
Kevin terus menempelkan tubuhnya pada Ayesha. Di depan Tian, ia sengaja menggelayutkan dagunya pada bahu sang istri. Walau saat berdua pun, Kevin memang selalu memposisikan dirinya seperti ini, apalagi saat mereka menonton televisi bersama. Kevin paling suka tidur di atas perut Ayesha sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu.
Tian pun melihat keposesifan Kevin pada istrinya. Dan, saat ini ia memang sudah mengikhlaskan Ayesha. Ia pun merasa baik-baik saja ketika melihat keromantisan sahabat dan mantan pacarnya itu.
“Jessica …” Aldi membaca nama mempelai wanita yang tertera di undungan itu.
“Ini cewek selingkuhan lu itu bukan, Yan?” tanya Sean yang asal berceletuk.
Tian tersenyum dan mengangguk.
“Ya ampun, jadi Jessica ini Jessica temanku?” tanya Ayesha antusias.
Tian kembali menganggukkan kepalanya. “Iya, Ay. Kami bertemu lagi beberapa bulan yang lalu dan kami dekat. lalu, aku melamarnya.”
“Syukurlah, aku senang mendengarnya,” jawab Ayesha.
“Katanya dia tukang selingkuh. Kok lu mau sama dia lagi, Yan?” tanya Aldi.
“Dia udah berubah, Al. lagi pula gue juga bukan orang baik kok. Bukannya lebih enak kalau kita memperbaiki diri bersama.”
“That’s right. Gue setuju,” sahut Sean.
“Ya, gue juga setuju.” Kayla ikut menganguk. “setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik.”
“Ya, mungkin gue ngga seberuntung Sean. Tapi gue yakin dia baik,” ucap Tian yang terlihat jauh lebih dewasa.
Vinza dan Kinara hanya menjadi pendengar. Begitu pun dengan Nindi. Walau Nindi tahu tentang Tian dari Ayesha dan Vinza tahu betul apa yang terjadi pada adiknya dulu, tapi mereka tidak berhak ikut bicara. Kinara tampak berbincang dengan nada berbisik pada Vinza. Vinza menceritakan siapa Tian pada Kinara.
“Terus sekarang Jessi-nya mana? Ngga diajak, Yan?” tanya Ayesha.
“Dia masih ga berani ketemu kamu, Ay,” jawab Tian.
“Loh, kenapa? Karena masa lalu?” tanya Ayesha tertawa. “Bahkan aku lupa sama kejadian itu.”
“Ya iyalah lupa, orang sekarang udah dipelet sama Kevin,” celetuk Sean membuat semua orang tertawa kecuali Kevin.
“Eh, gue ngga pelet Ayesha ya. Ayesha emang udah suka sama gue dari kecil. Siapa sih yang ga terpesona sama gue,” ujar Kevin jumawa di depan sahabat-sahabatnya.
“Idih … naj*s,” sahut Sean kesal.
“Amit-amit.” Aldi pun menyahut.
“Jangan tiru Papamu ya, Nak!” Spontan, Kayla mengelus perut Ayesha.
Ayesha hanya tertawa. Sedangkan Kevin terlihat biasa saja setelah mengucapkan perkataan yang terdengar menjengkelkan. Vinza dan Tian hanya tersenyum, mereka cukup tahu Kevin seperti apa.
“Tapi emang bener sih.” Tiba-tiba Vinza bersuara.
“Abang …” rengek Ayesha karena sang kakak membuka kartu As-nya di depan banyak orang. Menurutnya biar hanya Kevin saja yang tahu bahwa dirinya menyukai pria sombong itu sejak berusia delapan tahun.
“Bener, Ay? Lu suka sama Kevin dari kecil?” tanya Sean.
“Dari usia berapa?” tanya Kayla juga.
“Hmm … udah ah, ga usah dibahas,” kata Ayesha malu.
“Hmm … pantes Kevin klepek-klepek. Ternyata adik lu Za, ngegemesin juga kalau lagi malu,” ucap Aldi.
“Udah ah, kenapa jadi aku sih yang jadi bahan ledekan,” kata Ayesha kesal. “Nin, beli es krim aja yuk di luar!”
Ayesha berdiri dan mengajak sahabatnya untuk keluar dari lingkaran itu. Bersama orang-orang seusia Kevin membuat kepalanya oleng. Belum lagi ketika mereka berbincang masalah ranjang, membuat area sensitif Ayesha cenat-cenut. Mungkin ini efek hormon kehamilan yang sudah menginjak bulannya.
“Ay, aku ikut. Kelamaan di sini, kepalaku jadi oleng,” kata Kinara.
Lalu, Nindi membantu Kinara berdiri. Kedua wanita itu sudah terlihat akur.
“Nin, jagain Ayesha ya!” ucap Kevin.
“Siap Pak,” jawab Nindi.
“Sayang, aku juga mau es krim ya. Tapi ga usah pakai cup,” celetuk Sean pada istrinya.
“Terus pake apa? Cone?” tanya Nindi.
Sean menggeleng. “Mau langsung dari mulut kamu aja.”
Sontak Sean kena toyor teman-temannya.
Kebetulan, restauran yang mereka pilih berada di dalam pusat perbelanjaan yang sangat besar. Di luar sana juga tersedia berbagai macam restauran termasuk restauran siap saji dan aneka es krim dengan rasa yogurt.
