
Makan malam keluarga besar Adhitama yang semula diagendakan malam minggu besok, tertnda karena insiden Aldy dan Gunawan. Awalnya, Kevin juga akan mengumumkan kabar bahagia kehamilan sang istri di malam itu. Namun, ia mengurungkan niatnya dan memilih membantu keluarga dan sahabatnya yang sedang mendapat musibah.
Kevin dan Sean mencari tahu dalang dari insiden itu, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah nama yang merupakan perusahaan rival dari Gunawan. Tak menunggu satu minggu, polisi langsung membekukkan pelaku yang menusuk Aldy. Dan rencananya hari ini Aldy pun keluar dari rumah sakit, karena kondisi tubuhnya yang semakin baik dan diperbolehkan untuk dirawat di rumah.
Sejak remaja, Aldy tinggal seorang diri. Ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian, sang ibu menikah lagi dengan bule berkebangsaan Jerman. Sang ibu pun memilih menetap di negara itu mengikuti suami barunya. Tian sengaja diminta untuk tinggal bersama Aldy untuk menemani setelah ibunya mengambil keputusan untuk tinggal di Jerman.
Untunglah ayah Aldy meninggalkan sebuah perusahaan untuknya dan sudah ia kelola sejak SMA. Dan, untung juga ia memiliki teman seperti Kevin, sehingga ia dapat belajar tentang bisnis dari temannya yang smart itu. Aldy pun mengikuti jejak Kevin yang bersekolah ke luar negeri demi memperdalam ilmu bisnis.
“Teman itu bisa jadi lawan, Gun.” Kata Kenan yang tengah duduk bersama Gunawan dan Kevin di taman belakang.
Sedangkan, Hanin, Kiara, dan Rasti berbincang di ruang keluarga.
Gunawan mengangguk. “Ya. Padahal Bimo itu asisten gue dulu, Ken. Terus dia berhenti dan membuka perusahaan yang sama sendiri. Gue kaget dia memanipulasi kreatifitas gue.”
“Yah, seperti itulah. Apalagi dunia gue sekrang, Gun. Lebih parah. Banyak orang yang manis di depan, tapi busuk di belakang,” ujar Kenan lagi.
“Itu sebabnya, gue ga pernah mau masuk ke dunia politik, Ken.” Gunawan tersenyum.
Lalu, Gunawan menoleh ke arah Kevin. “Terima kasih, Kev. Kamu memang sangat bisa diandalkan.”
Kevin mengangguk. “Memang begitu seharusnya, Om.”
Gunawan dan Kenan pun ikut mengangguk.
“Oh ya, kapan Vicky datang?” tanya Gunawan.
“Oh ya, Papa juga dari kemarin ingin menanyakan itu padamu, Kev. Katanya ayah mertuamu ingin membantu Papa menjadi timses,” ujar Kenan.
“Ya, Pa. kemarin aku dan Ayesha juga sudah menelepon Papa Vicky dan Mama Rea. Rencanyanya mereka akan ke sini bulan depan, karena Papa Vicky akan tinggal disini dalam jangka waktu yang lama, jadi beliau mempersiapkan urusannya di sana hingga bisa ditinggalkan,” jawab Kevin.
Kenan dan Gunawan pun kembali mengangguk.
“Rasanya, berkumpul lagi jadi ingat saat muda,” ujar Gun yang rindu akan kehadiran Vicky, mengingat sahabatnya itu sudah cukup lama tinggal di negara orang.
“Ya.” Kenan mengangguk. “Pokoknya, lu juga harus jadi timses gue.”
Gunawan tersenyum dan mengangguk. “Pasti lah.”
Kevin ikut tersenyum melihat para orang tua itu. Lalu, ia teringat pada sang istri. “Pa, Om. Kevin ke nemenin Ayesha dulu ya.”
Gunawan dan Kenan pun mengangguk. Mereka melihat kepergian Kevin.
“Gue ga nyangka lu sama Vicky bisa besanan,” kata Gun tertawa.
“Ya, gue juga ngga nyangka.” Kenan mengangkat bahunya. “Karena dua-duanya mau. Jadi ya, kenapa ngga.”
“Ya, lebih baik mengambil menantu yang dikenal dari pada tidak dikenal,” ujar Gun.
“Tapi Aldy juga pria baik,” sahut Kenan.
Gunawan mangangguk-anggukkan kepalanya. “Ya.”
“Setiap orang punya masa lalu yang buruk, Gun. Kita juga salah satunya. Karena, memang ketika masih berjiwa muda, apapun ingin dicoba.”
Gunawan kembali menganguk-anggukan kepalanya, mengingat dahulu pun ia sangat buruk dan mungkin lebih buruk dari Aldy karena masih bermain wanita setelah menikahi Kiara. Untungnya, Tuhan memberinya kesadaran tepat disaat Kiara hampir menyerah dari pernikahan itu.
Kevin menghampiri Hanin, Kiara,dan Rasti di ruang keluarga.
