
Kevin duduk di ruang tunggu yang jauh dari keramaian. Hari semakin malam, tetapi ia masih berada di sini. Biasanya Kevin tidak begitu peduli dengan orang lain, tetapi berhubung istrinya peduli dengan orang yang ada di ruang perawatan itu, membuatnya ikut peduli. Kevin sudah membayar penuh untuk pengobatan Nindi dengan uang pribadinya.
Anting itu pun langsung Kevin pakaikan kembali pada sang istri. “Anting ini harus terus ada di sini,” ucap Kevin sambil memakaikan sepasang anting itu di daun telinga Ayesha. “Jaga apapun pemberianku!”
Ayesha ingat kata-kata itu. Ia memandang pria bertubuh kekar yang saat ini tertidur di kursi dan mengingat hal yang membuat ia pun semakin menyukai Kevin.
Sejak Kevin menarik tubuhnya di laut, Ayesha sudah menyukai pria ini. Entah mengapa berada di dekapan Kevin membuatnya nyaman dan tenang. Hingga saat ini, Ayesha praktis tidak pernah lagi ingat sosok Tian, sang mantan pacar yang telah berkhianat itu.
Ayesha berjongkok di hadapan Kevin yang tengah duduk sambil bersandar miring ke dinding. Kedua matanya tertutup dan kedua tangannya dilipat ke dada. Sontak, tangan Ayesha terangkat untuk mengelus rambut suaminya.
Padahal sedari tadi Ayesha sudah menyuruh suaminya pulang, tapi Kevin bersikeras untuk menunggunya. Alhasil pria itu pun tampak kelelahan.
Saat ini, Ayesha sudah bisa meninggalkan ruang perawatan Nindi, karea di sana Nindi sudah ditemani oleh adik ibunya yang tinggal di kota ini.
“Kalau lagi tenang seperti ini, kamu ganteng banget, Mas,” kata Ayesha sambil mengusap wajah Kevin yang terlelap. “Tapi kalau lagi melek, kadang sikap kamu menjengkelkan.”
Ayesha tersenyum sembari memandangi wajah suaminya. “Kamu tahu, dari kecil aku tuh suka sama kamu, tapi kamu galak.”
Ayesha tertawa sendiri kala mengingat hal itu. Saat kecil, pria tampan menurutnya adalah Kevin. Walau Keanu juga tampan, tetapi entah mengapa Ayesha salah tingkah jika berdekatan dengan Kevin. Tapi, menurutnya itu adalah cinta monyet, karena waktu itu ia baru berusia sepuluh tahun sedangkan Kevin baru beranjak remaja.
Kevin yang mulai merasakan kulit Ayesha di wajahnya itu pun bergerak. Sontak, Ayesha menurunkan tangannya. Ia juga langsung menjauhkan diri dari Kevin.
“Hmm … sudah selesai?” tanya Kevin dan membenarkan tubuhnya.
Ia pun meluruskan otot-otot tangan dan kakinya yang sedari tadi tertekuk.
Ayesha mengangguk. “Sudah. Nindi sudah ditemani tantenya.”
“Kalau begitu, ayo pulang!” ajak Kevin dengan suara lemah, seperti tubuhnya yang memang masih lemah karena baru saja terbangun.
“Aku saja yang bawa mobil?” kata Ayesha sembari menengadahkan tangannya untuk meminta kunci mobil pada Kevin.
Ayesha memang bisa menyetir. Di Australia, ia sering membawa mobil sendiri.
Kevin mengernyitkan dahi. “Tau jalannya?”
“Ya, nanti kamu tunjukkan arahnya. Lagi pula kamu masih lelah kan?”
Kevin berdiri. “Tidak usah, aku masih kuat menyetir. Bahkan menggendongmu saja, aku kuat,” katanya yang langsung meluyur pergi.
Lagi-lagi Ayesha hanya mengerucutkan bibir. Benar apa yang dikatakan Ayesha saat Kevin terlelap tadi. Pria itu memang jauh lebih tampan ketika terlelap dibanding saat terjaga.
Ayesha mengikuti langkah Kevin dari belakang. Langkahnya memang lambat, sehingga ia selalu tertinggal dari Kevin.
Kevin gemas melihat jalan istrinya yang seperti liliput. Ia pun menggenggam tangan Ayesha dan mengajaknya untuk berjalan lebih cepat.
Tidak ada percakapan yang berarti, ketika mereka berada di dalam mobil. Kevin tipe pria yang tidak bisa berbasa basi. Ayesha sendiri bingung harus memulai percakapan dari mana. Untuk menghilanghkan kecanggungan itu, Ayesha mengangkat tangan kanannya untuk memutar sebuah lagu. Namun, saat tangan itu hendak menyentuh audio touch screen, Kevin pun melakukan hal yang sama membuat kedua tangan itu pun bersentuhan.
Sontak, Ayesha menarik tangannya dan membiarkan Kevin yang memainkan benda itu. Kevin yang menyukai lagu-lagu klasik dan lawas pun, menyetel lagu Beautiful Girl dari Jose Mari Chan.
Suasana itu semakin hening, karena pikiran mereka terbawa oleh suasana lagu dengan irama pelan dan tenang.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak jauh itu, mereka pun sampai di rumah Kenan. Mereka langsung masuk ke kamar dan Kevin pun langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.
