
“Mbak, take a way aja semua pesanan saya,” ucap Ayesha pada pelayan yang baru saja menyajikan pesanan itu di meja.
Ayesha terpaksa membungkus semua pesanan makanannya, bahkan makanan yang baru saja tersaji. Ia tak nyaman bila harus berlama-lama di tempat ini bersama Tian. Terlebih dengan sikap Tian yang berlebihan. Tatapan mata pria itu tak berpaling sedetik pun dari Ayesha.
“Kalau begitu, saya juga di take a way aja mbak.” Tian pun meminta hal yang sama pada pelayan itu.
Pelayan itu pun mengangguk patuh.
“Loh kok kamu dibungkus juga makanannya?” tanya Ayesha.
“Ya, karena kamu juga membungkus makananmu.”
“Kamu kan bisa makan sendiri. Kalau aku, memang berencana akan makan bareng Nindi di lantai enam,” jawab Ayesha.
“Ck, kurang enak kalau makan sendirian. Lebih enak bareng kamu.”
“Yan, Please. Jangan mulai lagi! Hubungan kita sudah selesai. Kita tidak akan bisa sedekat dulu lagi. Kalau pun sekedar menjadi teman, aku bisa. Tapi untuk lebih dari itu, tidak akan bisa karena aku sudah menikah.” Ayesha tetap memberi penjelasan pada pria keras kepala itu.
Tian tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, kita teman.”
Pria itu mengulurkan tangannya. Ya, ia akan mengambil pepatah, mengalah untuk menang. Saat ini ia mengalah dengan sikap Ayesha, tetapi ia tak akan menyerah.
“Teman,” ucap Tian lagi dengan uluran tangan yang belum di sambut Ayesha. “Teman dan partner kerja,” ucapnya lagi.
Ayesha pun tersenyum tipis. Memang mereka saat ini adalah partner kerja. Lalu, Ayesha mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan itu.
“Berarti mulai saat ini, Jangan menghindariku! Oke,” kata Tian.
Ayesha pun mengangguk.
Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan dua paper bag untuk Ayesha dan Tian. Tak lupa, Ayesha mengucapkan terima kasih pada pelayan itu setelah makanan pesanannya diberikan. Ia pun langsung berdiri dan pamit pada Tian.
“Oh ya, nanti aku akan transfer uangmu,” ucap Ayesha untuk menggantikan uang Tian yang membayar semua pesanan makanannya itu.
Tian menggeleng. “Tidak perlu.”
“Tidak bisa. Aku akan menggantinya.”
Tian tersenyum. “Terserah.”
Ayesha pun langsung bangkit dari tempat duduk itu dan hendak keluar dari tempat ini. Gerakan Ayesha diikuti oleh Tian.
“Ay, tunggu!” kata Tian yang melihat Ayesha berjalan lebih cepat.
“Aku duluan ya, Yan. Tidak enak dilihat orang kantor kalau kita jalan bersama,” ucap Ayesha yang langsung melesat pergi.
Tian masih menyungging senyum melihat wanita yang sangat ia rindukan itu berlalu dari hadapannya. Terlihat dengan jelas kecanggungan Ayesha. Wanita itu pun tampak malu-malu.
Lepas dari semua penjelasan Ayesha. Tian berkeyakinan bahwa Ayesha masih mencintainya, hanya saja Ayesha masih marah dan belum memaafkannya. Ia tahu betul bahwa Ayesha sangat mencintainya dan ia yakin Ayesha tidak akan semudah itu melupakannya. Terlebih dulu, Ayesha sempat menyerahkan diri dan rela diduakan karena terlalu cinta padanya. Namun, Tian tidak tahu kondisi Ayesha sekarang. Sungguh, apa yang ia asumsikan adalah salah.
Sesampainya di kantor, Ayesha langsung ke lantai enam. Setibanya di lantai itu, ia belum melihat Kevin dan Sean. Sepertinya, suaminya memang belum tiba.
“Ya ampun, Ay. Kamu repot-repot banget sih,” ucap Nindi senang saat melihat Ayesha membawa makanan yang sering ia pesan di café itu.
“Spesial, buat teman baik aku yang kerja lembur bagai kuda,” ledek Ayesha yang memang beberapa hari ini tidak bertemu Nindi karena kesibukan wanita itu.
Nindi tertawa. “Aku tuh nyelesaiin program kamu yang kemarin.”
“Oh, ya? Laptop aku udah beres?” tanya Ayesha antusias.
Nindi mengangguk. “Udah. Nanti siang akan dipresentasikan Pak Henry di depan direktur, para manajer dan asistennya.”
Kepala Ayesha ikut mengangguk.
“Kamu hadir kan di rapat nanti?” tanya Nindi.
Ayesha menggeleng. “Ngapain? Aku bukan direktur, manajer, atau asisten. Aku cuma staf biasa, Nin.”
Nindi menghela nafasnya kasar. Ia merutuki keputusan CEO dingin dan kaku itu. “Tapi, ini ide kamu loh, masa orang yang ngusung program ini malah ga ada di rapat.”
“Ngga apa-apa, kan udah ada kalian,” jawab Ayesha tersenyum tanpa beban.
“Ck, emang ya Pak Kevin kejam banget. Aku masih kesel loh kamu langsung dipindahin begitu aja.”
“Tapi anak-anak admin enak-enak kan?” tanya Nindi khawatir, mengingat di bagian itu terkenal dengan orang-orang yang suka bergosip.
“Enak kok. Tapi ga bisa deket kaya aku ke kamu.”
