
Kevin dan Ayesha menjemput kedua orang tua Ayesha di bandara. Sejak awal meliha putrinya, Rea melihat sesuatu yang berbeda pada tubuh sang putri.
“Kamu sedang hamil?” tanya Rea yang duduk di kursi penumpang belakang bersama Ayesha, sementara Kevin berada di kursi kemudi, di temani Vicky di sampingnya.
Ayesha terkejut, ternyata menyimpan rahasia di depan sang ibu itu memang tidak akan bisa karena seorang ibu sangat jeli melihat perubahan putrinya.
“Kok mama tahu?” Ayesha balik bertanya sambil tersenyum.
“Jadi benar? Aaa …” Sontak Rea pun berterisk histeris.
“Ada apa sih, Ma?” Vicky langsung menoleh ke belakang dan bertanya. Sedangkan Kevin, melihat ibu dan anak itu dari kaca spion dalam.
“Ayesha hamil, Pa.” Mata Rea berbinar.
“Benar, Ay?” tanya Vicky yang juga menampilkan ekspresi yang sama.
“Benar, Kev?” tanya Vicky lagi sembari menatap menantunya yang duduk di sebelah.
Kevin menoleh dan tersenyum sembari menganggukkan kepala. Ayesha pun melakukan hal ang sama.
Vicky menoleh ke arah Kevin dan Ayesha bergantian dengan jawaban yang sama.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah,” kata Vicky berucap syukur.
Kevin tampak terus melebarkan bibirnya. Begitu pun Ayesha. Mereka senang sekali melihat ekspresi kedua orang tuanya.
“Sebenarnya, kami masih mau memberitahukan hal ini pas acara makan malam nanti. Supaya surperise. Tapi udah ketahuan duluan,” kata Kevin sembari menyetir.
“Aku kan sudah bilang Mas, Mama tuh ga bisa dibohongin. Mama selalu tahu kondisi aku.”
Rea tersenyum mendengar penuturan sang putri. “Ya, karena Mama sangat kenal anak-anak Mama.”
Ayesha memeluk sang ibu. “Semoga Ayesha bisa menjadi ibu seperti Mama.”
Rea pun memeluk putrinya. “Tentu saja kamu bisa. Apalagi ada suami siaga seperti Kevin. Bukan begitu, Kev?”
“Tentu saja, Ma.” Kevin langsung menyahut cepat sembari melihat ibu mertuanya melalui kaca spion dalam.
Vicky pun tak henti melebarkan bibirnya. Lalu, ai menepuk bahu Kevin. “Selamat ya, Kev.”
Kevin mengangguk. “Terima kasih, Pa.”
“Oh, ya. Ini masih rahasia ya, Ma, Pa. karena keluarga Mama Hanin dan Papa Kenan belum tahu. Oma juga belum tahu,” ucap Ayesha.
“Dan, ada lagi yang Papa sama Mama belum tahu,” ucap Kevin.
“Apa?” tanya Vicky.
“InsyaAllah, anak kami kembar,” jawab Kevin membuat Vicky dan Rea lagi-lagi terkejut.
“Oh, ya? MasyaaAllah …” Rea kembali menghambur peluk pada putrinya yang mengangguk.
“Akhirnya, keturunan kembar Papa mu diwarisi juga.”
Ayesha kembali mengangguk. “Iya, Ma.”
“Dulu, padahal Mama ingin sekali punya anak kembar. Eh ternyata ngga.”
“Sekarang, Ayesha yang ngerasain punya anak kembar,” sahut Ayesha.
“Dijaga ya, Sayang. Punya anak kembar itu harus ekstra. Karena kalian harus merawat dua sekaligus,” ucap Vicky.
“Iya, Pa.” sahut Ayesha dan Kevin bersamaan.
“InsyaAllah kami sudah siap, Pa,” sambung Kevin.
Vicky tersenyum dan mengangguk. Ia kembali menoleh ke arah istrinya. Vicky dan Rea saling tersenyum, karena akhirnya kekhawatiran Rea saat menerima perjodohan putrinya dengan Kevin pun hilang. Dapat mereka rasakan aura bahagia dari pasangan ini. Mereka juga dapat melihat betapa sayangnya Kevin pada putri mereka.
****
“Vicky ...” Panggil Kenan saat melihat mantan asisten sekaligus sahabatnya itu tiba.
“Hai, Bro. long time no see.” Gunawan pun menghampiri.
Ketiganya saling berpelukan.
“Gue nepatin janji dong. Belum sebulan, udah datang. Gimana ngga cinta coba?” ucap Vicky membuat Kenan dan Gun tertawa.
“Sumpah gue kangen kumpul seperti ini,” ucap Gun.
“Ya.” Kenan mengangguk, begitu pun Vicky.
Ketiga pria yang tak lagi muda, namun tetap awet sehat itu langsung bercengkerama tanpa menghiraukan orang lain.
Tak lama kemudian, Kevin pun ikut bergabung pada bapak-bapak di sana. Kevin mengajak Aldy untuk duduk bersama para tetua itu.
Seketika suasana kediaman Kean Adhitama ramai. Biasanya rumah mewah ini sepi dan Rasti meninggalkan rumah ini ke salah satu anaknya bergantian demi mengusir kesepian.
