XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Tidak ada cincin kawin tersemat di jari manismu



Ayesha hendak memasuki sebuah cafe yang berada di samping kanan gedung Adhitama. Sebelumnya, ia berjalan melewati satu gedung yang sama luasnya dengan gedung Adhitama untuk sampai di tempat itu. Di sana bukan hanya ada cafe, tapi juga beberapa restoran terkenal lainnya.


Ayesha tidak menyadari bahwa sedari tadi langkahnya diikuti dari belakang hingga sampai di tempat ini. Istri Kevin itu memang pernah ke café ini bersama Nindi, tapi beberapa hari ini ia tidak bisa makan siang bersama Nindi karena kesibukan masing-masing. Nindi dan Henry meneruskan program yang Ayesha dan Pak Edward garap sebelumnya. Laptop Ayesha yang rusak tersiram air pun sudah selesai Henry perbaiki dan di dalamnya persentasi itu masih aman.


Nindi dan Henry ingin membuktikan pada Kevin bahwa kesalahan Ayesha tidak sepenuhnya fatal. Walau perusahaan Kevin saat itu tidak dapat menjadikan mitra besar mereka berinvestasi lebih besar dari sebelumnya, tetapi program yang Ayesha usung tidaklah mati. Ide itu akan tetap berjalan dan ke depannya perusahaan Kevin akan mendapat keuntungan serta kemudahan dari program tersebut.


Ayesha berdiri di kasir. Ia mengantri untuk memesan makanan dan membayarnya langsung. Di café ini bukan hanya tersedia berbagai jenis kopi kekinian, tetapi juga snack dan ada menu makan besar walau tidak berporsi besar.


Orang yang berdiri di depan Ayesha pun selesai dan kini, giliran Ayesha yang berdiri di depan kasir itu. Ayesha menyebutkan makanan dan minuman yang ia pesan.


“Semuanya seratus empat puluh enam ribu rupiah, sudah termasuk pajak," ucap kasir itu sembari memperlihatkan layar yang menunjukkan angka yang ia sebutkan tadi.


“Oke,” jawab Ayesha sembari membuka dompet kecilnya.


Ayesha mengeluarkan kartu debit yang diberikan Kevin. Ia memesan dua makanan dan satu minuman. Satu makanan lagi, ia bungkus untuk Nindi. Ia ingin mempir ke lantai enam dan bertemu dengan sahabatnya itu. Sudah tiga hari lebih, mereka tak bersua.


“Yah, Kak. Maaf, mesin edc kami lagi bermasalah. Jadi hanya bisa bayar tunai,” kata kasir itu.


“Oh, gitu. Tapi saya ga punya uang tunai mbak,” jawab Ayesha bingung. Pasalnya di dompetnya kini memang tidak ada uang tunai sama sekali, karena biasanya ia selalu menggunakan kartu debitnya di sini.


“Yah, maaf Kak. Lagi ga bisa pakai ini,” ucap kasir itu lagi dengan menunjuk ke kartu Ayesha.


Bukan karena kartu Ayesha yang tak bisa digunakan, tetapi memang karena mesin dari bank tersebut yang sedang bermasalah dan tak bisa digunakan.


“Pakai ini saja, Mbak.” Tiba-tiba seorang pria maju dan mensejajarkan diri dengan Ayesha.


Si kasir itu pun menerima uang dari pria tersebut dan Ayesha langsung menoleh.


“Tian,” ucap Ayesha ketika melihat pria itu di sampingnya. Pria yang tengah ia hindari bukan karena ia masih benci dengan pria itu tapi karena saat ini Ayesha sudah menjadi istri Kevin.


Tian tersenyum. Senyum manis yang dulu selalu Ayesha sukai, tapi itu dulu.


Lalu, Tian kembali beralih pada kasir itu. “Mbak, sekalian aja bayar dengan pesanan saya.”


Kasir itu pun mengangguk dan menghitung semua pesanan Tian. Ayesha berdiri gelisah karena ini bukan keadaan yang ia mau.


“Ayo, Ay!” ajak Tian pada Ayesha untuk mencari tempat duduk, usai ia membayar semua pesanannya dan pesanan Ayesha di kasir tadi.


Ayesha terpaksa mengikuti langkah Tian.


“Ayo duduk, Ay!” Tian menggeser kursi dan mempersilahkan Ayesha duduk.


“Terima kasih,” ucap Ayesha tersenyum tipis dan mendudukkan diri di kursi itu.


Tian senang bukan kepalang. Akhirnya, ia bisa makan siang bersama Ayesha. Ia mengulas senyum dengan lebar dan ikut duduk tepat di hadapan Ayesha.


“Tidak perlu berterima kasih. Aku senang melakukannya,” kata Tian yang membuat Ayesha terdiam.


“Tidak Tian. Aku hutang seratus lima puluh ribu sama kamu. Setelah ini, aku akan ke atm dan mengembalikannya padamu,” jawab Ayesha.


