XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Akhir bahagia



Dret … Dret … Dret …


Ponsel Kevin berbunyi. Namun, pemiliknya sedang asyik terlelap. Bahkan tak mendengar sedikitpun deringan telepon yang bunyinya cukup memekik telinga. Ayesha pun demikian, ia masih terlelap. Semalam, Kevin membenarkan ucapannya. Pria itu seolah tak lelah menggempur istrinya. Semula perang berakhir pukul dua belas malam dengan melewati dua kali ronde peperangan, lalu keduanya tumbang dan terlelap.


Namun, Kevin kembali melancarkan aksinya pukul tiga malam dan berakhir tepat lima menit sebelum adzan subuh berkumandang. Kemudian, mereka membersihkan diri dan sholat subuh berjamaah. Setelahnya, mereka kembali tidur hingga deringan telepon tepat menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi.


Ponsel Kevin kembali berdering. Ini adalah bunyi yang ketiga setelah beberapa berdering dan tak diangkat pemiliknya.


Ayesha mengerjapkan matanya pelan. Kali ini, ia mendengar deringan telepon itu, karena ponsel Kevin tepat berada di meja kecil yang berada di sampingnya.


“Mas, ponselmu bunyi,” kata Ayesha lembut sembari menyengtuh lengan kekar itu.


“Hmm …” Kevin hanya bergumam dengan mata yang tetap terpejam.


“Mas, ada telepon dari Kak Sean,” kata Ayesha lagi yang melihat nama di layar itu.


“Biarin aja. Mas masih ngantuk,” jawab Kevin dengan mata yang masih tertutup.


“Takutnya penting, Mas. Karena teleponnya ga berhenti.”


Kevin menarik nafasnya kasar dan mau tidak mau ia harus membuka matanya perlahan.


“Ck, ganggu aja sih tuh anak,” kesal Kevin yang terpaksa harus bangun sembari menggaruk kepalanya.


Ayesha tersenyum melihat suaminya yang tampak berantakan tapi tetap terlihat tampan. Lalu, Ayesha memberikan ponsel itu pada pemiliknya dan Kevin pun menerima ponsel yang masih berbunyi lagi


“Hallo,” ucap Kevin dengan suara berat khas bangun tidur.


“Ck. Masih tidur? Ga inget hari ini kita janjian maen tenis,” kata Sean.


“Gue ga ikut. Masih ngantuk.”


Sean tertawa. “Makanya kalo ngegempur jangan semalem suntuk.”


“Ga bisa berenti,” sahut Kevin membuat Sean kembali tertawa.


“Kurang partner kalo lu ga ikut. Lagian gue udah ada di lobby nih buat jemput,” kata Sean lagi.


Memang biasanya, Sean, Aldi, dan Kevin bermain tenis ketika libur weekend. Entah itu di hari sabtu atau minggu. Dan, biasanya Kayla pun ikut bersama agar mereka bisa bermain dua lawan dua.


“Ck.” Kevin berdecak, namun ia tetap bangkit. “Ganggu aja lu, Sean.”


Sean tertawa. Ia tahu bahwa Kevin tak bisa menolak, apalagi ia sudah berada di lobby.


“Ya udah, gue tunggu di bawah,” kata Sean sebelum mengakhir panggilan itu.


“Hmm …” jawab Kevin


Kemudian ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja kecil yang berada di samping.


Ayesha mendengar percakapan itu dengan tubuh yang masih berbaring di samping suaminya yang sedang duduk bersandar pada dinding tempat tidur.


Kevin mengelus kepala Ayesha. “Sayang, Sean ada di bawah.”


“Mas mau pergi ya?”


Kevin mengangguk. “Maaf, Sayang. Sebentar saja.”


Ayesha bangkit dan duduk. Ia mengangguk. “Tapi antar Adek ke rumah Mama dulu ya.”


“Kalau kamu masih ngantuk. Istirahat aja. Mas ga lama kok.” Tangan Kevin masih membelai rambut yang kini terlihat sedikit panjang.


Ayesha menggeleng. “Ga mau ditinggal sendirian di sini. Mending di rumah Mama aja, sekalian belajar masak sama Mama.”


Kevin tersenyum. “Ya sudah terserah.”


Kevin beranjak dari tempat tidur dan mengambil pakaian tenisnya. Ayesha pun ikut bangkit dan membantu sang suami berbenah.


“Aku ingin seperti Mama Hanin, bisa jago masak dan membuat makanan kesukaan Mas.”


Kevin menoleh dan tersenyum. “Kamu juga udah jago kok.”


“Jago diranjang doang,” sahut Ayesha tertawa.


Keduanya tertawa. Kevin dengan gemas mengacak-acak rambut Ayesha dan Ayesha pun tertawa manis.


“Itu juga udah membuat Mas bahagia banget,” ucap Kevin.


“Tapi Mas kan dari dulu ingin memiliki istri yang bisa memasak seperti Mama. Dan, aku akan belajar untuk itu.”


Kevin menghentikan gerakannya dan berdiri dekat dihadapan Ayesha. Lalu, tangan itu kembali membelai rambut cokelat sang istri.


“Untung saja, Mas tidak menolak keinginan Mama untuk menjodohkan Mas denganmu. Karena pilihan Mama memang tepat. Kamu yang terbaik untuk Mas." Kevin menatap Ayesha dengan memuja.


"Mas sangat bersyukur.”


Ayesha pun tersenyum. “Mas juga yang terbaik untukku. Walau awalnya menyebalkan."


"Bukan lagi menyebalkan tapi sangat, sangat menyebalkan," kata Ayesha lagi membuat Kevin tertawa.