Tak lama kemudian, Kevin dan Aldy pamit pada para orang tua itu dengan alasan membantu wanita mereka di dapur. padahal di sana, Kevin tengah menyiapkan kue ulang tahun untuk sang ibu. Ya, hari ini Hanin ulang tahun, oleh karenanya Kenan meminta keluarganya untuk makan malam di rumah ini. Ternyata, Allah mengizinkan semua keluarganya bisa hadir. Bahkan Vicky yang jauh dari negeri orang pun, bisa datang tepat di hari ini.
“Mas lilinnya belum,” kata Ayesha menahan langkh suaminya yang hendak membawa kue itu ke depan.
“Oh, iya. Lupa,” sahut Kevin.
“Kebiasaan ngga pernah kasih nyokap kejutan nih! Ketauan,” kata Kayla.
Kevin nyengir. “Namanya juga cowok. Aldy aja pasti ga pernah gasih surprise ke ibunya.”
“Dih, kenapa jadi ke gue sih?” tanya Aldy kesal.
Ayesha hanya tersenyum sembari memberikan api pada lilin yang sudah menancap di kue itu.
“Stop!” suara seorang pria dari pintu belakang pun menghentikan langkah Kevin lagi.
“Keanu,” teriak Kayla.
“Hai, I’m cooming.” Keanu membentangkan kedua tangannya.
Ayesha pun menutup mulutnya yang menganga. Ia dan Kayla menghambur ke pelukan Keanu.
Sontak, Kevin menaruh kembali kue yang semula akan ia bawa ke depan. Ia menghampiri sang adik, tapi bukan untuk memeluk sang adik yang sudah lama tak ia temui melainkan memisahkan sang adik dengan istrinya.
“Enak banget lu, dateng-dateng udah di peluk dua cewek.”
Keanu pun tertawa. “Udah biasa, Mas. Di sana bukan Cuma dua cewek yang meluk gue. Ratusan malah.”
“Sombong,” ucap Kevin kesal sembari menarik Ayesha ke pelukannya.
“Ya ampun, posesif banget sih lu, Mas. Dulu aja ga mau,” ledek Keanu pada sang kakak membuat Ayesha tertawa.
Lalu, Kayla mengenalkan Aldy pada Keanu.
“Kinara mana?” tanya Keanu pada Kayla.
“Baru datang minggu depan.”
“Oh.” Keanu membulatkan bibirnya. “Padahal aku udah kangen banget sama Nara.”
Kemudian, para generasi muda itu, kembali melanjutkan tugas untuk memberi kejutan pada Hanin. Akhirnya, kue itu dibawakan oleh Ayesha. Sementara, Kevin, Keanu, Kayla, dan Aldy menyanyikan lagu ulang tahun sepanjang langkah mereka menuju ruang keluarga.
“Happy birthday to you … happy birthday to yor ….”
Keanu sengaja berada di paling belakang, agar sang ibu tidak melihatnya dan menjadi kejutan. Para pria yang duduk di teras pun masuk ke dalam saat mendengar riuh suara itu.
Hanin terkejut. Ia menutup mulutnya. Tak percaya bahwa anak, mantu, dan keponakannya melakukan surprise ini. Padahal sejak pagi, hanya sang suami yang memberinya ucapan ulang tahun lengkap dengan kecupan di kening. Kebiasaan yang lakukan tak pernah lekang oleh waktu.
“Selamat hari lahir, Mama.” Suara Keanu dengan kemunculan tubuhnya dari belakang membuat Hanin tak bisa membendung air matanya.
“Keanu,” panggil Hanin lirih dengan membentangkan kedua tangannya.
“Iya, Mama. Keanu di sini untuk Mama.” Keanu menghampri sang ibu dan memeluknya.
“Kenapa ga bilang kalau mau pulang?”
“Surprise. Kalau bilang berarti ga surprise dong Ma,” jawab Keanu yang maih dalam pelukan sang ibu.
“Tapi Papa tahu kalau Keanu akan pulang hari ini.” Keanu melonggarkan pelukan dan melihat ke arah sang ayah yang berdiri bersama kedua sahabatnya.
Hanin membulatkan matanya ke arah sang suami. “Kamu ga bilang, By. Jahat.”
Kenan pun hanya tersenyum sembari memasukkan kedua tangannya di kedua saku celana itu. Semua yang hadir pun ikut terharu melihat pemandangan ini.
Kenan juga terharu melihat keluarganya yang begitu tampak bahagia. Ia melihat ke arah Kevin yang sedang memeluk istrinya dari samping. Kayla yang dipeluk Aldy. Vicky dan Rea, juga Kiara yang mendekati suaminya dan saling bergandengan pinggang. Begitu pun Rasti. Di usianya yang senja, ia masih bisa menyaksikan kebahagian anak beserta keluarga mereka masing-masing.
Memang jodoh tak bisa dipaksakan. Biarkan mereka memilih. Walau orang tua tetap mengawalnya.
“Stop! Jangan dimulai dulu acaranya! Aku baru datang,” suara wanita dari pintu luar terdengar nyaring.
Wanita itu berlari tergopoh-gopoh menuju orang-orang yang sedang berkumpul.
“Kinara,” panggil Kiara pada wanita yang sedang menghampirinya.
“Mama.”
Kiara pun melepaskan tangannya pada pinggang sang suami dan bergegas menghampiri putrinya yang lama tinggal di kota yang jauh darinya.
Semua orang di sana kembali tersenyum melihat kehadiran satu lagi keluarga Adhitama yang berada jauh di kota orang demi meraih cita-citanya.
Malam ini, keluarga Adhitama pun berkumpul tanpa terkecuali. Mereka menikmati makan malam bersama sekaligus perayaan ulang tahun Hanin yang tak lagi muda.