
“Sudah lebih baik?” tanya Kevin setelah memasuki flat apartemennya.
Ayesha yang sedang berbaring di sofa sambil menunggu suaminya pulang pun segera bangkit. Ia tersenyum dan mengangguk, lalu mendekati Kevin. Tangan Ayesha meraih pakaian berbahan sedikit tebal yang membungkus lapisan kemeja panjang suaminya dan membantu melepaskan. Ia juga membantu melepaskan dasi yang masih melekat di leher sang suami.
“Kamu sudah makan?” tanya Ayesha.
“Kamu sudah makan?” Kevin malah balik bertanya.
Ayesha tersenyum. “Apa sih, Mas. Orang tanya malah balik nanya.”
“Hmm … kalau kamu belum makan karena menungguku untuk makan bersama. Aku akan makan. Tapi kalau kamu sudah makan, ya aku juga sudah makan.”
“Dih, bisa begitu.” Ayesha kembali tersenyum dan membawa pakaian kotor itu ke tempatnya.
Kevin mengikuti langkah sang istri menuju ruang laundry.
“Kok kamu malah ikut ke sini! Sana mandi! Aku sudah siapkan air hangat dan pakaian tidur untukmu.”
Kevin mengabaikan perkataan istrinya. Ia tetap mengikuti Ayesha dari belakang. Ayesha menghentikan langkahnya dan memasukkan pakaian kotor itu ke dalam kotak besar yang terbuat dari rotan.
“Mas, kok masih di sini? Mandi sana, nanti aku panaskan makanannya.”
Sebelumnya, Kevin menelepon Ayesha hampir setiap satu jam sekali hanya untuk menanyakan kabar. Ayesha sangat berbunga dengan perlakuan suaminya itu. Ia tidak menyangka di saat seperti ini, si beruang bermulut pedas itu ternyata sangat peduli dan perhatian. Kevin juga berkali-kali menelepon Ayesha untuk memastikan bahwa di tempat ini ia sudah ditemani Bi Lastri.
Dan, saat ini Bi Lastri sudah berada di kamar belakang. Kamar yang khusus untuk maid.
Kevin menatap Ayesha dari ujung kepala hingga kaki. Ya, istrinya semakin cantik dan menarik. Matanya terus tertuju pada balahan dada Ayesha dan dua bongkahan padat di belakang itu. Ayesha terlihat seksi karena tengah menggunakan kaos basket Kevin yang kebesaran berlengan buntung dan lingkar leher yang cukup besar membuat bra bertali spagety yang ia kenakan pun terlihat.
“Mengapa pakai pakaianku?” tanya Kevin yang menempel di samping istrinya.
Ayesha melihat pakaian yang ia kenakan. “Ah, iya. Maaf aku memakai pakaianmu. Tadi aku asal ambil saja.”
“Alasan. Pasti karena kamu merindukanku, bukan? Ah, kita cukup lama tidak berinteraksi intens lagi seperti ini. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.” Kevin menyandarkan tubuhnya di alat pembersih pakaian itu.
Ayesha mengikuti posisi suaminya. Mereka berdiri berdampingan dengan sangat dekat. “Ya, kita memang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi kamu juga akan melakukan perjalanan bisnis yang cukup lama.”
Kevin mengangguk.
“Kapan kamu berangkat?” tanya Ayesha.
“Lusa.” Kevin menjeda perkatannya, membuat suasana sesaat hening. Lalu, ia kembali berkata, “Besok, Papa dijemput Pak Udin dan langsung ke kantor. Rapat direksi dimulai setelah makan siang. Lalu, besoknya lagi kami berangkat.”
Ayesha menolehkan kepalanya ke samping, tepat di depan wajah sang suami yang masih memandang lurus ke depan. Sepertinya, ia akan sangat merindukan pria ini.
“Secepat itu?” tanyanya.
Sedetik kemudian Kevin puin menoleh ke wajah yang sedang menatapnya. Ia pun mengangguk. “Aku pasti akan rindu untuk memarahimu.”
Ayesha mengerucutkan bibir. Tidak bisakah pria ini mengeluarkan kata romantis yang membuat hatinya meleleh? Atau kata-kata yang membuat Ayesha yakin karena semakin hari perilaku pria ini sudah membuatnya jatuh hati.
Ayesha menatap mata Kevin tanpa kata dan Kevin pun demikian. Ayesha menunggu kata pamungkas dari pria ini. Paling tidak, Ayesha menunggu Kevin mengucap kata sayang. Itu saja sudah cukup jika kata cinta masih sulit.
“Kamu berharap aku bicara apa?” tanya Kevin yang menangkap sinyal dari istrinya.
Ayesha menggeleng cepat dan meluruskan pandangannya. Sepertinya ia tidak boleh banyak berharap. “Tidak, memang apa yang bisa aku harapkan dari pria bermulut pedas sepertimu.”
