
Nin, nanti jadi kan kita hang out bareng?” tanya Ayesha pada Nindi melalui line telepon.
“Jadi, dong. Ini aku sama Mas Sean udah siap,” jawab Nindi.
Malam minggu ini, Ayesha dan Nindi memang merencanakan jalan-jalan ke taman ria untuk melihat pertunjukan sirkus, badut, dan beberapa permainan anak.
Sebenarnya, Kevin tidak menyukai tempat itu. Namun, demi keinginan sang istri yang sedang menyukai elsa froz*n II, membuat Kevin pun mengiyakan permintaan itu.
“Baru kali ini, gue nginjek taman ria,” ucap Sean yang baru saja tiba di tempat hiburan itu.
Sean menoleh ke arah Kevin dan Kevin pun melakukan yang sama. “Gue juga.”
Keduanya tertawa. Mereka melakukan ini hanya untuk istri-istri mereka. Dan terbukti. Saat ini Kevin dan Sean tengah memandang ke istrinya masing-masing yang tampak bahagia di tengah kerumunan orang-orang yang mengantri di jajanan kembang gula dan kerak telor.
“Sayang, kemana lagi sih?” tanya Kevin bingung ketika Ayesha menarik lengannya ke sebuah pertunjukkan.
“Di sana ada pertunjukan elsa, Mas.”
Kevin mengikuti langkah istrinya. Sean dan Nindi pun demikian.
“Bu mil ga ada capeknya deh. Kita aja udah capek tau,” ucap Sean pada Ayesha.
“Sebentar lagi. Habis ke pertunjukkan itu, kita pulang,” jawab Ayesha.
“Ayo!” kata Nindi semangat. “Demi keponakanku.”
Mata Ayesha berbinar. Ia pun mengajak suami dan kedua temannya ke pertunjukkan yang ia lihat tadi saat melewati tempat itu.
“Tuh kan bener. Ini lagi pertunjukan frozen two. Ayo duduk!” ucap Ayesha antusias.
“Kev, kenapa Ayesha jadi begini dah?” tanya Sean kesal karena telah mengikuti ibu hamil itu. Harusnya malam ini, ia tidak mengiyakan permintaan Nindi dan memilih berjalan-jalan beruda saja ke tempat yang romantis.
Kevin menggeleng. “Ngga tahu, Ngidamnya ga ilang-ilang. Padahal udah mau melahirkan.”
Nindi yang mendengar percakapan kedua bosnya itu pun tertawa.
“Mas,” panggil Ayesha manja sembari bergelayut di lengan kekar Kevin.
“Apa?” tanya Kevin. “Kamu haus? Mau Mas belikan minum?”
Ayesha menggeleng. “Ngga.”
“Terus?” tanya Kevin lagi, hatinya sudah was-was, ia khawatir Ayesha akan meminta sesuatu yang aneh-aneh.
“Adek pengen, Mas pakai kostum Elsa seperti itu.” Ayesha menunjuk pada pertunjukkan di depannya.
Deg
Benar saja. Jantung Kevin seolah berhenti berdetak, karena apa yang ia khawatirkan terjadi. Ia pun menggelengkan kepalanya.
“Nonton aja ya! Kan yang pakai kostum elsa udah ada di sana.”
Ayesha menggeleng. “Tapi pengen lihat Mas pakai kostum itu juga.”
“Ada apa sih?” tanya Sean tiba-tiba.
Sean tertawa.
“Aku juga ingin Kak Sean menggunakan kostum Anna.”
Jeger …
Sontak, Sean berhenti tertawa. Berganti dengan Kevin dan Nindi.
“Aku ngga ikutan ya, Ay, suami kamu tuh Kevin. Jadi dia aja yang pakai kostum Elsa,” ucap Sean.
“Mas, ga apa-apa sih. Kasian Ayesha,” sahut Nindi yang mendukung keinginan Ayesha.
Sean menggeleng. “Ngga, Sayang. Apa kata orang, seorang Sean pakai kostum Anna.”
“Apa kata orang juga, seorang Kevin pakai kostum Elsa,” sambung Kevin.
Tiba-tiba Ayesha diam dan hendak menangis. Nindi memeluk Ayesha untuk menenangkan.
“Udah sih, turutin aja,” kata Nindi. “Pak Kevin ga kasihan apa sama anaknya. Nanti ngeces loh kalo ga di turutin.”
Kedua pria itu pun menggaruk kepalanya frustrasi.
“Ayo, Sean!” Kevin mengajak sahabat sekaligus asistennya itu.
“Dih, ogah. Lu aja,” jawab Sean.
“Sekarang! Atau potong gaji. Ga ada insentif dan paket liburan honeymoon.”
“Gila ya lu. Apa hubungannya coba?” Sean pun tampak kesal hingga akhirnya ia berdiri dan mengikuti Kevin yang akan berjalan ke depan pertunjukkan itu.
“Hah, Si*l banget sih gue ngikut lu kesini, Kev,” gerutu Sean.
Sementara kedua wanita yang duduk manis di kursi penonton itu hanya meringis tertawa melihat suami-suami mereka yang patuh dan berada dibawah kendalinya.
Sean dan Kevin maju ke barisan para panitia. Mereka meminta untuk ikut dalam pertunjukan.
Ayesha dan Nindi tertawa terbahak-bahak membayangkan kedua suaminya yang tampak imut jika memakai pakaian ala princes itu.
“Si*l. kita dikerjain, Kev.” Sean melihat ke arah Nindi dan Ayesha yang sedang tertawa bahagia.
“Ya, liat aja. Nanti malam, ayesha gue kerjain balik.”
“Ya, gue juga.”
Kevin menoleh ke arah sahabatnya. “Emang Nindi udah bisa?”
“Harus bisa,” jawab Sean mantap.
Sepertinya Nindi memang sedang mengerjai.suaminya. Mengingat jika dihitung malam ini adalah malam ke delapan paska ia mengucapkan janji suci. Seharusnya sang istri sudah siap untuk malam pertama sejak dua hari lalu, karena sebelum hari ijab qobul itu, Nindi memang sudah dalam masa periode di hari kedua.
Namun, Nindi masih saja beralasan. Tapi, Sean yang mulai memanas, sepertinya tidak bisa lagi mendengar alasan apapun.