
Setelah menempuh perjalanan dalam keheningan di hari yang semakin gelap, Kevin dan Ayesha tiba di gedung apartemen elite yang letaknya berseberangan dengan gedung Adhitama. Kevin memarkirkan mobilnya di basement tempat biasa ia menaruh kendaraannya.
Klik
Kevin membuka kunci pintu mobilnya setelah ia mematikan mesin kendaraan itu. Ayesha langsung membuka pintu itu dan melangkah menuju lift terlebih dahulu tanpa menunggu Kevin. Biasanya Ayesha akan menunggu Kevin dan berjalan beriringan menuju lift. Tapi kali ini tidak. Kevin hanya melihat Ayesha dari belakang. Saat menunggu lift terbuka pun, Ayesha tak bersuara dan tak menoleh ke arah Kevin sama sekali, ia hanya melihat ke arah angka lift yang berjalan sembari menekan-nekan tengkuknya.
Kevin menarik nafasnya kasar. Arah matanya terus memperhatikan gerak gerik sang istri. Ia menyadari bahwa perkataannya saat di dalam mobil tadi menyakiti Ayesha. Ia tak sengaja mengucapkan kata bodoh karena memang saat itu Kevin teramat kesal. Ia kesal karena Ayesha tidak terbuka dengannya.
Tring
Pintu lift terbuka, setelah membawa mereka menuju lantai flat apartmennya. Ayesha hendak keluar dai lift itu lebih dulu. Namun, Kevin menahan tangan Ayesha agar mereka keluar bersama.
Ayesha menerima genggaman tangan itu, tapi tetap dengan raut wajah yang tak pernah Kevin lihat sebelumnya. Wajah Ayesha terlihat datar dengan pandangan selalu ke depan dan bibir mengatup tanpa ada senyum sama sekali. Biasanya semarah apa pun Kevin, Ayesha akan cuek dan tak ambil pusing. Namun, kali ini sepertinya perkataan Kevin tadi amat menyakitkan sehingga membuatnya seperti ini.
Kevin tetap menggenggam tangan Ayesha sepanjang perjalanan dari lift hingga flat mewah miliknya. Saat menekan passcode pintu itu pun, tangan kanan Kevin tak melepas genggaman yang menggenggam jemari istrinya.
Klik
Kode pintu yang mengunci kediaman Kevin itu pun terbuka. Lalu, mereka melangkah ke dalam dengan keadaan sama-sama lelah.
“Kamu udah makan?” tanya Kevin untuk melebur keheningan keduanya.
Ayesha mengangguk saja, padahal ia belum makan malam. Pertemuan dengan Tian tadi begitu cepat dan penuh drama, sehingga ia tidak sempat mengisi perutnya. Lalu, Ayesha hendak menuju kamarnya lebih dulu. Ia pun melepaskan tangannya yang masih dipegang oleh Kevin.
Kevin hanya pasrah melihat tingkah Ayesha yang membuatnya merasa bersalah.
Sesampainya di kamar, Ayesha langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara, Kevin masih duduk di sofa depan, di ruang televisi. Ia menyandarakan kepala pada punggung sofa sembari menghela nafasnya dan memejamkan mata sejenak.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Kevin berdering menampilkan nama Mama di layar itu.
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikumusalam,” jawab Hanin. “Suaramu lesu sekali.”
“Iya, Ma. Hari ini kerjaan agak padat.”
“Oh. Tapi kamu dan Ayesha baik-baik saja kan?” tanya Hanin.
“Baik. Kami baik.”
“Oh, syukurlah,” jawab Hanin yang memiliki kepekaan mendengar suara putranya yang terdengar lesu.
“Tadinya, Mama kira kalian akan pulang ke sini. Biasanya kalau weekend kalian kan menginap di sini.”
“Ya, tapi tidak untuk hari ini,” jawab Kevin.
“Berarti besok?”
Kevin terdiam sejenak.
“Mama kangen Ayesha, Kev. Besok kalian ke sini ya!” Pinta Hanin.
Kevin yang tak pernah bisa menolak keinginan sang ibu pun hanya bisa mengangguk pasrah. “Ya, besok siang kami ke sana.”
“Asyik. Nanti Mama akan buatkan makan siang spesial untuk kamu dan Ayesha.”
Setelah menutup telepon dari sang ibu, tak lama kemudian Kevin beranjak dari sofa itu dan masuk ke kamar. Saat Kevin membuka pintu kamar, Ayesha pun membuka pintu kamar mandi. Kevin memelototi tubuh Ayesha yang hanya berbalut handuk yang menutupi bagian tengah tubuhnya saja. Bagian yang membulat di depan dan belakang Ayesha tampak menantan, membuat Kevin harus menelan salivanya. Harusnya, malam ini ia bisa menikmati pemandangan itu, apalagi sebelumnya Ayesha berjanji kalau malam ini ia boleh menikmati tubuh itu berapa kali pun yang ia mau. Namun, kejadian di festival pasar malam itu menghanguskan semua keinginan Kevin.
