
Kata-kata Sean yang menyatakan bahwa dirinya adalah pacar pura-pura saat ia hendak memejamkan mata sore kemarin seolah mematahkan status itu, karena nyatanya sikap Sean berbanding terbalik dengan ucapannya. Pria bule itu mengurus Nindi dengan sabar dan penuh ketulusan.
“Udah, kenyang,” Nindi menggelengkan kepala sembari menutup mulutnya saat Sean memberikan suapan makanan yang diberi rumah sakit untuk kesekian kali.
“Dihabiskan, Nin. Supaya cepat sembuh.”
Nindi menggeleng lagi. “Kenyang, Pak. Kalau dipaksa malah muntah.”
Sean menatap wajah Nindi. Panggilan Nindi padanya masih tak berubah, walau berulang kali Sean meminta untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu jika sedang berdua.
Sean mengalah dan meletakkan piring itu pada nampan yang diberikan petugas rumah sakit tadi. Lalu, ia mengambil gelas yang berisi air putih dan menyodorkannya pada Nindi seraya berkata, “bisakah tidak memanggilku ‘Pak” saat kita berdua?”
Nindi menerima gelas itu sambil memandang wajah Sean. Ia sengaja tidak ingin memanggil Sean dengan sebutan Mas untuk mengingatkan dirinya bahwa ada batasan antara dirinya dan Sean.
“Memang aku terlihat tua seperti bapak-bapak?” tanya Sean lagi.
“Lalu, aku harus panggil Mas?” Nindi balik bertanya sebelum menyesap air yang diberikan Sean tadi.
“Yup,” jawab Sean cepat. “Cepatlah pulih, karena setelah ini aku akan membawamu ke keluargaku.”
“Uhuk … Uhuk … Uhuk …” Tiba-tiba Nindi tersedak.
Sean pun langsung menoleh dan tersenyum. “Hati-hati! Tidak perlu sekaget itu. Aku kan sudah bilang misi kita berpacaran adalah agar kedua orang tua dan Oma Opa ku tidak lagi bertanya siapa kekasihku. Atau bersikeras menjodohkanku dengan pilihan mereka.”
“Tapi tidak secepat ini juga kan?” Nindi kembali bertanya.
Sean mendekat dengan memberikan obat pada Nindi. “Malah seharusnya semalam, kita menemui keluargaku untuk makan malam. Tapi karena kamu sakit, jadi kita menundanya.”
“Pak, aku tidak …”
Sean langsung menatap tajam ke arah Nindi. Ia tidak suka Nindi masih saja memanggilnya ‘Pak’.
Nindi pun melihat tatapan tajam itu.
“Aku tidak mau melakukan sandiwara ini hingga sedalam itu,” kata Nindi menggantung. “Mas.” Akhirnya Nindi menyebut Sean dengan sebutan yang pria itu inginkan, walau sebenarnya Nindi pun berat memanggil Sean dengan sebutan itu.
“Tapi kamu tidak bisa menolak,” jawab Sean menyeringai. “Karena kalau ditambah dengan tagihan rumah sakit ini, hutangmu padaku semakin banyak.”
Sontak dahi Nindi mengernyit. Ia kesal campur marah.
“Bisa kamu bayangkan berapa biaya rumah sakit dengan perawatan VVIP?” kata Sean lagi.
“Tapi ini bukan mauku. Aku tidak pernah mau dibwa ke rumah sakit,” jawab Nindi kesal.
Sean tertawa. “Sayangnya, ini semua sudah terjadi. Bahkan kamu sangat manja semalam dan minta dipeluk aku saat tidur.”
Nindi memukul kepalanya. Ya, benar apa yang dikatakan Sean, semalam ia dengan sadar meminta Sean naik ke tempat tidur dan memeluknya. Entah setan apa yang membuatnya ingin diperlakukan seperti itu. Selain suhu ruangan ini yang dingin, memang ketika sakit, ia selalu dipeluk oleh ibunya. Nindi anak bungsu dari dua bersaudara, kedua orang tuanya selalu memperlakukan Nindi seperti anak kecil walau ia sudah dewasa, sehingga walau ia mandiri tapi sis kemanjaannya tetap ada.
Sean tertawa melihat ekspresi Nindi. Lalu tangannya terangkat untuk ditempelkan ke kening itu. “Syukurlah, hari ini sudah tidak terlalu demam.”
“Berarti sore ini, aku boleh pulang?” tanya Nindi antusias.
“Tidaklah, tunggu tiga sampai empat hari.”
“Lama sekali,” protes Nindi.
“Thyfus itu bukan penyakit sembarangan. Bahkan perlu berminggu-minggu untuk pemulihan. Kalau pun dirawat hanya lima hari, kamu harus tetap bedrest di rumah. Atau kamu mau bedrest di apartemenku agar aku bisa menemani dan memantaumu?”
Nindi langsung menggeleng cepat. “Tidak. Tidak mau.”
Sean tersenyum. “Sudah ku duga. Tapi jawabanmu tidak merubah apapun.”
“Pak,” panggil Nindi, lalu menutup mulutnya. “Eh, salah.”
“Mas,” panggilnya kembali pada Sean yang hendak berjalan keluar untuk meminta suster agar mengganti kantong infus Nindi yang hampir kering.
“Mas,” panggil Nindi lagi yang ingin protes dengan keputusan Sean yang sepihak.
Namun, Sean tetap tak merespon. Ia memilih tetap keluar dan membuka gagang pintu.
“Sean jelek,” umpat Nindi saat Sean menutup pintu ruangan itu.
Tapi sesaat pintu itu kembali terbuka. “Kamu bilang apa?”
Nindi menggeleng. “Ngga.”