“Oh, kalau itu karena aku memang selalu bisa membuat orang nyaman,” jawab Nindi membanggakan dirinya.
“Termasuk sama Pak Sean?” tanya Ayesha meledek. “Atau bisa bikin nyaman Pak Henry?”
“Ih apaan sih, Ay? Gosip?” sanggah Nindi. “Ternyata beberapa hari di lantai dua, udah ikut jadi tukang gosip juga ya kamu.”
Ayesha tertawa. Nindi pun demikian.
Hingga saat ini, Nindi masih menghindari Sean di setiap kesempatan. Oleh sebab itu, Ayesha selalu menggoda teman baiknya. Karena, jika bertemu Sean, Nindi seperti bertemu setan. Ia tidak menyukai tatapan Sean ketika mereka berpapasan. Tatapan itu seolah menel*nj*nginya. Memang apa yang dipikirkan Nindi itu benar. Setiap kali Sean melihat Nindi, pria itu memang memandang Nindi tanpa sehelai benang di tubuhnya, seperti yang pernah ia lihat waktu itu.
Setelah menikmati makan siang bersama, Ayesha kembali ke ruangannya dan Nindi bersiap menghadiri rapat bersama Henry.
Kevin tiba di ruang rapat, setelah semua orang yang berkepentingan hadir duduk di dalam sana. Ia mengerlingkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Kevin pikir Ayesha ikut dalam rapat ini, tapi ternyata sosok itu tidak ada. Padahal sejak semalam, ia sudah rindu dengan sang istri. Ia pikir akan dapat melihat Ayesha di ruangan ini.
Rapat dimulai. Direktur operasional yang memimpin rapat kali ini. Semua divisi memegang catatan masing-masing dan mempersiapkan diri untuk bergantian memberikan informasi pada Kevin.
Setelah Kevin mendengar laporan dari beberapa divisi, kini tiba divisi IT yang memberikan laporan kinerja mereka. Henry memaparkan semua yang pekerjaan yang Ayesha kerjakan sebelumnya. Ia mempersentasikan program yang seharusnya Ayesha persentasikan beberapa waktu lalu.
“Ini semua adalah ide Pak Edward, manajer IT sebelumnya yang saat ini sudah pensiun. Juga ide asistennya, Ayesha. Tapi sayang, Ayesha dipindahkan sehingga dia tidak dapat menikmati hasil dari ide besar yang ia berikan untuk kita,” ucap Henry membanggakan Ayesha.
Sontak Kevin terdiam. Ia semakin merasa bersalah.
Usai Henry memaparkan kiinerjanya, di sambung oleh Tian yang juga membanggakan Ayesha karena telah menyempurnakan hasil program di bidang keuangan yang sebelumnya ia usung dan diberi applouse oleh Kevin.
“Saya malah berterima kasih pada Pak Kevin karena memindahkan Ayesha di divisi saya. Program yang saya pernah usung untuk keuangan, sepertinya akan semakin matang dengan bantuannya,” sambung Tian yang memperlihat beberapa program yang Ayesha buat sehingga menjadi lebih muda untuk membaca laporan keuangan.
Bibir Kevin menyungging senyum lebar. Ia semakin merindukan istrinya, terlebih di ruangan ini sedari tadi semua orang memuji sang istri.
“Ayesha, memang belum lama bergabung bersama kita, tetapi dia bisa memberikan kontribusi yang luar biasa,” ucap direktur operasional itu.
Kevin mengangguk. “Ya, saya setuju. Di mana pun dia berpijak, dia selalu bermanfaat.”
Kevin tersenyum dan membayang Ayesha yang tengah cemberut. Ekspresi Ayesha selalu membuatnya gemas. Kehadiran wanita itu pun membuat hidupnya jauh lebih hidup dan berwarna.
Sean menoleh ke arah Kevin dan tersenyum, karena kata-kata Kevin bukan hanya memuji sebagai atasan untuk karyawannya, tetapi sebagai suami untuk istri.
Kevin sadar bahwa ia menikahi istri yang baik dan pintar yang layak untuk dibanggakan. Hanya saja ia tidak ingin mengakuinya di depan Ayesha agar wanita itu tidak besar kepala.
****
“Ndut, kenapa tadi tidak hadir di rapat?” tanya Kevin melalui pesan whatsapp, usai menjalani rapat dan saat ini ia sudah duduk kembali di ruangannya.
Tring
Ponsel Ayesha berbunyi. Ia pun langsung membuka pesan itu. “Ish, si mulut pedas.”
Kemudian, Ayesha mengetik beberapa kata untuk membalas pesan itu.
“Aku bukan direktur, bukan manajer, atau asisten. Jadi buat apa hadir?”
Tring
Kevin langsung membaca balasan pesan dari Ayesha.
“Kalau begitu, kamu dipanggil ke ruang CEO sekarang!”
Ayesha membaca pesan itu dan mengetik balasannya kembali.
“Maaf, lima menit lagi jam kerja aku habis. Bye.”
“Ah si*l,” gumam Kevin saat membaca balasan pesan terakhir dari Ayesha. Apa dia tidak tahu saat ini Kevin tengah merindukannya?
“Dasar, Ndut. Awas aja kalau ketemu!” ancam Kevin dengan suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Di ruangan berbeda. Ayesha tersenyum geli. Ia senang membuat beruang kutub bermulut pedas itu kesal, tanpa ingat apa resiko yang akan ia dapat setelah membuat Kevin kesal.