
Semalaman, Ayesha tidak mendapat kabar dari Kevin. Setelah ia mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari beruang kutub itu, Ayesha mencoba menelepon dan membalas pesan itu berkali kali, tapi Kevin kembali tidak membalas dan mengangkat telepon itu.
“Ih, kamu bales aku ya Mas,” gumam Ayesha yang kini tengah berbaring di kamarnya. “Kamu belum kasih aku kabar hari ini, Mas.”
Di Hongkok, Kevin bersama sang ayah sudah kembali terbang. Kini, mereka bertandang ke Jepang. Sehingga, setelah Kevin mempunyai kesempatan untuk menelepon sang istri siang itu, ia tak lagi memegang ponselnya hingga malam menjelang.
Pukul enam pagi di Tokyo, Kevin bangun dan menelepon istrinya. Ia melihat banyak pesan balasan dan telepon balasan dari sang istri kemarin. Tapi, ia baru menyalakan ponselnya pagi ini.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Ayesha berdering. Kevin menelepon istrinya dengan panggilan video call, karena dirinya benar-benar rindu melihat si Ndut manis.
Di Jakarta, waktu menunjukkan pukul empat pagi karena di Tokyo lebih cepat dua jam dari Jakarta. Ayesha samar-samar mendengar ponselnya yang berdering. Matanya masih lengket, tapi bunyi itu terus menerus terdengar.
Ayesha pun mencoba membuka mata dan meraih ponsel yang ada di meja kecil tepat di sampingnya.
“Hallo,” kata Ayesha yang menempelkan ponsel itu di pipinya.
Ayesha tidak melihat bahwa Kevin menelepon dengan panggilan video call tetapi Ayesha malah menempelkan benda itu di pipi. Alhasil di sana, Kevin terkiki geli karena menampilkan pipi mulus istrinya saja.
“Ndut, bangun! Udah pagi,” kata Kevin.
“Di sini baru jam empat, Mas. Masih ngantuk.”
“Dasar males.” Kevin tertawa. “Ini ponsel aku semuanya gambar bakpau.”
“Bakpau?” tanya Ayesha bingung. “Kamu lagi makan Bakpau?”
“Aku lagi nelepon, tapi yang aku lihat pipi bakpau.”
Ayesha langsung menjauhkan benda komunikasi itu dan melihat layar di sana yang menampilkan wajah sang suami. “Hmm … kamu pakai panggilan video call?”
“Iya. Makanya lihat dulu, Ndut.”
Ayesha mengerucutkan bibir. “Nyebelin. Lagian ngapain telepon malem-malem. Ganggu tahu.”
“Kan kamu yang telepon aku berkali-kali, jadi ya sebagai pria sejati, aku membalas telepon kamu,” jawab Kevin.
“Ih, kamu ya yang telepon aku berkali-kali kemarin. Jadi aku bales telepon kamu.”
“Oh, itu. Aku cuma ke pencet,” jawab kevin yang tidak mengakui bahwa dirinya tengah rindu berat.
“Oh, itu. Aku juga ke pencet.”
Kevin tertawa. “Udah bisa bales omongan aku ya.”
Akhirnya, wajah yang sedari tadi cemberut itu pun tersenyum. Ayesha menyungging senyum yang cukup lebar, membuat Kevin semakin rindu.
“Bisa ngga, ga usah senyum.”
“Kenapa?” tanya Ayesha.
“Nanti aku ingin cepet pulang,” jawab Kevin, membuat Ayesha tersipu malu.
“Dasar nyebelin,” sahut Ayesha yang masih merona.
“Nyebelin apa ngangenin?” tanya Kevin.
“Ish ge-er.”
Kevin tertawa. Ia memberi kabar pada sang istri bahwa kemarin tak memberi kabar karena ia langsung berangkat ke Jepang dan Ayesha pun terkejut.
Kevin menjelaskan pada istrinya beberapa agenda yang akan ia kerjakan selama dua minggu itu.
“Waw, padat sekali jadwalnya Mas,” kata Ayesha.
“Ya, begitulah. Papa juga ingin cepat pulang. Kamu tahu, Papa tidak bisa jauh dari Mama,” jawab Kevin.
Ayesha mengangguk. Ia memang tahu bagaimana kebucinan papa mertuanya itu terhadap istrinya.
“Bagaimana apanya?” Ayesha balik bertanya.
Wanita polos itu bertanya dengan polos.
