XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menyesali keputusan



Sesampainya di kantor, Kevin menatap gedung-gedung tinggi dari sana dengan awan yang terlihat cerah. Ia berdiri di depan jendela besar yang berada di dalam ruangannya sembari melipat kedua tangannya di dada. Kevin memikirkan semua perkataan Henry ketika diperjalanan tadi. Ia masih tidak menyangka bahwa wanita yang dicari selama ini oleh Tian adalah istrinya. Dan yang lebih membuatnya merasa bodoh adalah karena ia ikut merayakan pertemuan Tian dengan istrinya di klub malam beberapa waktu lalu.


Kevin tertawa miris. Ia tertawa sendiri sembari mengusap keningnya kasar. “Bodoh kau, Kev. Kau telah mengambil keputusan yang salah,” gumamnya.


“Keputusan apa yang salah?” tanya Sean yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu tanpa Kevin sadari.


Sean mengernyitkan dahi melihat bosnya yang tertawa sendiri dengan posisi berdiri menghadap jendela. Kevin terlihat menggelengkan kepalanya.


“Kev, lu kenapa?” tanya Sean lagi.


Kedua pria tampan dan bertubuh tinggi tegap itu berdiri sejajar sembari menatap keluar jendela. Tak lupa, Sean pun sudah menutup pintu ruangan itu dengan sempurna saat ia masuk tadi.


“Benar kata lu, Sean. Gue bakal menyesali keputusan itu. Dan, sekarang gue menyesalinya.”


Kening Sean kembali mengernyit. “Maksud lu?”


“Ya, itu. Keputusan gue mindahin Ayesha ke bagian keuangan.”


Sean mencoba berpikir. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan bosnya.


“Ayesha marah sama lu?” tanya Sean.


Kevin menggeleng dan menggeser sedikit tubuhnya untuk berhadapan dengan sahabatnya itu. “Ayesha mantan kekasih Tian. Dia yang selama ini Tian cari.”


Jedar


Bak di sambar petir, Sean pun terkejut.


“Serius?” tanyanya. “Becanda lu, Kev. Ini bukan tanggal 1 April ya.”


Kevin tertawa miris. “Kaget kan lu? Apalagi gue.” Ia kembali menghadapkan dirinya keluar jendela.


“Lu dapat info dari mana?” tanya Sean.


“Henry. Dia jadi saksi keterpurukan Ayesha saat Tian berkhianat dengan sahabatnya.”


“Gila. Ini, gila!” ucap Sean.


“Satu bulan, Tian ga ketemu sama Ayesha padahal mereka satu kantor, karena mereka beda lantai. Dan, gue tahu Ayesha jarang keluar ruangan kalo ga penting. Tapi, gue.” Kevin menunjuk dirinya sendiri. “Nganterin istri gue sendiri buat ketemu sama mantannya. Hah!”


Kevin menghela nafasnya kasar. “Bodoh banget gue, Sean.”


Sean menatap Kevin yang penuh dengan penyesalan. Ada seburat kekesalan juga di wajah itu.


Sean mendekati sahabatnya. Ia mencoba memberi Kevin ketenangan. Ia menepuk pundak Kevin dan berkata, “Udahlah, Bro. Nasi udah jadi bubur. Sekarang yang terpenting adalah rumah tangga lu aman tanpa gangguan.”


“Ini udah gangguan, Sean. Dan, gue yang nyiptain pengganggu itu,” jawab Kevin.


“Kalau begitu pertahankan. Mungkin ini memang waktu buat membuktikan cinta kalian. Cinta lu sama Ayesha yang gue yakin kalian belum pernah mengutarakan cinta itu satu sama lain. Right?”


Kevin terdiam. “Susah, Bro. Lu tahu gue belum pernah cinta sama perempuan.”


“Yes, I Know. Tapi untuk kali ini lu harus bisa mengutarakan perasaan lu, Kev. Posisi lu tuh udah menang dibanding Tian,” ucap Sean. “Lu udah milikin Ayesha.”


“Miliki tubuhnya? Iya. Tapi hatinya? Gue ga tau,” kata Kevin menggeleng.


“Tapi bisa lu rasain, kan?”


Kevin mengangguk. “Tapi kenapa Ayesha juga ga cerita masalah ini?”


“Karena dari awal lu juga ga percaya kalau dia punya pacar kan? Secara dulu body dia big dan lu ga yakin ada cowok yang suka sama dia. Kalau bukan karena dijodohin, lu juga belum tentu suka kan?” Sean balik bertanya.


