XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Merindukan wanita yang sama



Hari ini, pagi-pagi sekali, Ayesha sudah berdandan rapih. Ia sudah siap untuk berangkat ke kantor dan tiba lebih dulu dari karyawan yang lain, terutama untuk orang-orang yang berada di ruangan lantai dua.


“Eum …” Kevin menggeliat di atas tempat tidur.


Bahkan suaminya saja masih baru terbangun. Namun, Ayesha malah sudah berpenampilan rapih.


“Kamu mau ke kantor se pagi ini?” tanya Kevin yang melihat istrinya berdiri di depan cermin.


Ayesha pun menoleh ke sumber suarah itu. Bibir manisnya tersenyum ke arah Kevin yang bnaru membuka matanya.


“He .. Eum,” jawab Ayesha dengan kepala mengangguk.


Melihat senyum Ayesha ketika pria itu baru membuka mata, membuat Kevin pun tersenyum.


Rasanya hari-hari Kevin lebih segar ketika ia membuka mata dan melihat senyum manis itu.


“Nanti saja, ini masih terlalu pagi. Berangkat bareng Mas satu jam lagi,” kata Kevin yang melihat ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul tujuh. Sementara jadwal kerja di mulai dari jam sembilan pagi sampai pukul lima sore.


Kevin bangkit dan duduk di tepi ranjang sembari mengumpulkan nyawanya yang masih separuh menyatu dengan raga karena ia baru saja terjaga.


“Tidak apa, Mas. Aku berangkat duluan aja.”


“Sayang, ngapain sih dateng pagi-pagi ke kantor? Belum ada orang juga,” jawab Kevin sembari mengucek matanya dan sesekali menutup mulutnya yang menguap.


Mereka memang kerap tidur kembali, usai melaksanakan kewajiban ibadahnya di subuh hari. Tetapi, hari ini pengecualian untuk Ayesha. Ia mempersiapkan diri untuk memulai harinya di divisi baru. Berada di divisi membuatnya seperti menjadi karyawan baru lagi di perusahaan itu.


“Justru aku ingin sampai lebih dulu dari mereka, Mas. Supaya ga jadi pusat perhatian. Udah turun jabatan terus dateng terlambat? Yang ada aku makin di bully mereka.”


Sontak Kevin pun terdiam dan menghela nafasnya kasar sembari menatap sang istri.


“Aku berangkat duluan ya? Nanti aku siapkan teh hangat buat kamu.” Kata Ayesha sebelum ia berlalu dari hadapan Kevin.


Namun, Kevin langsung menangkap pergelangan tangan itu. Saat Ayesha melintas. “Jangan keras kepala! Tunggu Mas sebentar!” kata Kevin yang tidak ingin dibantah istrinya.


Kevin berdiri di depan Ayesha. “Kita tetap berangkat bersama.”


“Hmm … tapi Mas lama, belum mandi, belum sarapan, belum …”


“Sssttt …” Kevin menutup bibir Ayesha dengan jari telunjuknya. “Mas ga lama.”


Cup


Kevin mengecup bibir Ayesha sekilas dan tersenyum, lalu berlalu menuju kamar mandi.


Ayesha menoleh ke arah Kevin hingga pria itu masuk ke ruangan kecil yang berada di dalam kamar itu. Wanita yang tak lagi berbody XL itu tersenyum. Ia bisa merasakan bahwa Kevin merasa bersalah atas keputusan yang memindahkan dirinya ke lantai dua dan saat ini pria itu seolah ingin menebus rasa bersalah itu dengan selalu bersikap manis. Sedari kemarin, Kevin selalu mengantar kemana pun Ayesha pergi.


****


“Kamu Ayesha, kan?” tanya Seorang wanita dewasa bernama Risa. Dia adalah asisten manager.


Ayesha yang sudah duduk di kursinya pun mengangguk. “Iya, Bu. Benar.”


“Ih, jangan panggil Ibu! Kesannya aku udah tua banget,” sahut Risa tertawa. “Walau pun udah tua sih.” Ia tertawa lagi.


Ayesha pun ikut tersenyum.


“Panggil aja aku mbak atau kakak. Itu lebih enak di denger,” kata Risa lagi yang langsung di anggkui Ayesha.


“Kamu dari divisi IT kan?” tanya salah satu wanita yang duduk berseberangan dari meja Ayesha yang bernama Melodi.


Ayesha menganggukkan kepalanya lagi. “Iya, benar.”


“Cantik. Katanya waktu itu anak baru di lantai enam, orangnya gendut,” celetuk salah satu wanita yang duduk di kursi yang bernama Diah.


Ayesha kembali tersenyum. “Iya, waktu pertama kali gabung di sini, saya memang gendut.”


Di ruangan ini memang lebih banyak penghuni di banding ruangan Ayesha sebelumnya yang hanya berisi ia dan Nindi saja. Meja kerja Ayesha berada di seberang Melodi dan Diah. Lalu, ada Risa di pojok kanan yang mejanya lebih besar dengan sofa tamu di depan meja itu.


Dan satu lagi, di divisi ini mayoritas adalah perempuan. Lantai ini mengisi dua divisi yaitu keuangan dan marketing. Kantin besar pun berada di lantai ini. Lantai dua adalah lantai yang orang-orangnya penuh dengan biang gosip.


“Wah, kok bisa cepet kurus?” tanya Diah, wanita yang usianya sama dengan Risa.