“Ngga. Aku ga ngomong apa-apa.” Kepala Nindi kembali menggeleng.
“Aku ddengar apa yang kamu katakan tadi,” ucap Sean.
“Kalo dengar kenapa tanya?” gerutu Nindi.
Sean gemas dengan wanita ini. Tubuhnya pun semakin mendekat pada Nindi yang duduk di atas tempat tidur pasien. Kepala Nindi, kini tidak sepening kemarin.
Cup
Sean mengecup pipi Nindi. “Sekali lagi aku dengar kamu mengumpat, maka yang aku cium bukan lagi pipimu tapi bibir atau ini, dan ini.”
Sean menyentuh leher dan dada Nindi. Sontak, kedua bola mata Nindi membulat, membuat Sean tertawa. Padahal di otak Sean ingin sekali tangannya menyentuh satu lagi, yaitu sesuatu yang berada di antara kedua pangkal paha Nindi. Entah mengapa, Nindi benar-benar selalu membuatnya bergairah. Berdekatan dengan Nindi seakan membangkitkan sesuatu yan sudah tertidur lama dan sudah dijinakkan setahun terakhir ini.
****
Sudah tiga hari empat malam, Nindi masih berada di rumah sakit. Dan, selama itu pula Sean tak pernah meninggalkannya. Bahkan Sean meminta izin dua hari untuk tidak masuk kantor. Kevin menyetujui permintaan asistennya itu, mengingat dalam kurun waktu satu tahun kemarin, Sean memang tidak pernah absen. Ayesha pun menjenguk Nindi di setiap makan siang, karena jarak rumah sakit dari gedung Adhitama memang tidak jauh.
Sore ini, Nindi diperbolehkan pulang. Ayesha ikut menemani sahabatnya yang akan keluar dari rumah sakit.
“Ay, tolong bilang ke Mas Sean. Jangan bawa aku ke apartemennya, antar aku ke kost saja,” ujar nindi memelas saat ia hanya berdua bersama Ayesha di ruang perawatan. Sementara Sean mengurus administrasi di luar sana.
“Sepertinya aku ga bisa melakukan itu, Nin. Kak Sean dan mas Kevin itu sebelas dua belas. Kata-kata mereka ga bisa dibantah.”
Nindi menghelakan nafas.
“Kak Sean baik kok, Nin. Aku yakin dia ga akan macem-macem. Dia udah tobat kok,” kata Ayesha lagi sembari tertawa.
“Ya, tapi tetap aja aku harus berjaga-jaga. Takut nanti dia khilaf.”
“yang khilaf dia apa kam? Ayo ngaku! Kamu juga suka kan sama Kak Sean?” tanya Ayesha.
Nindi menggeleng. “Ngga.”
“Masa?” tapi kok aku ga lihat kamu menolak Kak Sean, ya.”
“Ayesha,” panggil Nindi dengan nada rengekan bercampur malu.
Ayesha pun tertawa. “Kalau pun terjadi apa-apa antara kalian. Aku yakin Kak Sean akan bertanggung jawab.”
“Ish, amit-amit. Jangan sampe!” sahut Nindi sembari mengusap perutnya.
Ayesha kembali tertawa. Ia puas sekali meledek sahabatnya.
Ta lama kemudian, Sean datang dan mereka pun pulang. Sean membenarkan ucapannya. Ia membawa Nindi ke apartemenya, karena menurut dokter kondisi Nindi masih belum peluh benar dan ia membutuhkan istirahat total.
Sean khawatir Nindi tidak mendapat perawatan maksimal ketika di kost-nya. Oleh karena itu, ia membawa Nindi ke apartemen. Sean meminta jasa orang yang biasa membersihkan pakaian dan apartemenya ini untuk menemani Nindi selama ia bekerja. Sean memang mempekerjakan satu orang wanita paruh baya untuk membersihkan pakaian dan apartemen ini di setiap hari Senin dan Jumat. Jasa itu pun ia dapatkan dari pengelola gedung apartemen, sehingga bisa dijamin keamaannya, mengingat wanita itu bekerja pada saat Sean sedang tidak di sana.
Ayesha menemani Nindi di kamar Sean. Berhubung, kamar di apartemen itu hanya ada satu, jadi Sean menempatkan Nindi di sana, sedangkan ia akan tidur sementara di sofa ruang televisi.
“Ay, aku lebih baik di kost-an daripada di sini,” kata Nindi.
“Kenapa? Takut cinta lebih dalam ya?”
Sontak Nindi memukul lengan Ayesha dan Ayesha tertawa. Dari luar kamar, terdengar suara Kevin yang sedang bersama Sean.
“Tuh, beruang kutubmu datang,” ucap Nindi.
“Eh, iya. Mas aku dah jemput,” kata Ayesha senang ketika mendengar suara suaminya.
Nindi memutar bola matanya. Ia malas melihat Ayesha yang kian hari kian bucin.
“Kamu hati-hati ya di sini sama Mas-mu," ucap Ayesha meledek sembari menepuk bahu Nindi.
“Terus aja meledek.”
Ayesha tertawa. “Melihat kalian berdua itu ngingetin aku dan Mas Kevin dulu. Kami saling cinta tapi gengsi untuk mengatakan.”
Nindi pun terdiam, mencoba menelaah perkataan sahabatnya. Apa benar mereka saling mencinta? Mungkin dirinya sudah mengarah ke virus merah jambu itu, tapi Sean? Ia tidak tahu apakah perasaannya sama atau memang Sean hanya berperan sebagai kekasih pura-pura saja. Kalau pun ia peduli seperti ini, mungkin hanya karena kemanusiaan semata. Entahlah! Nindi pun belum pernah terkena virus ini. Ini adalah yang pertama untuknya.