XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Ayesha Putri Prayoga adalah istri saya



“Pagi Pak,” sapa Aryo ketika Kevin hendak masuk ke dalam lobby basement.


“Pagi.” Kevin tersenyum membalas sapaan satpam yang pernah tidak ia sukai karena Ayesaha memberikan senyum manisnya pada pria itu.


Namun, hari ini hati Kevin sedang berbungan dan bahagia, sehingga ia lupa dengan segala hal yang tidak ia sukai. Sikapnya pun jauh berbeda. Sejak keluar dari di basement hingga naik ke lantainya, ia selau melebarkan senyum.


“Pagi.” Kevin mengangguk dan tersenyum pada setiap karyawan yang ia lewati.


Sean yang melihat perubahan bos sekaligus sahabatnya itu pun bertanya-tanya.


“Kay, bos lu kenapa? Kesambet?” tanya Sean yang berdiri di samping Kayla.


Ia berada di meja Kayla yang terletak di luar ruangan Kevin. Mereka melihat bos nya tengah membalas sapaan para karywan sembari tersenyum. Sungguh bukan Kevin. Biasanya, pria itu cuek dan tidak pernah menampilkan senyumnya pada orang lain.


Kayla tertawa. “Abis dapet kali.”


“Maksud lu?” tanya Sean lagi pada Kayla.


“Ya, abis begituan sama istrinya. Bukannya kalau cowok abis begituan jadi ceria ya?” Kayla menyatukan ujung jarinya sambil tertawa.


Sontak Sean pun mengerti dan langsung tertawa. “Ya ... ya ... ya ...”


“Apa? Pagi-pagi udah gosip,” kata Kevin yang kini berhenti di meja Kayla.


“Sean yang gosip, Pak.” Kayla masih tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


“Sorry, Sir.” Sean mengangkat kedua tangannya ke atas.


Lalu, Kevin melangkahkan kakinya lagi menuju ruangannya.


“Oh ya, Kay. Panggil Danu ke ruangan gue,” kata Kevin sebelum ia menghilang dari balik pintu.


“Hari ini, Ayesha ga masuk?” tanya Sean pada Kayla setelah melihat bosnya masuk ke ruangan itu.


Kayla menggeleng. “Bukannya dari kemarin ya. Katanya Oma mau ajak Kevin dan istrinya tes kesuburan.”


“Tes kesuburan?” tanya Sean bingung.


Pasalnya, yang Sean tahu Kevin membatalkan semua agendanya kemarin karena ingin mengantar sang nenek ke rumah sakit. Ternyata, bukan itu. Tapi untuk apa tes kesuburan? Sean tahu betul bahwa Kevin belum menyentuh istrinya.


Kayla mengangguk. “Oma kan agak ribet kalau soal keturunan. Mungkin Ayesha di suruh cepet-cepet hamil.”


“Ooooo ....” Sean membulatkan bibir sembari membayangkan sesuatu yang membuatnya tertawa.


Ceklek


Sean membuka pintu ruangan bosnya dan masuk, lalu menyerahkan beberapa berkas untuk Kevin.


“Ayesha izin lagi?” tanya Sean.


Kevin mengangguk.


“Ayesha sakit?” tanya Sean yang kebetulan memang jarang melihat istri bosnya itu beberapa hari ini.


Ruangan untuk tim It memang sengaja berada satu lantai dengan CEO, karena bagian itu memiliki banyak server yang merupakan bagian terpenting perusahaan ini. Semua data penting perusahaan terkumpul di lantai ini.


“Gue udah beberapa hari ini ga ketemu Ayesha,” kata Sean lagi.


“Ya, dia lagi ga enak badan,” jawab Kevin.


“Jadi bener, Ayesha sakit? Atau lu yang udah bikin dia sakit?” tanya Sean menyeringai.


Kevin pun mengangguk.


“Eh serius? Lu udah jebolin gawang Ayesha? Aaa ....” teriak Sean dengan tawa yang cukup kencang.


“Ssstt ... bisa pelanin ga suara lu.”


“Sorry ... Sorry ... gue terlalu bahagia dengernya.” Sean kembali tertawa. “Terus gimana? Enak kan?”


Kevin mengangguk lagi.


