XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bunga dari siapa?



Pagi ini, Kevin mengantarkan Ayesha hingga basement. Ia tak ikut keluar mobil saat istrinya keluar dari mobil yang ia kendarai itu, karena setelah ini Kevin akan kembali pergi untuk menemui klien yang dijadwalkan bertemu pagi.


Kali ini, Kevin mengajak Sean dan Tian untuk menemui klien tersebut. Ia membutuhkan Tian untuk merancang perkiraan anggaran yang akan dikeluarkan dalam projek ini. Kevin berangkat dengan kendaraannya sendiri. Sementara Tian dan Sean berangkat dengan kendaraan yang sama, karena mereka sama-sama datang ke kantor untuk absen, lalu berangkat bersama.


Kevin melajukan mobilnya menuju tempat pertemuan itu. Di sela perjalanan, ia melihat mobil Sean yang menepi di pinggir jalan. Kevin pun ikut menepi.


“Sean, ngapain?” tanya Kevin setelah mengetuk jendela mobil Sean yang duduk di kursi kemudi.


Sean langsung membuka kaca mobilnya. “Hei. Gue lagi nunggu Tian beli bunga.”


“Bunga?” tanya Kevin sembari mengernyitkan dahi.


“Ya, buat mantan ceweknya itu,” jawab Sean yang memang hanya menunggu di dalam mobil. Sementara Tian ada di dalam toko bunga itu.


“Oh.” Kevin membulatkan bibir dan kembali berkata, “Kalo gitu gue juga mau beli bunga buat Ayesha.”


“Dasar, bucin semua lu pada.” ledek Sean pada Kevin yang sudah meninggalkannya dan masuk ke dalam toko bunga itu.


“Hai, Yan.” Kevin menepuk bahu Tian.


“Hei, Kev.” Tian tersenyum.


“Ini buat mantan cewek lu?” tanya Kevin melihat bunga mawar putih di depan Tian.


“Yap. Dia suka banget mawar putih,” jawab Tian sembari meminta penjual itu untuk mengirimkan bunga ini ke alamat yang sudah ia serahkan tadi.


“Biasanya cewek itu bakal luluh kalau dikasih bunga. Dan, itu gue lakuin setiap pagi. Gue selalu kirim bunga itu ke ke kantornya dan meletakkan bunga itu di meja kerja dia,” ucap Tian.


“Wah, romantis banget lu, Yan.” Kevin menggelengkan kepala.


“Cewek itu suka sama cowok romantis, Kev.”


“Ya, ya. Boleh juga. Gue beli juga deh buat istri,” sahut Kevin yang juga membeli sebuket bunga, tapi Kevin membeli mawar merah.


Kemudian, kedua pria itu pun kembali ke mobil masing-masing dan melanjutkan aktivitasnya.


Satu jam kemudian. Di kantor, Ayesha dipusingkan dengan kedatangan sebuket bunga berturut-turut tanpa nama. Yang satu berwarna putih dan yang satui berwarna merah.


“Ya, ampun ini ruangan udah kaya toko bunga,” ledek Melodi melihat bunga itu terpajang di meja Ayesha.


“Tau ih. Kerajinan banget sih cowok kamu Ay sampe beliin dua buket bunga sekaligus,” sahut Diah.


Risa ikut melirik dan berkata, “itu berarti cowok Ayesha romantis.”


“Ciye,” ledek Melodi dan Diah.


Ayesha hanya tersenyum. Ia sendiri tidak tahu siapa pengirim bunga itu. Sejak kemarin hampir setiap pagi, mejanya memang selalu ada bunga. Ia mengira ini adalah ulah Kevin sebagai wujud maafnya karena telah memindahkan Ayesha ke bagian ini. Namun, ia pun ragu. Di tambah hari ini malah ada dua buket bunga, berarti pelakunya bukan hanya sang suami.


“Apa selama ini, Tian pelakunya?” tanya Ayesha dalam hati sembari mengingat sejak kapan bunga ini mulai ada.