“Ah, tidak jadi. Lupakan!” kata Kevin kesal.
“Ih, apaan sih kamu Mas. Kaya orang galau gitu.” Ayesha tertawa dan kevin justru kesal melihat istrinya yang tertawa.
“Bukan galau tapi kesel punya istri ga peka,” gumam Kevin dalam hati.
Ayesha dan Kevin berkomunikasi cukup lama dan dengan pembahasan yang ringan. Kevin juga bertanya tentang pekerjaan Ayesha. Sudah hampir dua jam mereka berinteraksi melalui kecanggihan alat komunikasi itu. Namun, dari keduanya belum juga ada yang memulai untuk memutuskan komunikasi itu.
“Kamu tutup teleponnya lebih dulu,” kata Ayesha.
“Kamu aja yang duluan,” jawab Kevin
“Kamu duluan, Mas.” Kata Ayesha lagi.
“Kamu duluan, Ayesha.”
Ayesha menghela nafasnya. “Ya udah kalau begitu. Dah, Mas.”
“Gitu doang?” tanya Kevin.
“Terus, aku harus gimana?” Ayesha balik bertanya.
“Ck. Ya udah. Oke. Bye.” Kevin menutup panggilan telepon itu.
Ayesha bingung dan melihat ponselnya yang sudah tak ada lagi wajah Kevin di sana. “Dih, dia kenapa sih? Dasar abege labil.” gumamnya yang benar-benar bingung dengan sikap Kevin.
Satu … Dua … Tiga … Empat … Lima hari berlalu. Kevin sudah menjelajah ketiga negara. Saat ini, ia tengah berada di Riyadh, Arab. Setelah itu, Kevin akan mengunjungi tiga negara lagi seperti Amerika, Perancis, dan terakhir Turki.
“Nin, nanti sore jadi kan mampir ke mall xxx?” tanya Ayesha di ruangannya.
“Yes, dong.” Jawab Nindi yang masih duduk di kursinya.
“Oke.”
Dari hari-hari sebelumnya, Ayesha dan Nindi memang merencanakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan yang cukup besar yang berada tak jauh dari kantor mereka. Ayesha memang sudah ingin membeli pakaian kerja dan pakaian sehari-hari, karena pakaiannya saat ini sudah banyak yang terlalu longgar, sehingga membuatnya tidak nyaman lagi memakai pakaian itu.
“Ay, ini bagus banget!” ujar Nindi antusias.
“Tapi terlalu terbuka, Nin. Ngga ah,” jawab Ayesha. “Itu lingkaran di dadanya terlalu V, jadi kelihatan belahan dadanya nanti.”
“Sexy tau. Aku jamin kalau kamu pakai ini di depan pacar kamu, dia makin sayang.”
Ayesha diam dan berpikir. Ya sepertinya, apa yang dikatakan Nindi ada baiknya. Sepertinya ia ingin berpakaian sexy di depan Kevin nanti. Ia ingin menggoda beruang kutub yang sering mengatakan ga n*fs* itu. Ia ingin membuktikan bahwa beruang kutub bermulut pedas itu akan bern*fs* dengannya.
Ayesha pun menyeringai senyum.
Saat Ayesha berjalan mengelilingi area gedung mewah dengan membawa banyak jinjingan ditangannya itu. Tiba-tiba ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal.
Seketika, pria itu pun melihat ke arah Ayesha dari kejauhan. Sontak, Ayesha menggandeng Nindi dan segera berlari dari jangkauan pria itu. Namun, pria itu ikut mngejar Ayesha.
“Ay, aku capek. Kenapa sih kita harus lari?” tanya Nindi yang mengikuti kaki sahabatnya.
Nindi menoleh ke belakang, tapi dengan cepat Ayesha melarang. “Jangan nengok ke belakang?”
“Kenapa sih, Ay? Kita dikejar-kejar siapa sih?” tanya Nindi bingung.
“Dikejar orang yang ga pengen lagi aku temui,” jawab Ayesha dengan dada naik turun.
Mereka sudah aman karena pria itu tak lagi terlihat. Kini, Ayesha sudah sampai di basement dan hendak pulang. Padahal sebelumnya, mereka masih ingin berlama-lama di tempat itu, tapi karena keberadaan pria tadi membuat Ayesha ingin segera pulang saja.
“Tian, kenapa kamu ada di sini?” tanya Ayesha dalam hati sembari menggelengkan kepala dan mengenyahkan sosok pria itu dalam pikirannya.