XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Kamu milik Mas



Sore berganti malam. Sebenarnya, Kevin ingin sekali cepat pulang karena ia memang sudah rindu berat dengan sang istri yang sudah ia tinggali sejak kemarin. Namun, tiba-tiba Aldi dan Tian datang ke ruangannya. Tak lama kemudian, Sean pun ikut masuk ke ruangan itu.


“Kev, lu ikut kan?” tanya Aldi yang duduk di sofa itu


“Sekarang?” Kevin balik bertanya.


“Tahun depan,” jawab Aldi kesal. Pasalnya sedari tadi mereka memang merencanakan akan pergi ke club malam ini. “Ya, sekarang lah Kev. Mumpung ditraktir nih.”


Arah mata Aldi menunjuk ke arah Tian, sepupunya.


“Pantesan dari tadi lu senyum mulu, Yan. Ternyata doi udah ketemu,” ucap Sean.


Tian mengangguk dan tetap tersenyum. Sejak bertemu Ayesha, wajahnya memang tak lepas dari senyum.


“Makanya, Ayo gue traktir! Mumpung gue lagi seneng,” kata Tian.


“Ayolah, Kev. Jarang-jarang nih kita kumpul dengan formasi lengkap,” sambung Aldi.


Kevin terdiam dan berpikir sejenak.


“Kevin mah ga bakal bisa diajak kongkow. Udah bucin dia,” ledek Sean. “Dari kemarin rindu berat sama istrinya.”


“Ya ampun, Kev. Sebentar aja. Ga sampe tengah malem kok,” ucap Aldi.


Tian tertawa. “Ternyata orang kaya lu, bisa bucin juga Kev?”


Sean ikut tertawa. Ia adalah saksi kebucinan dan keposesifan Kevin terhadap istrinya.


Kevin yang masih duduk di kursinya itu pun datar, tanpa ekspresi jika sedang di bully. Sikapnya yang cuek dan tidak marah membuat teman-temannya senang meledek Kevin.


“Ya udah, gue ikut. Tapi gue ga bisa pulang malem,” ucap Kevin.


“Nah, gitu dong!” sahut Aldi.


“Ya udah, kuy lah.” Sean segera berdiri dari tempat duduknya, begitu pun Tian.


Aldi dan Kevin pun mengikuti. Mereka berjalan keluar dan melewati lorong-lorong ruangan yang sepi tanpa orang satu pun, hanya ada penjaga keamanan di bawah dan ofice boy di pantry yang sedang bersih-bersih.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ayesha sudah ada di apartemen sejak pukul setengah lima sore. Ia sengaja pulang tepat waktu tanpa menunggu Kevin untuk memintanya pulang bersama. Ayesha ingin menikmati jalan kaki di sore hari.


Ayesha bosan. Ia duduk di ruang televisi sembari menunggu suaminya. Sedari tadi, ia ingin menelepon Kevin tapi gengsi.


Lalu, tak lama kemudian ponsel Ayesha berbunyi.


Tring


Ayesha langsung meraih benda itu dan membuka pesan yang datang dari beruang kutub.


“Ndut maaf, Mas pulang malam.”


Kevin sengaja memberi pesan ambigu untuk melihat respon Ayesha. Ia ingin melihat sejauh mana kekhawatiran dan perhatian Ayesha.


“Mas lembur?” tanya Ayesha menjawab pesan suaminya itu.


Di klub itu, Kevin duduk sembari memegang ponselnya. Ia tersenyum ketika mendapati pesan dari sang istri.


“Ngga. Mas diajak Sean, Aldi, dan Tian ke klub malam di daerah selatan.”


Ayesha membaca pesan itu dan langsung dibalas setelah Kevin menuliskan nama mantan kekasihnya itu.


“Tian?” tanya Ayesha di pesan whatsapp.


“Ya, Christian atasan kamu di bagian keuangan. Dia itu sepupu Aldi. Dia lagi senang karena sudah menemukan mantan kekasihnya yang dia cari-cari sebulan ini. Jadi, kami merayakan kebahagiaan dia.”


Sontak Ayesha terkejut sembari menutup mulutnya saat pembaca balasan pesan terakhir suaminya. Ayesha tidak tahu bahwa Tian dan suaminya saling kenal.


Sebelumnya, sempat terbesit keinginan Ayesha untuk memberitahu tentang Tian pada Kevin. Mengingat Tian yang masih saja keras kepala mendekatinya walau Ayesha sudah memberitahu bahwa dirinya sudah menikah. Ayesha tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan sang suami. Tapi sepertinya, ia akan mengurungkan niat itu.


“Ndut, kok pesan Mas tidak di balas lagi?”


Tring


Pesan Kevin kembali masuk. Bunyi ponsel itu pun menyadarkan Ayesha dari lamunannya.


