
Kevin menunggu Ayesha di parkiran sebuah mall yang bertulis valet. Sambil menunggu istrinya, Kevin menuliskan pesan untuk Tian.
“Bro, besok ada acara?” tanyanya mengingat besok adalah hari weekend.
Tak lama kemudian, Tian membalas pesan Kevin yang kebetulan ponsel itu juga masih terpegang di tangannya.
“Ngga. Ada apa, Kev?”
Kevin kembali mengetik.
“Ngga ada apa-apa. Gue cuma mau ngobrol aja.”
Tian yang langsung membaca jawaban Kevin pun langsung menjawab. Ia menganggap keinginan Tian untuk bertemu untuk membicarakan tentang program keuangan yang baru saja ia selesaikan bersama Ayesha. Kebetulan program itu memang akan dipersentasikan di depan pemegang saham yang lain minggu depan.
“Oke. Di mana?”
“Di cafe xxx jam dua siang.”
Akhirnya Kevin akan bertemu empat mata dengan Tian. Ia tak sabar menunggu esok. Ia ingin memberitahu Tian untuk tak lagi mengejar Ayesha, karena saat ini wanita yang Tian harapkam sudah menjadi istrinya.
Baru saja Kevin membalas pesan dari Tian. Tiba-tiba Ayesha masuk ke dalam mobil.
“Mas, nunggu lama ya.” Ayesha tersenyum menatap suaminya.
Kevin langsung memasukkan kembali ponsel itu ke saku dan ikut tersenyum. “Ngga kok.”
Ayesha kembali tersenyum. Ia tak pernah melihat suaminya marah lagi. Padahal selertinya, Kevin sudah lima belas menit menunggu.
Ayesha kembali tersenyum dan tidak melepas pandangn itu hingga Kevin menjalankan mobilnya. Kevin pun menoleh dan membalas senyum itu, lalu fokus menyetir kembali.
****
Keesokan harinya, Kevin mendapat telepon dari Keanu. Pria itu duduk di sofa ruang televisi, sedangkan Ayesha di dapur menyiapkan makan siang alakadarnya.
Kevin dan Keanu tampak lama berbincang. Sejak Ayesha berada di dapur, hingga ia menyajikan makanan yang telah matang itu di meja makan, Kevin masih bertelepon ria dengan adiknya.
Ayesha melirik sekilas ke arah Kevin saat selesai menata makan siang itu di meja. Kebetulan antara meja makan dan ruang televisi tidak ada penyekat. Dari arah keduanya sama-sama bisa saling mellihat satu sama lain.
Di sana, ternyata Kevin pun sedang menatapnya.
“Ini, Ayesha lagi di depan gue,” ucap Kevin pada Keanu melalui telepon.
“Keanu mau ngomong sama kamu.”
Mata Kevin tertuju pada Ayesha untuk memberitahu bahwa adik iparnya ingin bicara.
“Ngomong sama aku?” tanya Ayesha dengan nada yang sama sembari menunjuk dirinya sendiri.
Kevin pun mengangguk.
“Sebentar.” Ayesha mengusapkan tangannya pada celemek yang ia pakai, lalu membuka kain yang melekat ditubuhnya itu agar pakaian yang ia pakai tidak kotor saat memasak.
Saat ini, Ayesha menggunakan kaos oblong berwarna pink dengan celana hotpants yang warnanya sama dengan kaos itu. Kaos oblong itu sedikit kebesaran hingga hotpants yang Ayesha kenakan tampak tak terlihat. Ayesha seperti hanya memakai kaos saja tanpa pakaian bawahan.
Ayesha berjalan mendekati Kevin. Sedangkan Kevin tampak tak berkedip melihat istrinya dengan pakaian yang menurutnya membuat Ayesha tampak sexy ditambah senyumnya yang menawan.
Tangan Ayesha terulur untuk meminta ponsel Kevin. Kevin pun menyerahkan ponsel itu dan Ayesha langsung menempelkan benda itu di telinganya.
“Hai, Keanu. Apa kabar?” tanya Ayesha dengan senyum manis.
Di sana, Keanu antusias mendengar suara Ayesha, adik dari teman kecilnya dulu. Keanu, Vinza, dan Kinara adalah anak hasil pembuatan di kapal pesiar. Bersama satu lagi sepupu Vinza yang merupakan anak dari Vely adik Vicky dan Dave suaminya.
“Ngga nyangka, Sha. Kok kamu bisa sama Kevin sih? Orang kaku sedunia,” ledek Keanu di sana.
Ayesha tertawa. Kevin hanya melihat ekspresi istrinya yang sedang berbincang dengan adiknya itu.
