XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Nyali besar Nindi



“Nin,” panggil Ayesha sembari menahan tangan Nindi yang terus mengajaknya menuju ruangan Kevin.


“Kamu itu sahabat aku, Ay. Aku paling ga bisa lihat orang yang aku sayangi dilakukan semena-mena.”


Seketika Ayesha terharu. Ternyata, kali ini ia tak salah pilih memilih sahabat, karena sebelumnya ia pernah dikhianati oleh seorang yang sudah ia anggap sebagai sahabat. Tapi, Nindi jauh berbeda dengan Jessica.


“Biar, aku yang memberitahu Pak Kevin, Nin.” Ayesha ingin memberi kejutan ini pada suaminya. Namun, sepertinya gagal karena Nindi sudah lebih dulu emosi.


“Ngga bisa. Harus sekarang. Pak Kevin harus tanggung jawab.” Nindi masih geram dan dengan semangat empat lima, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang tak mudah dimasuki oleh sembarang orang itu.


Mereka pun sampai di depan ruangan itu. Kebetulan Kayla sedang tidak ada di depan ruangan itu, sehingga Nindi dengan mudah membuka pintu setelah ia mengetuknya tiga kali.


Dua pria yang ada di dalam sana pun langsung mengarahkan pandangannya pada Nindi dan Ayesha. Semula nyali Nindi sedikit menciut saat mendapati Sean di sana. Kedua pria tampan itu memandang ke arahnya. Namun, Kevin hanya sekilas dan kemudian mengarahkan pandangannya pada sang istri. Sementara Sean masih menatap Nindi dari atas kepala hingga ujung kaki. Tatapan yang tidak pernah Nindi suka.


“Pak, bapak harus bertanggung jawab,” kata Nindi lantang dengan menarik tangan Ayesha dan mendekat pada Kevin yang sedang duduk di sofa bersama Sean.


Demi sahabatnya, ia tak takut atas konsekuensi dari keberaniannya ini. Baginya Ayesha bukan lagi sekedar sahabat tapi saudara perempuannya yang hilang.


Kevin mengernyitkan dahi. “Tanggung jawab?”


“Ayesha itu wanita baik-baik dan bapak memanfaatkannya. Dia memang tidak bisa melawan, oleh karena itu bapak memaksanya,” kata Nindi lagi dengan lantang di depan bos besarnya.


“Nin,” Panggil Ayesha berusaha menenangkan sahabatnya dan mencoba menjelaskan.


“Diam, Ay. Biar aku yang bicara. Aku tahu pasti kamu ga berani. Jadi wanita tidak boleh lemah. Jangan mau harga diri kita diinjak-injak.” Nindi masih marah-marah. “Aku ga rela kamu diginiin, walau aku sadar mungkin setelah ini aku akan dipecat.”


Kevin semakin tidak mengerti apa yang Nindi katakan.


“Tunggu! Ada apa ini? Saya ga ngerti,” ucap Kevin.


Sementara Sean memandang Nindi dengan pandangan takjub. Ia tak menyangka dengan nyali yang dimiliki wanita itu.


“Saya tahu rumor affair sahabat saya dengan bapak. Dan, saya tahu Ayesha mau karena terpaksa. Pasti bapak mengancamnya kan?”


Seketika Kevin pun tersenyum sembari melirik ke arah Sean yang juga tersenyum.


“Nin, udah. Kita bicarakan ini nanti. Ayo keluar!” Ayesha menarik tangan Nindi untuk keluar dari ruangan ini.


“Kamu ga perlu takut, Ay. Ada aku. Ayo bilang pada Pak Kevin! Minta dia untuk tangung jawab.” Nindi membujuk Ayesha untuk bicara di depan Kevin.


Kevin bingung dan hanya menatap wajah istrinya yang juga bingung ingin bicara apa. Pasalnya ia ingin berita ini menjadi kejutan untuk mereka berdua saja.


Ayesha diam dan hanya mengusap lehernya yang tak gatal.


“Ck. Kamu kelamaan Ay,” kata Nindi lagi yang geram melihat sikap Ayesha yang lambat.


“Pak, saya ke sini untuk minta bapak tanggung jawab pada Ayesha.”


“Ya, tapi tanggung jawab untuk apa?” tanya Kevin lagi.


“Ay, aku atau kamu yang beritahu?” tanya Nindi pada sahabatnya yang menggelengkan kepala agar Nindi tak memberitahu kabar ini.


“Ayesha hamil.” Akhirnya berita ini terucap dari mulut Nindi.


Ayesha hanya menghelakan nafasnya. Rencana untuk memberi kejutan pada Kevin pun gagal. Namun, sepertinya Kevin tetap terkejut.


“Apa?’


“Kenapa? Bapak kaget? Bapak tidak mau bertanggung jawab pada sahabat saya,” kata Nindi lagi.


Sontak, wajah Kevin berbinar dan mengahmbur pelukan kepada Ayesha. “Sayang, kamu hamil?”


Nindi menangkap keanehan dari sikap bosnya itu. Kemudian ia menatap Sean dan Sean hanya mengangkat bahunya.


Ayesha mengangguk pada Kevin.


“Benar?” tanya Kevin lagi yang langsung diangguki Ayesha.


“Aaa …” Kevin sedikit berteriak sembari mengangkat tubuh istrinya dan hendak mendaratkan ciuman pada bibir sang istri.