“Ma, Ayesha mana?” tanyanya.
“Ciye … yang ditanya Ayesha terus. Tante ga ditanya?” tanya Kiara meledek.
Kevin hanya tersenyum simpul.
“Ada di dapur Kev,” jawab Hanin.
Kevin pun langsung pamit dan menuju tempat dimana istrinya berada.
“Han, sepertinya Kevin udah mulai kaya Papanya,” ujar Kiara.
“Maksudnya?” tanya Hanin bingung.
“Bucin. Seperti Kenan ke kamu,” jawab Rasti membuat Kiara tertawa.
Dan Hanin pun mengangguk, membenarkan perkataan itu, karena memang semakin hari perhatian dan kasih sayang yang Kevin berikan pada Ayesha semakin terlihat, berbanding seratus delapan puluh derajat dari saat pertama kali mereka berstatus suami istri.
Kevin langsung mendekati sang istri yang berdiri membelakanginya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu.
“Jangan capek-capek, Ndut!” Kevin menempelkan dagunya di bahu kanan Ayesha.
Ayesha menoleh ke wajah itu dan tersenyum. Ia terbiasa dengan panggilan itu lagi, mengingat saat ini tubuhnya memang sedikit lebih berisi.
Ayesha menunggu oven itu berbunyi karena memang kue yang ia buat bersama ibu mertuanya akan matang dalam hitungan detik. Sedangkan Kevin, mengikuti gerakan istrinya dengan terus menempel di belakang tubuh Ayesha.
Tring
Oven itu pun berbunyi.
“Hmm … wanginya enak banget,” ujar Kevin dengan menarik nafasnya bukan ke arah kue tapi justru malah ke leher istrinya.
“Mas, harusnya kamu itu ciumnya ke kue ini. Bukan leher aku,” kata Ayesha menggeleng sembari tersenyum.
“Tapi Mas lebih suka wangi kamu dari pada kue ini.”
Ayesha mencibir. “Lebay.”
Kevin gemas dan menggigit lehet itu.
“Ah, Mas.” Ayesha tersentak karena gigitan itu. Sementara Kevin malah tertawa.
“Gemes sama Ndutnya Mas,” ujar Kevin.
Ayesha langsung memutar tubuhnya. “Jadi bener sekarang aku gemuk lagi?”
Kevin menggeleng. “Sedikit lebih berisi.”
Ayesha merengutkan bibirnya. Ia memang menyadari bahwa n*fs* makannya akhir-akhir ini cukup tinggi.
“Tapi Mas suka kok. Bahkan kalau tubuhmu kembali seperti dulu pun, Mas tetap suka.”
“Bohong,” jawab Ayesha yang kembali memutar tubuhnya dan menghadap ke kitchen set untuk kembali menata kue yang matang tadi.
Kevin pun kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu. Lalu mengeratkan pelukan. “Dibilang, Mas suka sama yang empuk-empuk. Apalagi kalo udah goyang di pangkuan Mas. Mantap jiwa pokoknya.”
Ayesha melirik suaminya. Terdengar geli ketika Kevin berkata seperti itu. “Apaan sih, Mas? Ngga banget sih.”
“Ekhem …” tiba-tiba terdengar suara deheman seorang wanita.
“Sudah matang, Ay?” tanya Hanin.
Sontak, Ayesha langsung meminta kedua tangan Kevin dilepaskan dari pinggangnya. “Udah, Ma. Ini lagi Ayesha tata buat dibawa ke depan.”
Hanin pun mengangguk sembari mengulas senyum melihat keromantisan putranya bersama snag istri.
“Mama sejak kapan di situ?” tanya Kevin.
“Sejak mendengar kamu suka dengan goyangan Ayesha dipangkuanmu,” ledek Hanin yang kamudian membalikkan tubuhnya kembali untuk meninggalkan dapur dengan senyum kepada putranya.
Kevin pun tersenyum malu mengetahui sang ibu memergoki kemesumannya. Sedangkan, Ayesha justru tertawa bahagia melihat ekspresi itu.
“Seneng ya, ngeliat Mas malu?” tanya Kevin menyeringai tak terima dirinya ditertawakan sang istri.
Ayesha masih tertawa. “Biarin Mama tahu kalau putranya yang dingin, kaku, dan cuek ternyata mesumnya tingkat dewa.”
“Udah bisa ngeledek Mas, ya.” Kevin langsung menarik Ayesha ke dalam pelukannya sembari menggelitiki pinggang itu.
“Aaa … Mas, jangan! Geli!”
“Biarin.”
“Malu, Mas. Ini bukan di rumah kita.”
“Biarin.”
“Aaa ….” Teriak Ayesha lagi manja dan terdengar hingga ruang keluarga.
“Tuh kan, Kevin sudah benar-benar seperti Kenan dulu,” kata Rasti yang mendengar Kevin dan Ayesha bercanda di dapur.
Hanin dan Kiara pun hanya tersenyum lebar.