
“Nin, kamu di mana?” tanya Ayesha melalui pesan whatsapp.
Ayesha pun panik mendengar kabar dari Sean bahwa Nindi tak ditemukan.
Tring
Tak lama Nindi pun membalas pesan itu.
"Aku di Subang, Ay. Ibuku masuk rumah sakit, jadi tadi aku langsung pulang tanpa pamit padamu dan Pak kevin. Maaf ya.”
Ayesha menghirup nafasnya lega. Akhirnya, ia tahu bahwa sahabatnya baik-baik saja.
“Kak Sean mencarimu seperti orang gila, Nin. Beri dia kabar. Kasihan.” Ayesha membalas lagi pesan itu.
Namun, pesan Ayesha hanya dibaca dan bercentang biru. Nindi tidak membalas lagi pesan darinya.
“Bagaimana? Sahabatmu sudah ketemu?” tanya Kevin yang baru saja menaiki ranjang kingsize itu pada istrinya.
Ayesha sudah lebih dulu duduk di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah setelah hampir seharian berada di pesta Kayla dan Aldy. Walau ia lebih banyak duduk dan Kevin yang selalu mengambil makanan untuknya, tapi tetap saja kakinya terasa pegal.
Kevin menyentuh kaki Ayesha yang sedang diluruskan.
“Pegal?” tanya Kevin yang langsung diangguki Ayesha.
“He eum.”
“Sini, Mas pijat.”
Dengan lembut, Kevin memijat kaki sang istri.
“Ke atas sedikit, Mas.”
“Sini!” Kevin menaikkan tangannya hingga ke paha Ayesha. “Atau di sini!” Kevin kembali menaikkan tangannya hingga berada di bagian sang istri yang merupakan tempat favoritnya.
“Ish, nakal. Kamu tuh mesum banget sih, Mas.”
Kevin pun tertawa dan memindahkan kembali tangannya pada betis Ayesha. “Mas kira kamu lagi mau.”
Ayesha mengerucutkan bibir. “Boro-boro. Capek tahu!”
Kevin kembali tertawa dan tetap melanjutkan pijatan di kaki sang istri. Ayesha terlihat menikmati pijatan itu hingga tertidur. Lalu, kevin mengecup kening Ayesha dan menyelimuti tubuhnya.
“Night, Sayang.”
****
Beberapa hari di kantor, Nindi memberi jarak pada Sean. Ia lebih sering menghindari pria itu. Bahkan Sean menyusul Nindi ke kampung saat ia tahu bahwa kekasihnya berada di sana waktu itu. Namun, saat Sean tiba di Subang, ternyata Nindi baru saja pulang ke Jakarta bersama kakak iparnya lagi. Hal itu, sangat membuat Sean kesal. Tetapi kekesalan Sean tidak bisa dijelaskan oleh Nindi karena ponsel wanita itu tak kunjung aktif dan tidak pula membalas pesannya, Nindi juga tak pernah mengangkat panggilan Sean saat ponselnya diaktifkan.
“Nindi …” Sean berlari ke arah kekasihnya yang ia lihat di lorong lantai yang sama.
Sudah hampir satu minggu Nindi menghindar. Setelah pesta pernikahan Kayla dan Aldi, Sean praktis tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya.
Nindi langsung menoleh ke sumber suara itu dan berjalan cepat untuk menghindar. Sean mengejarnya, sehingga Nindi harus berlari. Ia berlari ke arah toilet. Sean dengan kakinya yang panjang segera menghalau langkah itu. Namun, Nindi dengan cepat memasuki toilet dan Sean lebih cepat menahan pintu itu.
“Nin, kamu kenapa? Apa salahku? Kenapa menghindar? Jika aku salah, beri tahu. Tidak dengan menghindar seperti ini,” ucap Sean sembari menahan pintu, dibalik itu dengan sekuat tenaga Nindi berusaha menutup pintu.
“Tidak ada apa-apa di antara kita, Pak. Please! Jangan ganggu saya!”
Cara bicara Nindi kembali formal dan hal itu membuat Sean kesal. Ia pun membuka paksa pintu itu.
Brak
Tenaga Nindi yang tak sebanding dengan pria bertubuh tegap itu pun akhirnya kalah.
Sean masuk ke dalam toilet dan menutup kembali pintu itu, lalu menguncinya.
"Ini toilet perempuan. Pergi!" teriak Nindi untuk mengusir Sean.