“Dek, besok kita ke rumah Mama,” ucap Kevin saat Ayesha mengambil pakaiannya di lemari besar itu.
Ayesha mengangguk tanpa bersuara.
“Tadi Mama telepon Mas, katanya Mama kangen sama kamu.”
Ayesha kembali mengangguk dan hendak melewati Kevin untuk menuju kamar mandi lagi dan memakai piyamanya di sana, karena pakaian yang tersisa di dalam kamar mandi itu hanya lingeri dan dres mini saja. Sementara malam ini Ayesha ingin menggunakan piyama berlengan panjang dan bercelana panjang.
Dengan cepat, Kevin menahan lengan Ayesha yang hendak melintas. “Kamu marah sama Mas?” tanyanya.
Ayesha menggelengkan kepalanya lagi.
“Mengapa dari tadi tidak bicara?” tanya Kevin dengan menatap tajam ke kedua bola mata Ayesha.
Namun, pandangan Ayesha ke arah lain. “Tidak apa, hanya lelah saja.”
Ayesha menarik lengan Kevin agar tidak mencekal lengannya. Tapi justru tangan Kevin semakin erat memegang lengan itu.
“Seharusnya Mas yang marah karena kamu berpelukan dengan laki-laki lain. Tapi kenapa malah kamu yang marah?”
Ayesha menoleh ke arah suaminya. “Aku kan sudah minta maaf,” ucapnya lirih.
Kevin terdiam dan menatap mata istrinya. Wanita memang sulit dimengerti.
Beberapa detik, mereka bertatapan tanpa kata, hingga akhirnya Kevin luluh dan memeluk tubuh itu lalu menarik kepala Ayesha ke dadanya.
“Mas juga minta maaf.”
Ingin rasanya air mata itu mengalir, tapi Ayesha menahannya. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Kevin.
Ayesha hanya mengangguk tanpa ekspresi, lalu melepaskan pelukan itu. “Aku mau ganti baju dulu. Dingin.”
Kevin pun membiarkan pelukan itu terlepas dan hanya bisa melihat Ayesha yang berlalu ke dalam kamar mandi. Ia bisa merasakan kesedihan sang istri, karena ia pun ikut sedih ketika melihat sikap Ayesha yang seperti ini.
Setelah Ayesha selesai menggunakan kamar mandi. Kini, kevin yang menggunakan ruangan itu. Sebelumnya, Ayesha juga sudah menyiapkan air hangta untuk suaminya dan juga pakaian tidur untuk Kevin kenakan setelah membersihkan diri.
Kevin termasuk pria yang selalu lama, jika berada di dalam kamar mandi. Entah apa saja yang ia lakukan di sana.
Lama berjibaku dengan air yang membersihkan tubuhnya, Kevin pun keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangan, ternyata tidak ada Ayesha di sana. Ia hanya melihat pakaian yang sudah rapih di atas tempat tidur untuk ia kenakan.
Setelah mengeringakn rambutnya dan memakai pakaian yang Ayesha siapkan, Kevin keluar dari kamar untuk mencari sang istri. Ia melangkah menuju dapur, tapi tak terlihat Ayesha di sana. Ia juga melangkah menuju ruang televisi, ternyata sang istri pun tak ada di sini. Langka kaki Kevin yang semula bergerak santai, kini menjadi lebih cepat menuju beberapa tempat yang biasa istrinya berada. Namun, tetap nihil.
Kemudian, Kevin mengambil ponselnya untuk menghubungi Ayesha, ternyata nada sambung di ponselnya bersamaan dengan nada dering yang berasal dari ponsel sang istri.
“Sh*t!” gumam Kevin ketika mendapati ponsel Ayesha yang berada di atas meja rias.
Ia menghampiri ponsel itu dan bergumam lagi, “kamu dimana, Ndut? Kenapa ponselnya ga dibawa?”
Kevin frustrasi sembari meremas rambutnya, karena jika Ayesha tidak membawa ponselnya maka ia tak bisa tahu dimana dia berada sekarang.
“Ck, kamu bikin orang panik aja sih,”
Sementara, orang yang tengah membuat Kevin panik sedang menikmati segelas besar mie instant yang matang dengan diseduh air panas saja. Ayesha yang memang sedang lapar dan menginginkan mie pun pergi ke minimarket fresh yang berada di lantai dasar apartemen. Minimarket yang kebetulan buka dua puluh empat jam. Di sana, Ayesha dapat rehat sembari menikmati makanan kesukaannya diiringi semilir angin malam.