
Rahasia Istri Pak Kades
Penulis: Ridz
Sequel Of [SELEPAS KATA TALAK]
"Dia!" Tetuah itu menunjuk ke arah ... Bukan ke arah perawan desa yang dari dulu menantikan tubuhnya di jamah oleh Pak Kades yang menurutku biasa saja ini, tapi dia menunjuk ke arahku. "Non Gea, yang akan menjadi Bu Kades."
"Hah?" Aku mendelik, tipe orang macam Tetuah desa ini lah yang ingin aku libas akhir-akhir ini. "Sialan."
*****
Bagaimana jadinya. jika Gea yang ingin membalaskan dendamnya kepada Kades yang sudah menghamili kakaknya malah terjebak menjadi istri Kades itu sendiri dengan identitas rahasia yang masih ditutupi.
Jangan lupakan mantan pacar Gea. si Dokter Duda yang melakukan praktek didesa yang sama.
Akankah Gea bertahan dalam balas dendamnya. atau malah menyerah dengan rencananya?
• • •
"Pak, tangannya bisa dilepas?"
Kenapa tidak langsung kutarik saja tadi yah, biar dia terkejut dan mengira aku kasar, menjauhiku dan membuat dirinya ilfeel kepadaku.
Aku juga heran kenapa sampai detik ini, aku masih bersikap ramah harusnya aku dingin kepadanya, bukan ramah begini.
"Oh, Maaf," ujar Pak Kades melepaskan genggaman tangannya kepadaku. "Saya takut kamu hilang."
What? Hilang? HELO! Di pasar sekecil ini aku bisa nyasar kemana, tidak mungkin kan aku nyasar ke tengah hutan sana sedangkan pasar ini di tengah desa.
Aku hanya membalasnya dengan senyum biasa padahal kalau kalian ini bisa lihat wajahku, ini adalah senyum paling kecut yang pernah aku berikan kepada seseorang.
Disaat kami melanjutkan jalan mencari Mak Saharia, mataku tertuju pada sebuah danau di samping pasar, bagaimana bisa ada danau ditengah desa dan banyak perahu disana.
Yah rupanya aku sedang berada di pinggiran pasar terapung karena fungsi sebenar pasar ini adalah pasar yang mengapung diatas air, tapi mataku malah tertarik pada sekumpulan anak-anak dipinggir yang tengah berenang.
"Mau lihat anak koin?" tawar Pak Kades padaku.
"Anak koin?"
"Iyah, anak-anak yang berenang terus kita lempar uang koin dan mereka berebut mengambilnya," jawab Pak Kades berjalan mendekat kesana sembari menggendong Gibran.
Aku menyusulnya dan berjalan beriringan dengan Pak Kades. "Saya baru tahu kalau disini ada beginian."
"Saya yang memulainya empat tahun lalu, hahahaha memang lucu saya mengajarkan anak-anak menjadi anak koin."
Tuhan! Tawanya begitu renyah tapi aku membencinya, seolah itu tawa tanpa dosa karena empat tahun lalu dia juga menghamili kakakku.
"Saya berinisiatif karena dulu sewaktu dijakarta berlibur, keluarga saya hendak ke lampung tapi menggunakan kapal air, di pelabuhan merak sebelum menyebrang banyak sekali anak koin disamping kapal ferry, setelah saya kembali ke semarang dan terbang ke Makassar saya merindukan anak koin begini dan siapa sangka saya menjadi kepala desa sekarang," jelas Pak Kades.
Sebenarnya Pria sialan ini memiliki atitude dan penampilan yang baik seolah tidak memiliki catatan cacat dari hidupnya, tapi siapa saja bisa memanipulasi keadaan apalagi itu menyangkut masa lalu, dan bisa jadi salah satunya adalah kades sialan ini.
"Kamu, mau coba lempar koin?"
Aku merogoh tasku dan mencari uang koin, tidak ada pemirsa.
"Saya punya," ujar Pak Kades seolah menjawab raut wajahku. "Sebenarnya dulu mereka banyak tapi semenjak ada yang meninggal mereka kerap di Razia oleh perangkat desa."
"Loh, Bapak Kades sekarang kok di biarin?" tanyaku bingung.
"Kan sudah saya bilang, karena saya yang memulainya."
Andaikan dia bertanggung jawab sewaktu.menghamili kakakku, aku mungkin akan sangat mengagumi kewibawaan dan cara berpikir nya yang cerdas tapi di hati kan dia adalah SAMPAH SIALAN YANG HARUS KULENYAPKAN.
Pak Kades tampak melempar koin dan anak-anak itu berebut, aku berjalan ke sebuah kayu diatas danau, kukira kayu itu kuat tapi ternyata.
