
Hari ini perhelatan Kenan di gelar. Sejak semalam kediamannya yang besar dipakai untuk berkumpul. Tim pemenangan dan para kerabat dekat ada untuk mendukung Kenan.
Sejak awal, elektabilitas Kenan memang selalu unggul dibanding lawan. Entah knyataannya nanti. Dari pagi, semua warga kota berbondang-bondong ke tepat pemilhan terdekat termasuk keluarga Adhitama terutama Kenan. Keluarga itu tak luput dari sorotan media. Kenan beserta istri berfoto selepas jarinya ditandai tinta ungu. Sementara, Keanu menyusul dengan menuntun Rasti. Sedangkan Kevin terpaksa harus ikut pemilihan di rumah sakit karena ia sedang menemani sang istri yang bersiap untuk melakukan pembedahan.
Ayesha masih dalam perawatan. Ia dijadwalkan pembedahan sekitar pukul satu siang. Sejak semalam, Kevin setia menemani sang istri di sini. Vicky menemani Kenan dan Rea menemani Hanin. Lalu, Vinza menemani adik kesayangannya di sini.
Keluarga Kenan dan Vicky memang kompak.
“Mas, Papa gimana?” tanya Ayesha sebelum memasuki ruang operasi.
“Tidak usah memikirkan yang lain. Pikirkan kamu dan anak kita. Oke!”
Ayesha tersenyum dan mengangguk.
Di rumah sakit, Kevin tidak memperkenankan petugas untuk menyentuh istrinya, apalagi jika petugas medis itu laki-laki. Saat Ayesha harus pindah dari tempat tidur perawatan ke tempat tidur dorong yang akan membawa menuju ruang operasi saja, harus Kevin yang menggendong sang istri dan memindahkannya. Kevin benar-benar posesif dan Ayesha hanya bisa tersenyum melihat itu.
“Mas akan temani kamu. Jadi jangan takut!” ucap Kevin sembari mengikuti tempat tidur yang mendorong istrinya.
Ayesha mengangguk. Sebenarnya ia memang takut karena ini adalah kali pertama untuknya. Sebelumnya, Ayesha belum pernah melakukan pembedahan. Ia juga termasuk anak yang jarang sakit. Namun, sekalinya sakit, Ayesha sangat cengeng dan manja.
Tangan Kevin terus menggenggam tangan Ayesha untuk memberi dukungan. Ayesha, wanita yang akan melahirkan keturunannya, ibu dari anak-anaknya yang banyak kelak, karena Kevin berharap setelah ini Ayesha kembali hamil anak kembar. Kevin menyukai anak kecil dan ia juga menyukai Ayesha yang berbadan dua. Ayesha yang sexy terlihat tampak lebih sexy menurutnya, jika sedang mengandung.
Kevin melihat Ayesha tidak secengeng dulu. Raut Ayesha tampak biasa. Wanita itu begitu tenang. Padahal yang Kevin tahu, sewaktu kecil Ayesha akan meraung-raung hanya karena terjatuh dan lututnya terluka sedikit.
Kevin mengusap kepala Ayesha lembut. Ia duduk di depan kepala istrinya sehingga kedua wajah mereka bertemu dekat. bahkan Kevin sesekali menempelkan keningnya pada kening Ayesha untuk memberi ketenangan.
“Siap, Ay? Bagian anastesi akan menyuntikmu. Bismillah ya!” ucap Tante Amalia.
Ayesha mengangguk. “Ya, Tante.”
Kevin melihat prosesi itu dari awal. Ia melihat bagaimana Ayesha berjuang untuk melahirkan anaknya. Lalu di saat proses pembedahan berlangsung, Kevin mengajak Ayesha berbincang agar wanita itu tetap terjaga.
“Kamu tahu, Mas juga sebenarnya sudah menyukaimu sejak kecil,” ucap Kevin.
“Oh, ya? Kok aku ga tahu,” jawab Ayesha dengan mata sayu dan senyum tipis.
“Kalau kamu ga datang ke rumah. Mas suka tanyain kamu ke Mama. Tahu ngga apa yang Mas rindu dari kamu.”
“Apa?”
“Gigi ompong kamu. Kalau ketawa itu lucu banget.”
“Mas,” rengek Ayesha yang tidak bisa tertawa.
Kevin tertawa sebentar dan kembali mengusap kepala Ayesha. “Kamu cantik. Lucu dan menggemaskan.”
“Berarti waktu orang tua kita menjodohkan, Mas ga keberatan karena memang sudah menyukaiku sebelumnya?” tanya Ayesha.
Kevin mengangguk. “Iya.”
“Dasar, udah suka tapi tetap aja kaku.”
Kevin tertawa. “Kalau itu udah bawaan, Sayang.”
Ayesha ikut mengusap wajah suaminya. “Selain abang dan Papa, kamu juga pria pelindungku.”
Ayesha mengangguk. “Kamu pernah menolongku saat aku hampir tenggelam di sungai desa xxx dekat Villa merah.”
“Mas lupa,” jawab Kevin.
Saat itu, Kevin memang langsung berenang ketika Ayesha bermain di sungai yang airnya mengalir cukup deras di sana. Lalu, Ayesha mengingatkan kembali peristiwa itu.
“Mas menggendongku ke tepian. Sama seperti saat di Bali. Makanya waktu kejadian di Bali, rasanya seperti dejavu. Dan ternyata memang dejavu, dengan orang yang sama juga.” Ayesha tertawa tipis.
Kevin ikut tertawa.
“Terus, Mas juga nyelametin aku saat aku kelas 7 SMP, dari dua pria yang hampir melecehkanku di jalan xxx. Jalan yang terkenal sepi.”
Kevin kembali mengingat peristiwa itu. “Ck. Lagian ngapain kamu lewat jalan itu. mana jalan kaki sendirian. Pas Mas lihat kamu, Mas langsung buntutin kamu waktu itu.”
Ayesha tersenyum lagi. “Makasih ya, Mas.”
Kevin tak kuasa untuk tidak membalas senyum itu. “Mas juga terima kasih, karena kamu telah memberikan cintamu untuk Mas. Kamu membuat hidup Mas lebih berwarna dan bahagia.”
Oooeee … Oooeee … Oooeee …
“Anak kita lahir, Sayang.” Kevin langsung bangkit dan menghampiri suara tangisan bayi tadi.
“Selamat, Kev. Anak kalian sepasang.”
“Alhamdulillah, ya Allah.” Kevin langsung bersujud dan menciumi seluruh wajah Ayesha.
Ayesha begitu bahagia, hingga tak terasa di sudut matanya menetes airmata.
“Terima kasih, Sayang.”
Wajah Ayesha dihujami oleh ciuman dari berbagai titik, mulai dari kening, ujung hidung, pipi, dagu dan bibirnya. Kevin tampak sangat bahagia.
“Boleh aku menggendongnya, Tante?” tanya Kevin.
“Tentu.”
Di luar ruangan, Vinza hanya bisa menunggu hingga Kevin keluar dan memberi kabar.
Setelah bayi kembar itu dibersihkan, Kevin langsung mengadzani dan menggendongnya. Kedua bayi itu ia dekatkan pada Ayesha.
“Oh, anak Mommy.” Ayesha memeluk kedua bayi mungil itu dan melirik suaminya. “Daddy udah kasih nama buat mereka?"
Kevin nyengir dan menggeleng. "Belum."
"Ih, Daddy ..."
****
Ada ide nama buat baby twins Kevin dan Ayesha?
Sepertinya Kevin masih belum ada ide untuk menamai anak mereka.