Bruk
Bahu Ayesha dan Kevin bertabrakan karena mereka hendak menuju tempat yang sama. Ayesha kira, Kevin akan istirahat sebentar di sofa dan tidak langsung ke kamar mandi, karena biasanya pria itu memang seperti itu. Sesampainya di kamar, biasanya Kevin akan duduk di sofa sembari menengadahkan kepalanya di punggung sofa yang empuk itu.
Namun, malam ini berbeda, ia langsung menuju kama rmandi. Bahkan ia sudah masuk lebih dulu ke dalam sana.
“Aku juga,’ jawab Kevin yang hendak menutup pintu kamar mandi itu.
“Ish, ga mau ngalah banget sama perempuan,” gerutu Ayesha yang melihat Kevin tetap berada di dalam sana.
Lalu, Kevin membuka lagi pintu itu dan meliukkan tubuhnya yang bersandar pada pintu. “Mau mandi bareng?” tanyanya sembari menaikturunkan alisnya.
“Cih.” Ayesha langsung kabur dari hadapan Kevin, membuat pria itu tertawa.
Kejadian ini seperti dejavu. Hanya saja bedanya, waktu itu yang berada di posisi Kevin saat ini adalah Ayesha. Ayesha jadi malu sendiri saat mengingat kejadian itu. Bisa-bisanya ia menggoda Kevin yang masih menjadi gunung es. Namun, sekarang gunung es itu terlihat sedikit mencair. Bahkan bisa menggoda juga.
Pipi Ayesha pun merona mengingat Kevin yang menggodanya tadi.
****
Hari ini, Ayesha sudah bersiap untuk berangkat. Kevin pun demikian. Mereka duduk bersama di meja makan menyantap sarapan pagi yang dibuat Bi Lastri.
“Kamu tidak makan?” tanya Kevin yang melihat di hadapan Ayesha hanya ada segelas coklat hangat.
Ayesha menggeleng. “Tidak lapar.”
“Oh.” Kevin hanya mengangguk sembari memakan nasi goreng sosis buatan Bi Lastri.
Ayesha mulai terbiasa untuk tidak sarapan. Perutnya juga tidak meronta, ketika malam tidak diberi asupan. Entah mengapa? Mungkin karena satu bulan ini, ia sudah terbiasa dengan polat itu.
Ia pun tidak menggunakan gula untuk coklat panas yang ada di depannya.
“Non, mau nasi gorengnya di bawa saja?” tanya Bi Lastri sembari meletakkan jus jeruk di atas meja.
“Ya, siapkan untuk istri saya Bi,” jawab Kevin.
Ayesha hanya tersenyum dan Bi Lastri pun mengangguk. Lumayan, nanti siang Ayesha tidak perlu pesan makanan online atau ke kantin. Lagi pula tidak ada teman makan siang, jika hari ini ia makan di kantin, mengingat teman makan siangnya tengah terbaring lemah di rumah sakit.
Lima belas menit kemudian, Kevin bersiap untuk berangkat. “Ayo, Ay!” ajaknya.
“Ke mana?” tanya Ayesha sembari menengadahkan kepalanya ke arah Kevin, karena posisinya masih duduk sementara Kevin sudah berdiri.
“Ke kantor lah.”
“Berangkat bersama? Kita?” tanya Ayesha sembari jari telunjuknya mengarah pada dirinya dan Kevin.
“Ya iya, masa aku ngajak Bi Lastri ke kantor.”
Ayesha pun tersenyum. Ia pikir, ia akan berangkat sendiri seperti biasa. Tapi ternyata Kevin tidak se tega itu, mengingat jarak dari rumah ini tidak seperti jarak dari apartemennya ke kantor. Rumah ini cukup jauh untuk sampai ke kantornya.
Bi Lastri memberikan bekal makanan untuk istri Kevin. Kevin sendiri tidak membawa bekal karena siang ini ia dan Sean akan pergi menemui klien di sebuah restoran hotel.
Kevin tidak memiliki sopir. Ia lebih senang menyetir mobilnya sendiri. Kalau pun menggunakan sopir, itu berarti ia benar-benar sedang lelah.
Hampir empat puluh menit, mereka berada di dalam mobil. Gedung Adhitama pun sudah terlihat dari seberang mereka. Namun, Kevin masih butuh melewati kolong fly over untuk memutar balik.
Tiba-tiba, Kevin memberhentikan mobilnya di sebuah jembatan penyeberangan.
“Kamu turun di sini, Ay,” kata Kevin membuat Ayesha menganga. “Kamu tinggal menyeberang jalan. Kita tidak bisa datang dalam satu mobil. Pasti nanti kamu tidak nyaman karena menjadi trading topic.”
Ayesha menghembuskan nafasnya. Ya, perkataan Kevin memang sedikit ada benarnya. Tapi, hal ini menyadarkan kembali posisinya di mata sang suami. Menurut Ayesha, Kevin masih memegang teguh perjanjian itu. Padahal memang seperti inilah cara berpikir pria idealis itu. Selain ia tetap ingin memberi contoh yang baik dengan tidak melanggar aturan perusahaan. Ia juga ingin privasi Ayesha terjaga. Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya semua orang di gedung itu, jika tahu bahwa Ayesha adalah istri Kevin Adhitama si penerus tahta Adhitama yang assetnya tak terhingga. Pasti pergerakan Ayesha di sana tidak akan senyaman saat ini.
Kevin hanya ingin istrinya mengeksplore diri, karena sang istri memang cerdas di bidangnya. Namun, pemikiran Ayesha berbanding terbalik dengan Kevin. Wanita yang masih sedikit XL itu berpikir Kevin masih malu memiliki istri seperti dirinya.