
“Ay, maaf banget. Aku mendadak tidak bisa datang ke acara mu besok.”
Nindi memberi pesan pada Ayesha.
“Tiba-tiba, aku disuruh pulang hari ini, karena ibuku sakit. Maaf ya, Ay. Padahal aku sudah menyiapkan banyak hal untuk acaramu besok.”
Nindi mengetikkan pesan lagi untuk Ayesha dan segera mengirimnya. Ia juga sudah memberi kaabr pada Sean bahwa hari ini ia akan pulang ke kampung.
Nindi masih memegang ponselnya. Ia membuka lagi aplikasi chat yang tadi ia kirim untuk Ayesha. Ternyata, Ayesha belum membaca pesan itu, karena di sana masih terlihat centang dua yang belum berubah warna.
Sean yang mendengar kabar bahwa kekasihnya akan pulang pun segera meluncur. Ia langsung mengendarai mobilnya menuju kost Nindi.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Nindi berdering. Di sana tertera nama Ayesha.
“Halo, Ay.”
“Nin, ibumu sakit apa?” tanya Ayesha panik.
“Entahlah, Ay. Aku ga tahu. Terakhir kemarin aku telepon masih baik-baik saja. Tapi pagi ini, aku dapat kabar, kalau ibu sakit.”
“Ya udah, cepat pulang sana. Mungkin, ibumu sakit karena rindu padamu. Secara. Sekarang kan kamu jadi anak satu-satunya mereka,” ucap Ayesha.
“Maaf ya, Ay. Besok aku jadi ga bisa datang di acara besarmu,” sahut Nindi lirih. Ia merasa tak enak karena sebagai sahabat, ia tidak hadir di acara bahagia itu.
“Tidak apa, Nin. Orang tua lebih penting,” jawab Ayesha.
“Ya, kamu benar.”
“Kapan kamu berangkat?” tanya Ayesha lagi.
“Sebentar lagi. Aku menunggu Mas Sean.”
“Kak Sean mengantarmu langsung ke Subang?” tanya Ayesha lagi.
“Ya, dia maksa ingin mengantarku. Katanya sekalian bertemu keluargaku.”
“Baguslah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Ternyata, Kak Sean benar-benar serius denganmu.”
Nindi tersenyum. Senyum tak bisa dilihat Ayesha. “Ya, Ay. Aku juga tidak menyangka akan secepat ini menjalin hubungan dengannya.”
Ayesha di sana pun ikut tersenyum. “Semoga semuanya lancar ya, Nin.”
“Aamiin. Kamu juga ya. Semoga acara besok lancar,” jawab Nindi.
“Aamiin.”
Mereka pun mengakhiri percakapan itu.
Tak lama kemudian, Nindi mendengar suara mesin mobil yang terparkir di depan gerbang kost-nya.
“Nin, pacar kamu datang tuh,” ucap salah satu teman kost Nindi yang menongolkan kepalanya di depan pintu kamar Nindi.
Nindi mengangguk. “Ya, aku berangkat ya.”
Nindi pamit pada teman-teman kost yang berada di sebelah kamarnya.
“Hati-hati, Nin. Semoga ibumu cepat sembuh,” kata teman kost Nindi itu.
“Aamiin. Terima kasih.”
Nindi menuruni anak tangga dan pamit pada ibu kost. Ia melihat Sean sudah berada di ruang tamu. Pria itu tersenyum pada Nindi.
“Tidak ada barang yang kamu bawa?” tanya Sean yang melihat Nindi hanya membawa tas yang sama seperti yang biasa ia pakai ke kantor.
Nindi menggeleng. “Tidak ada, karena mendadak jadi aku belum sempat membeli apapun.”
“Kalau begitu, nanti kita mampir ke toko kue dan buah,” ucap Sean sembari menggiring Nindi menuju mobilnya.
“Hari ini kamu tidak ada acara? Tidak apa mengantarku?” tanya Nindi saat menduduki kursi penumpang, setelah Sean membukakan pintu itu untuknya.
Sean berlari memutar kap mobil menuju kursi kemudi dan duduk di samping Nindi.
“Kalau pun ada acara, aku akan membatalkannya untukmu,” jawab Sean sembari memasangkan seatbelt untuk Nindi.
Nindi tersenyum. Sean memang selalu bisa membuat Nindi melayang.