Cup Kevin mengecup bibir Ayesha dari samping, membuat wanita itu sontak menoleh. Kevin pun tidak menyia-nyiakan kesempatan wajah yang ada di hadapannya. Ia langsung ******* bibir itu, mengecapnya lembut dan mengajak Ayesha ikut larut dalam permainan lidah itu.
“Eum …” lenguh Ayesha yang tanpa sadar justru mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami.
Kevin semakin brutal. Ia terus menyesap rasa manis itu, karena selama dua minggu ke depan, ia pasti akan merindukan manis ini.
Ayesha terbuai oleh pagutan yang diberikan sang suami, hingga ia tak sadar bahwa tubuhnya sudah berada dalam gendongan pria itu. Kevin mengangkat tubuh Ayesha seperti koala dan membawa menuju kamar mereka. Sepertinya Kevin akan melakukan kewajiban yang seharusnya ia lakukan sejak satu bulan lebih atau empat puluh hari lalu.
Di sela perjalanan mereka menuju kamar, Kevin tak melepas pagutan itu. Ayesha pun mulai bisa mengimbangi ciuman Kevin yang durasinya cukup lama. Di saat bersamaan, tangan Kevin pun tak tinggal diam. Kedua tangannya yang berada di bongkahan belakang yang padat itu punterus meremas.
Kevin membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kaki kanan. Lalu, ia merebahkan tubuh Ayesha di atas tempat tidur.
“Mmpphh …” Ayesha mulai kehabisan nafas.
Dan, tak lama kemudian Kevin melepasnya.
“Mas, Ah.” panggil Ayesha dengan mata yang sayu, karena kini bibir Kevin turun ke bagian selangka lehernya.
“Eum …” Ayesha kembali melengih saat Kevin menggigit bagian itu dan kedua tangan Kevin mengangkat kaos basket itu ke atas, lalu mencari kaitan bra Ayesha dan melepasnya.
Kepala Kevin mulai turun dan menemukan dua lembah bukit kembar yang menggiurkan. Jujur, Kevin baru melihat keindahan ini. Ia pun langsung melahap keduanya bergantian, membuat Ayesha yang juga belum pernah merasakan sentuhan seperti ini pun memejamkan matanya.
Ayesha menahan sensasi luar biasa ini dengan memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. “Eum, Mas.”
Seperti mendapat lampu hijau, Kevin terus melakukan aksinya. Namun, saat satu tangannya menyentuh bagian sensitif itu, terasa ada bahan yang cukup tebal membungkusnya di sana.
Tiba-tiba, Kevin menghentikan aksinya. “Kamu sedang ….?” Tanyanya menggantung.
Ayesha yang tahu maksud dari pertanyaan Kevin pun mengangguk. “Ya, baru tadi siang.”
“Oh, my God.” Kevin langsung lemas dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri.
Keduanya terdiam dan terasa canggung.
Ayesha sesekali melirik ke arah suaminya yang hanya memandang langit-langit kamar. Sungguh, Kevin sendiri pun merasa malu. Ia merutuki kebodohannya yang sudah tersulut omongan mesum Sean. Sedari tadi Sean selalu berbicara tentang ranjang, membuatnya ingin merasakan hal itu pada Ayesha dan bodohnya ia tidak tahu kapan tanggal periode sang istri.
“Ah, ****,” umpatnya dalam hati.
Kevin bangkit dan menuju kamar mandi. Begitu pun dengan Ayesha, ia memakai kembali pakaiannya yang sudah berantakan dan keluar menuju dapur untuk memanaskan makanan. Sejujurnya, ia memang belum makan dan menunggu suaminya untuk makan bersama.
Jantung Ayesha sedari tadi masih berdegup kencang. Jantung itu belum berdetak normal. Ia masih mengingat keintiman tadi. Ia pun masih mengingat rasa itu.
Ayesha menangkup wajahnya dan menutupnya dengan kedua telapak tangannya. “Oh rasanya mengapa seperti itu?” Ayesha masih mengingat dengan jelas sensasi itu.
Lalu, ia membuka telapak tangan yang menutup wajahnya itu, kemdian menepuk wajahnya dan berkata, “lupakan Ayesha, lupakan.”
Di kamar mandi, Kevin dengan terpaksa menuntaskan gairah tertunda itu sambil membayangkan tubuh sintal istrinya yang ia lihat, walau belum sepenuhnya polos.
“Ah, indah sekali kamu, Ayesha.”
Kevin terus melakukan aksinya sendiri sambil berteriak. “Ayesha, Ah. Ayesha … aku cinta kamu.”
Sayangnya, Ayesha tidak mendengar ungkapan cinta sang suami yang berada di dalam kamar mandi karena wanita itu sudah tak lagi berada di dalam kamar itu. Padahal kamar mandi itu tidak kedap suara, sehingga jika Ayesha masih berada di dalam sana, suara teriakan Kevin mungkin bisa terdengar.