Namun, Nindi dengan cepat menarik Ayesha. “Ay, apa kamu udah gila? Kamu mau saja disentuh oleh pria beristri?”


Kevin pun menarik istrinya. “Memang kenapa? Toh Ayesha memang istri saya.”


Jedar


“Apa?” tanya Nindi tak percaya.


Nindi meringis dengan wajah tertekuk. Ia malu dan tak mampu berkata-kata. “Ayesha, kamu jahat. Kenapa aku tidak diberitahu.”


“Maaf, aku hanya ingin persahabatan kita tidak berubah karena status ini.”


“Hmm …” rengek Nindi antara kesal tapi juga bahagia karena ternyata Ayesha bukanlah selingkuhan Kevin.


Sean tersenyum sembari menatap lucu ekspresi itu. Sepertinya, ia ingin memakan Nindi.


“Well, tapi saya bangga sama kamu, Nin. Kamu memang layak menjadi sahabat istri saya,” celetuk Kevin.


Nindi hanya menunduk. Ia tak berani memandang wajah bosnya.


“Kalau begitu, saya permisi.” Nindi masih masih menyembunyikan wajahnya di depan Kevin, terutama Sean yang sedar tad tersenyum padanya.


“Nin.” Ayesha menghampiri Nindi dan meneggenggam tangannya. “Setelah ini persahabatan kita tidak berubah kan?”


“Bukan kamu yang seharusnya bertanya seperti itu, Ay. Tapi aku. Apa kamu masih mau bersahabat dengan orang biasa sepertiku?”


“Kenapa enggak? Apalagi dengan kekhawatiranmu tadi. Aku tuh terharu banget.”


Nindi dan Ayesha berpelukan.


“Selamat ya, Ay.”


“Terima kasih, Nin.”


Kevin dan Sean menghampiri kedua wanita yang berdiri di pintu yang masih tertutup. Kevin menarik pinggang istrinya untuk mendekat sedangkan Sean menarik tangan Nindi untuk keluar dari ruangan ini.


“Sayang, kamu beneran hamil?” tanya Kevin lagi sembari memeluk istrinya. Tubuh mereka saling menempel dengan wajah yang tanpa jarak, setelah Nindi dan Sean menutup kembali pintu itu saat keluar.


Ayesha mengangguk. “Tadinya, aku ingin beri Mas kejutan. Eh, Nindi malah ngamuk-ngamuk. Ngga jadi deh kejutannya.”


Kevin tertawa, begitu pun Ayesha.


“Mas, kamu ga marah sama Nindi kan?” tanya Ayesha.


“Kenapa?” Kevin balik bertanya.


“Karena marahin kamu.” Ayesha kembali tertawa. Ia ingat bagaimana seorang Kevin Adhitama dimarahi bawahannya sendiri.


“Ya, kurang ajar memang. Tapi berhubung Mas lagi bahagia jadi it’s oke.”


“Mas bahagia?” tanya Ayesha tersenyum.


“Tentu saja. Mas ga bisa bayangkan jika Oma, Papa, dan Mama mendengar berita ini. Pasti mereka juga sangat bahagia.”


Ayesha pun mengangguk. Senyum tu terus melebar di bibirnya.


Kemudian, Kevin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Ia ingin menyentuh bibir strawberry itu dengan bibirnya. Dan, Ayesha pun membiarkan itu terjadi. Ia membiarkan Kevin ******* bibirnya lembut.


“Terima kasih, Sayang.”


“Terima kasih, Tuhan.” Kevin dan Ayesha sama-sama mengucap syukur pada yang Maha Kuasa atas kebahagiaan yang sudah Dia berikan.


Di luar ruangan Kevin, Sean menarik Nindi hingga ke ruangannya. Ia dan Nindi memang ada urusan lain. Ada insiden lagi diluar dari insiden Sean yang menggantikan pakaian Nindi saat wanita itu mabuk dan memuntahkan isi perutnya kala itu.


Sean mengunci pintu ruangannya, saat Nindi masuk ke kala ruangan itu.


“Applause buat kamu yang udah berani memarahi Kevin,” kata Sean bertepuk tangan. Jujur Sean memng kagum pada keberanian Nindi tadi demi membela sahabatnya.


“Pasti Pak Kevin meminta Bapak buat pecat saya,” ujar Nindi.


Sean tertawa. “Aku bawa kamu ke sini bukan karena insiden tadi. Tapi untuk insiden kita waktu itu.”


“Ck. Saya kan udah bilang maaf. Lagian mobil Bapak kenapa mundur?”


“Ga mau tahu, kamu harus tanggung jawab karena mobil aku lecet dan sekarang dibengkel, biayanya pun tidak kecil,” ucap Sean bohong. Padahal mobilnya hanya lecet sedikit karena insiden kecil di basement waktu itu. Dan, mobil Sean tidak perlu ke bengkel, karena ia bisa menanganinya sendiri.


Nindi memang mulai mengendarai motor, tepatnya motor milik mendiang almarhum sang kakak, karena sepeninggal kakaknya, ia sering mengunjungi rumah itu untuk melihat kondisi kedua ponakannya yang di asuh oleh keluarga suami sang kakak.


“Terus bagaimana?” tanya Nindi polos membuat Sean kembali menyeringai.


“Pura-pura jadi pacarku di depan kedua orang tua, Oma dan Opa ku. Deal?” Sean mengulurkan tangannya.


Sedangkan Nindi diam dan belum merespon permintaan Sean.