“Kamu tidak membawa pakaian ganti?” tanya Sean lagi, melihat Nindi tak mmbawa tas atau koper selayaknya orang yang akan mudik.
Nindi menggeleng. “Di sana, masih banyak pakaian-pakaianku.”
“Oh, oke.” Sean mulai menyalakan mesin mobilnya. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup jauh dan cukup lama.
“Mas,” panggil Nindi.
“Hmm …” Sean menoleh ke arah kekasihnya dan sesekali meluruskan pandangan ke jalan.
“Mas yakin akan menemui kedua orang tuaku?” tanya Nindi.
“Kalau tidak yakin, Mas ga akan disini mengantarmu.”
Nindi diam sembari memainkan jarinya. Ia ingin sekali bertanya mengapa Sean melakukan ini? Mengapa secepat ini? Karena hingga saat ini, Sean tidak pernah mengucapkan cinta, walau kata suka beberapa kali pria itu katakan, tapi rasanya kurang afdol jika kata cinta itu belum terucap.
“Mengapa Mas yakin denganku?” tanya Nindi lagi.
“Karena kamu pacarku. Lagi pula usiaku sudah cukup matang. Semua teman seusiaku sudah menikah dan memiliki anak. Jadi untuk apa lagi menunggu lama jika calonnya sudah di depan mata.”
Nindi kembali diam dan memainkan jarinya. Padahal, ia hanya ingin mendengar tiga kata, bukan kalimat panjang yang Sean utarakan tadi.
Sean menoleh lagi ke arah Nindi dan tersenyum melihat ekspresi kekasihnya itu.
Nindi langsung mengangguk kepalanya dan Sean semakin melebatkan senyum.
Entah mengapa cinta pada pria ini berkembang cepat di hatinya. Sean begitu mudah menaklukkan hati Nindi. Dengan perhatian dan sikap manis itu, Nindi langsung bertekuk lutut padanya. Mungkin, karena sebelumnya tidak ada pria yang memberi perhatian dan sikap manis seperti itu padanya, membuat ia mudah terbuai.
“Tapi bagaimana dengan Oma?” tanya Nindi.
“Oma tidak penting. Yang penting Papa dan Mamaku merestui.”
Nindi pun mengangguk. Walau sebenarnya, ia ingin semua keluarga Sean menerimanya, seperti Ayesha yang diterima dan di sayang oleh seluruh keluarga suaminya. Karena sejatinya, setiap perempuan ingin seperti itu.
Di perjalanan yang belum ada setengahnya sampai ke tujuan, Sean menepikan mobilnya ke toko bakery yang cukup terkenal dan menyajikan kue western mau pun tradisonal dengan harga cukup mahal menurut Nindi.
“Mas, udah ini aja cukup,” kata Nindi yang menghentikan Sean untuk membeli banyak makanan lagi.
“Kurang, Nin. Kamu harus nyobain ini. Ini cake terlezat di toko ini.”
“Tapi …”
“Udah, ini juga.”
“Kebanyakan, Mas,” keluh Nindi menerima banyak makanan di tangannya.
“Ngga apa-apa, katamu di sana ada paman dan bibimu juga. Berarti keluarga besar dong.”
Nindi menghelakan nafasnya. Sean memang tidak pernah bisa dibantah, ada saja alibi untuk memperkuat apa yang ia mau.
Sean mengambil belanjaan yang ia bayarkan di kasir. Sebagian juga telah Nindi ambil. Namun, kedua tangan Nindi tidak cukup untuk mambawa makanan itu dan Sean pun peka, lalu membantu membawakannya. Malah, bawaan yang Sean bawa lebih banyak dari yang Nindi bawa.
“Sini! Biar aku bawa yang ini. Ini lebih berat,” kata Sean mengambil bawaan yang dipegang Nindi.
“Kalau begitu ini aku yang bawa, karena ini lebih ringan.” Nindi pun mengambil bawaan di tangan Sean yang memang bobotnya tidak berat.
Sean pun tersenyum. Walau hal ini adalah hal kecil, tapi ia senang karena karena mereka bisa berbagi dalam hal apapun.
Sean mulai memasuki area jalan bebas hambatan.
“Perjalanan kita masih lama. Kalau kamu lelah, tidurlah.” Sean melirik ke arah Nindi.
Nindi tersenyum dan menggelengkan kepalanya sembari menyandarkan kepala itu di punggung kursi mobil Sean yang empuk.
