
Ayesha adalah gadis manja yang sedari kecil selalu dipenuhi segala kebutuhannya. Ia menjadi sosok anak rumahan, karena ayah dan ibunya selalu memfasilitasi apa yang ia butuhkan sehingga ia pun tak kenal dunia luar. Sang ayah yang merupakan mantan cassanova saat muda itu pun takut dengan pergaulan anaknya nanti dan ia membatasi Ayesha dari dunia luar yang menurutnya semakin liar.
Vicky yang terlalu protektif dan sangat menyayangi putrinya, membuat Ayesha tumbuh menjadi pribadi yang manja, serta aktivitas Ayesha yang tidak mengenal dunia luar, membuatnya tidak percaya diri ketika masuk dalam dunia kerja dan bertemu banyak orang. Protek dari sang ayah dan kakak lelakinya membuat Ayesha menjadi perempuan polos seperti ini, walau sebenarnya ia pintar secara akademis.
Ayesha dan Nindi menenggak habis minuman itu, mereka tidak sadar bahwa Farel berbohong. Ternyata pria itu mencampur sedikit alkohol pada kedua minuman itu dan obat perangsang pada minuman Ayesha.
“Kok kepala aku pusing?” tanya Nindi yang sudah merasakan efek alkohol dari minuman itu.
“Iya, Nin. Aku juga. Apa ini efek dari joget tadi ya?” sahut Ayesha.
Farel tertawa. “Ya ampun, ternyata gue ga salah mangsa. Ternyata kalian berdua itu polos banget.”
“Rel, lu kasih alkohol juga ke minuman mereka?” tanya Nino.
“Of Couse. Tanggung, Bro. Lu juga bisa sikat temennya,” jawab Farel.
“Gila lu.kita ga tahu keluarganya mereka itu siapa? Kalau ternyata mereka anak polisi atau jenderal gimana? Mati kita Rel,” ujar Nino yang masih berpikir panjang.
“Halah, itu urusan belakangan. Gue udah ga tahan banget lihat nih cewek. Sexy banget,” kata Farel sembari menatap lapar ke arah Ayesha.
“Nin, kayanya kepala aku makin pusing deh,” ucap Ayesha sembari memegang kepalanya.
Ia pun hendak berdiri. Namun, tubuhnya tidak mampu berdiri tegap, rasanya semua berputar. Dan, Farel hendak memegang tubuh Ayesha agar tubuh wanita itu tidak roboh.
Tetapi dengan cepat ada tangan seseorang yang memegang tubuh Ayesha terlebih dahulu. Dan, satu tangan lagi meninju wajah Farel.
Bugh
“Bajing*n lu.”
Bugh
Kevin menyerahkan Ayesha pada Sean dan kembali memukul Farel
Bugh .... Bugh ... Bugh ...
Farel berusaha melawan, tetapi tubuh Farel jauh dari tubuh atletis Kevin. Tingginya pun jauh lebih tinggi Kevin di banding pria mengerjai istrinya itu.
Kevin terus memukuli Farel tanpa ampun dan tidak ada satu orang pun yang menolong pria tengil itu, karena Aldi dan teman-temannya menahan para keamanan yang hendak melerai. Ditambah mereka semua pun tahu siapa Kevin, putra pewaris tahta Adhitama dan memiliki ayah seorang penguasa, apalagi kekuasaan sang ayah kini merambah ke parlemen.
“Siapa yang mau ngerjain istri gue? Hah!” Kevin mengamuk di dalam club itu.
“Lu bantuin dia?” Tunjuk Kevin pada Farel dengan mengarahakn matanya ke arah bartender yang berdiri di sana.
Bartender itu pun mengkerut. Ia gemetar ketakutan. “Maaf, Sir. Saya hanya disuruh. Maaf.”
“Bang, sorry. Bang kasihan teman saya, Bang.” Nino pun ikut bersujud di kaki Kevin seperti bartender itu.
Nino ketakutan melihat temannya yang sudah babak belur hingga wajahnya tak lagi terlihat tampan karena banyak lumuran darah.
“Club ini bisa gue tuntut, kalau terjadi apa-apa sama istri gue. Ngerti!” teriak Kevin.
Dada Kevin naik turun, ia begitu emosi. Lalu, ia melihat seseorang tengah merekam aksinya.
“Maaf, Pak Kevin. Ini semua diluar kendali kami. Sungguh kami minta maaf,” ucap seorang pria yang merupakan menager club itu sembari menangkup kedua tangannya.
Ia turun tangan untuk menenangkan macan yang tengah mengamuk itu dan menyuruh keamanan untuk mengamankan Farel dan Nino.
“Okey, gue anggap semua clear. Tapi lu beresin semua kekacauan ini. Pastikan apa yang gue lakukan ngga kecium publik dan satu lagi, bungkam orang-orang yang merekam aksi gue tadi,” kata Kevin mengintimidasi pria paruh baya dengan perut tambun dan kepala botak itu.
“Baik, Pak Kevin. Saya akan lakukan asal bapak tidak memperpanjang maslaah ini dan tidak melaporkan club kami,” ucap pria botak itu.
