
"Ay, denger-denger manajer keuangan resign ya?” tanya Nindi ketika ia sudah duduk di ruangannya bersama Ayesha.
Ayesha mengangguk. “Iya, sekarang digantikan sementara oleh Mbak Risa sebelum SK-nya turun.”
Itu yang diucapkan Kevin juga semalam, ketika Ayesha menanyakan siapa yang menggantikan posisi Tian sementara.
“Oh.” Nindi membualtkan bibirnya. “Kalau kamu masih di divisi itu, pasti kamu yang akan naik, Ay.”
“Ya enggaklah, Mbak Risa udah jauh lebih lama dibanding aku,” jawab Ayesha yang memang merasa Risa lebih kompeten karena selain berpengalaman dibidangnya, ia juga sudah mengabdi di perusahaan ini cukup lama.
Nindi mengangguk. “Iya juga sih.”
Ayesha dan Nindi berbincang di kursinya masing-masing dengan tangan yang sama-sama berada di alat kerjanya masing-masing.
“Ay,” panggil Nindi dan menengok ke arah Ayesha yang berada di sebelah kirinya.
Ayesha masih memainkan mouse dan sejenak berhenti, lalu menoleh ke arah Nindi. “Apa?”
“Hmm …” Nindi hendak menanyakan sesuatu yang pribadi pada Ayesha. Pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan, tapi khawatir sahabatnya akan marah.
“Apa?” tanya Ayesha lagi.
“Kamu udah ga berhubungan lagi sama Pak Kevin kan?” tanya Nindi memberanikan diri. “Karena sepertinya dikantor ini sudah tidak lagi menggunjingkan tentang perselingkuhanmu dengan CEO kaku itu.”
Ayesha tertawa. Ia lupa kalau saat pengumuman itu, Nindi tidak ada. Perlahan kepala Ayesha menggeleng.
“Orang kaya memang seperti itu, Ay. Mereka seenaknya. Kalau lagi senang disayang, kalau bosan, diabaikan."
Ayesha menatap sahabatnya yang geram dengan kelakuan Kevin.
“Eh, tapi kamu ga sampe diapa-apain kan sama dia?” tanya Nindi lagi.
“Diapa-apain gimana?” Ayesha balik bertanya.
“Ya, digituin.” Nindi menyatukan kedua ujung telunjuknya.
“Kalau kamu, udah diapain sama Pak Sean? Sampe ga pernah mau berpapasan dan terus menghindar?” Ayesha kembali balik bertanya.
“Dih, kok jadi aku yang ditanya. Aku tuh lagi nanya kamu.”
Ayesha tertawa.
“Jangan-jangan kamu udah diapa-apain juga ya sama Pak Sean?” Ayesha mengangkat jari telunjuknya ke arah Nindi. “Hayo ngaku?”
“Apaan sih? Ya, enggak lah. Dia cuma pernah lihat aku ga pake baju aja,” jawab Nindi keceplosan, lalu ia menutup mulutnya.
“Wah... wah wah …. Jadi?” tanya Ayesha yang semakin ingin tahu.
“Bukan, bukan.” Nindi menggerakkan kedua telapak tangannya. “Bukan seperti yang kamu bayangkan, Ay.”
“Lalu?” tanya Ayesha lagi dan Nindi menceritakan kronologi mengapa Sean pernah sempat melihat tubuhnya yang tanpa busana.
Sontak, Ayesha tertawa. “Oh begitu. Pantes kamu selalu menghindar kalau ketemu Pak Sean.”
Ayesha tak berhenti tertawa.
“Ya, karena aku malu. Lagian dia tuh ya, kalau ngeliatin aku kaya yang lagi nel*njang*n aku tau ga, Ay. Kesel kan?”
“Itu perasaan kamu aja,” jawab Ayesha. “Eh, tapi kalau aku jadi kamu juga sih akan merasakan hal yang sama.” Ayesha tersenyum ke arah Nindi yang cemberut.