Ya, Ayesha ingat. Buket bunga ini ada, sejak ia dipanggil ke ruangan manajernya. Sejak saat ia, keesokan pagi Ayesha selalu mendapati sebuket bunga mawar putih di mejanya.


Waktu terus berjalan, hingga tepat pukul dua belas siang. Para karyawan mulai keluar dari ruangannya untuk istirahat dan makan siang. Termasuk di ruangan Ayesha. Melodi, Diah, dan Risa sudah keluar dari ruangan itu tepat waktu. Sementara, Ayesha masih duduk di kursinya.


Tring


Ponsel Ayesha berdering dan menampilkan pesan dari Tian. Ayesha pun membaca pesan itu dan tidak berniat membalasnya.


Tring


Tiba-tiba ada pesan masuk lagi. Dan itu dari berunga kutub.


“Kamu di ruangan sendiri atau masih ada yang lain?” tanya Kevin tertulis di pesan itu.


Ayesha memilih membalas pesan suaminya. “Ya, aku sendiri.”


Di sana, Kevin tersenyum. Ia memang sudah tiba di gedung ini sejak lima belas menit lalu. IA juga membawakan makan siang yang ia pesan di restoran saat berada di luar kantor tadi untuk istrinya.


“Kalau begitu, Mas ke sana.” Kevin membalas pesan itu.


Tak lama Ayesha membaca pesan dari suaminya, seorang office boy mengetuk pintu ruangan itu dan mengantar makanan dari driver aplikasi pengantar makanan yang mengantar makanan itu hingga lobby.


“Mbak Ay. Ini dari lobby,” kata Office boy itu sembari memberikan kotak makanan itu pada Ayesha.


“Makasih, Pak. Tapi ini buat bapak aja,” kata Ayesha sembari menyerahkan kembali kotak itu pada pria yang baru memasuki usia dua puluhan itu.


“Yang bener, Mbak? Ini makanan mahal loh, Mbak.” Kedua mata pria muda itu berbinar.


“Iya, saya sengaja beli buat kamu,” ucap Ayesha berbohong. Padahal makanan ini pemberian Tian dan Ayesha tidak ingin menerima apa pun dari pria masa lalunya.


Sementara, Kevin baru turun ke lantai dua. Ia hendak melangkah menuju ruangan Ayesha dan kakinya terhenti saat Ayesha berinteraksi dengan office boy itu.


“Mbak Ay, makasih banyak. Alhamdulillah saya dapet makan siang gratis,” ucap office boy itu.


“Iya, sama-sama,” jawab Ayesha tersenyum.


Kevin semakin bangga melihat istrinya yang senang berbagi. Ini bukanlah kali pertama, Kevin melihat sisi baik istrinya itu.


Setelah office boy itu keluar, Kevin pun masuk ke dalam ruangan itu.


“Hai,” sapa Kevin, lalu menutup pintu itu. “Mas bawakan makan siang untukmu.”


Ayesha yang masih duduk di kursinya hanya tersenyum melihat perhatian sang suami.


Kevin berjalan mendekati meja istrinya. Ia tersenyum saat melihat sebuket mawar merah ada di meja istrinya. Namun, tiba-tiba senyum itu pudar ketika ia pun melihat sebuket mawar putih yang sama persis dengan mawar yang dibeli Tian tadi ketika mereka berada di toko bunga.


“Ini bunga dari siapa?” tanya Kevin menunjuk bunga mawar putih itu.


Ayesha mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Dua-duanya tidak ada nama.”


“Kalau ini dari Mas.” Kevin menunjuk bunga mawar merah. “Tapi yang ini dari siapa?”


Kevin menatap tajam ke kedua bola mata istrinya. Ayesha pun menatap ke kedua bola mata suaminya. Kini, Ayesha semakin yakin jika yang mengirimkan bunga mawar putih setiap pagi itu adalah Tian, karena selain ibunya, hanya pria itu yang tahu bunga kesukaan Ayesha.