
“Tidak bisa, Dok. Saya tidak bisa melakukan itu dengan kondisi seperti ini,” protes Kevin.
“Tidak usah malu, Nak. Memang seperti ini untuk memeriksa kesuburan pria.”
“Ayo, Pak!” ajak suster Dela pada Kevin dan Ayesha.
“Ayo, sayang! Sana!” kata Rasti.
Namun, Ayesha enggan bangkit dari duduknya.
“apa perlu Oma temani?” tanya Rasti.
“Tidak, Oma. Tidak perlu. Kevin sama Ayesha bisa sendiri,” jawab langsung kevin yang tidak ingin lagi dikacaukan oleh tindakan sang nenek.
“Tapi sepertinya Ayesha butuh ditemani,” kata rasti yang melihat ke arah Ayesha yang sudah mengeluarkan keringat dingin. “Kamu takut, Sayang?” tanyanya pada istri cucunya.
Ayesha menggelengkan kepala.
“Ayo, Oma temani,” ucap Rasti yang tidak bisa dibantah.
Lagi-lagi Kevin hanya bisa menarik nafasnya kasar dan mengikuti keinginan sang nenek. Kemudian, mereka berjalan beriringan menuju sebuah ruangan.
“Nah, ini tempatnya Pak Bu. Silahkan masuk ke dalam dan jangan lupa botol kecil ini dibawa!” kata suster Dela yang kemudian meninggalkan Ayesha dan kevin.
“Ayo masuk! Oma tunggu di sini,” kata Rasti yang langsung mendudukkan diri di ruang tunggu persis di depan ruangan yang di tunjuk suster Dela tadi.
Kevin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Ayesha hanya menangkup kedua pipinya. Tiba-tiba Ayesha merasa tubuhnya dingin, mungkin karena jantungnya yang sedang dag dig dug ditambah AC di ruangan ini yang cukup bervolume tinggi.
“Hei, Ayo masuk! Mengapa masih saja berdiri di sana?” tanya Rasti pada Kevin dan Ayesha yang seperti orang kebingungan.
Kevin menghampiri neneknya. “Oma, Kevin bisa lakukan ini di rumah. Jadi lebih baik sekarang kita pulang dan Kevin akan bawa botol ini.”
Rasti menggeleng. “Tidak, Sayang. Ayo selesaikan perintah dokter, mumpung hari ini jadwalmu kosong. Besok-besok belum tentu bisa ke sini kan?”
Lalu, Rasti mendorong Kevin untuk memasuki ruangan itu.
“Oma,” rengek Kevin mengingatkan Rasti ketika Kevin takut untuk di sunat, ia harus menggiring Kevin ke ruangan dokter hingga akhirnya pria itu memilih kabur dan akhirnya pesta khitanan itu pun ambyar.
“Ayesha, ayo masuk!” Rasti juga menggiring istri cucunya ke ruangan itu.
“Tenang saja, lakukan dengan relaks. Oma kan sabar menunggu kalian di luar,” ujar Rasti sesaat sebelum ia menutup pintu ruangan itu.
Rasti menutup sempurna pintu itu.
“Mas, gimana ini?” tanya Ayesha bingung.
Kevin hanya mengangkat bahunya. Lalu, ia kembali mendekati pintu dan melihat keluar. Di sana Rasti duduk menunggu.
“Hei, masuk!” Rasti melihat Kevin yang sedang mengintip dan langsung mengibaskan tangannya, menyuruh Kevin untuk masuk.
“Ck. kita terjebak Ay,” kata Kevin lemas.
Kevin duduk di tempat tidur yang cukup untuk satu orang itu. Ayesha pun mengikuti suaminya dan duduk di samping Kevin.
“Lalu, bagaimana kita keluar dari sini, Mas?” tanya Ayesha dengan menoleh ke arah Kevin.
Kevin pun menatap istrinya. Lama, ia manatap Ayesha yang semakin hari semakin cantik dimatanya.
