XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap tigabelas




Nindi menatap ke arah jendela sembari mengusap kepala Sean yang sedang tidur dipangkuannya dengan posisi telungkup. Sejak tadi, ia membangunkan sang suami, tetapi bukan bangun malah Sean tertidur lagi di atas paha Nindi.


Lima hari kerja kemarin, Sean sangat sibuk. Ia harus menghandle pekerjaan Kevin, mengingat saat ini Kevin sedang dihadapkan oleh dua hajatan besar, yaitu istri yang akan melahirkan dan pemilihan sang ayah. Walau, Kenan sudah memiliki tim untuk pemenangan itu. Namun sebagai putra sulung yang berprestasi dan memiliki nama besar, Kevin sering menemani sang ayah saat kunjungan ke beberapa tempat penting.


“Mas,” panggil Nindi sembari mengusap lembut rambut Sean.


“Hmm …”


“Ayo bangun! Masakannya sudah dingin. Kamu ga lapar?”


“Tadi pagi, aku sudah memakanmu,” jawab Sean asal.


Nindi tertawa.


Ritual setiap pagi memang tidak pernah absen. Walau semalam, Sean melakukannya. Setelah ritual pagi selesai, biasanya Nindi akan pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan, sementara Sean membersihkan diri lalu bersiap ke kantor atau tidur lagi ketika libur.


“Beberapa hari ini kita ga jogging pas libur. Atau main basket? Aku ingin main basket lagi sama kamu,” ucap Nindi.


Dua bulan lebih mereka menikah dan dua kali Sean mengajak Nindi ke taman untuk jogging, lalu bermain basket di area taman di sekitar apartemen. Sean tidak menyangka bahwa sang istri ternyata mahir dalam olahraga itu.


Sean bergerak dan membalikkan tubuhnya. Kepalanya masih berada di atas paha Nindi.


“Waktu itu Mas pura-pura kalah,” sanggah Sean karena saat bermain basket dan beradu dengan Nindi. Sean kalah tiga skor.


“Masa? Bilang aja ga mau ngaku kalah,” cibir Nindi dengan wajah yang ditundukkan agar bisa berhadapan dengan wajah suaminya.


Sean memainkan ujung rambut Nindi. “Oke. Nanti sore kita main basket lagi. Kali ini kompetisi dilakukan sportif.”


“Oke, siapa takut,” tantang Nindi.


Sean menyeringai dan bangkit dari pangkuan itu. Memiliki Nindi seperti paket komplit, sisi lembutnya ada dan jiwa kelelekiannya pun ada. Sean bukan hanya mendapat teman hidup, tapi benar-benar teman yang bisa di ajak apa pun. Nindi bukan hanya teman Sean di kantor, tapi juga teman di ranjang dan sekarang menjadi teman sparing di lapangan. Kebetulan Sean pun menyukai basket. Ia lebih suka basket dibanding tenis, tapi berhubung Kevin dan Aldi menyukai tenis, ia pun mengikuti kedua sahabatnya.


“Kalau aku menang. Kamu harus membuat sarapan selama satu minggu berturut-turut,” ucap Nindi.


“Oke. Terus kalau aku menang, apa rewardnya?” tanya Sean.


“Terserah, kamu mau apa?”


Ah, Nindi salah. Harusnya ia tak menanyakan itu pada pria mesum seperti Sean.


“Hmm … apa ya?” Sean pura-pura berpikir, padahal di otaknya tidak ada hal lain selain bercinta dengan sang istri. Tubuh Nindi ibarat morfin baginya.


“Kalau Mas yang menang. Selama satu minggu kamu dilarang memakai baju.”


“Sean …” teriak Nindi tanpa embel-embel sebutan ‘Mas’


Jika sedang kesal, Nindi memanggil Sean dengan namanya saja.


Sean tertawa. Ia menahan tangan Nindi yang dengan brutal memukulnya.


“Emang ga ada gitu keinginan kamu yang lain, selain itu?” tanya Nindi kesal. “Misalnya, kamu minta aku buatin masakan apa gitu yang kamu suka? Atau menemanimu ke tempat yang kamu mau.”


“Ngga penting. Semua tempat indah sudah aku jelajahi. Berbagai macam makanan juga sudah aku cicipi. Semua udah pernah. Bosen,” sahut Sean.


Lalu, Sean melirik Nindi. “Tapi kamu ga ngebosenin, Neng,” ucapnya sembari menoel dagu Nindi.


“Ish.” Nindi langsung beranjak dari ranjang itu dan hendak berlalu dari hadapan Sean.


Sean pun mencekal pergelangan tangan Nindi. “Mau kemana?”


“Makan. Nungguin kamu bangun. Kelamaan.”


“Tunggu! Mandiin Mas dulu!”


“Ogah. Sana mandi sendiri.” Nindi berusaha melepaskan cekalan tangan itu.


“Tega kamu, Neng.”


Nindi tertawa dan menjulurkan lidahnya. “Wee … Biarin. Bisa mandi sendiri, minta dimandiin terus.”


Nindi yang berhasil terlepas dari suaminya pun segera berlari ke arah pintu dan hendak keluar.


“Awas ya! Mas bakal menang nanti sparing sama kamu. Dan, selama satu minggu kamu ga boleh pakai baju.”