Mereka pun tertawa sembari berpelukan sebelum memulai aktifitas hari ini.


****


“Aldi mana?’ tanya Kevin saat ia dan Sean sudah berada di lapangan tenis indoor.


“Bentar lagi dateng,” jawab Sean yang sedang melakukan pemanasan.


Kevin mengangguk, ia pun melakukan hal yang seperti Sean, bergerak sedikit untuk pemanasan.


Lima menit kemudian, Aldy datang.


“Hai, sorry gue telat,” ucap Aldy.


“Loh, lu sendirian?” tanya Kevin pada Aldy setelah mereka berjabat tangan khas lelaki. “Kalau kita bertiga, mending tadi gue tidur jadi lu bisa main tenis berdua Sean.”


“Kita berempat, Kev. Satu laginya nyusul. Noh!” Arah mata Aldy menuju kepada seorang pria yang menghampiri mereka.


“Ck, ngapain dia ikut. Bukannya udah balik,” kata Kevin emosi ketika ia melihat Tian.


“Kev, biar bagaimana pun kita berteman,” sahut Sean menahan tubuh Kevin yang masih kesal dengan Tian dan ingin memukulnya.


“Kita tahu kejadian semalam. Tian udah cerita ke gue dan dia menyesal,” kata Aldy.


Langkah Tian semakin mendekat. Arah matanya pun terus tertuju pada Kevin.


“Hai, Bro. gue minta maaf.” Tian mengulurkan tangan kepada Kevin.


“Lu bilang lu udah berbesar hati, tapi nyatanya apa? Malah ngejebak istri gue.”


“Sorry,” ucap Tian. “Itu yang terakhir. Kali ini gue benar-benar udah bisa melepas Ayesha buat lu.”


Kevin memalingkan wajahnya.


“Malam itu, Ayesha membuka pikiran gue. Dia menyadarkan gue banyak hal,” kata Tian tersenyum. “Benar yang Ayesha bilang. Pasangan adalah cerminan diri dan gue sadar bahwa dia ga layak buat gue. Terlbih di saat gue bersikap licik. Hal itu semakin membuat gua ga layak untuk dia.”


Kevin terdiam. Sementara Aldy dan Sean hanya menjadi pendengar.


“Sekarang gue ingin menjadi orang yang lebih baik, agar kelak gue juga bisa dapet pasangan yang baik seperti lu.” Tian menarik nafasnya kasar dan mengulurkan tangannya lagi.


“Kita tetap berteman kan?” tanyanya.


Sean dan Aldy hanya melirik ke arah Kevin, bergantian pada tangan Tian yang sudah terulur.


“Baikan Kev,” ujar Aldy.


“Kalau lu ga mau pakai tangan, pakai jari kelingking aja baikannya,” ledek Sean.


Sontak Kevin tersenyum. “Emang gue anak kecil.”


Lalu Kevin menerima uluran tangan itu dan tersenyum. Tian pun tersenyum. Semula, Tian pikir akan penuh drama meminta maaf pada Kevin, tapi Ternyata Kevin tidak seburuk yang ia bayangkan.


“Nah kaya gini kan enak,” celetuk Aldy.


“Damai itu Indah. Tapi sayangnya si Indah ga ada di sini.”


Aldy tertawa. “Ya … Ya … Ya … ingat nama tuh J*l*ng. kangen juga gue.”


Indah nama wanita panggilan di klub malam langganan Sean, yang sering ia dan Aldy gunakan dulu. Tapi, sejak berpacaran dengan Kayla, Aldy tidak lagi memakai jasanya. Sementara Sean, masih. Hanya setahun terakhir ini, Kevin tidak lagi melihat Sean melakukan itu.


“Wah, gue bilangin Kayla ya,” ledek Kevin yang tak terima Aldy kangen dengan wanita pekerja **** komersil itu.


“Silahkan aja! Lagian Kayla juga tahu buruknya gue.” Jawab Aldy.


“Si*l banget lu, Al.” Sean tak terima melihat Aldy menemukan wanita sebaik Kayla yang menerima segala kekurangannya.


Aldy tertawa. “Mungkin gue punya kebaikan yang lain, jadi Tuhan kasih Kayla buat gue.”


Kevin pun tertawa. Sementara Sean dan Tian merengut.


“Udah, ayo kita mulai!” ajak Kevin untuk mulai bermain tenis.


Kevin berduet dengan Tian, sementara Aldy dengan Sean. Mereka tampak kompak dan asyik bermain tenis. Keempat pria dewasa yang sedari remaja bersama ini tampak tertawa menikmati permainan. Formasi yang dulu, kini merka ulang kembali. Situasi Kevin dan Tian pun semakin cair. Keduanya tampak tak ada lagi dendam dan Kevin bisa melihat ketulusan di wajah Tian, tidak seperti sewaktu pria itu memberinya ucapan selamat setelah Kevin mengumumkan ke semua karyawan bahwa Ayesha istrinya.


Kevin selalu berdoa, semoga ketiga temannya mendapatkan kebahagian seperti apa yang ia rasakan saat ini.


____________________________________________


Tamat ga nih guys? Tamat ya ...


Ayesha belum hamil dan melahirkan, Kak?


Iya, itu nanti ada di bonus chapter.


Selanjutnya kita akan lebih banyak di kisah cinta Sean dan Aldy. Akankah Aldy menikah dengan Kayla? Sean dengan Nindi atau dengan Kinara? Tenang cerita mereka semua masih berlanjut di sini.


Stay tune ya. Jangan di unfav dan jangan lupa vote dan hadiahnya. Love You. Met berpuasa. Mohon maaf lahir batin 😘😘