****
Keesokan harinya, Rea mengajak Ayesha ke sebuah toko kue. Ayesha dan Kevin, kini tinggal di kediaman Kenan, sembari menunggu waktu kelahiran yang tinggal beberapa hari lagi. Vicky dan Rea pun berada di rumah itu, mengingat pemilihan Kenan juga tinggal menghitung hari. Di saat Vicky dan Kenan sibuk dengan pemilihan dan kadang kedua putra Kenan pun ikut turun tangan. Ayesha dijaga oleh Hanin dan Rea. Rasti pun ikut menjaga cucu menantu dan calon cicit yang akan segera lahir itu.
Rumah Kenan mendadak menjadi ramai dan Kenan pun senang akan hal itu. Mereka seperti bernostalgia karena kembali berkumpul bersama.
“Ay, nanti kita ke toko kue dulu ya. Mama lihat persediaan camilan di rumah mertuamu menipis,” kata Rea.
Ayesha mengangguk.
Rea dan Ayesha di antar oleh salah satu supir Kenan. Kali ini, Hanin tidak ikut, karena ia harus mendampingi suaminya ke sebuah acara. Jadwal Hanin satu minggu ini penuh. Mereka akan berkumpul dan bertemu pada saat sarapan pagi.
Hampir seluruh keluarga Adhitama terfokus pada acara besar Kenan. Untungnya, di sana ada Rea dan Vinza yang senantiasa standy by. Walau kakak Ayesha itu tetap tinggal di apartemen ayahnya sendiri, tapi jika sang adik membutuhkan, ia akan cepat datang.
Ayesha dan Rea memilih makanan yang biasa keluarga Adhitama beli. Tokonya pun di toko yang biasa Rasti dan Hanin kunjungi. Ayesha mengerlingkan pandang ke seluruh kue yang terdisplay rapi. Ia pun menginginkan sebuah kue yang berada cukup jauh dari ibunya.
“Ma, Ayesha ke sana ya!” Ayesha menunjuk tempat display kue yang berbeda.
Rea pun mengangguk.
Ayesha berjalan pelan menuju tempat itu. Ia melihat punggung wanita yang ia kenali. Namun, ia ragu untuk menyapa. Semakin dekat, Ayesha semakin yakin bahwa dirinya mengenal wanita itu. Wanita itu terlihat sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menunjuk kue yang ia inginkan pada karyawan toko. Kebetulan, Ayesha juga menginginkan kue yang sama.
Tak lama kemudian, wanita itu pun berdiri tegap. Ayesha terus memandangi wanita itu dari samping.
“Jessi,” sapanya pelan.
Sontak, wanita itu pun menoleh. “Ayesha.”
“Jessi,” panggil Ayesha lagi senang.
Namun, Jessica tampak canggung. Ia malah ingin segera pergi dari hadapan Ayesha. Untungnya, dengan cepat Ayesha memegang pergelangan tangan Jessi.
“Kenapa harus pergi, Jes?”
“Aku malu bertemu denganmu, Ay,” jawab Jessi tanpa melihat wajah Ayesha.
“Aku sudah melupakan semua itu, Jes. Aku juga sudah memaafkanmu, jauh sebelum kamu memintanya.”
“Ayesha.” Jessi langsung memeluk wanita yang masih ia anggap sahabatnya itu. “Maafin aku, Ay. Dulu aku belum sempat meminta maaf padamu.”
“Sudahlah, Jes. Semua sudah berlalu. Justru aku berterima kasih padamu. Karena dengan kejadian itu, aku menemukan cintayang sebenarnya.” Ayesha mengusap punggung belakang Jessi.
Kemudian, pelukan itu terlerai setelah beberapa saat mengerat.
“Aku tahu semua cerita itu dari Tian. Tidak menyangka ternyata dunia itu sempit. Tapi seperti itulah cara Tuhan menghukumku dan Tian.”
Ayesha menggelengkan kepalanya. “Bukan menghukum, Jes. Hanya menjadikan kita menjadi lebih baik. Begitu pun denganku.”
“Ah, Ay. Sejak dulu, kamu itu selalu saja baik. Walau dengan orang yang sudah sangat menyakitimu,” ucap Jessi.
Ayesha tersenyum. “kamu juga baik, Jes. Hanya saja waktu itu, kamu khilaf dan manusia memang tempatnya salah, bukan?”
Jessi mengangguk.
“Ay, sudah selesai?” tanya Rea bersamaan dengan suara seorang pria. “Jes, sudah selesai?”
Rea dan pria itu saling bertemu dan bertatapan.
“Kak Attar?”
“Rea?”
Jari telunjuk Rea dan Attar terangkat dan saling menunjuk ke hadapannya.
“Mama Rea kenal Papa Jessi?” tanya Jessica.
“Tentu," jawab sembari menatap wajah Attar dengan rambut dan jenggot tipis yang sedikit memutih.
“Mama kenal dimana?” tanya Ayesha.
Seingat Ayesha, orang tua Jessi jarang sekali datang ke Australia saat mereka kuliah. Jessi dititipkan pada nenek dan kakeknya. Namun, Jessi yang ingin mandiri, memilih tinggal di apartemennya sendiri yang dekat dengan kampus.