Ini yang Kevin suka dari Sean. Pria itu realistis dalam berpikir.


“Gue ga pernah nilai perempuan dari fisik ya, Sean. Gue terima perjodohan itu karena Mama. Mama meyakini gue kalau Ayesha wanita baik dan poin itu yang buat gue mau menerima perjodohan ini.”


“Dan?” tanya Sean memancing.


Kevin mengingat saat Ayesha membeli peyek di jalan dan memberinya pada resepsionis. Lalu, saat setiap kali ia marah dan berkata pedaa, Ayesha sama sekali tidak membalas perlakuannya. Wanita itu tetap berusaha menjadi istri yang baik dan melayaninya.


“Terus, apa yang mau lu lakuin sekarang?” tanya Sean.


“Bertemu Tian. Bicara empat mata,” jawab Kevin tegas.


“Mau gue temenin?”


Kevin menggeleng. “No, ga usah. Ini masalah gue dan Tian. Kita akan menyelesaikannya secara lelaki.”


“Lu ga kasih tau Ayesha tentang ini?” tanya Sean lagi.


“Ayesha udah tahu tentang ini. Dia tahu kalau gue dan Tian teman baik, Gue pernah bilang ke dia kalau Tian sepupu Aldi dan dia kaget.”


Sean terdiam. Mereka mengganti posisi dengan duduk di sofa.


“Gue yang memulai kekacauan ini dengan mengambil keputusan yang salah karena memindahkan Ayesha ke bagian itu. Dan, sekarang gue sendiri yang akan membereskannya.”


Lagi-lagi, Sean hanya bisa menganggukkan kepala. Ia tahu apa yang Kevin pikirkan. Ia yakin Kevin bisa menyelesaikan masalah ini.


****


“Mas, Nindi minta ditemenin beli sepatu. Aku sama Nindi pulang kerja mampir ke Mall depan kantor ya. Kalau Mas mau pulang duluan, silahkan. Tapi kalau Mas mau tungguin aku dan jemput aku, alhamdulillah.”


Kevin tersenyum membaca pesan sang istri. Sebelumnya, Ayesha pun mengirim pesan lebih dulu dan menanyakan apa ia sudah makan atau belum? Karena biasanya, Kevin yang lebih dulu mengirim pesan pada istrinya agar tidak telat makan siang.


“Ya udah, Mas tunggu kamu. Nanti kalau sudah selesai mengantar Nindi, kasih kabar. Mas jemput kamu di sana.”


Kevin mengetik pesan dan mengirimnya pada sang istri. Ia ingin menjadi pria yang layak untuk Ayesha.


Tring


Ponsel Ayesha berbunyi. Wanita yang masih berfokus pada layar monitor laptopnya itu pun meraba meja dan mengambil ponsel itu.


Lalu, ia menekan layar ponselnya dan membuka pesan yang dibalas Kevin. Bibirnya tersungging senyum.


“Makasih, Mas.”


Tring


Balasan pesan dari Ayesha sampai di ponsel Kevin yang masih terbuka dan tengah ia pegang.


“Ada imbalannya dong,” ledek Kevin dalam pesan yang ia jawab itu.


Ponsel Ayesha pun masih terbuka dengan layar chat yang masih bernamakan beruang kutub.


“Apa? Kamu mau aku belikan sesuatu?” tanya Ayesha pada pesan itu.


Bibir Kevin tertawa lebar, saat membaca balasan pesan itu. Istrinya memang polos, bahkan ia tak mengerti maksud suaminya.


“Bukan imbalan itu,” jawab Kevin yang masih melalui chat whatsapp.


Ayesha mengernyitkan dahi, saat membaca balasan pesan dari Kevin. Lalu, tangannya bergerak di papan layar ponsel itu.


“Terus apa?” tanyanya.


Kevin kembali menyungging senyum, saat membaca balasan Ayesha.


“Dasar, Ndut polos.”


Ayesha membaca pesan balasan itu dan langsung cemberut. Tangannya langsung mencari emot cemberut dan dikirimkan pada Kevin.


Kevin pun langsung mengirim emot tertawa, lalu emot kecupan.


Seketika, bibir Ayesha kembali tersenyum dan membalas pesan itu dengan mengirim emot yang sama seperti yang terakhir Kevin kirim.