Kevin tengah berpikir. Namun pikirannya tidak sama seperti apa yang sedang Ayesha pikirkan. Jika Ayesha berpikir untuk mencari cara bagaimana mereka keluar dari ruangan ini. Justru Kevin berpikir mungkin inilah kesempatannya untuk bercinta dengan Ayesha.
Kevin mulai mesum. Ia menatap bibir ranum itu, dada montok itu, dan bagian bawah Ayesha.
“Mas,” panggil Ayesha. “Gimana?” tanya Ayesha yang kali ini menggeoyangkan lengan Kevin yang berada persis di sampingnya.
Kevin masih terbuai dengan pesona istrinya.
“Mas,” panggil Ayesha lagi, tapi kini dengan menggoyangkan lebih kencang lengan Kevin.
“Hah? Gimana?” tanya Kevin yang tidak fokus.
“Ish, kok malah balik tanya? Kamu lagi mikir apa sih?”
“Maaf, tapi aku juga bingung,” jawab Kevin bohong.
“Kamu alasan dong. Bilang aja ke Oma kalau klien kamu telepon dan harus bertemu sekarang.”
Kevin masih terdiam. Saran Ayesha cukup logis, tapi nyatanya ia juga senang dengan jebakan ini.
“Hmm ... tapi Oma itu tidak mudah dibohongi Ay,” ucap Kevin mengelak.
“Ck. terus gimana? mAu sampai kapan kita di sini seperti ini,” kata Ayesha lesu.
“Ya, mau ga mau, kita lakukan perintah dokter itu, supaya cepat selesai.”
“Apa?” tanya Ayesha terkejut. Lalu ia menggelengkan kepalanya. “Aku belum siap, Mas.”
“Tapi bukankah waktu itu kamu sendiri yang mengajukan syarat untuk tidak perlu ada kewajiban untuk nafkah batin?” tanya Ayesha membuat kevin harus siap berargumen.
“Oke, perjanjian nomor tiga itu dihapuskan, mengingat keluarga kita dalah keluarga besar dan terpandang yang pastinya sangat berharap keturunan dari kita.”
“Nomor satu dan dua?” tanya Ayesha lagi.
“Nomor satu tidak dihapuskan karena untuk kebaikan kamu juga. Aku ingin kamu tetap bisa berkarir tanpa melihat aku sebagai suamimu di sana, karena pastinya itu akan membuatmu tidak bergerak bebas. Hasil kerjamu seperti tidak dipandang karena mereka pasti mengira yang membuatmu sukses adalah aku.”
Ayesha pun diam dan berpikir, karena apa yang dikatakan Kevin ada benarnya.
“Dan, untuk perjanjian yang kedua juga aku dihapuskan.”
“Kenapa?”
“Karena faktanya kita adalah suami istri. Baik di rumah atau pun di luar rumah status itu tidak bisa berubah. Kamu tidak boleh dekat dengan lelaki lain karena sudah memiliki suami dan aku juga tidak akan dekat dengan wanita lain karena sudah memiliki istri,” jawab Kevin dengan menatap intens ke kedua bola mata Ayesha yang berwarna coklat.
“Deal.” Kevin mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Ayesha.
Ayesha bingung. Ia pun menatap wajah tampan suami hingga tangannya pun terangkat dan menerima uluran tangan itu. “Deal.”
Kevin mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Ayesha hingga bibirnya pun menyentuh bibir kenyal beraromakan strawbery itu. Bibir yang sudah lama menjadi candu untuknya, tapatnya ketika pertama kali ia menyentuh bibir itu saat di Bali.
Antara siap dan tidak siap, Ayesha menerima ciuman Kevin. Dadanya bergemuruh. Benar apa yang suaminya katakan, cepat atau lambat ia akan melakukan ini. Ia pun harus siap.
Ayesha mengikuti permainan lidah suaminya. Perlahan ia sudah bisa mengambil oksigen di sela-sela ciuman yang semula lembut dan menjadi semakin liar itu.
“Eum ...” lenguh Ayesha saat bibir Kevin mulai merambat ke leher dan menggigit bagian itu.
Sungguh sentuhan Kevin begitu lembut dan membuat dirinya nyaman.
