
Hari bahagia untuk Kayla dan Aldy pun tiba. Hari ini Kayla tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya putih hasil design seorang designer yang tengah naik daun. Riasan natural dan tetap elegan di wajah yang memang sudah cantik itu pun terlihat semakin cantik.
Kiara dan Gunawan pun sudah dirias sebagai pendamping kedua mempelai nanti. Ibu kandung dan Ayah sambung Aldy yang tinggal di Jerman pun sudah bersiap. Sejak dua hari lalu mereka sudah berada di kota ini, khusus menghadiri perhelatan besar putranya yang bersanding dengan cucu salah satu deretan orang terkaya di negeri ini.
Kenan beserta keluarganya pun ikut andil dalam perhelatan besar ini. Apalagi Hanin. Wanita itu selalu mendampingi adik iparnya untuk mengurus semua urusan yang hari ini di gelar.
“Han, makasih ya. Kalau ga ada kamu dan Rea, aku mungkin kuwalahan menyiapkan pesta sebesar ini,” ucap Kiara.
Hanin tersenyum. “Kita keluarga, Ra. Sudah seharusnya aku melakukan ini.”
Ketiga pria yang sudah tak lagi muda itu pun tampak gagah menemani istri mereka masing-masing. Ya, mereka adalah Kenan, Gunawan, dan Vicky. Semakin tua, ketiga semakin kompak dan tidak pernah sekali pun berselisih paham.
“Kayla sudah siap, Ma?” tanya Gunawan pada istrinya.
“Ga tau, Pa. Mama belum lihat lagi,” jawab Kiara.
“Ya sudah, biar aku saja yang lihat Kiara,” ucap Hanin yang langsung melangkahkan kakinya ke kamar rias Kiara.
Di sana, Kiara ditemani oleh Kinara dan Ayesha.
“Kak Kay, cantik banget,” ujar Ayesha yang hari ini baru memulai mengenakan hijabnya.
“Kamu juga cantik, Ay,” jawab Kayla tersenyum dari balik cermin sambil menatap Ayesha.
Ayesha dan Kinara memakai pakaian yang sama. Hanya saja bedanya, Ayesha memakai kaos dalam berwarna senada untuk menutupi kulitnya yang terlihat dari bahan brukat yang ia kenakan dan melilitkan kepalanya dengan kain yang dihias modis oleh MUA. Ayesha semakin cantik disertai tubuhnya yang semakin semok dengan perutnya yang membulat.
Jangan tanya bagaimana keposesifan Kevin pada istrinya yang semakin cantik dan semok itu!
Tok … Tok …
Hanin menongolkan kepalanya di balik pintu kamar itu. “Sudah siap? Mempelai pria sudah siap. Sebentar lagi ijab qobul di mulai.”
Hanin melangkah mendekati Kayla dan berdiri di samping sofa yang Ayesha duduki.
“Kamu cantik sekali, Kay.” Hanin melihat keponakannya dari balik cermin dengan tangan merangkul bahu Ayesha.
Ayesha mengangguk dan Kinara hanya tersenyum memperhatikan sang kakak yang sebentar lagi akan berubah status.
“Ah, tante bisa aja,” jawab Kayla malu.
“Pantesan Aldy tergila-gila padamu,” ledek Hanin.
Ayesha tertawa.
“Dia tuh pakai susuk tante,” ujar Kinara asal.
“Ya, kan aku belinya sama kamu,” kata Kayla pada adiknya.
Kedua kakak beradik ini memang sering kali bertengkar bila bersama, tapi kala salah satu di antara mereka tak terlihat, mereka saling mencari dan merindui.
Kinara tertawa. “Tapi aku kok ga mempan ya, Kak. Buktinya Vinza tetep ga ngelamar aku sampai sekarang.”
Sontak, Hanin tertawa. Begitu juga Ayesha.
“Minta bantuan dong sama adiknya.” Kayla melirik ke arah Ayesha.
Ayesha kembali tertawa. “Sepertinya, aku akan bilang Mama buat jodohin Kak Vinza sama Kak Nara.”
“Seperti kamu dan Kevin?” tanya Hanin.
Ayesha mengangguk. “Karena Mas Kevin sama Abang itu sebelas dua belas, Ma.”
Hanin tertawa. Kayla pun demikian.
“Ya, bener banget. Mesti ada pernikahan konspirasi. Kalau ga gitu, Vinza ga akan mulai,” ucap Kayla.
“Ya, padahal Abang juga cinta banget kok sama Kak Nara,” sambung Ayesha.
“Beneran?” tanya Kinara tak percaya ke arah Ayesha.
Ayesha mengangguk. “Waktu itu aku pernah nemuin kotak yang isinya tentang Kak Nara semua. Bahkan di kotak itu ada surat cinta tulisan Abang sendiri. Sepertinya Abang mau kasih itu pas kami pindah ke Ausy, tapi saat itu Kak Nara ga muncul-muncul di bandara.”
Ayesha menjelaskan kejadian waktu itu pada Kinara dan Kinara pun mendengarkan, begitu juga Kayla yang masih dirapikan hiasan di kepalanya dengan manik-manik bunga.
“Waktu itu, Abang tuh sedih banget. Aku bisa lihat raut wajah sedihnya pas Kak Nara ga dateng ke bandara,” kata Ayesha lagi.
