
“Yank,” panggil Kayla setelah memasuki apartemen kekasihnya.
“Sayang.” Aldy senang bukan kepalang melihat sang kekasih ada di hadapannya.
Kayla pun langsung duduk di sebelah Aldy. Pria yang masih terlihat lemah dan butuh istirahat dengan waktu cukup lama itu berbaring dengan posisi setengah duduk di atas sofa. Ia menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal yang banyak di pegangan sofa itu.
“Kamu lama banget ke sininya. Aku udah tungguin dari tadi,” ujar Aldy manja sembari tangan kirinya melingkar di pinggang Kayla dan tangan kanannya meraih kepala Kayla untuk mencium bibir sang kekasih.
Sudah seharian, Kayla tidak mampir ke apartemennya. Sejak pulang dari rumah sakit, sebelum berangkat ke kantor, Kayla akan menyempatkan diri menemui kekasihnya di sini dan menyiapkan segala keperluannya. Kayla sudah menawarkan asisten rumah tangga di rumahnya untuk membantu Aldy di sini. Kiara dan Gunawan pun menyarankan demikian, mengingat Aldy hanya tinggal sendiri di sini. Namun, Aldy menolak. Ia terbiasa berada di apartemen ini sendiri, ta;pi jika Kayla yang tinggal di sini, ia tidak menolak.
“Aku kangen. Tadi pagi kamu ga ke sini,” kata Aldy dengan mendekatkan wajahnya pada wajah sang kekasih.
“Maaf, Yank. Tadi pagi aku harus selesaikan bahan untuk Kevin persentasi di depan klien.”
Aldy pun mengangguk. Sudah hampir sepuluh hari, ia juga tidak ke kantor. Walau jahitan di perutnya sudah menegring, tetapi dokter menyarankan untuk menunggu dua atau tiga minggu untuk mulai beraktifitas normal. Alhasil, Aldy pun kini membawa pekerjaannya ke rumah.
Aldy memajukan wajahnya dan hendak mencium bibir Kayla. Tapi, Kayla dengan cepat menahan dadanya.
Aldy kecewa. “Sayang, aku kangen. Emangnya kamu ga kangen.”
“Tapi aku kesini ga sendirian,” kata Kayla tersenyum dengan kedua tangan yang masih berada di dada Aldy.
Namun, Aldy menghiraukan. Ia tetap memajukan bibirnya untuk menyentuh bibir sang kekasih.
“Bagaimana keadaanmu, Al?” tanya seorang pria dengan langkah perlahan menghampiri Aldy.
Aldy langsung menoleh dan menjauhkan diri dari Kayla. “Om Gun.”
Lalu, Aldy menoleh ke arah Kayla. “Kamu ga bilang ke sini sama Papa?” tanyanya menggerutu.
Kayla nyengir. “Udah aku bilang. Aku datang ga sendiri. Kamu nya ga dengerin , malah main nyosor aja.”
Aldy pun menunduk malu. Ia canggung ketika Gunawan duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Aldy membaringkan sebagian tubuhnya.
“Sudah lebih baik?” tanya Gunawan lagi.
“Sudah Om,” jawab Aldy canggung.
“Seeblumnya, Om belum benar-benar mengucapkan terima kasih kepadamu secara lansung,” ucap Gunawan lagi.
“Saya juga berterima kasih pada Om, karena dengan darah Om, saya selamat,” sahut Aldy.
Di dunia ini memang banyak orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan rhesus sama walau tidak memiliki keterikatan hubungan darah. Dan kebetulan itu terjadi pada Gunawan dan Aldy. Jika Aldy tidak memiliki darah yang sama dengan Gunawan, mungkin Aldy tidak tertolong karena rumah sakit terdekat yang mereka datangi malam itu tidak memiliki bank darah sehingga harus mengambilnya dari palang merah Indonesia yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit itu.
Gunawan tersenyum. Kemudian, ia melihat putrinya bangkit dari duduknya.
“Papa mau minum apa?” tanya Kayla.
“Kamu juga mau dibuatin apa, Yank?” tanya Kayla lagi pada kekasihnya.
Aldy tersenyum. “Buatkan yang sama seperti Om Gun saja.”
Kayla pun tersenyum dan mengangguk. Ia membiarkan sang ayah berbicara dengan calon menantunya berdua di sana.
“Kapan ibumu datang ke sini?” tanya Gunawan lagi.
“Rencananya lusa, Om. Sejak kemarin Mama memang sudah ingin melihat keadaanku, tapi urusan Daddy di sana belum bisa ditinggal.”
Gunawan menganggukkan kepalanya lagi. Ia memang sudah menelusuri latar belakang keluarga Aldy, juga ayah sambungnya yang berkebangsaan Jerman itu.
“Papa terima lamaranmu tempo hari,” ucap Gun yang membuat bibir Aldy tersenyum lebar.
“Benarkah, Om?” tanya Aldy tak percaya.
Gunawan mengangguk. “Setelah apa yang kamu lakukan untuk Papa, rasanya tidak adil jika Papa tetap menjadi penghalang hubungan kalian.”
