
“Sayang, kata Vinza, Ayesha sudah lahiran,” ucap Sean pada istrinya sambil memeluk sang istri dari belakang.
Nindi berdiri di depan lemari sembari tangannya bergerak merapikan pakaian bersih yang baru saja dibersihkan oleh asisten rumah tangga yang datang ke apartemen ini tiga kali seminggu.
Sean memeluk Nindi dari belakang sambil menyandarkan kepalanya pada punggung yang terbuka itu. Sepertinya kompetisi yang dimenangkan Sean kemarin sudah berlaku. Sejak kemarin, hari ini, dan lima hari ke depan, Nindi akan lebih sering tidak memakai baju. Tapi, sebelumnya Nindi bernegosiasi untuk dibolehkan menggunakan pakaian d*l*m saja. Dan, Sean pun menyetujui. Alhasil, seperti inilah Nindi sekarang, berdiri hanya memakai bra dan g-string saja.
“Kita kapan punya baby, Neng?”
“Memangnya, Mas udah siap jadi ayah?” Nindi balik bertanya sembari membalikkan tubuhnya.
“Udah dong.”
“Yakin? Kirain bikinnya doang yang semangat.” Nindi meledek.
Sean tertawa. “Wah udah bisa ngeledek ya.” Lagi-lagi Sean yang mesum meremas dada Nindi.
“Mas ih, rese banget." Nindi memukul lengan Sean. "Tangan kamu ga pernah bisa diam,” sungutnya kesal karena kejahilan tangan mesum itu.
Sean selalu gemas dengan dada dan b*k*ng Nindi.
Sean tertawa. “Biarin, punya Mas ini. Jadi bebas dong mau diapain aja.”
Nindi mengerutcutkan bibir dan mendorong sang suami agar sedikit menjauh. Namun, Sean seperti lem yang selalu ingin menempel pada istrinya.
Sean menempelkan lagi tubuhnya pada Nindi yang tengah menungging. Nindi sedang mengambil beberapa pakaian yang masih belum ia masukkan ke dalam lemari.
“Mas, Apa sih?” tanya Nindi yang merasakan sesuatu berbeda di bawah sana.
“Mas mau baby, Sayang.”
Nindi berdiri dan bertolak pinggang. “Terus?”
“Ayo kita buat lagi!”
Nindi mengernyitkan dahi. “Katanya mau jenguk Ayesha?”
“Setelah ini. Satu kali saja,” rengek Sean dengan mengangkat jari telunjuknya ke atas.
Sean seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.
“Janji satu kali ya?” tanya Nindi polos.
Sean mengangguk dengan senyum menyeringai dan menaikturunkan alisnya.
****
“Sayang, selamat ya!” Hanin dan Rea memeluk Ayesha.
“Terima kasih, Mama.” Ayesha menerima pelukan kedua ibunya.
Sedangkan di jarak yang tak jauh dari itu, Kevin sedang menggendong bayi laki-lakinya dan Vinza menggendong keponakan perempuannya.
“Aaa … Akhirnya, Oma punya cicit,” ujar Rasti dengan langkahnya yang pelan, menghampiri Kevin dan Vinza.
“Ya ampun, Oma langsung mendapat cicit sepasang.”
Wajah Rasti langsung sumringah. Wanita tua itu sangat bahagia. Kebahagiaannya juga semakin bertambah setelah mendapat kabar dari Kiara bahwa Kayla sedang mengandung.
“Sebentar lagi, Oma juga akan dapat cicit lagi dari Kayla,” sahut Hanin.
“Oh, ya? Kak Kayla sedang mengandung?” tanya Ayesha.
Hanin kembali mengangguk.
“Wah, si Aldy tokcer juga,” ledek Kevin.
“Kev, Oma mau gendong putramu,” kata Rasti lagi.
“Silahkan, Oma.” Kevin memberikan putranya pada Rasti.
“Za, Mama juga mau gendong dong,” ucap Rea pada putranya. Dengan senang hati, Vinza menghampiri sang ibu dan menyerahkan kepnokannya itu pada neneknya.
“Mirip Ayesha bayi ya, Ma.” Vinza mengelus pipi merah itu dengan ibu jarinya.
“Iya, baru Mama mau bilang gitu,” sahut Hanin.
“Iya, Nak. Lihat deh!” Rea memperlihatkan bayi perempuan itu pada Ayesha.