Nindi bergidik ngeri. Membayangkannya saja, ia tak berani. Namun, ia tetap percaya diri. Ia merasa keahliannya di olahraga itu lebih mumpuni daripada sang suami.


“Ih, Mas curang.”


Sean langsung mengambil bola dari Nindi yang sedang lengah. Lalu, Sean melompat dan yeay … ia berhasil memasukkan bola itu ke atas keranjang. Skor sementara masih 6 – 5. Enam untuk Sean dan lima untuk Nindi.


“Stop! Mas curang!”


Sean menumpukan kedua tangannya di lutut sembari tertawa. “Curang kenapa?” Lalu, ia berdiri. “Yang penting skor sekarang, Mas 1 poin lebih unggul darimu.”


Nindi memonyongkan bibir. Bagaimana tidak kesal. Pasalnya saat Nindi sedang menggiring bola hingga sampai di depan ring dan hendak menembak. Sean meremas payud*ra*nya, membuat Nindi pun reflek melepaskan bola itu.


“Ngga, ngga. Tembakan tadi foul. Tidak dianggap.”


Sean masih tertawa. “Ish, itu namanya kamu yang curang. Skor saat ini tetap 6 – 5.”


Nindi geram. “Oke. Aku akan membalikkan keadaan.”


“Oke, siapa takut,” ucap Sean yang gemas dengan kelakuan sang istri.


Kali ini, mereka berada di ruang olahraga indoor yang di fasilitasi apartemen yang Sean beli. Walau apartemen itu menyediakan ruang-ruang olahraga termasuk gym. Namun, Sean memilih memiliki sendiri alat-alat olahraga itu di dalam unitnya.


Sepuluh menit berlalu dan selama berkurangnya waktu permainan, Nindi belum juga mencetak angka. Bukannya keadaan berbalik, ia justru menjadi bulan-bulanan Sean yang mengerjainya. Bahkan tangan Sean kerap memegang bagian-bagian inti tubuh Nindi. Untungnya lapangan itu ada di dalam ruangan dan hanya mereka berdua.


Kedua tangan Nindi ke atas guna menghalau bola yang dipegang Sean.


Sean menyeringai menatap kedua bongkapan bulat di depan dan belakang tubuh Nindi. Bagian itu tampak semakin membulat dan menonjol sempurna, membuat Sean gemas ingin menyentuhnya.


Hap


Sean langsung melemparkan bola itu dari jarak yang cukup jauh tanpa melihat bola tersebut masuk atau tidak. Namun, arah mata Nindi mengikuti bola itu dan ternyata bola masuk ke dalam ring dengan sempurna.


Sean mencetak tiga angka sekaligus.


Setelah melihat bola itu masuk tepat sasaran. Kepala Nindi kembali berputar menghadap Sean dan dengan cepat Sean memegang tengkuk Nindi untuk ******* bibir ranum itu.


Ciuman Sean menuntut, sehingga mau tidak mau, Nindi membalasnya.


Saat ini Nindi mengenakan kaos basket wanita tanpa lengan dan celana basket pendek diatas lutut yang pas dengan tubuhnya. Ia juga menguncir kuda rambutnya, membuat otak Sean bergerilya.


Tangan kanan Sean berada di tengkuk Nindi untuk menekan agar pagutan itu semakin dalam dan tangan kirinya meremas dada itu, membuat Nindi melenguh. Bibirnya terbuka lebar karena lenguhan itu, membuat Sean semakin leluasa menjelajahinya.


Kedua tangan Sean meraba seluruh tubuh belakang Nindi, hingga hinggap di kedua bongkahan bulat bagian belakang itu. Kedua tangan Sean meremas b*k*ng Nindi dengan mulut yang masih menjelajah di sana.


“Mmphh …”


Sean melepas pagutan itu sambil tersenyum. “Kamu kalah.”


“Masih ada waktu sepuluh menit,” sanggah Nindi dan melihat jam di tangannya.


“Habis. Sisa waktu sepuluh menit tadi sudah aku gunakan untuk menciummu.”


Sontak, Nindi mendorong dada Sean hingga pria itu hampir terjatuh. “Licik."


Sean tertawa.


"Pelecehan!” ucap Nindi kesal ketika mengingat tangan-tangan Sean yang nakal tadi sehingga ia kalah.


Sejak sebelum mereka dekat, tangan nakal Sean memang sering menjamah tubuh Nindi tanpa dosa.


Wanita itu segera mengambil kemeja Sean yang besar untuk menutupi tubuhnya yang memakai pakaian basket ketat dan pendek.


“Neng, tunggu!” Sean mengejar Nindi.


Ia memegang pergelangan tangan Nindi untuk menghentikan langkah wanita itu. Namun, Nindi memutar pergelangan tangannya agar terlepas.


“Lepas.”


“Loh kok jadi begini? Katanya sportif,” ucap Sean.


“Kamu yang ga sportif.”


Sean tertawa. “Tapi aku menang kan? Satu minggu loh. Ga sabar ngebayangin pemandangan indah setiap hari.”


Nindi memutar bola matanya malas. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan sembari menghentakkan kaki. Dosa apa dirinya hingga mendapat suami semesum Sean.


Sean yang melihat ekspresi itu pun semakin tertawa kencang hingga perutnya terasa keram.