“Ngga tau,” jawab Ayesha sembari melirik ke arah Kevin.
“Apa? Ngomongin gue?” tanya Kevin menyela dan mendekati benda yang sudah berada di telinga istrinya.
“Awas ya, jangan lama-lama telepon Ayesha!” ancam Kevin sebelum akhirnya ia berdiri dan hendak beranjak ke meja makan.
“Iya, “ teriak Keanu di sana. “Posesif banget lu.”
Kevin nyengir. Ayesha sengaja meloudspeaker panggilan itu.
“Cepet pulang, lu. Jelek!” kata Kevin lagi pada adiknya. “Gue kangen maen anggar sama lu. Selain lu, ga ada lawan yang seimbang.”
“Sean?” tanya Keanu dari sana.
“Halah, dia mah lemah. Kuatnya di ranjang doang.”
Keanu tertawa lagi. “Oke. Oke.”
Lalu, Kevin mendekati meja makan dan mengambil rolade di piring yang Ayesha sediakan. Setelah itu, Kevin berlalu ke ruang kerja. Entah apa yang pria itu lakukan di dalam sana.
Ayesha dan Keanu masih berbincang melalui telepon. Mereka berbincang cukup lama. Ayesha pun masih duduk di sofa ruang televisi.
Topik pembicaraan mereka justru lebih banyak membicarakan tentang Kevin dan karakternya. Keanu cukup tahu jika sejak kecil, Ayesha sering cari perhatian pada Kevin walau wania itu takut jika sudah berhadapan dengan pria itu. Namun, Keanu tetap bangga pada sang kakak.
“Beruntung, wanita yang mendapatkan hati Kevin, Ay. Dan, aku beri applaouse untukmu,” ucap Keanu di sana yang hanya di dengar oleh Ayesha karena panggilan telepon itu tidak lagi di loudspeaker.
“Tapi, aku ga tahu Mas Kevin itu cinta sama aku apa ngga, Kean. Karena hingga saat ini dia ga pernah bilang itu.”
Keanu tertawa. “Mana bisa dia bilang cinta, Ay. Walau sebenarnya pasti dia udah cinta sama kamu.”
“Keanu, jangan bikin aku ge-er!”
Keanu tertawa mendengar rengekan itu. “Bener, Ay. Percaya deh. Walau Kevin belum bilang cinta tapi pasti kakak aku udah cinta sama kamu.”
Setelah perbincangan yang lumayan lama itu. akhirnya Ayesha dan Keanu memutuskan sambungan telepon.
Ayesha menatap layar dengan gambar foto pernikahan dirinya dan Kevin. Di sana terlihat Kevin dan Ayesha tersenyum. Entah mengapa foto pernikahan mereka, semua engelnya bagus dan di saat ekspresi mereka yang tengah tersenyum. Padahal saat itu, keduanya hanya melakukan pernikahan atas dasar perjodohan.
Mungkin, fotografernya yang handal sehingga menciptakan hasil foto dengan engel yang pas, pikir Ayesha.
Ayesha tersenyum mendapati foto itu terpajang di walpaper ponsel suaminya.
Ceklek
Terdengar suara pintu dari ruang kerja itu terbuka. Kevin keluar dari sana dan kembali menghampiri istrinya yang baru saja selesai berbincang dengan Keanu.
“Sudah selesai?” tanya Kevin yang melihat Ayesha tidak sedang menelepon lagi.
“Sudah.” Ayesha mengangguk.
Lalu, ia memberi ponsel Kevin pada sang empunya. “Ini.”
Kevin pun mengambil ponsel itu dan memasukkannya ke dalam saku.
Ayesha menatap suaminya yang tampak rapi. Walau sejak tadi, Kevin juga sudah terlihat rapi. Hanya saja, kali ini ia membawa jaket hodie-nya.
“Kamu mau kemana?” tanya Ayesha.
“Mau keluar sebentar. Ada kerjaan,” jawab Kevin yang sedang berdiri di depan Ayesha yang masih duduk di sofa itu.
“Oh. Tapi makan siang dulu kan? Aku sudah masak,” kata Ayesha.
“Ya, tentu saja.” Kevin mengajak istrinya untuk berdiri.
Mereka pun berjalan mendekati meja makan. Mereka sama menarik kursi dan mendudukinya.
“Maaf ya, kalau masakannya tidak seenak masakanmu,” ucap Ayesha nyengir. Ia khawatir Kevin akan mencela makanan yang tersaji itu.
Kevin tersenyum. “Yang penting kamu sudah berusaha.”
Ayesha tersenyum. Ya, suaminya memang sudah sangat jauh berbeda.