
“Jadi kemarin itu, kamu pulang kampung?” tanya Nindi pada Ayesha.
Akhirnya, mereka berada di ruangan yang sama lagi dan duduk di meja yang bersebelahan.
Ayesha mengangguk. “Aku pulang kampung, kamu juga pulang kampung.”
Nindi baru saja mendapat oleh-oleh dari Australia berupa syal dan cokelat. Ayesha juga membeli tas branded khusus untuk Nindi.
“Ya, tapi bedanya kamu pulang kampung happy dan kangen-kangenan. Sementara, aku berduka.”
Ayesha ikut sedih melihat sahabatnya yang sedang sedih. Ia pun mendekati Nindi dan memeluknya.
“Aku udah ga punya saudara perempuan, Ay. Dia itu saudara perempuanku satu-satunya,” kata Nindi sedih.
“Kan ada aku. Anggap aku saudara perempuanmu, Nin. Lagi pula aku juga tidak memiliki saudara perempuan.” Ayesha tersenyum ke arah sahabatnya itu.
“Beneran kamu mau anggap aku saudara? Aku ga sederajat sama kamu Ay.” Nindi pun ikut menatap Ayesha.
“Ya ampun, Nindi. Memangnya selama kita berteman, aku mempermasalahkan hal itu? Papaku juga orang biasa, beliau seorang anak yatim piatu yang harus membesarkan kedua adiknya. Bersyukur Papaku memiliki teman yang sangat baik padahal temannya itu dari keluarga yang sangat kaya. Papaku bekerja pada keluarga itu hingga dia menjadi sukses seperti sekarang dan berhasil membawa kedua adiknya pun menjadi sukses.”
“Oh, ternyata ada yang seperti itu? Aku pikir orang-orang kaya hanya ingin berteman dengan kalangan mereka,” ucap Nindi.
“Mungkin sebagian iya, mungkin juga tidak,” jawab Nindi. “Oh ya, aku hampir lupa. Aku membelikan sesuatu untukmu.”
Ayesha mengambil satu paper bag lagi dari bawah meja kerjanya. Lalu, memberikan pada Nindi.
Ini!”
Nindi terkejut dan menerima pemberian itu. “Ini apa?”
“Di sana, aku jalan-jalan sama Mama dan melihat tas ini. Aku sengaja membelinya untukmu.”
Nindi membuka paper bag yang bertuliskan nama merk tas terkenal. Matanya berbinar saat melihat isi di dalamnya.
“Ay, ini terlalu mahal untukku.”
Ayesha menggeleng. “Ngga, kok. Terima ya!”
Nindi tersenyum dengan wajah bahagia yang tidak bisa digambarkan oleh apapun.
“Terima kasih, Ay.” Nindi menangis lagi, tapi kali ini ia menangis haru bukan menangis sedih seperti sebelumnya.
Ayesha memeluk lagi sahabatnya. Nindi pun mengeratkan pelukan itu.
“jadi mulai saat ini, kita lebih dari sahabat?” tanya Nindi.
“Ya, mulai saat ini kita saudara. Jangan sungkan untuk membagikan keluhanmu,” jawab Ayesha.
“Ya, kamu juga.”
Pelukan kedua wanita itu pun melonggar dan mereka tertawa. Akhirnya, Ayesha bisa merasakan persahabatan sesungguhnya.
****
Tring
Pintu lift terbuka saat Ayesha hendak turun ke lantai dua untuk memberikan oleh-oleh yang tertunda kemarin. Sehingga ia harus menaruh cokelat-cokelat itu di lemari es yang tersedia di ruangan suaminya.
Pintu yang terbuka itu menampilkan Tian yang berdiri di dalam dan hendak keluar dari sana. Tian memang hendak menemui Kevin di lantai ini.
Ayesha menangkap sosok pria yang kini selalu mengejarnya itu. Ia baru bertemu lagi dengan Tian paska Kevin mengumumkan bahwa dirinya adalah istri CEO.
“Ay, bisa kita bicara untuk yang terakhir kali?” tanya Tian.
Ayesha menggeleng. “Antara kita, tidak ada lagi yang dibicarakan.”
Ayesha tetap menekan tombol tutup. Kedua insan itu pun beriri di tempatnya masing-masing. Tian terus memandang Ayesha hingga pintu itu tertutup.
Tian kembal melanjutkan langkahnya menuju ruangan Kevin. Di dalam ruangan itu ada Sean yang memang sedang berbincang dengan bosnya.
Tok … Tok … Tok …
Tian mengetuk pintu ruangan Kevin.
“Masuk,” ucap Kevin sedikit berteriak.
Tian membuka pintu itu dan masuk.
“Sepertinya, kehadiran gue akan menganggu kalian,” kata Sean yang langsung bangkit dan hendak meninggalkan Kevin bersama Tian berdua di ruangan ini.
“No, Sean. Lu tetap di sini,” ucap Kevin.
“Gue ke sini mau menyerahkan laporan sekligus pengunduran diri,” kata Tian tersenyum.
Kevin menerima dua berkas dari tangan Tian dan membacanya.
“Oh ya, gue belum mengucapkan selamat sama lu, Kev.” Tian mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Kevin.
“Jadi, lu ngaku kalah?” tanya Kevin.
Tian mengangguk. Kemudian, Kevin menerima uluran tangan itu.
“Selamat, lu udah dapetin Ayesha. Wanita terbaik yang pernah gue kenal,” kata Tian lagi.
“Thanks,” jawab Kevin. “Terima kasih, karena lu udah buat dia terluka dan akhirnya jatuh ke tangan gue.”
Tian tersenyum kecut.
“Well, semua clear. Ga ada perseteruan lagi antara kalian dong?” tanya Sean.
Sementara Tian hanya menjawab dengan senyum dan Kevin dengan wajah datarnya.
“Ya, gue juga bakal balik ke Kalimantan dan ngurus perusahaan bokap,” ucap Tian.
Kevin mengangguk.
“Yah, kita ga bisa kumpul lagi seperti kemarin dong?” tanya Sean.
“Ga bisa, Sean. Ga kan bisa. Lagi pula gue ga kuat kalo harus di sini dan melihat kemesraan Kevin bersama cewek yang masih gue cintai,” jawab Tian tersenyum ke arah Kevin.
Kevin terlihat datar. Ia diam dan tidak menjawab pernyataan itu.
“Oke, kalau itu yang terbaik menurut lu. Next, kita bisa kumpul pas nikahan Aldi, maybe.”
Tian tertawa. “Maybe. Karena itu ga tahu kapan.”
Sean pun ikut tertawa kecuali Kevin. Pria itu masih ketar ketir, mengingat Tian masih memproklamirkan bahwa dirinya masih mencintai Ayesha.
Dibalik kebesaran hati Tian menerima kenyataan bahwa Kevinlah pemenang dari persetruan ini, ia pun menyusun sebuah rencana. Ia sengaja memberi passcode yang berbeda pada beberapa aplikasi keuangan sehingga program itu hanya bisa dibuka olehnya.
Tian juga mencoba masuk ke salah satu media sosial Kevin dan Ayesha yang aktif dan sering digunakan. Terlintas di dalam pikirannya untuk memisahkan kedua insan yang tengah berbahagia itu, karena bagi Tian, jika dia tidak bisa memiliki Ayesha maka Kevin pun tidak boleh bisa.