“Mas, Eum ...” lenguhan Ayesha semakin terdengar merdu, ketika bibir Kevin turun lagi ke kedua bukit indah itu.
Tanpa Ayesha sadari kemejanya sudah terbuka oleh tangan Kevin yang nakal. Pengait bra nya pun sudah terlepas ketika pria itu menggigit-gigit bagian lehernya hingga berwarna keunguan.
“Mas, Sshh ... jangan digigit!”
Kevin yang gemas dengan dua gunung kembar itu pun dengan brutal menggigitnya bergantian.
Sembari menikmati aktivitas itu, tangan Kevin semakin lincah di bawah sana. Ia menyingkap rok payung selutut yang Ayesha gunakan dan perlahan merambat, lalu membuka kain yang membungkus bagian sensitif itu, hingga jarinya mulai bermain di sana.
“Mas, Eum ... Aku takut.” Ayesha mencoba menahan lengan Kevin yang sedang mempermainkan bagian itu.
Kevin kembali mencium bibir Ayesha. “Aku akan melakukan dengan lembut. Aku janji.”
Kevin melepaskan aktivitas itu sementara dan mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya hingga terpampang jelas singkok premium versi putra mahkota season dua. Sontak, Ayesha menjerit dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Kevin tersenyum. “Hei, kamu akan terbiasa melihat ini.”
Ayesha menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih tertutup. “Itu pasti akan menyakitkan, Mas.”
Ayesha masih menutup wajahnya dan menggelengkan kepala. “Aku taku, Mas. Takut.”
“Ngga, Sayang. Jangan takut! Aku janji akan melakukannya dengan lembut.”
Kedua tangan kevin menangkup lengan Ayesha dan menjauhkan dari wajahnya.
“Mas,” rengek Ayesha lagi.
Kevin tersenyum dan kembali mencium bibir Ayesha dengan lembut. Perlahan ia mulai menyatukan milik mereka.
“Mmpph ...” Ayesha dapat merasakan sesuatu yang hendak ingin menyatu pada dirinya. Namun kevin tetap mencum bibir itu untuk memberikan kenyaman pada Ayesha.
“Eum ... Aaaa ...” jerit Ayesha ketika akhirnya Kevin berhasil menyatukan miliknya pada milik sang istri.
“Eum ... Mas, sakit.”
“Maaf, Sayang.” Kevin mengahpus jejak air mata yang tanpa Ayesha sadari melelh begitu saja. “Maaf, Sayang.”
Kevin yang tak tega pun terus mengucap kata maaf. Namun, beberapa menit kemudian, ia kembali membuat istrinya sakit, karena ternyata kenikmatan itu memaksa dirinya untuk melakukan yang lebih dari kelembutan tadi.
“Mas, Pelan.” Ayesha berusaha menahan gerakan Kevin yang semakin brutal.
“Mas, ah.”
Kevin terus bergerak lebih cepat sembari mencium tubuh Ayesha yang dapat ia jangkau dengan bibirnya. Tangannya pun terus meremas dua gunung kembar yang bergerak bebas seiring dengan gerakan yang Kevin ciptakan.
Sungguh, ini sensasi luar biasa yang baru Kevin rasakan sepanjang hidupnya. Pantas saja, Sean dan Aldi tidak bisa meninggalkan kenikmatan ini. Walau mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah salah. Pantas saja, kedua sahabatnya itu meledeknya habis-habisan, karena ini memang surga dunia. Apalagi dengan seseorang yang sudah halal untuknya. Melakukannya pun tidak dikejar oleh dosa dan tidak merasa was-was.
Akhirnya, mereka melakukan malam pertama itu tidak di hotel bintang lima yang mewah, tidak juga di malam hari dan tidak juga di tempat tidur king size yang super empuk. Gengsi itu pun runtuh ketika masing-masing merasakan sensasi luar biasa ini.
Walau Ayesha protes karena Kevin terlalu bersemangat, tetapi entah mengapa tubuhnya menerima apapun yang pria itu lakukan padanya.