Nindi pun berjalan mundur hingga tubuhnya tak lagi bisa menjauh. Sean menghimpit tubuh Nindi di dinding itu.
“Maksud kamu apa?”
Dada Nindi naik turun. Ia berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang dan mengalihkan padangannya pada Sean yang tepat berada di depan wajahnya tanpa jarak.
“Tatap aku, Nin,” ucap Sean.
Namun, Nindi menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin terlena lagi oleh pesona itu.
“Nindi,” teriak Sean sembari mengapit dagu Nindi untuk memaksa wanita itu melihat dirinya.
“Pak, tolong. Jangan ganggu saya! Biarkan hidup saya tenang.”
“Jadi selama ini aku mengganggumu?” tanya Sean.
Nindi menganggukkan kepalanya pelan.
Kemudian, Sean pun melepaskan tangan yang mengapit dagu itu. Ia juga memberi jarak pada Nindi dan tak lagi menghimpit tubuh itu.
“Aku ga tahu kamu kenapa? Kalau sikap kamu karena cemburu pada Kinara. Kamu salah besar,” ujar Sean.
“Aku hanya menganggap Kinara adik, karena sejak kecil aku dan keluarga Adhitama memang sudah seperti keluarga. Walau dulu aku mencintainya, tapi sekarang tidak, rasaku pada Nara benar-benar sebagai kakak pada adiknya. Sedangkan denganmu, berbeda. kamu adalah wanitaku, Nin. Wanitaku.”
Sean menekankan kalimat terakhirnya tepat di wajah Nindi, membuat wanita itu sedikit terpejam karena hembusan nafas yang hangat itu.
Sean menghimpit lagi tubuh itu dan menatapnya tajam. Hasrat Sean kembali menggelora ketika bibir ranum itu menggodanya. Ia pun mendekatkan bibirnya apda bibir itu.
“Pak, stop!” Nindi menggeleng. Ia tak ingin lagi memberikan apa pun pada Sean.
Namun, Sean mengabaikan peringatan itu. Bibirnya tetap mendekat ke bibir Nindi.
“Pak, Stop! Atau aku akan semakin membencimu.”
Seketika, Sean mematung. Lalu, Nindi mengambil kesempatan itu untuk menjauh.
“Hutangku akan segera aku lunasi,” kata Nindi sembari membuka kunci pintu itu dan keluar.
Sean semakin kesal dan memukul dinding yang semula Nindi sandarkan. “Si*l … Si*l … Si*l …” teriaknya sembari memukul dinding hingga jari-jari itu memar.
Sean memandang sinis Nindi, saat wanita itu keluar dari ruangannya tepat ketika jam kerja usai. Nindi hendak ke lantai dua untuk menemui HRD dan menyerahkan surat cuti untuk beberapa hari ke depan.
Ayesha pun sudah mengetahui bahwa Nindi akan kembali pulang kampung, tapi kini dengan waktu yang sedikit lama. Namun, Sean tak mengetahui.
Sean membuntuti Nindi yang baru saja keluar dari ruang HRD.
“Buat apa cuti?” tanya Sean yang menghalangi langkah Nindi.
“Bukan urusan kamu.” Nindi tetap melanjutkan langkahnya.
Tiba-tiba Sean mencekal lengan Nindi yang hendak melintas, lalu menariknya. “Kamu masih urusanku karena hingga saat ini kamu adalah pacarku.”
“Pacar pura-pura?” tanya Nindi menantang. “Sudah tidak berlaku, karena aku sudah mentransfer sisa hutangku padamu.” Nindi menunjukkan bukti transfer ke rekening Sean.
"Aku tidak butuh tanggung jawab darimu. Anggap saja sebagian tubuh yang sudah aku berikan sebagai kompensasi atas pembayaran hutangku yang lama dilunasi."
Kata-kata Nindi benar-benar menohok Sean. Pria itu diam seribu bahasa. Dan, Nindi langsung pergi setelah kekesalan hatinya diungkapkan.
Sean mengejarnya. Namun, kali ini ia kalah cepat. Nindi sudah memasuki lift. Tetapi, Sean tetap berusaha mengejar Nindi, hingga sampai di lobby.
Langkah Sean terhenti, saat ia melihat Nindi menaiki mobil Anjas.
“Si*l.” Sean kembali mengumpat dan menendang apa pun didekatnya.