“Iya, Mas. Maaf tadi aku ke kamar mandi,” jawab Ayesha bohong. Padahal ia sedang berpikir sejenak.


Lalu, sebelum Kevin membalas pesannya. Ayesha menuliskan pesan lagi.


“Mas, jangan pulang malam-malam ya!”


Di sana, Kevin tersenyum melihat pesan terakhir dari istrinya.


“Kenapa? Kangen?” tanya Kevin.


Ayesha langsung menjawab.


“Ish ge-er. Bukan kangen, tapi takut sendirian di sini.”


Kevin tertawa dan membalas lagi pesan itu.


"Hati-hati, Ndut. Di apartemen itu memang banyak kejadian mistis. Katanya di lantai kita pernah ada yang bunuh diri. Seorang perempuan yang tinggal persis di samping apartemen kita.”


“Maaaassss … Jeleeekk.”


Sontak Ayesha membalas pesan mengerikan dari suaminya dengan wajah kesal. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding pun membayangkan hal-hal mistis itu. Padahal Kevin sedang membual. Pria itu hanya menakuti istrinya saja.


Kevin membaca balasan pesan dari sang istri. Ia kembali tertawa. Kali ini, ia tertawa cukup kencang dan membayangkan ekspresi ketakutan Ayesha.


“Seneng banget, Kev.” Tian duduk di samping Kevin. Sedari tadi ia memperhatikan Kevin yang tertawa dan tersenyum sendiri dengan ponselnya. Sementara ia, Sean, dan Aldi berjoget di sana.


“Eh iya. Gue lagi ngeledekin istri gue yang penakut,” jawab Kevin.


Pria itu tidak pernah ikut berjoget ketika berada di tempat ini. Kevin hanya ikut berkumpul bersama teman-temannya tanpa minum alkohol, berjoget, dan bermain wanita ketika berada di klub malam. Seperti itu Kevin, sejak remaja. Walau ia bergaul dengan orang-orang seperti Sean dan Aldi, tetapi ia tetap menjadi dirinya sendiri. Walau semua teman-temannya meledek dengan mengatakan dirinya payah, tetapi ia nyaman menjadi dirinya yang seperti ini.


“Mantan kekasih gue itu juga penakut, Kev. Lucu banget kalau liat ekspresi dia kalau ketakutan,” sahut Tian.


“Wah berarti tipe cewek kita sama, Yan.” sambung Kevin.


Tian mengangguk. “Kapan-kapan kita double date, Kev.”


“Tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat. Soalnya doi masih marah sama gue. Dia bilang kalo dia udah nikah.” Tian menceritakan keluh kesahnya pada Kevin.


“Gue ngga percaya, Kev.” Tian menggelengkan kepalanya.


Kevin pun mendengarkan keluh kesah temannya dengan seksama tanpa mengarah bahwa yang diceritakan Tian adalah istrinya.


“Gue yakin dia bohong. Dia bilang kaya gitu supaya bisa ngejauh dari gue. Walau pun mulutnya bilang udah maafin gue, tapi gue yakin dia masih belum maafin gue. Makanya sikap dia seperti itu,” kata Tian lagi.


“Terus, apa yang akan lu lakuin?” tanya Kevin.


“Tetap berjuang mendapatkan maaf dari dia. Gue yakin dia juga masih cinta sama gue, Kev. Gue bisa liat dari matanya.”


Kevin hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban yakin dari Tian.


****


Kevin sampai di apartemen tepat pukul sebelas malam. Lalu, ia membuka pintu kamar. Di sana, ia melihat Ayesha yang sudah meringkuk di atas tempat tidur.


Kevin membuka jasnya dan melempar asal ke sofa. Dasinya memang sudah lama terlepas dari lehernya dan ia simpan di dalam dasboar mobil. Ia mendekati Ayesha yang meringkuk di sana sembari membuka satu kancing atas kemeja itu dan menggulung bagian lengannya hingga siku.


“Ck, kamu kok udah tidur, Ndut.” Kevin berdecak kesal melihat istrinya yang sudah terlelap.


Kevin mengecup kening Ayesha. Lalu turun ke pipinya yang mulus. Beralih lagi pada bagian hidungnya yang mancung sembari mengelus rambut yang tidak panjang itu.


Arah mata Kevin tertuju pada bibir ranum yang ingin sekali ia makan. Namun, baru saja Kevin mendekati bibir itu, ternyata pemiliknya terbangun.


“Mas, baru pulang?” tanya Ayesha lirih sembari mengerjapkan kedua matanya yang berat untuk terjaga.


“He … Eum,” jawab Kevin sembari mengelus pipi itu. “Tidak menunggu Mas pulang? Tidak rindu Mas?”


Ayesha tersenyum dan mengangguk. Ekspresi itu membuat Kevin semakin gemas.


“Mas, baju kamu bau,” kata Ayesha ketika Kevin memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


Kevin melongggarkan pelukannya dan mencium ketiaknya bergantian. “Masa sih? Ngga kok.”


