
Sean mencari makanan keinginan sang istri. Tiga puluh menit ia keluar dan mengitari selasar gedung apartemen ini. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada yang menjual makanan itu.
“Sayang, kamu minta makanan yang lain saja. please!”
Nindi merapikan semua cucian kotor dan memindahkannya ke ruang loundry. Ia memasukkan pakaian-pakaian kotor itu ke dalam mesin.
“Aku tidak mau makanan yang lain, Mas.” Nindi menggeleng.
“Terus Mas harus cari di mana?”
Nindi menatap wajah suaminya yang terlihat frustrasi. Namun, Sean tidak menyadari bahwa ada yang aneh dengan permintaan sang istri. Apa ini yang disebut ngidam? Tapi Sean tidak menyadari.
“Di dekat kosanku ada yang jual makanan itu. kamu bisa cari di sana.”
“Jadi, Mas harus ke belakang kantor?” tanya Sean lagi.
NIndi pun tersenyum dan mengangguk.
“Makanan itu tidak enak, Nindi Sayang. Mas bisa membuatkan makanan yang lebih enak dari itu. Bagaimana?” Sean mengajak istrinya bernegosiasi. “Mas bisa membuat spagheti keju, kebab, stik. Hm … burger, krim sup.”
Nindi langsung menggeleng, membuat Sean berhenti bicara.
“Aku ga mau Mas. Itu semua makanan bule. Aku suka nasi uduk semur jengkol.”
Sean lemas “Oh my God, Nindi. Sekalian saja kamu minta kerak telor atau cilok.”
Nindi tertawa. “Kamu tahu makanan itu, Mas? Kalau ada, aku mau.”
Sean langsung mengerucutkan bibirnya. “Ck.”
Namun, pria itu tetap kembali keluar untuk mencari makanan yang diminta sang istri. Ia mengambil kunci mobil menuju tempat kos Nindi dulu, yang berada persisi di belakang gedung Adhitama. Memang tidak jauh dari apartemen ini, tapi tetap saja untuk menuju ke sana harus menggunakan kendaraan.
Nindi tertawa geli. Ini baru tahap awal ujian Sean menjadi seorang ayah. Nindi melangkahkan kakinya menuju kamar dan meninggalkan mesin cuci yang menyala.
Di luar, Sean menelusuri jalan area tempat kos Nindi dulu. Benar saja, persis sebelum sampai di tempat kos Nindi dulu, ia menemukan penjual makanan yang istrinya inginkan. Terlihat beberapa orang di sana sedang berdiri menunggu untuk dilayani.
Sean memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, persis di seberang penjual makanan itu. sebagian orang yang berdiri mengantri di depan meja penjual itu menengk ke arah Sean yang tengah berlari menyeberang dan menghampiri mereka.
“Ya ampun, tuh bule ganteng banget,” bisik salah satu orang yang mengantri di depan meja penjual makanan itu saat melihat Sean berlari menyeberang.
“Iya, ya ampun. Ganteng-ganteng belinya nasi uduk,” ujar salah satu orang lagi di sana yang melihat Sean ternyata ikut mengantri di tempat mereka berdiri.
Orang di sekitar antrian itu pun ikut tertawa mendengar celetukan itu, termasuk si penjual makanannya.
“Mau beli nasi uduk juga, Mas?” tanya wanita paruh baya yang menjual makanan itu sambil membungkus makanan untuk orang yang lebih dahulu datang, kepada Sean.
“Iya, Bu. Saya pesan satu nasi uduk semur jengkol.”
Sontak, orang-orang yang di samping Sean pun tertawa termasuk penjualnya.
“Seneng jengkol juga, Mas. Ya ampun,” ujar genit salah satu pembeli yang merupakan ibu-ibu.
Sean tersenyum. “Iya, untuk istri saya.”
“Oh dikira buat Mas-nya,” ujar salah satu pembeli yang lain.
“Yah, udah punya istri toh, Mas,” ledek pembeli yang lain.
Sean hanya tersenyum menanggapi para wanita yang menggodanya. Ada yang remaja, dewasa, bahkan paruh baya. Pesona Sean memang meruntuhkan semua usia kaum hawa.
Ini, Sean lagi nunggu nasi uduk semur jengkol 🤭