Ayesah hanya tertawa kecil dan bingung menjawab pertanyaan itu.


“Atau karena sering mendapat tekanan dari pak Kevin ya?” tanya Risa yang sangat mengenal CEO dingin dan bermulut pedas itu.


“Iya, Pak Kevin kan neken banget anak IT sama anak marketing,” sahut Melodi.


“Iya, satu lantai sama CEO tuh ga enak. Ga bisa gosip,” Celetuk Diah lagi.


Keempat wanita itu pun kembali bekerja. Ayesha mulai diberi tugas-tugas dari Risa dan Risa yang merapikan laporan, lalu diberikan pada Tian.


****


Waktu terus berjalan. Satu, dua hari Ayesha mulai bisa menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kini, ia berkutat dengan angka. Namun, ia mencoba membuat sistem agar data dan angka itu mudah dikerjakan dan mudah dimengerti.


Dua hari, Ayesha berada di ruangan itu. Ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Tian. Namun, keduanya belum juga berpapasan.


Ayesha yang lebih suka berada di dalam ruangan dan tidak pernah makan siang di kantin, membuat mereka saling berselisih jalan saat hendak masuk dan keluar ruangan masing-masing.


Kevin pun senang ketika melihat istrinya yang mulai menikmati tugas barunya. Ayesha tak pernah sekalipun mengeluh ketika bersama suaminya di rumah.


“Hai, Bro.” sapa Sean saat Tian berjalan mendekati kursi khusus yang didudukkan Kevin dan Sean di kantin.


“Hai.” Kevin bersalaman ala pria pada Sean dan Kevin. “Aldi sama Kayla ga ikut makan siang di sini?” tanyanya.


Sean menggeleng. “Mereka makan di resto seberang.”


“Kayla lagi pengen seafood,” jawab Kevin.


Tian tertawa. “Kayla ga lagi hamil kan?”


“Ngga lah, si Aldi mau kena tembak Om Gun,” jawab Kevin tertawa.


“Yang punya anak duluan itu bukan Aldi, tapi Kevin, Yan.” celetuk Sean.


“Iya lah. Secara Kevin yang duluan nikah dibanding kita.” Tian tertawa.


Kevin pun tersenyum mendapat ledekan dari kedua temannya. Ia membayangkan malam-malam panas bersama sang istri dan membayangkan Ayesha hamil.


“By the way. Lu sendiri gimana? Udah sebulan lebih di Jakarta, belum ketemu itu cewek yang lu cari?” tanya Sean meledek Tian.


“Yah, nyari aja ngga jago lu Yan. Apalagi ngambil hatinya nanti. Atau jangan-jangan malah itu cewek udah nikah!” kata Sean lagi.


Tian menggeleng. “Ngga bakal. Kalau dia udah nikah, pasti gue dapet informasinya.”


Tian yakin bahwa Ayesha belum menikah, pasalnya ia selalu menstalker media sosial Ayesha dan Vinza, tapi tak ada satu pun postingan atau unggahan foto di sana yang menerangkan bahwa mantan kekasih yang tengah ia cari itu sudah menikah.


“Mbak, di bungkus aja ya,” kata Ayesha berdiri di salah satu stand makanan yang berada di kantin gedung Adhitama.


Ayesha terpaksa ikut Melodi ke tempat ini, karena wanita yang duduk di seberang meja kerjanya itu merengek minta ditemani.


“Ay, kita ga makan di sini aja?” tanya Melodi.


Ayesha menggeleng. “Ngga ah Mel. Di ruangan aja ya. Soalnya sambil ngerjain kerjaan, dikit lagi selesai.”


Melodi mendengus dan memonyongkan bibirnya. “Ternyata bener ya kata anak IT, kamu tuh gila kerja. Pak Kevin keterlaluan mindahin orang seloyal kamu, Ay.”


Ayesha hanya menanggapi dengan senyum.


Mereka tidak menyadari bahwa di belakang mereka, ada orang yang tengah disebut Melodi tadi. Untungnya, mereka duduk cukup jauh dari tempat Ayesha berdiri.


Dan dari arah kursi khusus itu, Tian melihat Ayesha yang tersenyum sembari mengambil uang kembalian dan makanannya.


“Ck.” Tian berdecak sembari mengucek kedua matanya. Beberapa hari ini ia memang sering mellihat sosok wanita yang sedang ia cari itu. Baik di lift, di pantry, dan sekarang di kantin.


“Kenapa lu, Yan?” tanya Kevin yang melihat sikap aneh temannya.


“Saking gue rindunya sama mantan gue. Ampe ke halu gini," kata Tian tersenyum tipis. “Dimana-mana gue liat dia.”


Kevin dan Sean tertawa.


“Bucin lu,” sahut Sean.


“Ya, emang.” Tian mengangguk dan setuju dengan pernyataan Sean.


“Itu efek terlalu rindu,” celetuk Kevin.


“Gue pernah rasain itu pas jauh dari istri,” kata Kevin lagi yang langsung mendapat teriakan dari Sean.


“Ciye … istri,” ledek Sean membuat Kevin tertawa.


Tian pun ikut tertawa. Sejujurnya ia senang melihat perubahan besar dalam diri Kevin pasca pria itu menikah.


Tanpa Kevin dan Tian tahu, wanita yang mereka maksud dan pernah dirindukan adalah wanita yang sama.