Kevin mengangguk dan pergi dari hadapan pria itu, lalu mengambil istrinya dari tangan Sean.
“Seharusnya lu ga usah kotorin tangan lu, Kev. Biar gue yang ninju tuh bocah,” kata Sean saat menyerahkan Ayesha ke tangan Kevin.
Kevin tak menajwab perkataan Sean. Ia sudah terlanjur geram dengan pria yang ingin mengerjai istrinya itu.
“Ayo pulang!” ajak Kevin pada Sean dan Aldi.
“Anterin dia pulang,” kata Kevin saat melihat Nindi yang sudah tak sadarkan diri karena tengah mabuk.
Bahkan Nindi tidak sadar ketika sedari tadi Kevin menyebut bahwa Ayesha adalah istrinya.
“Ck, ogah ah. Sean aja nih yang anter. Kalau gue yang anter nanti Kayla cemburu,” sahut Aldi.
“Halah, alesan lu. Sini!” Sean pun mengambil alih. Ia membopong tubuh Nindi dan membawanya ke dalam mobil.
Farel yang sudah babak belur pun langsung dibawa ke rumah sakit. Ternyata apa yang dikhawatirkan Nino terjadi, wanita yang hendak dikerjai temannya memiliki keluarga yang cukup membuat mereka menyesali apa yang mereka lakukan.
Setelah ini, Ayesha dan Nindi pun akan menyesali apa yang mereka lakukan, karena sejatinya penghilang stres bukanlah mencari tempat hiburan seperti ini, tetapi melakukan hal-hal positif agar hati jauh lebih tenang.
Kevin menatap istrinya yang sedang mabuk sembari menyalakan mesin mobil. Ia sudah mendudukkan Ayesha di kursi penumpang yang berada persis di sampingnya.
“Kamu siapa? Kok mukanya mirip Mas Kevin?” tanya Ayesha dengan mata yang berkedip pelan.
“Ck.” Kevin berdecak kesal dan menjalankan kendaraan roda empat itu.
“Kita mau kemana? Aku ingin pulang,” kata Ayesha merengek.
“Iya, ini kita mau pulang. Lain kali, jangan pernah menginjak tempat itu kalau belum pernah. Menyusahkan!” jawab Kevin kesal.
“Kamu tahu, suamiku tidak percaya kalau aku tidak pernah ke club. Jadinya aku ingin mencoba ke tempat itu,” sahut Ayesha mengoceh.
“Suamiku itu mulutnya pedas. Sangat menyebalkan,” Ayesha mengoceh lagi.
Kevin mengernyitkan dahi dan menoleh ke arah istrinya. “Kamu yang menyebalkan. Nyalahin orang.”
“Tapi kamu tahu, aku tetap menyukainya walau dia bermulut pedas dan suka semena-mena.”
Sontak Kevin kembali menoleh ke arah Ayesha dan tersenyum, lalu fokus menyetir.
“Kamu tahu ...”
“Sudah, tidur saja!” Kevin mendorong kepala Ayesha agar bersandar pada punggung kursi yang empuk itu. “Jangan banyak bicara!”
Ayesha pun menurut. “Ya, aku memang ngantuk.”
“Ya ... lebh baik tidur,” kata Kevin dengan melebarkan senyum.
Ternyata wanita ini berisik jika sedang mabuk. Untung saja Ayesha tidak pernah mabuk dan sepertinya malam ini adalah malam pertama dan terakhir Ayesha mabuk. Itu pun karena ada orang yang menjebaknya.
Baru lima menit suasana hening karena Ayesha memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba Ayesha kembali meraung.
“Gerah.” Ayesha mengangkat rambutnya dan mengibas-ngibas tangannya ke arah leher jenjang itu.
“Gerah.”
Kevin kembali menolah dan bergumam. “Ah, obatnya baru bereaksi.”
“Ya ... Ya ... aku tinggikan volume AC nya,” kata Kevin dengan menekan tombol itu.
“Masih gerah,” kata Ayesha yang kemudian memelorotkan tali tali dres yang ada di pundaknya dan memelortokan tali branya juga, sehingga bahu mulus itu pun terpampang sempurna hingga kedua gunung kembar itu seolah akan keluar dari tempatnya.
“Stop! Jangan! Tunggu sampai kita tiba di apartemen. Oke.”
“Panas,” kata Ayesha lagi. Kali ini ia mengangkat dres bawahnya hingga paha mulus itu pun terpampang dan menampilkan segitiga pengaman berwarna hitam yang Ayesha gunakan.
Kevin pun menelan salivanya kasar. Sesuatu di bagian bawah tubuhnya pun tiba-toba membengkak. “Oh, Ayesha. Kamu sexy sekali.”
“Mas, panas. Aku ga tahan,” rengek Ayesha lagi dengan meliuk-liukkan tubunya.
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai. Mas juga ga tahan lihat kamu seperti ini,” jawab Kevin.
“Maass,” rengek Ayesha lagi.
“Sabar, Sayang. Mas akan menyejukkanmu. Tahan ya!” kata Kevin lagi dengan menjalankan mobilnya lebih cepat.