XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
berterima kasih pada bocah tengil itu



Matahari mulai menyinari jendela kamar yang maih tertutup itu. mata kevin perlahan terbuka. Ia kembali menyungging senyum saat melihat tubuh Ayesha yang berada dalam dekapannya. Lalu, ia mengingat aktivitas panas mereka semalam.


Tangan Kevin terangat untuk menyentuh bahu mulus yang polos itu dan ia mengecup beberapa kali sembari mengusapnya. Bibirnya kembali menyungging ketika melihat kismark di beberapa bagian tubuh itu terutama bahu dan leher. Warna keunguan itu begitu tercetak jelas, kontras dengan warna kulit Ayesha yang seputih kapas.


Kevin mengecup lagi tubuh itu. sungguh istrinya seperti candu. Ia tak pernah merasa puas menikmati tubuh itu, bahkan pagi ini singkong premium season dua itu kembali bangkit. Namun, ia tak akan melakukannya. Ia bisa mengontrol diri, mengingat sang istri masih terlihat begitu lelah.


Kevin menjauh diri dari Ayesha dan mengambil ponselnya di nakas. Ia mendial nomor Sean.


Tut .... Tut ... Tut ...


“Halo,” suara Sean menjawab panggilan itu.


“Sean, cari tahu pria yang semalam mau ngerjain istri gue.”


“Lu masih belum puas bikin dia babak belur?” tanya Sean. “Atau hidupnya kita bikin ancur sekalian?”


“No, gue ngga sekejam itu.”


Sean pun tertawa. “So? Apa yang harus gue lakuin?”


“Cari tahu, semalam dia mendapat perawatan di rumah sakit mana? Bayar semua pengobatannya dan kasih dia kompensasi.”


“Are you sure?” tanya Sean terkejut. Tidak biasanya Kevin bersikap baik pada rivalnya.


“Iya.”


“Kenapa?” tanya Sean.


“Gue ngerasa semalam gue udah ngehajar dia berlebihan.”


“Tumben,” jawab Sean.


“Ya udah, jalanin aja perintah gue tadi,” kata Kevin lagi.


“Oke, Bos.”


“Oh, ya. Bagaimana dengan Nindi?” tanya Kevin.


“Nindi?” Sean balik bertanya.


“Lu ga bikin anak perempuan orang, hilang perawannya kan?” tanya Kevin mengintimidasi.


Sean tertawa. “Kok lu tau, tuh cewek masih perawan?”


“Walau gue bukan pemain kaya lu, gue cukup tahu mana wanita baik-baik dan bukan.”


“Ya ... Ya ... Ya ..” jawab Sean selengeyan. “Gue juga cukup tahu diri, Kev. Tenang, cewek itu aman di sini.”


“Di sini? Jadi lu ga pulangin dia ke rumahnya?” tanya Kevin lagi.


“Gue ngga tahu rumahnya, Bos. Menurut orang-orang di kantor, dia ngekos. Tapi kosannya aja gue ga tahu. Jadi gue bawa apartemen aja.”


“Gila. Ya udah terserah. Bye.” Kevin hendak menutup sambungan telepon itu. Namun, sean menahannya.


“Terus, gimana semalam? Ayesha liar ga?” tanya Sean.


“Mau tau aja lu.”


Sean tertawa. “Oh, gue tahu. Jadi ceritanya lu mau berterima kasih sama itu bocah tengil karena jebakannya dia, lu yang ngerasain nikmatnya.”


Kevin menjawab dengan tertawa. Lalu, ia menutup sambungan telepon itu dan meletakkan kembali ponselnya. Ia melirik ke arah Ayesha yang masih terlelap. Wajah itu terlihat begitu lelah.


Di apartemen yang lain, Sean pun tengah menyiapkan sarapan di dapur minimalis miliknya. Semalam, Nindi tak sadarkan diri ketika ia hendak mengantar wanita itu. Nindi tak bisa ditanya atau menunjukkan jalan ke tempat tinggalnya. Alhasil, ia membawa Nindi ke apartemen ini.


“Eum ...” Nindi melenguh, kepalanya masih sedikit pusing. Ia mencoba membuka matanya.


“Aaaa ....”


Tiba-tiba Sean mendengar suara wanita dari dalam kamarnya tengah berteriak. Ia pun mematikan kompor dan segera berlari ke sumber suara itu.