"Dek Gea! Awas!"
Byur!
Aku tercebur pemirsa dengan begitu indahnya didalam danau ini, air danau yang biru jernih membuat pandanganku seketika biru semua dan badanku jadi linu bertabrakan dengan air danau.
Seharusnya danau ini dangkal tapi kenapa rasanya aku tidak menyentuh dasar.
Byur!
Suara ceburan orang sesaat sebelum sebuah tangan kokoh menangkap tubuhku terdengar itu adalah Pak Kades, aku memberontak aku sadar aku tidak mau disentuh kades ini.
"Dek! Ini saya!"
AKU TAHU ITU SIALAN! JANGAN SENTUH AKU!
Endingnya? Aku malah pasrah karena menggigil dan diangkat dengan keadaan Bridal Style oleh Pak Kades naik ke daratan, rupanya baju dinasnya menjadi basah.
Tak lama setelahnya Mak Saharia datang karena kami menjadi pusat perhatian, ada gadis desa yang meleleh karena seragam dinas yang basah mencetak jelas otot-otot Pak Kades.
"Nak Gea!"
Itu suara Mak Saharia, MAK TELAT MAK TELAT!
•
•
Semenjak kejadian kemarin, aku menjadi malu sendiri, contohnya pagi ini sehabis membantu Mak Saharia membuat sarapan dan sarapan bersama aku memilih dikamar bersama Gibran bukannya menjalani penelitian palsu ku.
Bayangkan saja setelah kejadian memalukan itu, mental ku down untuk melakukan penilitian sekarang walaupun penelitian ini cuma alibi dari penyamaran ku.
Hari minggu pagi kalau di kota aku bisa mengisinya dengan bermain Badminton bersama Enjel, tapi tidak ada Enjel disini.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan terdengar dari pintu kamarku membuatku bangkit dan membukakannya.
"Mak, ada apa Mak?"
"Nak Gea, siap-siap yah, na suruh-ki Pak Kades kumpul di balai desa, katanya ada pengumuman dari itu Tetuah desa-ta."
Jangan-jangan Tetuah desa yang tidak ramah kemarin, ah aku malas bergerak tapi mau tidak mau harus aku turuti, padahal aku masih ingin rebahan.
"Tunggu yah Mak."
Aku segera masuk ke kamar berganti baju dan juga mengganti baju Gibran, setelahnya aku keluar dari kamar menemui Mak dan berangkat bersama menuju balai desa.
Balai desa lumayan dekat, bahkan melewati Danau yang menjadi saksi memalukan kejadian semalam.
Ah AKU MALU!
Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan penduduk desa dengan tujuan yang sama, kukira mereka akan menyindirku atas kasus semalam, rupanya mereka menanyakan kondisiku, dan khawatir bukannya mengejek.
Apakah aku telah salah sangka? Tidak bisa dipungkiri warga disini baik-baik.
•
•
"Sesuai adatnya ini, desa-ta, Kepala Desa harus-ki memiliki seorang istri, dan istrinya ndak boleh berasal dari desa-ta ini," ujar Tetuah Desa ditengah-tengah ruangan balai desa.
Akhirnya aku bisa mendengar suaranya yang sudah bergetar karena usia.
Aku berdiri diantara banyaknya warga desa yang berkumpul di balai desa tersebut, Ah rasanya minggu pagi ku terganggu.
"T-tapi-"
Pria sialan hm maksudku Pak Kades terlihat ingin angkat suara tapi tidak jadi karena di potong oleh tetuah desa tadi.
Sekali lagi, untuk sekelas Tetuah Desa rasanya Mbah Sudarsono ini tidak tau tata krama karena selalu memotong pembicaraan, lebih baik dia diam seperti kemarin, dan setelahnya dia menatapku tajam, apakah dia tahu isi kepalaku?
"Kalau ndak bisa-ko, biar saya yang pilihkan-ko istri."
"Tapi, siapa?" Pak Kades sudah benar-benar kehilangan rasa percaya dirinya aku rasa.
"Dia!" Tetuah itu menunjuk ke arah ... Bukan ke arah perawan desa yang dari dulu menantikan tubuhnya di jamah oleh Pak Kades yang menurutku biasa saja ini, tapi dia menunjuk ke arahku. "Non Gea, yang akan menjadi Bu Kades."
"Hah?" Aku mendelik, tipe orang macam Tetuah desa ini lah yang ingin aku libas akhir-akhir ini. "Sialan."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Waduh gimana nih Gea nolak gak yah?
Lanjutannya ada di Novel RAHASIA ISTRI PAK KADES~