XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Like father like son



Setiba di Jakarta, Kevin dan Ayesha melipir sejenak ke kediaman orang tua Kevin untuk menikmati makan malam, sekalian menyerahkan amanat orang tua Ayesha yang memberi beberapa oleh-oleh untuk orang tua Kevin.


“Papa Vicky bilang, akan datang ke sini saat masa kampanye Papa nanti,” ucap Kevin pada Kenan.


“Ya, Vicky memang janji seperti itu,” jawab Kenan.


Kedua orang tua Vicky dan sang Oma duduk bersama di meja makan.


“Orang tuamu sehat, Ay?” tanya Rasti.


“Alhamdulillah Oma,” jawab Ayesha tersenyum dan mengangguk.


“Kalau kabar abangmu bagaimana? Siapa namanya? Oma lupa.”


“Vinza, Oma.” Ayesha langsung menjawab dan diangguki Rasti.


“Vinza, Keanu, dan Kinara itu satu angkatan Oma,” ucap Hanin.


“Ya, Oma ingat. Mereka hasil dari sepulang gathering menggunakan kapal pesiar itu kan?” tanya Oma yang membuat Hanin dan Kenan tertawa.


Kevin dan Ayesha yang memang tahu cerita itu pun ikut tersenyum.


“Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan kalian? Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?” tanya Rasti lagi pada Ayesha dan Kevin.


Ayesha menoleh ke arah Kevin yang juga menoleh ke arahnya.


“Ma, Kevin dan Ayesha baru lima bulan menikah. Masih terbilang pengantin baru, jadi terlalu dini untuk menanyakan hal itu,” sanggah Kenan.


“Ya … Ya … Ya …” jawab Rasti mengerti. “Tapi Oma ingin sekali menimang cicit. Mumpung Oma masih hidup.”


“Ma,” panggil Kenan dan Hanin bersamaan.


Ayesha juga menatap sedih nenek suaminya.


“Oma akan selalu sehat. Oke!” ujar Kevin yang langsung merangkul neneknya yang kebetulan duduk persis di samping kanannya dan Ayesha di samping kirinya.


Kevin menggenggam tangan sang nenek dan menciumnya.


“Oya, bagaimana hasil tes kesuburan Kevin waktu itu, Oma? Kevin subur kan?” tanyanya pada sang nenek.


Rasti terlihat kelabakan. Pasalnya ia tidak benar-benar memeriksakan kesuburan sang cucu. Ia hanya ingin mendekatkan cucunya dengan sang istri agar melakukan hubungan suami istri dan segera mendapat keturunan.


“Sehat, Nak. Kamu subur kok,” jawab Hanin.


“Hasilnya mana? Bisa Kevin lihat?” tanya Kevin melirik ke ibu dan neneknya bergantian.


Ia juga melirik ke arah sang ayah yang seolah tenang. Namun, Kevin menangkap sesuatu yang mencurigakan.


“Mama tidak menyimpan hasilnya. Mungkin sama Oma,” kata Hanin.


“Oma juga tidak menyimpan hasilnya. Mungkin sama Papamu,” sahut Rasti.


Kevin melihat ke arah sang ibu, ke arah sang nenek dan kini ke arah sang ayah.


“Papa menyimpan hasil pemeriksaan kesuburanku? Untuk apa?”


Kenan terdiam dan bingung untuk menjawab. Sontak gerakan tangannya yang sedang menyuapkan ke mulut itu terhenti.


“Emang iya sama Papa?” tanya Kenan pura-pura tidak tahu.


Padahal otak dari insiden bilik cinta rumah sakit itu adalh dirinya.


Kevin dan Ayesha melihat ke arah Kenan, Hanin dan Rasti pun demikian. Bedanya Hanin dan Rasti menahan tawa melihat ekspresi kebingungan Kenan.


“Di mana, Pa? Kevin juga ingin melihat hasil itu, karena itu adalah harga diri seorang pria,” kata Kevin.


“Hmm … dimana ya Papa menaruh kertas itu?” tanya Kenan pada dirinya sendiri dengan suara yang terdengar oleh orang sekitarnya. “Papa lupa, Nak. Karena hasil itu sudah lama.”


“Ck … Kenapa Papa tidak langsung berikan ke Kevin?”


“Maaf, Papa lupa,” bohong Kenan.


“Atau sebenarnya memang tidak ada hasil pemeriksaan kesuburan? Pasti ini akal-akalan Oma, Papa, dan Mama. Iya kan?” tanya Kevin menyelidik sembari memandang orang-orang yang ia sebut.


Ayesha hanya menjadi pendengar. Sementara, Kenan, Hanin, dan Rasti saling melirik.


Ayesha mengernyitkan dahi. Namun tetap mengulas senyum. “Benar kah?”