“Ya ampun. Apaan sih, Ay. Ngga usah. Aku kan memang mengajakmu makan siang. Jadi aku traktir.”


Kepala Ayesha menggeleng. “Ngga, Tian. Hutang tetap hutang. Aku akan mengembalikan.”


“Tidak, Ayesha. Jangan!”


“Tidak, Tian. Aku tidak mau berhutang dengan …”


“Sssttt …” Tian menutup bibri Ayesha dengan jari telunjuknya. “Please, Ay. Anggap saja ini bagian kecil dari penebusan rasa bersalahku dulu.”


Ayesha memalingkan wajahnya dengan bibir cemberut. Ia bukan kesal dengan perilaku Tian dulu, tapi ia kesal karena jari telunjuk pria itu yang berani menempel di bibirnya.


“Ay, aku mohon. Maafkan aku,” kata Tian lagi yang mengira bahwa Ayesha masih marah atas pengkhianatannya dulu.


“Apa?” tanya Tian bingung.


“Jangan tempelkan lagi jarimu di bibir aku.”


Tian malah tersenyum dan semakin membuat Ayesha kesal.


“Dengar Tian. Aku sudah memaafkanmu. Tidak perlu repot-repot seperti ini. Bahkan sekarang aku sudah lupa dengan kejadian itu,” ucap Ayesha serius.


Tian pun memajukan tubuhnya sembari melipat kedua tangannya di ats meja itu hingga seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.


“Terima kasih,” ucap Ayesha tersenyum ramah, saat pelayan itu meletakkan kedua minuman di atas meja itu.


Tian bukannya mengatakan tersenyum pada pelayan yang mengantarkan makanan itu, malah tersenyum pada Ayesha yang tengah tersenyum ramah pada pelayan itu.


Ayesha langsung menyesap sedikit minuman yang tersaji itu dan Tian masih memandanginya tanpa kedip.


“Terima kasih, Ay. Terima kasih kamu sudah memaafkanmu dan melupakan kejadian itu. Aku tahu kamu memang wanita berhati luas.”


Ayesha menyudahi bibir yang menyesap minuman itu dari sedotan berwarna putih. “Ya, kita memang harus melupakan semua itu.”


Tian mengangguk. “Ya benar.”


“Dan memulai semua dari awal, karena life must go on. Bukan begitu?”


“Yap, benar sekali.” Tian semakin senang mendengar kata-kata itu. Ia merasa peluangnya semakin lebar. “Jadi, kamu mau menerimaku kembali?”


Kening Ayesha pun berkerut. “Maksudmu?”


Tian mengambil kedua tangan Ayesha yang berada di atas meja. Namun dengan cepat Ayesha menarik kedua tangannya dari sana.


“Maksud kamu apa, Yan? Aku ga ngerti?” tanya Ayesha lagi.


“Ay, setelah kamu pergi. Aku baru sadar bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku seperti merpati yang selalu terbang tanpa tahu pulang,” jawab Tian dengan wajah memelas.


“Aku sangat mencintaimu, Ay.”


Ayesha menggeleng. “Bukankah kamu memilih Jessi karena tidak mencintaiku?”


Tian ikut menggeleng. “Tidak, tidak seperti itu, Ay. Waktu itu aku sedang khilaf. Sesungguhnya, kamu sangat berarti untukku. Sangat.”


Tian kembali menarik tangan Ayesha dan menggenggamnya. Sesaat Ayesha terlena oleh kata-kata pria yang pernah ia cintai itu.


Ayesha terdiam. Ia membiarkan sejenak kedua tangannya yang digenggam erat oleh kedua tangan Tian. Lalu beberapa detik kemudian, ia pun mejauhkan kedua tangan Tian.


“Maaf, Yan. Aku sudah menikah.”


Tian seperti tersambar petir. Ia terkejut. Namun, ia tetap menepis informasi itu.


Tian menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Kamu bohong, Ay. Aku ga percaya. Aku tahu ini akal-akalan kamu supaya bisa menjauh dariku.”


“Sungguh, Yan. Aku sudah menikah. Bahkan usia pernikahanku sudah menginjak empat bulan.”


Lagi-lagi, Tian menggeleng. “Aku tidak percaya, Ay.” Ia melirik ke jari manis Ayesha yang tidak diisi oleh cincin kawin.


“Jari manismu saja tidak tersematkan cincin kawin,” ucap Tian yang membuat Ayesha ikut menoleh ke jari manisnya.


“Oh itu. Tadi pagi aku lupa memakainya karena terburu-buru,” jawab Ayesha bohong. Sejak menikah, ia memang tidak pernah memakai cincin itu, karena suaminya pun tidak memakai cincin itu.


“Tidak. Aku tetap tidak percaya.”


“Terserah. Yang penting aku sudah memberitahumu,” jawab Ayesha lagi dengan tegas.