Kayla yang sudah selesai dirias pun bangkit dan menghampiri adiknya. “Tuh denger kan? Cinta kamu ga bertepuk sebelah tangan, Dek.”
Hanin hanya tersenyum melihat para anak muda ini dengan kisah cintanya. Karena semua orang memiliki kisah cinta berbeda. Ia jadi ingat bagaimana kisah cintanya dimulai dengan pria arogan yang sebentar lagi akan menjabat menjadi gubernur. Hanin tersenyum, semua kisah suka dukanya bersama Kenan.
“Mama, tunggu di depan ya! Aldy sudah di sana bersama Kevin dan Keanu,” ucap Hanin.
Kayla mengangguk. Ayesha pun ikut bangkit dan menggandeng lengan Kayla dari sisi kanan, sedangkan Kinara menggandeng lengan Kayla dari sisi kiri.
“Semoga aku bisa nyusul kakak segera,” kata Kinara lirih.
“Aamiin …” jawab Kayla dan Ayesha bersamaan.
Di tempat ijab qobul, Aldy terlihat sedikit pucat. Lututnya pun terasa lemas. Ia lebih banyak duduk karena entah mengapa lututnya tiba-tiba tidak bisa menopang tubuhnya saat ini.
“Lu terlalu tegang, Bro,” kata Kevin.
Keanu yang melihat Aldy seperti itu pun tertawa. “Tau sih, santai aja.”
“Gue udah berusaha santai, tapi kenapa tetep nervous ya?” tanya Aldy.
“Ya karena ini pernikahan pertama, kalau kedua lu ga akan nervous,” jawab Keanu asal.
Kevin tertawa.
“Ini aja dapetinnya susah. Boro-boro mikir pernikahan kedua,” ucap Aldy lirih.
Mereka masih bisa bersantai sejenak sembari menunggu kedatangan pak penghulu yang katanya sudah tiba di lobby.
Ya, pernikahan ini digelar di hotel bintang lima. Salah satu hotel milik Adhitama. Sebuah Aula yang sangat luas, bahkan menampung ribuan orang pun disediakan khusus untuk Kayla. Tampak juga riasan dinding yang sempurna dengan paduan warna gold dan peach di kain renda yang menghiasi setiap ruangan itu, semakin memperlihatkan kemegahan pesta ini.
“Hai, Bro. Udah siap?” suara Sean terdengar menghampiri mempelai pria yang sedang nervous.
“Telat lu,” jawab Aldy.
“Sorry, anter Nindi make up dulu,” jawa Sean sembari memandang kekasihnya yang cantik.
Nindi memang sangat berbeda hari ini. Wanita itu mengaitkan lengannya pada lengan Sean.
“Ini Nindi?” tanya Aldy tak percaya.
Nindi hanya tersenyum dan mengangguk. Semntara Kevin seperti biasa, hanya datar dan biasa saja.
“Gebetan baru, Bang?” tanya Keanu pada Sean.
“Lebih dari itu, Kean. Ini calon istri,” jawab Sean yakin.
“Oh, gue kira lu masih nungguin Kinara,” ledek Keanu yang langsung berlalu pergi.
Namun, ledekan Keanu tanpa disadari memulai percikan untuk Sean dan Nindi. Wajah Nindi yang semula tersenyum, kini sedikit ditekuk ketika mendengar nama yang sering dipuja oleh Alin.
Tak lama kemudian, Pak penghulu pun datang. Mereka mengambil posisi masing-masing sesuai arahan wedding organizer.
Kayla pun keluar bersama Kinara dan Ayesha. Kayla yang sangat cantik itu di apit oleh adik dan istri sepupunya yang tampak tak kalah cantik.
“Mas, istri lu cantik banget,” ujar Keanu yang melihat ke arah Kayla bersama Kinara dan Ayesha.
Kevin tak menjawab. Ia hanya membulatkan matanya kepada sang adik sembari memasang wajah tak suka dengan mengarahkan kedua jarinya ke arah mata sang adik sebagai peringatan untuk tidak menatap istrinya lagi.
Keanu pun tertawa melihat sang kakak yang semakin posesif terhadap istrinya. Lalu, ia beralih pada Sean. “Kinara makin cantik ya, Bang.”
Sean mengangguk. “Iya.”
Sean tidak sadar di sampingnya ada perempuan yang terluka, ketika ia menganggukkan kepala dan mengucapkan kata “iya”
Nindi ikut melihat wanita yang ia yakini adalah Kinara. Wanita itu memang cantik, bahkan sangat cantik. Jika dibandingkan dengan dirinya, pastilah tidak ada apa-apa. Nindi menoleh ke arah Sean yang tak mengalihkan pandangannya ke arah itu. Entah pria itu sedang memandang sahabatnya yang akan mengucap ijab qobul, atau tengah memandang Kinara, wanita yang pernah Sean akui dihadapannya bahwa ia memang pernah mencintai wanita itu namun Kianara tak mencintainya melainkan mencintai kakak Ayesha.
Seketika, Nindi tak percaya diri. Apalagi beberapa kali pandangan Sean terus tertuju ke arah Kinara. Entah ini hanya perasaannya saja yang sedang diselimuti rasa cemburu, atau apa yang ia lihat adalah benar, bahwa hati Sean masih pada Kinara dan padanya hanya sebatas tanggung jawab dari nafs* yang terlanjur Sean lampiaskan.