Nindi teringat saat Sean mendekatinya ketika makan siang. Bahkan pria itu duduk dihadapannya yang sedang sendiri karena saat itu Ayesha tengah pulang ke negara tempat keluarganya tinggal. Ketika itu, Sean mengajak Nindi pulang bersama dan makan malam. Namun, Nindi langsung menolak mentah-mentah permintaan itu dan alhasil mereka hanya berbincang alakadarnya sampai Nindi menghabiskan makanan itu.
Tring
Tiba-tiba ponsel Ayesha berbunyi menampilkan serentetan pesan dari grup admin.
“Ya, sama. Aku juga ga bisa buka Buku Besar, passwordnya beda.”
“Iya, aku sampe belum input beberapa data dari kemarin.”
“Sama aku juga. Aku kira sistem eror. Ternyata pagi ini juga ga bisa dibuka.”
Begitulah bunyi pesan yang ada di grup itu. Lalu, Ayesha mengetikkan sesuatu untuk menjawab sesuai yang ia ketahui.
“Coba password Adhitama123,” jawab Ayesha.
“Ngga bisa, Ay. Itu password awal kan?” jawab Melodi.
“Atau Adminoke,” jawab Ayesha lagi.
Terlihat Diah sedang mengetik. “Bukan itu, Ay.”
Risa juga terlihat sedang mengetik.
“Aku udah coba menghubung Pak Tian tapi dari kemarin ga aktif, sekarang juga ponselnya belum aktif. Ada yang tahu nomor baru beliau? Mungkin ganti nomor.” tanya Risa.
Semua menyahut dan mengatakan tidak.
Ayesha menarik nafasnya kasar sembari menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kerjanya.
“Kenapa, Ay?” tanya Nindi yang melihat Ayesha kebingungan.
“Ini, password buat masuk aplikasi didivisi keuangan ga bisa,” jawab Ayesha yang kini berpikir negatif kepada Tian.
Ayesha sempat berpikir bahwa mantan kekasihnya itu sengaja melakukan ini, sehingga membuat aktfitas perusahaan Kevin terhambat.
“Kok bisa?” tanya Nindi.
Ayesha mengangkat bahunya. “Ya, aku juga ga ngerti.”
Lalu Ayesha ikut menghubungi Tian. Ia merasa bertanggung jawab karena pernah menjadi bagian di divisi itu.
Satu kali, dua kali, tiga kali, Ayesha mencoba menghubungi ponsel Tian dan memang tidak aktif.
“Nin, aku ke lantai dua dulu ya,” ucap Ayesha yang sudah bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruangan itu.
“Masih belum bisa?” tanya Nindi.
Nindi mengangguk setuju dan melihat Ayesha yang pergi meninggalkannya.
Dua jam berlalu dan Ayesha masih berada di lantai dua untuk membantu divisi itu. Ia terus mengotak atik aagr bisa masuk ke aplikasi itu dengan keahliannya. Namun nihil.
Dret … Dret …. Dret …
Ponselnya berdering. Ayesh mengangkat ponsel itu dengan arah mata yang masih tertuju pada laptop Risa.
“Dek, udah makan?” tanya Kevin, karena yang menelepon itu memang suaminya.
Ayesha melihat jam di tangan kanannya. Ternyata, waktu makan siang sudah satu jam terlewat.
“Belum,” jawab Ayesha.
“Loh, kenapa? Ada troubel?”
Ayesha mengangguk. “Ya, di sistem divisi keuangan.”
“Tapi tetap saja, kamu harus makan siang, Dek. Nanti maagmu kambuh,” ucap Kevin.
“Iya Mas,” jawab Ayesha lembut dan kembali bersuara. “Mas masih diluar.”
“Iya,” jawab Kevin. “ini baru selesai. Atau mau Mas bawakan makanan.”
“Boleh,” jawab Ayesha.
“Mau dibawakan makanan apa?” tanya Kevin.
“Apa saja yang penting enak.”
“Ya, nanti Mas kasih yang enak-enak.”
Ayesha tertawa. "Tapi definisi enak buat Mas pasti bukan makanan kan?”
Sontak Kevin pun ikut tetawa.
****
“Dek, sepertinya sore ini kita ga bisa pulang bareng,” ucap Kevin ketika ia dan Ayesha sedang berada di ruangannya dan duduk di sofa yang tersedia di dalam sana.