Bibir Aldy terus mengembang senyum. Wajahnya berbinar. Ingin rasanya ia berjingkrakan jika kondisi tidak seperti ini.
Aldy bangkit dan hendak mencium kaki calon mertuanya. “Ah.” Ia merintih sakit pada bagian perutnya saat gerakan yang ia lakukan terlalu cepat.
“Ingin peluk Papa,” jawab kekasih putrinya itu. “Boleh kan sekarang Aldy, panggil Om itu Papa?”
Gunawan tersenyum. Ya, melihat Aldy, ia jadi teringat dirinya sendiri. Tidak, memiliki orang tua dan tinggal sendirian di kota besar, membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang tidak memiliki kepribadian baik. Walau Aldy bukan yatim piatu dan masih memilih ibu, tapi ia seperti anak yatim piatu setelah ibunya memilih tinggal dengan suami barunya.
Gunawan mngangguk dan membolehkan Aldy memeluknya.
“Terima kasih, Pa.”
Gunawan menepuk bahu Aldy. “Apa kamu mencintai putri Papa?”
“Dengan segenap jiwa raga Aldy, Pa,” jawab Aldy lantang di balik tubuh calon ayah mertuanya itu.
Kayla melihat pemandangan itu dengan membawa dua gelas yang berisi jus jeruk dingin di tangannya. Tiba-tiba air mata Kayla menetes. Akhirnya, buah kesabaran ia dan Aldy terbayar sudah. Walau semula, ia tidak yakin dengan Aldy yang memiliki track record tidak menyenangkan, tapi seiring kesempatan dan waktu yang Kayla berikan, pria itu semakin lebih baik dan layak untuk dijadikan nahkoda dalam perahu kecil yang akan mereka arungi nanti.
Cukup lama, Kayla dan Gunawan berada di apartemen itu. Mereka bertiga berbincang hangat. Interaksi Aldy dan Gunawan pun tidak setegang sebelumnya. Terlihat mereka sudah sangat mencair, bahkan bisa terlihat seperti ayah dan anak.
“Yank, aku pulang ya,” kata Kayla setelah cukup lama berada di apartemen itu. Malam pun sudah semakin larut.
Aldy mengangguk.
“Makanan camilan dan air sudah ada di sini.” Kayla menunjuk ke arah nakas yang tak jauh dari tempat Aldy berada.
“Terima kasih, Sayang,” jawab Aldy.
Selama sakit, Aldy lebih suka tidur di sofa dan ditemani oleh televisi, karena akses tempat itu lebih dekat ke dapur atau sesuatu yang ia perlukan.
“Tidak mau pindah ke kamar?” tanya Kayla sebelum ia pamit pulang.
Aldy menggeleng. “Tidak usah. Lebih enak di sini.”
Kayla ikut mengangguk. “Baiklah, kalau begitu aku pulang. Besok pagi aku akan bawa sarapan untukmu.”
Aldy tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri idaman. Tidak salah aku memperjuangkanmu.”
Tangan Aldy masih setia di pinggang Kayla yang kembali duduk di samping kekaihnya saat hendak pamit.
Kayla mencibir. “Gombal. Mulutmu manis seperti donat gula.”
Aldy tertawa dan Gunawan hanya tersenyum melihat aura bahagia dari putri dan calon suaminya itu. Sepertinya tidak akan lama lagi ia akan membuat pesta besar untuk putri sulungnya.
Tak lama kemudian, Kayla dan Gun pun pamit, lalu meninggalkan apartemen itu.
Aldy langsung meraih ponselnya dan mendial nomor kedua sahabatnya dengan panggilan video call.
“Al, ngapain sih malem-malem telepon. Gue baru banget ngelenyap tau,” ujar Sean sembari mengucek matanya.
“Al, lu baik-baik aja kan?” tanya Kevin panik saat mendapati panggilan dari sahabatnya yang masih terbilang sakit itu.
“Akhirnya, gue nikah juga. Om Gun merestui gue dan Kayla. Kita akan menikah,” teriak Aldy senang.
“Ya elah, gue kira ada apaan,” sahut Sean.
“Ngga jelas lu. Gua udah panik juga,” celetuk Kevin. “Liat nih gue belum pake cel*n* dal*m.”
Sontak Sean dan Aldy tertawa.
“Bercocok tanam terus lu, Kev. Encok deh si Ayesha,” ledek Sean.
“Doyan lu, Kev. Sekarang,” Aldy pun tertawa.
“Pikiran lu berdua aja yang pada kotor. Gue tuh abis buang air besar.”
Sontak Sean dan Aldy kembali tertawa.
Persahabatan mereka memang unik. Ada yang jahil, lucu, dan ada yang kaku. Suka, duka pun sudah mereka lalui bersama. Lima tahun, mereka tinggal satu atap saat mengimba ilmu di negeri orang, membuat ketiganya sudah saling memahami satu sama lain. Dan, di saat mereka berada di titik dimana membutuhkan seorang pendamping untuk teman di hari tua nanti, satu sama lain pun saling mendukung.