XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menginginkannya kembali



DI hari libur ini, Sean merasa bosan di dalam apartemen. Ia hanya makan, tidur, dan menonton televisi sejak pagi hingga siang. Sean memang tidak tinggal di apartemen yang sama dengan Kevin, tetapi apartemen yang ia huni juga tidak jauh dari gedung apartemen Kevin dan kantornya.


“Haish, kenapa kepala gue jadi kepikiran dada dia terus?” gumam Sean yang sedang duduk di sofa dengan arah mata tertuju pada televisi.


“Lagian cewek kaya gitu kok bisa-bisanya punya dada segede itu,” monolognya lagi.


Beberapa hari sejak kejadian malam dimana Nindi dan Ayesha hendak dikerjai oleh dua bocah tengil itu, pikiran Sean sedikit konslet. Entah mengapa tubuh polos Nindi yang ia lihat dengan kedua matanya itu selalu hadir dalam pikiran Sean. Apalagi dada bulat Nindi yang menggungah selesar, membuat milik Sean tiba-tiba bengkak jadinya.


“Ah, gue kayanya perlu refreshing. Ngga bisa kaya gini terus,” kata Sean lagi pada dirinya sendiri sembari memukul kepalanya agar bayangan tubuh polos Nindi yang ia lihat waktu itu segera pergi dari otaknya.


Nindi memang memiliki ukuran dada yang cukup menggiurkan. Oleh sebab itu, ia selalu menutupinya dengan pakaian-pakaian longgar dan tidak membentuk, sehingga tidak ada orang yang tahu bentuk tubuh asli sahabat Ayesha itu. Jika tidak menggunakan pakaian kantor, Nindi selalu menggunakan T-shirt yang biasa dipajang di pakaian pria dipadu dengan celana jeans panjang. Begitu style Nindi sehingga orang menyebutnya tomboy.


Seperti hari ini, Nindi mengenakan style yang sama, T-shirt berwarna putih dan celana tanggung bahan berwarna coklat susu. Ia memasukkan T-shirt itu ke dalam celana tanggungnya.


Setelah selesai membantu Ayesha, Nindi tidak langsung pulang ke kosan. Ia mampir ke sebuah mall yang cukup besar dan tak jauh dari area kantornya itu.


Gedung Adhitama memang berada di pusat jantung kota. Di sana juga terdapat gedung-gedung kantor lainnya, juga beberapa apartemen dan satu mall besar.


Sebelumnya Nindi dan Ayesha berencana akan ke tempat ini bersama, usai memindahkan dan merapikan barang-barang Ayesha di kantor tadi. Tapi, agenda mereka terpaksa sirna, karena Kevin mengantarkan istrinya, sehingga Ayesha mencari alasan pada Nindi bahwa ia tak bisa ikut jalan-jalan bersamanya ke mall itu. Alhasil kini, Nindi berjalan sendiri.


Nindi menghabiskan makan siangnya sendiri di restoran Jepang yang harganya sesuai kantong pertengahan bulan. Ia juga bermain sebentar di area permainan untuk menghilangkan bayangan wajah Sean ketika membersihkan tubuh polosnya.


Ya, pria itu adalah Sean. Nindi terpaksa mengalihkan pandangannya, seolah-olah ia tak melihat pria itu. Padahal Sean melihat ke arah Nindi ketika wanita itu melihatnya. Sean pun tersenyum, ia tahu bahwa Nindi malu dan akan terus menghindarinya.


Semakin lama eskalator itu bergerak dan mendekatkan mereka. Saat berpapasan dekat, Sean menyentuh telapak tangan Nindi yang sedang berpegangan pada eskalator itu. Sontak Nindi pun menoleh ke belakang dan Sean pun melakukan hal yang sama, lalu mengedipkan satu matanya pada Nindi membuat wanita itu kesal.


“Ish, pelecehan.” ujar Nindi pada dirinya sendiri dengan menggosok tangan yang disentuh Sean tadi dan melanjutkan langkahnya lagi.


Di lantai dua, Sean melihat Nindi dari atas yang terus berjalan. Bibirnya menyungging senyum. Entah mengapa ia senang menggoda wanita tomboy itu. walau sebenarnya Nindi bukan wanita tomboy. Hanya saja, pakaiannya yang sering menggunakan kaos laki-laki, tetapi kelakuannya sama sekali tidak kelelakian. Bahkan tidak ada satu bidang olahraga pun yang Nindi kuasai.


Di dalam pesawat, tengah duduk seorang pria sembari memainkan ponsel yang di mode pesawat. Pria itu melihat-lihat galery ponselnya saat kuliah. Ponsel yang tidak pernah ia jual dan selalu disimpan, karena didalam galeri ponsel itu terdapat banyak foto kebersamaannya dengan Ayesha.


Ya, saat ini Tian berangkat menuju Jakarta dari Kalimantan. Masa izinnya untuk tidak beekrja telah usai. Hari Senin besok, ia mulai kembali bekerja.


“Ayesha, kamu di mana? Kapan kita bisa bertemu lagi? Sungguh, aku rindu.” Tian mengusap wajah yang ada di layar pintar itu.


Ia benar-benar menyesali kebodohannya, karena ternyata Jessica bukanlah wanita baik. Tian pun merasakan dikhianati. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri saat Jessi bercinta dengan pria asli penduduk sana. Ternyata Tian bukanlah pacar satu-satunya Jessy. Wanita itu juga memiliki pacar bule lebih dari dua tahun.


Dan satu lagi kebodohan Tian, ternyata Jessi pun merekayasa seolah ia adalah pria pertama yang menyentuh wanita itu, padahal pacar bulenya itu yang menjadi pria pertama yang menyentuhnya.


Inilah buah manis yang Tian rasakan dari apa yang telah ia lakukan pada Ayesha, wanita tulus yang mencintainya, bahkan sering membantunya disaat-saat sulit. Dan, kini ia akan berjuang untuk mengembalikan Ayesha kembali.