“Aku baru saja bangun tidur, masa disuruh tidur lagi.”
Sean tertawa. Mereka memang berangkat di waktu setelah istirahat cukup. Nindi memberi kabar pukul tujuh pagi dan mereka mulai melakukan perjalanan pukul sembilan.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Sean pada Nindi yang langsung menggeleng.
“Aku juga belum. Nanti kita mampir di rest area.”
Nindi mengangguk setuju.
Di pertengahan jalur bebas hambatan itu, mereka pun mampir di rest area dan menikmati makan pagi menjelang siang.
Nindi serasa seperti ratu. Sean memperlakukannya demikian. Ia selalu ada Nindi butuhkan. Bahkan Sean selalu menunjukkan sikap seorang pria yang menjaga dan melindungi kekasihnya, juga perhatian-perhatian manis itu, membuat Nindi sama sekali tidak ragu menjadikan Sean sebagai suaminya kelak.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya, Sean dan Nindi sampai di kampung itu. Nindi membuka kaca jendela mobil mewah Sean saat mendapati seseorang yang ia kenal di jalan yang dekat dengan rumah orang tuanya.
“Eh, Neng Nindi. Baru sampe?” tanya tetangga Nindi dengan bahasa khas Jawa Barat.
“Iya, Ceu.” Nindi tersenyum ramah pada para tetangga yang ia lewati dengan mobil Sean.
Terlihat, para tetangga itu membicarakan Nindi yang pulang diantar oleh pria bule dan menggunakan mobil mewah.
“Di sini, Mas. Itu rumahku.” Nindi menunjuk rumahnya.
Lalu, Sean menepikan mobil itu tepat di depan gerbang kayu rumah Nindi sekaligus rumah nenek kakeknya, karena rumah itu beriringan dengan beberapa rumah yang merupakan kerabat Ibu Nindi.
“Nini … Aki … si eneng pulang,” teriak salah satu sepupu Nindi ketika melihat Nindi keluar dari mobil Sean.
“Si eneng pulang sama siapa?” tanya nenek Nindi yang dipanggil Nini oleh cucu dan anak-anaknya kepada seorang pria paruh baya yang dipanggil Aki atau kakek Nindi.
“Justin Bieber masuk kampung,” celetuk bibi Nindi yang juga ada di sana dengan wajah berbinar melihat Sean.
“Hus, mamah. Tau-tauan Justin Bieber,” kata anaknya yang teriak tadi.
Bibi Nindi pun tertawa. Yang ia tahu, pria bule adalah penyanyi asal amerika itu.
Nindi mengajak Sean untuk memasuki pelataran rumah itu. Di sana, sudah terlihat kakek, nenek, dan Bibi Nindi. Ditambah Ayah Nindi yang menatap tak suka dengan kehadiran pria asing yang bersama putrinya.
Nindi sudah melebarkan senyum saat langkahnya menghampiri keluarganya yang sedang berdiri menunggu di sana.
“Assalamualaikum, Nini, Aki …”
“Waalaikumusalam.” Semua orang di sana menyahut sapaan Nindi.
Nindi langsung memeluk Nenek dan Kakeknya, lalu bibinya. Dan, yang terakhir ayahnya.
“Ayah.”
Ayah Nindi menerima pelukan itu dengan wajah datar. “Itu siapa?” tanya dengan arah mata menuju pada Sean.
“Ini …”
“Saya Sean, Ayah. Kekasih Nindi.” Sean langsung mengulurkan tangannya pada Ayah Nindi.
“Oh.” Ekspresi ayah Nindi masih datar, tak tampang senyum pada rahang tegas itu, tapi tetap menerima uluran tangan Sean.
Ayah Nindi memang tidak suka dengan orang kaya, mengingat dahulu putrinya pernah dipermainkan oleh orang dari kalangan mereka. Bahkan sang putri yang sudah tiada itu, nyaris gila karena ditinggalkan saat tengah mengandung. Untung saja ada pria yang mau menerima putrinya dengan tulus, walau ia sedang berbadan dua dan mengandung benih yang bukan darah dagingnya. Namun, pria baik itu tetap tulus hingga detik terakhir kehidupan wanita malang itu. Dan, kedua orang tua Nindi pun tetap dekat dengan menantunya, walau sang putri sudah tiada.