Tangan Kevin terangkat dan mengusap sudut bibir Ayesha yang menyisakan kuah mie ayam yamin. Sebenarnya, Kevin protes saat sang istri meminta makanan itu disaat perutnya sedang kosong, mengingat mie makanan yang kurang bagus untuk lambung yang kosong. Namun, Ayesha merengek dengan alasan sangat menginginkan makanan itu. Dan, dengan terpaksa Kevin pun mengabulkan permintaan sang istri.
“Ga ada yang minta, Dek. Makannya jangan buru-buru gitu!" kata Kevin.
Ayesha nyengir. “Abis enak.”
Kevin menyandarkan tubuhnya di sofa sembari melihat nafsu makan istrinya yang memang akhir-akhir ini terlihat cukup tinggi.
Kevin duduk persis di samping Ayesha.
“Mas ada pertemuan lagi?” tanya Ayesha setelah mengunyah dan menelan makanan yang semula ada di dalam mulutnya.
Kevin mengangguk. “Ya, mungkin malah sampai malam.”
Ayesha ikut mengangguk. “Ya sudah ga apa. Nanti aku jalan kaki aja.”
“Jangan! Biar nanti kamu diantar supir.”
Ayesha menggeleng. “Adek lagi pengen jalan. Lagi pula dari kemarin Adek makannya lumayan banyak, jadi kalau jalan kan lumayan ada kalori yang terbakar.”
Kevin tersenyum sembari mengelus rambut Ayesha dan menyisipkan rambut itu dibelakang telinganya. Ia ingat bagaimana bobot tubuh Ayesha perlahan turun dan menjadi seproporsi ini. Itu semua karena ulahnya yang menyebalkan dulu. Bahkan Kevin pernah sangat menyebalkan dengan meninggalkan Ayesha saat berangkat kerja dan memintanya untuk berjalan kaki ke gedung ini.
“Maafin, Mas ya.” Tiba-tiba Kevin mengucapkan kata ini.
“Maaf untuk?” tanya Ayesha.
“Sikap Mas dulu.”
Ayesha tersenyum dan mengangguk. “Sebelum Mas minta pun, sudah Adek maafkan. Malah sekarang Adek lupa kalau Mas pernah sangat menyebalkan.”
Kevin tersenyum dan memeluk tubuh itu dari samping. “Makin cinta sama Adek.”
Lalu, ia mencium kepala itu.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari semakin sore dan tigha puluh menit lagi jam kerja usai. Tiba-tiba ponsel Ayesha berdering dari nomor tak dikenal.
“Halo.” Ayesha menjawab panggilan telepon itu.
“Kamu meneleponku?” tanya orang diseberang sana dengan suara yang Ayesha kenal.
“Kamu mengubah pasword sistem? Kasihan timmu, mereka kuwalahan menyelesaikan pekerjaannya," jawab Ayesha.
Sejenak suara pria itu tak terdengar.
“Yan,” panggil Ayesha.
“Datanglah ke apartemenku. Aku akan memberi tahu passwordnya,” ucap Tian.
“Tidak. Mengapa harus ke apartemenmu? Aku tidak mau.”
“Besok aku akan terbang ke Kalimantan.”
“Tidak bisa seperti itu, Tian. Kamu ga profesional,” kata Ayesha kesal.
“Kalau begitu datanglah ke sini. Temui aku untuk yang terakhir kali.”
“Baiklah.” Ayesha menyerah. “Tapi tidak di apartemenmu.”
“Oke. Di taman xxx. Kebetulan malam ini di sana ada pasar malam. Dulu kamu pernah ingin ke taman itu kalau kita menginjak kota ini.”
Ayesha menarik nafasnya kasar. Ia dan Tian memang pernah membayangkan untuk pulang ke tanah air bersama, mampir ke Bali, ke Jakarta dan ke kampung halaman Tian. Namun, hal itu hanya rencana yang sama sekali tak pernah terlaksana.
Ayesha mengiyakan permintaan Tian untuk bertemu di taman itu.