“Bau, Mas. Bau rok*k,” sahut Ayesha.


Memang di tempat itu banyak sekali orang yang merok*k. Padahal Kevin tidak merok*k. Mungkin asap dilingkungan itu menempel pada kemejanya.


“Kalau gitu, Mas mandi dulu,” ucap Kevin yang mengakui bahwa tubuhnya memang bau asap itu. ”Tapi kamu ga boleh tidur sampai Mas selesai mandi. Oke!”


Ayesha menggeleng. “Ngga janji. Aku ngantuk banget, Mas.”


“Kalau kamu tidur setelah Mas selesai mandi. Berarti malam ini Mas tidak hanya melakukan sekali!” ancam Kevin pada istrinya.


“Melakukan apa?” tanya Ayesha polos.


Kevin melebarkan senyum hingga terlihat jejeran giginya.


“Tentu saja melakukan itu." Kevin menautkan kedua jari telunjuknya seperti tengah menyatu. Lalu, ia berkata lagi, "supaya Oma cepat dapat cicit dan Papa Mama dapat cucu.”


“Mas,” rengek Ayesha. “Aku ngantuk.”


Kevin tertawa dan mencium kembali kening istrinya. “Tidak ada penolakan!”


Pria itu turun dari tempat tidur dan hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun, sebelum itu ia menanggalkan semua pakaian di depan Ayesha, membuat kedua telapak tangan Ayesha reflek menutup wajahnya.


“Mas, buka baju di dalam sana!”


Kevin tertawa menyeringai. “Tapi aku mau nya di sini.”


“Mas, nyebelin banget sih.”


Ayesha masih menutup matanya tapi dengan jari yang sedikit terbuka sehingga ia bisa melihat suaminya yang tengah berdiri tanpa sehelai benang dari jemari itu.


Kevin tertawa. Ia tahu istrinya mengintip.


“Ngga usah ngintip. Lihat juga boleh. Buat kamu gratis,” ledeknya pada sang istri.


Sontak Ayesha membuka telapak tangan yang menutup wajahnya dan melempar bantal ke arah Kevin.


Pria itu pun menangkap bantal itu dan melemparnya lagi ke arah Ayesha.


“Mas, ih ga tau malu.”


“Biarin. Atau sekarang saja kita melakukannya.”


Kevin mendekati Ayesha dan merangkak menaiki ranjang itu.


Ayesha mengernyitkan dahi. Ia bergidik ngeri melihat singkong premium yang sedari tadi sudah berdiri sempurna dan minta untuk dipuaskan. Herannya, bagian bawah Ayesha pun tiba-tiba ikut berdenyut melihat kesempurnaan singkong premium season dua itu.


Kevin langsung menubruk tubuh candu itu. Bagian pertama yang Kevin terjang adalah bibirnya.Bibir Ayesha yang sedari tadi menatang untuk segera dimakan.


Seperti biasa, kedua tangan Kevin aktif ketika bibir mereka berpagutan hingga Ayesha tak merasakan bahwa kedua tangan itu tengah menanggalkan pakaiannya.


Setelah puas menikmati bibir Ayesha dan membuatnya bengkak. Bibir Kevin turun ke leher itu dan memberi satu, dua gigitan hingga tercetak warna keunguan.


“Mas, Jangan diberi tanda. Ah,” protes Ayesha, karena besok masih hari kerja.


“Biarin orang tahu kamu milik Mas,” jawab Kevin yang tetap melanjutkan aktifitasnya.


Bibir Kevin turun lagi ke dada dan memberi tanda pada belahan dada itu. Ia pun memainkan bagian kecil yang sudah menantang pada gunung kembar Ayesha yang kian sedikit lebih besar.


“Ini tambah kenyal, Sayang,” ucap Kevin saat ******* benda kenyal itu bergantian.


“Mas, Eum …” lenguh Ayesha. “Ini ulah kamu.”


Kevin tertawa dan melepaskan bibirnya dari puncuk yang mentang itu. “Tapi Mas suka. Tambah suka malah.”


Wajah Ayesha pun merona. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang. Namun, Kevin memutar lagi wajah itu untuk menatapnya.


“Lihat Mas, Sayang! Mas suka melihat wajahmu yang seperti ini,” kata Kevin lagi membuat wajah Ayesha semakin merona.


Memang benar, Kevin menyukai ekspresi Ayesha yang sedang menikmati sentuhannya. Hal itu menambah gairah Kevin yang semakin membara untuk melewati malam ini dengan aktivitas panas mereka yang ke sekian kali. Aktivitas yang diluapkan sebagai bukti rasa cinta keduanya.


Walau keduanya tidak mengutarakan rasa cinta itu langsung melalui lisan. Namun, bahasa tubuh mereka tidak bisa berbohong.