“Ada apa?” tanya Sean yang melihat Nindi menangis


Nindi pikir, semalam ia sudah kehilangan kesuciannya, karena pakaian yang ia pakai saat ini bukanlah pakaiannya, melainkan kaos dalam milik laki-laki tanpa lengan. Semalam, Nindi hanya mabuk. Minuman di gelas Nindi hanya dicampur alkohol saja oleh Farel, tapi tidak disertai obat perangsang seperti gelas yang pria itu sodorkan untuk Ayesha.


Nindi langsung mendongakkan kepalanya ketika Sean menghampiri. “Pak Sean? Kok Bapak ada di sini?”


“Ya, semalam aku yang nolongin kamu. Kebetulan aku juga ada di club itu dan lihat kamu mabuk di sana.”


Nindi menutup wajahnya dengan telepak tangan sambil menangis. Lalu, ia ingat sesuatu.


“Ayesha? Bagaimana dengan Ayesha?” tanya Nindi yang kembali menangis. “Aku salah, aku yang ngajak Ayesha ke tempat itu dan kami dikerjai oleh dua pria itu.”


“Ayesha aman. Semalam, keluarga udah ngejemput dia.”


Sean duduk di samping Nindi yang masih duduk di atas tempat tidur dengan membungkus tubuhnya yang tanpa dalaman.


“Makanya, kalau belum pernah ke tempat gituan, jangan coba-coba datang. Kalian tuh jadi mangsa empuk buat pria-pria tengil seperti mereka.”


Nindi menangsi lagi.


Sean menepuk bahu Nindi. “Sudahlah, apa yang terjadi semalam dijadikan pelajaran aja.”


Nindi menoleh ke arah Sean. “Bapak ngga ngapa-ngapain saya semalam kan?”


Sean tertawa. “Aku bukan pria yang suka memanfaatkan wanita yang sedang mabuk. Lagi pula bercinta dengan orang mabuk tidak enak, karena lawan main kita sedang tidak sadar.”


Nindi mengernyitkan dahinya. Ia tabu mendengar apa yang Sean ucapkan. “Maksudnya? Saya ga ngerti, Pak.”


Sean kembali tertawa. “Ya udah kalo ga ngerti, ga usah dipikirin.”


Sean menjauh dari Nindi dan hendak melanjutkan kembali aktivitasnya di dapur.


“Pak, baju saya mana?” tanya Nindi.


“Aku buang. Semalam, kamu muntah banyak banget dan kena ke semua pakaianmu hingga dalamanmu juga,” jawab Sean santai.


“Jadi, Bapak yang melepas pakaian saya?” tanya Nindi dengam menunjuk dirinya.


Sean mengangguk. “Ya siapa lagi? Aku ga mau kamu tidur di ranjangku dengan baju bau muntah. Jadi aku lepas semua pakaianmu semalam dan aku sudah membersihkan tubuhmu dari bau muntah itu. Harusnya kamu berterima kasih.”


“What? Terima kasih? Dia sudah melihat semua tubuhku?” tanya Nindi dalam hati sembari meringis. “Huwaa ....” rasanya ia ingin menjerit.


“Oh, ya.” Kaki Sean terhenti sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu. “Aku sudah memesan pakaian d*l*m untukmu. Aku cukup tahu ukuran dada dan celanamu.”


Sean melenggang pergi setelah mengucap kata-kata itu dengan santai. Sementara, Nindi menjerit, merutuki kebodohan yang terjadi malam itu. sungguh ia sangat malu. Sebelumnya, tidak ada pria yang menyentuh dan melihat tubuhnya. Tapi, Sean sudah melakukan itu, walau dengan alasan membantu.


Kejahilan Sean dengan memperlihatkan sikap yang seperti itu membuat Nindi malu. Wanita polos itu kembali menutup wajahnya, rasanya ia ingin pergi dari tempat ini dengan menggunakan pintu ajaib doraemon yang langsung ada di kamar kos nya sendiri.


Sean tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tahu apa yang sedang Nindi lakukan dikamarnya. Namun, semalam ia memang harus melakukan itu, demi kesehatan Nindi.


Secara tidak lansung, Kevin dan Sean mendapat rezeki nomplok dari jebakan kedua bocah tengil di club malam itu. Walau Sean hanya baru melihat tubuh polos Nindi saja, tapi kedua pria dewasa itu harus berterima kasih pada kedua bocah tengil itu.