Lalu, Kevin yang tidak lagi menggendong putranya, menghampiri Ayesha dan duduk di tepi ranjang sembari memeluk istrinya dari samping. Mereka sungguh bahagia melihat senyum dari bibir orang-orang yang mereka sayangi.
Kevin dan Ayesha tersenyum lebar melihat Rasti, Hanin, Rea, dan Vinza yang sedang berebut untuk menggendong bayi kembar mereka.
Kemudian, Kevin menempelkan kepalanya pada kepala Ayesha. “Terima kasih ya, Sayang.”
Ayesha melirik Kevin. “Sejak diruang operasi hingga sekarang, kamu sudah mengucap kata itu lebih dari tiga kali, Mas.”
Kevin tertawa dan memeluk erat bahu istrinya yang agak melebar. “Mas bahagia banget.”
Ayesha menangkup wajah suaminya dari samping. “Sama, Mas. Aku juga bahagia.”
“Oh ya, Mas belum kasih nama untuk mereka?” tanya Ayesha pada suaminya.
Kevin nyengirdan menatap istrinya. “Belum. Belum kepikiran.”
“Loh, gimana sih Mas?”
Kevin masih nyengir. “Malah Mas lagi mikir untuk membuatnya lagi.”
“Maaaas,” teriak Ayesha membuat semua orang yang semula tidak memperhatikan mereka pun jadi menoleh.
“Kenapa, Ay?” tanya Hanin.
“Ngga apa-apa, Ma. Anak Mama nakal.”
Kevin meringis setelah perutnya mendapat cubitan saat Ayesha teriak tadi.
Hanin tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu di apa-apain sama Kevin, bilang Mama ya,” ucapnya.
Kevin dan Ayesha tertawa. Begitu pun Rea dan Vinza yang selalu menyumbang senyum.
Tiba-tiba Rasti tertawa. “Hahahaha … Oma jadi ingat saat menunggu kalian bercinta di bilik rumah sakit.”
“Oma …” panggil Kevin dan Ayesha bersamaan. Mereka tidak ingin Rea dan Vinza tahu tentang itu. cukup hal itu menjadi rahasia keluarga Adhitama.
Hanin ikut tertawa.
“Bilik rumah sakit? Bercinta? Maksudnya apa?” tanya Rea.
“Jangan dengarkan Oma, Ma!” sahut Kevin kepada Rea.
“Siapa yang bercinta di bilik rumah sakit? Abang dan Ayesha?” tanya Vinza.
“Bukan … Bukan …” Kevin dan Ayesha kompak menggeleng.
“Oma lagi ngigau, kebanyakan nonton india,” ujar Kevin.
“Ih, gini-gini Oma lagi seneng nonton drama Korea yang judulnya apa tuh? Descendants of the Sun. pemeran utama wanitanya, mirip Oma muda dulu.”
“Hoek …” Kevin mencibir Oma-nya dengan mengespresikan orang yang sedang ingin muntah namun tak bersuara.
Ayesha yang melihat itu pun kembali mencubit perut suaminya sambl tersenyum.
“OMG Oma …” Hanin menepuk jidatnya. Sementara Rea dan Vinza hanya tertawa.
Di tempat yang lain, Kiara sedang menemani putrinya memeriksa kandungan. Sang putri juga ditemani oleh suami dan adiknya. Setelah urusan mereka selesai, mereka pun akan mnejnguk Ayesha di rumah sakit.
Sedangkan di tempat yang lain apra pria paruh baya sedang berkumpul di kediaman mewah Kenan. Di depan rumah itu juga sudah berjejer para awak media yang mewancara siapapun yang keluar masuk di rumah itu.
Hingag sore menjelang, nama Kenan masih lebih unggul dari lawan. Keunggulan Kenan pun cukup jauh, selisih dua puluh persen lebih besar kubu Kenan dibanding lawannya. Jika hingga pukul nol nol, selisih persentasi masih sama dalam perhitungan cepat ini, kemungkinan besar Kenan memenangkan pemilihan.
Tahun ini adalah kado terindah untuk Kenan yang baru saja merayakan aniversarinya bersama sang istri dua hari lalu. Kenan mendapat dua kado terindah, pertama kesuksesan, kedua cucu sepasang.
Kenan memeluk kedua sahabatnya, Vicky dan Gunawan. Kedua sahabat yang kini telah menjadi kerabat.
“Terima kasih, Vick, Gun. Kalian adalah teman terbaik.”
Vicky dan Gunawan menerima pelukan itu. Mereka adalah orang yang mempunyai andil besar dalam kesuksesan Kenan sejak muda hingga di usia senjanya.