
“Kamu udah makan siang?”
Ayesha memegang ponselnya, setelah berbunyi. Lagi-lagi pesan itu datang dari suaminya. Hari ini, Kevin gemar sekali berkirim pesan.
“Ini baru selesai. Aku makan di cafe samping bersama Diah dan Melodi,” jawab Ayesha yang langsung ia tekan tombol kirim.
“Oh, Mas kira belum. Mas baru mau ajak kamu makan siang di luar,” balas Kevin.
“Mas ga bilang dari tadi.” Ayesha langsung menjawab pesan itu.
“Ya udah ga apa. kamu lanjut aja,” balas Kevin lagi dengan emot senyum.
Byur
Tiba-tiba diluar hujan deras. Air yang turun dari langit itu langsung membasahi bumi dengan cepat.
“Yah ujan,” ucap Melodi yang baru bangkit dari kursi sembari melihat ke arah jendela besar.
“Yah, aku ga bawa payung lagi,” sahut Diah.
“Yah, aku mau persentasi abis makan siang nih,” kata Ayesha.
“Semoga hujannya ga lama, ya.” Melodi terpaksa duduk kembali dikursinya untuk menunggu hujan berhenti.
“Kita nunggu hujannya berhenti?” tanya Ayesha pada Diah dan Melodi.
“Iya lah Ay. Deres banget gitu, yang ada baju kita basah semua walau pun deket,” jawab Diah.
Ayesha yang semula berdiri pun kembali duduk. “Lama ga ya nih ujannya?”
“Semoga ngga Ay,” jawab Melodi yang diangguki Diah.
Tring
Ponsel Ayesha pun kembali berbunyi. Ia langsung membuka layar itu dan menampilkan pesan dari Kevin.
“Sayang, diluar hujan deras. Kamu di mana?”
“Masih di cafe xxx.” Ayesha langsung membalas pesan itu.
“Tunggu saja sampai hujan reda,” balas Kevin.
“Tapi nanti aku terlambat untuk persentasi,” jawab Ayesha.
Mereka saling membalas pesan melalui aplikasi whatsapp.
“Tidak apa. Hanya terlambat sebentar, itu pun karena kondisi yang tidak disengaja.”
Ayesha tersenyum membaca pesan itu.
Lima menit kemudian, Tian menghampiri kursi yang di duduki Ayesha, Diah, dan Melodi.
“Kalian kejebak hujan?” tanyanya.
“Iya nih Pak,” jawab Diah.
“Ini saya bawa dua payung.” Tian memberikan satu payungnya untuk Diah dan Melodi.
“Wah, bapak the best banget,” sahut Diah.
Tian hanya tersenyum, lalu arah matanya tertuju pada Ayesha. “Kamu bareng saya.”
Ayesha terdiam. Ia ingin sekali menolak ajakan Tian. Namun, ia juga membutuhkan bantuan itu.
Melodi dan Diah sudah berada di luar. Mereka menggunakan payung yang Tian berikan. Entah pria itu mendapatkan payung dari mana? Mungkin dari pemilik cafe, mengingat Tian memang salah satu pelanggan setia cafe ini.
“Ay, Ayo!” ajak Tian yang sudah berdiri di luar sembari memegang pintu itu agar terbuka dan Ayesha ikut ke dalam payung yang ia pegang dengan tangan kanannya.
Ayesha masih berdiri mematung di dalam yang tak jauh dari tempat Tian berdiri. Sebenarnya ia enggan menerima apa pun dari Tian.
“Sebentar lagi, jam makan siang selsai. Kita harus mempersiapkan untuk persentasi Ay,” kata Tian lagi.
Akhirnya, Ayesha berlari masuk ke dalam payung yang dipegang mantan kekasihnya. Mau tidak mau, Ayesha menerima bantuan itu.
“Baju kamu basah. Sini lebih dekat lagi!” kata Tian yang berada persis di samping Ayesha.
Mereka berjalan beriringan. Sejak keluar dari gedung Adhitama menuju cafe, cuaca diluar memang tidak cerah, tapi juga tidak hujan, tapi ternyata malah sederas ini.
Ayesha yang merasa bagian bahu kanannya terkena air pun akhirnya sedikit menempelkan bahu kirinya pada bahu kanan Tian.
Jedar.
Di sela perjalanan mereka menuju gedung Adhitama itu, terdengar petir menggelegar. Tian melirik ke arah Ayesha yang tetap memandang lurus ke depan. Pria itu melihat Ayesha memeluk tubuhnya sendiri. Ia tahu bahwa Ayesha takut akan suara menggelegar itu.
Tangan Tian reflek memeluk bahu itu, ketika mereka sudah memasuki pagar gedung. Sementara di lobby, Kevin berdiri menyaksikan istrinya yang dipeluk dari samping oleh Tian dengan tatapan tajam.
Kevin baru saja ingin menjemput istrinya di cafe itu. Sedangkan, Tian dan Ayesha masih berjalan itu pun belum menyadari tatapn elang Kevin. Ayesha juga tidak menyadari bahwa bahunya tengah dirangkul Tian.
“Kamu ga apa-apa, Ay?” tanya Tian yang melihat Ayesha semakin gelisah mendengar suara menggelegar itu.
Ayesha menggeleng. “Ngga apa-apa. Ayo cepat jalannay supaya cepat sampai!”
Ayesha melangkahkan kakinya lebih cepat dan Tian terpakasa mengikuti. Sebelumnya Tian memang sengaja berjalan agak lambat untuk menikmati moment kedekatannya dengab Ayesha.
Tian menengadahkan kepala saat masih berjalan bersama Ayesha dan melihat Kevin yang berdiri di lobby. Lalu, ia melihat Kevin membalikkan tubuhnya.
Bibir Tian pun menyungging senyum licik, karena pastinya Kevin kesal melihat pemandangan ini dan dia meninggalkan tempat itu.
Ya, Kevin memang kesal dengan pemandangan yang ia lihat di depan matanya. Terlebih mereka berjalan berangkulan sembari berbincang. Hal itu cukup membuat Kevin segera pergi dari tempat itu. Sementara, hingga Kevin meninggalkan lobby dan Ayesha sampai di lobby, Ayesha tidak tahu bahwa suaminya tadi sempat berdiri di sana dan berniat untuk menjemputnya.
“Terima kasih payungnya, Pak.”
Melodi dan Diah yang sudah sampai lebih dulu di lobby itu pun langsung berterima kasih setelah Ayesha dan Tian juga sampai di tempat yang tidak lagi terkena air hujan itu.
“Terima kasih, Pak.”
Ayesha ikut berterima kasih pada Tian, seperti Diah dan Melodi. Ketiga wanita ini membungkukkan sedikit tubuhnya pada atasannya itu.
“It’s oke,” jawab Tian tersenyum.
“Kalau ga ada Bapak. Kita ga tahu ada di sana sampe jam berapa,” sambung Melodi yang diangguki Diah.
Sedangkan Ayesha hanya diam dan tidak memuji pria yang sedang menunggu pujian dari Ayesha.
Di dalam lift khusus CEO menuju lantai enam, Kevin mengepalkan tangannya. Ia kesal karena Tian sudah lebih dulu bertindak. Dan yang membuatnya kesal dirinya lagi adalah karena Ayesha menerima bantuan itu.