayesha menggeserkan tubuhnya dan hendak bangkit dari ranjang.


“Ssshhh ...” ia kembali meringis karena bagian intinya terasa perih.


“Sini, Mas bantu!” ucap Kevin dengan cepat memegang tubuh Ayesha.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Ayesha menepis tangan suaminya.


“Ck. Jangan keras kepala, Sayang!” Kevin kembali memegang tubuh itu dan menggendongnya.


“Mas, turunin! Aku bisa jalan, ga usah digendong,” rengek Ayesha.


“Semalam kamu minta digendong.”


“Jangan bilang semalam lagi! Aku ga ingat,” ucap Ayesha ketus.


“Masa? Tapi sepertinya kamu ingat,” jawab Kevin sembari membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi.


Lalu, Kevin mendudukkan Ayesha di marmer panjang itu. “Kamu lihat, bibir Mas sampe bengkak begini.” Ia menunjuk pada bibirnya yang memang terlihat sedikit bengkak.


“Ini karena bibir kamu tidak mau lepas dari bibir Mas.”


Bugh


Ayesha memukul dada suaminya. “Fitnah.”


Kevin tertawa. Kali ini ia tertawa cukup kencang. “Kamu masih menyangkal? Kamu itu semalam liar banget. Aaarrr.”


Kevin mengangkat kedua tangannya seperti ingin mencakar sembari menirukan suara macan.


“Ish, menjijikkan,” kata Ayesha ketus.


Kevin masih tertawa melihat istrinya yang menahan gengsi dan tidak mengakui keliarannya semalam.


Kevin menjauhkan diri dari Ayesha menuju bath up. Ia mengisi bath up itu dengan air hangat dan menaburkan aromateraphy di dalamnya, seperti yang biasa Ayesha lakukan. Semakin hari, Kevin semakin tahu kesukaan sang istri.


Diam-diam, Ayesha tersenyum melihat suaminya tengah melayani dirinya yang hendak membersihkan diri.


Namun, senyum itu ia pudarkan ketika Kevin kembali menghampiri.


“Air hangatnya sudah siap tuan puteri,” ucap Kevin.


Ingin rasanya Ayesha kembali tersenyum, karena sikap manis beruang kutub ini. Tetapi ia meneguhkan hati agar tidak mudah luluh di depan pria yang ia akui sangat tampan ini.


“Mau Mas mandikan?” tanya Kevin lagi yang hendak menggendong tubuh Ayesha ke dalam bath up.


“Ngga,” jawab Ayesha dengan nada yang masih ketus.


Kevin tersenyum. “Baiklah.”


Lalu, ia menggendong Ayesha dan menurunkannya di bath up.


“Jika sudah selesai, panggil Mas. Mas akan menggendongmu lagi,” kata Kevin sebelum meninggalkan istrinya di sana.


Ayesha menggeleng. “Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri.”


“Yakin?” tanya Kevin dengan senyum menyeringai di depan wajah Ayesha dengan begitu dekat. “Semalam kamu melayani Mas dengan maksimal, jadi sekarang gantian. Mas akan melayanimu dengan maksimal.”


Kevin mencubit ujung hidung Ayesha, membuat wajah wanita itu memerah.


“Sana, keluar!” Ayesha mendorong dada Kevin. Ia tak ingin pria itu melihat wajahnya yang tengah merona.


Kevin kembali tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Ayesha. “Mas, suka dengan keliaranmu semalam.”


“Mas,” rengek Ayesha yang hendak memukul beruang kutub yang predikatnya ditambah menjadi beruang kutub bermulut pedas yang mesum.


Kevin pun langsung menghindar dari jangkauan Ayesha dan berlari ke arah pintu, lalu tersenyum menyeringai sembari menutup pintu itu kembali.


“Dasar pria menyebalkan,” umpat Ayesha kesal dengan menepuk keras air di bath up itu.