“Aaa .... hahahahah ...” Sean kembali tertawa geli. “Kevin ... Kevin ... sepertinya Ayesha bakal sering-sering ga masuk nih.”


“Siap, Bos.” Sean mengambil kertas itu dari tangan Kevin dengan bibir yang masih menyungging senyum.


“Lu MP di mana?” tanya Sean vulgar.


“Ck, sana keluar. Mau tau aja,” jawab Kevin yang tidak ingin menceritakan kejadian di rumah sakit itu. Ia tidak ingin nanti menjadi bahan candaan kedua sahabatnya yang super mesum itu.


Lalu, Sean melangkah menuju pintu untuk keluar. Namun, sesaat sebelum ia keluar, ia bertanya lagi pada sahabatnya, “gimana rasanya jebolin perawan?”


“Mantap,” ucap Kevin dengan wajah mesum dan menaikkan ibu jarinya ke atas.


“Naj*s,” sahut Sean tertawa melihat ekspresi Kevin yang menjijikkan menurutnya.


Tak lama kemudian, pintu ruangan Kevin pun diketuk.


“Masuk,” ujar si bos.


Ceklek


Manager HRD yang Kevin panggil pun datang.


“Bapak memanggil saya?” tanya Danu.


“Ya, saya ingin membicarakan tentang Ayesha.”


“Ayesha putri Prayoga bagian IT?” tanya Danu lagi.


Kevin mengangguk. Ia menegakkan tubuhnya dan berhadapan dengan Danu.


“Hari ini, Ayesha tidak masuk. Dan sebelumnya beberapa hari kemarin dia juga banyak izin. Katanya bagian HRD akan memberi teguran pada Ayesha? Benar?” tanya Kevin.


Danu mengangguk. “Ya, Pak.”


“Ayesha putri prayoga adalah istri saya.”


Jedar


Seperti tengah tersambar petir, Danu pun terkejut. Ia benar-benar terkejut dengan fakta ini.


“Ah, Bapak bercanda?” tanya Danu tersenyum tipis.


“Apa saya pernah tidak serius?” Kevin balik bertanya. Ia meletakkan sepasang buku nikah miliknya dan Ayesha. “Saya sengaja menutup status Ayesha karena saya ingin dia bisa leluasa berkarir dan mengeksplore kemampuannya di sini. Tapi, tentu dengan waktu yang sedikit berbeda dengan karyawan seharusnya. Dan, ini hanya anda yang tahu.”


Danu kembali dibuat menganga. Ternyata, wanita yang pernah ingin ia modusi adalah istri bosnya. Hah, mati. Untung saja, Kevin tidak memecatnya secara tidak hormat. Bosnya itu hanya memberi peringatan agar tidak mendekati Ayesha dengan cara yang halus. Walau ujung-ujungnya adalah sebuah pemecatan.


Danu mengangguk. “Baik, Pak. Saya mengerti.”


Kevin pun ikut mengangguk. “Saya percaya padamu. Dan, ingat hal ini hanya kita yang tahu.”


Danu kembali menganggukkan kepalanya patuh. “Baik, Pak.”


“Baiklah, urusan kita selesai, silahkan Bapak melanjutkan kembali pekerjaannya.”


“Baik, Pak.” Danu kembali membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi dari ruangan itu.


Danu keluar dari ruangan itu dengan lesu. Sungguh ia sangat malu dengan Kevin. Ia merutuki kebodohannya yang pernah mendekati Ayesha di kantin waktu itu. Pantas saja, saat itu ia melihat wajah Kevin yang tak henti tertuju pada kursi yang sedang ia duduk bersama Ayesha.


“Ah si*l,” umpat Danu dengan penuh penyesalan.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Apa lagi?” tanya Kevin ketus setelah melihat pintu ruangannya kembali terbuka dan melihat orang yang berdiri di sana.


“Maaf, Pak,” ucap orang itu.


“Eh, Pak Edward. Maaf. Saya kira tadi Danu.”


Edward pun tersenyum.


“Masuk,” ucap Kevin yang kemudian berdiri menyambut Edward juga pria yang bersamanya.


“Ini, Pak. Pria yang akan menggantikan saya,” kata Edward memperkenalkan Kevin pada keponakannya.