Sontak Rasti tertawa, mengingat kejadian itu.


“Sudahlah. Yang penting kalian sekarang sudah menjadi suami istri seutuhnya. Tidak jaim dan tidak lagi gengsi. Bukan begitu?" kata Rasti.


“Itu benar,” sahut Hanin.


Kenan kembali menyuapkan makanannya dan tersenyum. “Berarti ide Papa keren dong.”


Semua tertawa, kecuali Kevin yang masih tidak terima bahwa malam pertamanya harus dilakukan dengan cara paksa dan di sebuah bilik rumah sakit dengan ruangan yang kecil. Walau tidak dipungkiri setelah kejadian itu, ia menjadi candu terhadap sang istri.


Kevin pun ikut tersenyum dan melanjutkan makannya. Ayesha malu dengan pembicaraa ini. Ia tidak menyangka bahwa saat ia dan sang suami belum melakukan hubungan suami istri, ternyata diketahui oleh rang tua Kevin dan neneknya.


Setelah menikmati makan malam, Kevin pamit untuk pulang ke apartemen. Namun, pamitan itu menjadi sebuah drama karena Rasti bersikeras meminta sang cucu untuk menginap.


“Kami akan makan malam lagi weekend depan, Oma. Kevin janji.”


“Tidak, Oma ingin kalian menginap malam ini,” ucap Rasti.


Kevin menggeleng. “Tidak Oma.”


“Kev, kasihan Oma. Turutilah permintaannya,” sahut Kenan.


“Masalahnya, Oma pasti minta Ayesha tidur di kamar Oma,” jawab Kevin.


“Terus apa masalahnya?” tanya Rasti.


“Itu dia masalahnya,” jawab Kevin yang membuat Kenan dan Hanin tertawa.


“Masalahnya, Kevin tidak mau Oma menyabotase istrinya. Dia tidak bisa tidur kalau tidak dengan Ayesha, Oma.” Hanin membela sang putra.


“Nah, itu maksud Kevin,” jawab si beruang kutub yang kini sudah berubah menjadi beruang madu itu.


“Dasar, tidak bapak tidak anak, kelakuan sama. Tidak bisa ditinggal istrinya walau sebentar,” kata Rasti yang langsung meninggalkan anak, menantu, dan cucu serta cucu menantunya di sana.


Rasti tampak kesal.


“Sudah biarkan. Nanti Mama yang akan bicara pada Oma,” kata Hanin pada putra dan menantunya.


Kevin hendak mengejar sang nenek yang merajuk. Namun, sang ibu menahannya dan memintanya untuk segera pulang mengingat malam semakin larut dan mereka pun belum beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang.


“Ya, pulanglah!” sambung Kenan. “Malam semakin larut. Lagi pula kalian belum istirahat. Istirahatlah!”


Kevin dan Ayesha mengangguk. Mereka mencium punggung tangan Kenan dan Hanin bergantian. Tak lupa mereka pun saling berpelukan.


“Kami pulang, Ma, Pa,” ucap Kevin sebelum ia dan sang istri benar-benar meninggalkan kediaman mewah itu.


Hanin dan Kenan mengangguk.


“Hati-hati, Sayang,” ucap Hanin.


“Salam buat Oma, ya Ma,” kata Ayesha.


Hanin mengangguk dan Kenan merangkul bahu istrinya sembari melihat anak dan menantunya pulang. Mereka melambaikan tangan setelah Kevin dan Ayesha sudah berada di dalam mobil dan hendak menjalankan mobil itu. Lalu, Kevin dan Ayesha melakukan hal yang sama dan melaju pergi.


Hanin dan Kenan tersenyum melihat Kevin yang tak lagi sedingin dan sekaku dulu. Mereka bisa melihat perhatian yang diberikan Kevin pada istrinya. Sangat jauh berbeda dari pertama kali mereka menikah.


“Mama senang akhirnya Kevin menemukan kebahagiaan,” ucap Hanin.


“Like father like son,” ucap Kenan dan Hanin pun menoleh ke arah suaminya.


“Sebenarnya Mama kasihan dengan Ayesha,” kata Hanin lagi.


“Kenapa?” tanya Kenan.


“Karena dia akan bernasib sama denganku." Hanin menatap mata suaminya dengan sedikit mengadahkan kepala karena postur Kenan yang jauh lebih tinggi darinya.


“Maksudnya?” tanya Kenan lagi.


“Memiliki suami yang posesif dan super mesum,” ucap Hanin yang langsung berjalan cepat meninggalkan suaminya.


“Eit, jangan kabur! Papa lagi mau mesumim Mama nih,” ujar Kenan mengejar istrinya dan Hanin tertawa menghindari kejaran itu.